Demi meningkatkan reputasi, Ophelia—seorang anak yatim piatu—tiba-tiba diadopsi oleh keluarga Pratama, konglomerat yang baru naik kasta. Namun bukannya kasih sayang, ia justru mendapatkan penyiksaan di rumah dan bullying di sekolah elit yang dimasukinya.
Puncaknya, Ophelia tewas secara tragis di tangan mereka.
Tetapi alam semesta memberinya kesempatan kedua. Terbangun satu tahun sebelum kematiannya, Ophelia bertekad merobohkan keluarga Pratama menggunakan senjata mematikan: rahasia-rahasia busuk yang ia ketahui dari masa depan.
Dibantu oleh seorang pewaris misterius dari keluarga ternama, kali ini Ophelia tidak akan lagi menjadi korban. Dia yang akan memegang kendali atas panggung permainan hidupnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ashe Lepidoptera, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12
Liaaaaa
Aku nggak tau bisa atau enggak. Ada latihan taekwondo
Liaaaaa
Nanti aku kabari lagi
Airin menatap ponselnya kemudian menghela nafas. Ia tidak melihat Lia sama sekali waktu jam istirahat, sepertinya dia masih dibully.
Serius tidak ada satu hal pun yang bisa Airin lakukan?
Andai Kaiser menurutinya untuk bicara dengan kepala sekolah soal ini, mungkin pembullyan yang diterima Ophelia akan berhenti.
Tapi dia sama keras kepalanya dengan Kak Aiden.
“Buku ini lagi populer banget lho. Bakal ada adaptasinya juga,” ujar temannya sumringah.
Airin mencoba tersenyum. “Iya kah?”
Kalau semisal Lia ikut mungkin dia bisa bersenang-senang sedikit.
“Kamu pulang sendiri? Aku dijemput sama pacarku. Ini udah malem sih seenggaknya aku tunggu jemputan kamu dateng dulu.”
Airin melirik pemuda disana yang sudah menunggu di motornya dari tadi. “Kamu duluan aja, aku mau naik taksi,” ujarnya. “Kakak-kakakku kebetulan lagi sibuk juga.”
“Yaudah, hati-hati ya.”
Airin melambai pada temannya sebelum berdiri di samping jalan raya. Sebuah mobil berwarna biru terlihat berhenti tepat di depan gadis itu.
Kursi belakangnya kosong.
Airin masuk kesana sembari berkata, “Ke perumahan permata ya pak.”
Supirnya hanya mengangguk dan menjalankan mobil. Airin kembali melihat ponsel, Kaiser mengiriminya beberapa pesan yang sengaja tidak ia baca ataupun balas.
Biar laki-laki itu tau rasa.
Eh?
“Pak, beloknya bukan kesini,” ujarnya.
Si pak supir terlihat membuka pintu sembari keluar membawa ponsel. “Saya mau terima telepon dulu sebentar.”
Tapi ponselnya... nggak berbunyi?
Airin merasa tidak nyaman. Belokan tadi membawanya ke jalan yang jauh lebih sepi, cuma ada satu atau dua motor yang melewat—itupun kencang sekali.
Lalu kemudian, jendela taksinya diketuk.
Gadis itu langsung tersenyum. “Lia!”
...****************...
Ophelia, yang dengan segera membuka pintu mobil dan menarik Airin dari sana langsung menyapa. “Hei.”
“Kamu jadi ikut?” tanya Airin senang. “Aku baru mau pulang, tapi kita bisa balik lagi ke toko buku kalau kamu mau. Kamu mau beli apa?”
Ophelia tersenyum dan menarik tangan Airin pelan agar mereka mulai berjalan pergi dari sana. “Aku langsung kesini waktu latihannya selesai. Tapi kejebak macet dan nggak sengaja liat kamu naik taksi.”
Itu bohong.
Ophelia membuntutinya dari sore hari. Dia hampir panik ketika melihat Airin masuk taksi sendirian tapi untungnya mobilnya berhenti.
Hanya saja—
Ophelia melihat sekitar. Berhentinya benar-benar di tempat rawan kejahatan begini.
“Sebentar, aku belum bayar taksinya.” Airin berjalan kembali ke mobil itu. “Seenggaknya aku mau ninggalin uang dulu.”
Perasaannya benar-benar tidak enak. Instingnya mengatakan kalau mereka harus pergi secepatnya.
Ketika Airin menyimpan uang itu, Ophelia mengetikkan beberapa pesan di ponsel dan langsung mengirimnya saat itu juga.
