Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 35

Dua bulan kemudian, badai besar yang sempat menghantam hidup mereka benar-benar telah pergi, menyisakan ketenangan dan kebahagiaan yang utuh di dalam mansion keluarga Hermawan.

Perut Mili kini sudah mulai tampak membuncit indah, menandakan usia kandungan yang kian kuat dan sehat.

Setiap hari diisi dengan perhatian luar biasa dari David, yang telah sepenuhnya bertransformasi menjadi suami sekaligus calon ayah paling siaga di dunia.

Pagi itu, sinar matahari hangat menyusup melalui celah tirai kamar utama.

David sudah rapi dengan setelan jas kerjanya, namun ia memilih duduk di tepi ranjang, membantu istrinya merapikan mantel wol hangat yang akan dikenakan.

"Sayang, ayo bangun pelan-pelan," bisik David lembut, mengecup puncak kepala Mili yang masih meregangkan tubuh dengan mata sayu.

"Hari ini jadwal kita kontrol rutin ke dokter kandungan. Aku sudah batalkan semua meeting pagi ini demi kamu."

Mili tersenyum manis, memeluk leher suaminya erat-erat sebelum mengecup pipi David penuh sayang.

"Iya, Suamiku yang paling posesif. Aku bangun sekarang."

Dengan pengawalan ketat namun tetap hangat dari Jonas dan para pengawal, mobil mewah yang dikemudikan khusus itu meluncur mulus menuju rumah sakit bersalin terbaik di Jakarta.

Sesampainya di sana, mereka langsung disambut oleh dokter spesialis kandungan yang sudah menunggu di ruangannya yang steril dan nyaman.

"Selamat pagi, Tuan David, Nyonya Mili," sambut dokter dengan senyuman ramah.

"Mari, silakan berbaring di sini, Nyonya. Kita akan melihat perkembangan si kecil hari ini."

Mili berbaring di atas ranjang pemeriksaan, sementara David dengan setia berdiri tepat di sisi kepalanya, menggenggam erat jemari istrinya dan tak pernah melepaskannya barang sedetik pun.

Dokter mulai mengoleskan gel hangat di atas perut Mili yang sedikit membuncit, lalu menempelkan alat USG di atasnya.

Seketika, layar monitor besar di hadapan mereka menyala terang, menampilkan bentuk samar sesosok makhluk kecil yang sedang bergerak aktif di dalam rahim.

Dok-dok, dok-dok,

Suara detak jantung bayi menggema memenuhi ruangan, terdengar begitu kuat, cepat, dan penuh energi kehidupan.

Mili langsung membekap mulutnya, air mata kebahagiaan meleleh di sudut matanya.

Di sebelah kanannya, tubuh David mendadak kaku. Pria yang terbiasa memegang kendali atas segalanya itu terpaku menatap layar monitor dengan tatapan tak percaya.

Tenggorokannya mendadak tercekat, dan matanya memerah menahan gelombang haru yang teramat dalam.

"Itu, dia bergerak, David." bisik Mili parau, menoleh ke arah suaminya dengan senyuman terindah yang pernah ada.

David menundukkan kepalanya sambil mengecup kening istrinya lama-lama, lalu turun berlutut di samping ranjang, mencium lembut perut Mili yang dibalut pakaian khusus.

"Halo, jagoan kecil Papa." bisik David dengan suara bergetar hebat, menahan isak tangis bahagianya di hadapan sang dokter.

"Tumbuhlah dengan sehat di dalam sana, Nak. Papa dan Mama menunggu kehadiranmu di dunia ini."

Dokter tersenyum hangat melihat pemandangan mengharukan tersebut.

"Kondisi janin sangat sehat, aktif, dan pertumbuhannya sempurna, Tuan David. Nyonya Mili juga dalam kondisi prima. Semuanya berjalan luar biasa."

Mendengar laporan itu, beban terakhir di pundak David seolah terangkat sepenuhnya.

Ia bangkit, mengecup bibir Mili dengan penuh cinta dan rasa syukur yang tak terhingga.

Badai masa lalu benar-benar telah lenyap, digantikan oleh fajar baru yang membawa kehangatan abadi bagi keluarga kecil mereka.

Mereka berdua keluar dari ruangan dokter dan menuju ke parkiran.

David membuka pintu mobil untuk Mili dengan sangat hati-hati, memastikan istrinya duduk dengan nyaman di kursi penumpang depan sebelum menutupnya pelan.

Ia sendiri lantas memutar melewati bagian belakang mobil dan masuk ke kursi pengemudi.

Begitu mesin mobil dinyalakan dan AC kabin berembus lembut, David menoleh ke arah istrinya dengan senyuman tipis di bibirnya.

"Baiklah, Ratu ku. Kita mau pergi ke mana sekarang? Ingin jalan-jalan mal dulu, atau mencari buku-buku persiapan bayi?" tanya David penuh perhatian, jemarinya terulur

menggenggam tangan Mili.

Mili menggelengkan kepalanya perlahan, sementara bibirnya mengerucut membentuk senyum manja yang membuat jantung David berdegup lebih kencang.

"Jangan pulang dulu," pinta Mili dengan nada merajuk manis.

"Aku tidak mau ke mall."

Alis David bertaut tipis, sorot matanya berubah heran sekaligus penasaran.

"Lalu, kamu ingin ke mana, Sayang? Katakan saja, aku akan mengantarmu ke mana pun."

Mili menoleh ke luar jendela mobil, tepat ke arah deretan pedagang kaki lima dan kedai sederhana yang berdiri di seberang jalan raya di luar gerbang utama rumah sakit.

Aromanya yang khas terbawa angin seketika menggelitik indra penciuman.

"Aku ingin makan mie ayam di depan rumah sakit itu," tunjuk Mili dengan mata berbinar-binar penuh harap.

David mengikuti arah pandangan istrinya. Di seberang sana, tampak sebuah gerobak sederhana bertuliskan 'Mie Ayam Mang Ujang' dengan kepulan uap hangat yang mengepul dari pancinya, dikelilingi beberapa pembeli yang duduk di bangku plastik.

Wajah David seketika membeku. Pria terpandang yang terbiasa makan di restoran berbintang Michelin dengan pengawalan ketat itu menatap gerobak pinggir jalan tersebut dengan kening berkerut dalam.

"Mie ayam? Di pinggir jalan?" ulang David dengan nada tidak percaya.

"Sayang, tempat itu, tidak steril. Bagaimana kalau pencernaanmu terganggu? Atau lebih baik kita pesan koki pribadi saja untuk membuatkan mie ayam di mansion dengan bahan-bahan organik?"

Mili langsung memasang wajah cemberut, menarik tangannya dari genggaman David dan melipat tangan di depan dadanya.

Matanya bahkan tampak berkaca-kaca menahan kesal.

"Tuh kan. Kamu pasti gengsi ya ajak isterimu makan di pinggir jalan? Padahal aku lagi ngidam, David." ucap Mili dengan nada manja yang dibuat-buat sedih.

"Kalau anak kita nanti ileran gara-gara tidak diturutin, awas ya!"

Mendengar ancaman 'ileran' dari sang istri, pertahanan David langsung runtuh seketika.

Iblis dingin dalam diri sang CEO seketika lenyap, digantikan oleh kepanikan luar biasa menghadapi ngidam istrinya.

"Eh, bukan begitu, Sayang! Bukan karena gengsi." ralat David salah tingkah, buru-buru mengelus lengan Mili dengan panik.

"Bukannya aku tidak mau, tapi aku hanya khawatir kesehatanmu."

"Pokoknya mau mie ayam itu!" potong Mili bersikeras, menunjuk gerobak tersebut dengan gemas.

David menghela napas pasrah, menyerah sepenuhnya pada tatapan memohon istrinya.

Ia tersenyum pasrah, mengusap puncak kepala Mili penuh sayang.

"Baiklah, Ratu-ku. Apa pun untukmu dan jagoan kecil kita," ujar David mengalah.

Ia lantas menoleh ke arah kaca spion tengah, mendapati Jonas dan mobil pengawal di belakang yang langsung siaga. David memberikan isyarat tangan lewat jendela, memerintahkan pengawal untuk mengamankan area sekitar gerobak mie ayam tersebut.

Tak lama kemudian, mobil mewah David menepi di pinggir jalan.

Pemandangan yang sangat kontras tersaji seketika: seorang pria berjas mewah kelas atas dengan kawalan ketat turun dari mobil berplat khusus, menghampiri gerobak mie ayam sederhana di pinggir jalan.

Mang Ujang sang penjual mie ayam bahkan nyaris menjatuhkan mangkuknya karena kaget melihat kedatangan tamu agung yang mendadak menyerbu warungnya.

"M-mau pesan apa, Tuan?" sapa Mang Ujang terbata-bata, ketakutan melihat belasan pengawal berbadan tegap berdiri mengelilingi gerobaknya.

"Dua mangkuk mie ayam spesial, jangan pakai penyedap rasa yang aneh-aneh, dan pastikan mangkuknya disterilkan ulang," perintah David dengan nada tegas berwibawa.

Mili yang duduk manis di dalam mobil tertawa kecil melihat tingkah suaminya yang masih terbawa sifat CEO posesif bahkan saat memesan mie ayam pinggir jalan.

Ia tahu betul, di balik sikap kaku itu, David hanya ingin memastikan dunia memberikan yang terbaik untuknya dan calon anak mereka.

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!