Butuh beberapa saat, tapi setidaknya ini bisa menjadi tindakan pencegahan.
“Udah. Kita jadi ke toko buku?”
“Boleh.”
Namun sebelum mereka kembali berjalan, motor berwarna hitam terlihat berhenti tepat di belakang taksi yang tadi dinaiki Airin. Dari sana, keluar seorang pria dengan pakaian serba hitam.
Bahkan wajahnya tersembunyi di balik masker.
Ha.
Ophelia langsung menarik tangan Airin dan berlari ke arah yang lain. Gadis itu sempat protes, tapi Ophelia harus terus membuatnya berlari sampai mereka menemukan tempat aman.
“Lia!”
Sebentar, ini dimana?
“Lia, tunggu dulu!”
Ophelia akhirnya berhenti.
Mereka mengatur nafas di sebuah gang. Kemana ia berlari sebenarnya? Tempat ini makin sepi saja.
“Kamu—kenapa?” tanya Airin sembari terengah-engah. “Ada yang ngejar kita?”
Ophelia mengerutkan dahi. “Emangnya nggak ada?”
“Nggak,” geleng Airin. “Aku dari tadi liat ke belakang, nggak ada yang ngejar sama sekali.”
Ophelia menarik napas. Apa cuma perasaannya? Apa pria tadi cuma orang biasa?
Nggak. Orang biasa atau bukan, situasi mereka tetap tidak menguntungkan.
Ophelia melihat sekitar. “Kamu tau daerah sini? Buat ke tempat yang agak ramai kita mesti kemana?”
“Tinggal beberapa belokan, kalau nggak salah bakal ada mall,” ujarnya. “Tapi serius kamu nggak apa-apa? Wajahmu panik gitu.”
“Nggak,” geleng Ophelia.
Ia kembali memegang tangan Airin dan berjalan cepat. Ketika ada cahaya dan orang-orang yang melewat di ujung sana, Ophelia akhirnya bernafas lega.
Sedikit lagi—
“Kamu bohong.” Airin di belakangnya bergumam. “Seenggaknya kalau kamu lagi nggak baik-baik aja bilang padaku, jangan malah pura-pura begitu.”
Oh tidak.
“Aku mungkin nggak bisa bantu, tapi seenggaknya—”
Buakk!!
Penglihatannya seperti berada dalam efek slow motion. Tubuh Airin yang jatuh ke arahnya, pemukul kayu yang mengayun atau gerakan pria berbaju serba hitam itu terlihat melambat.
“...Airin?” Ophelia hanya bisa menangkap tubuh temannya yang tidak sadarkan diri dengan darah yang mulai mengalir dari belakang kepala.
Pria bermasker itu berjongkok di depan mereka. Pemukul kayu di tangannya ia sandarkan di bahu. “Padahal harusnya dia sendirian,” ucapnya dingin.
Ophelia yang sadar akan situasi mencoba berteriak meminta bantuan tapi mulutnya langsung ditutup dan diikat menggunakan kain. Ketika melawan, rambutnya dijambak dan ia diseret masuk kembali ke dalam gang.
Airin!
Ophelia melihat tubuh temannya yang tak sadarkan diri.
Sialan, umpatnya. Kecelakaan mobil apanya? Ini percobaan pembunuhan!
...****************...
Ophelia hanya bisa diam sembari melihat setiap gerak-gerik pria berbaju hitam itu dengan tatapan tajam. Mulutnya masih ditutup, dan sekarang kaki dan tangannya juga diikat kencang.
Ia hampir tidak bisa bergerak.
Tubuh Airin ada di depannya, masih terbaring tak sadarkan diri. Mereka dibawa ke sebuah lorong di dalam gang yang benar-benar minim akan cahaya.
Situasi yang benar-benar tidak menguntungkan.
Pria itu sedang mengacak-acak tas milik Airin dan Ophelia, mengeluarkan benda elektronik apapun yang ada disana dan menghancurkannya satu persatu. Tentu, ponsel mereka juga salah satunya.
Ketika selesai, pria itu terlihat mengeluarkan kamera dan memotret Airin yang tak sadarkan diri kemudian berjalan ke arahnya.
Ophelia langsung mundur, mencoba bergeser—bergerak menjauh namun pria itu hanya melihatnya dengan diam. Ia berjongkok, menarik kaki Ophelia agar dia kembali pada tempatnya.
“Tidak ada perintah untuk membunuh sih,” ucap pria itu. Tangannya yang ada di kaki Ophelia secara perlahan naik keatas hingga akhirnya rok hitam yang ia pakai diangkat.
“...tapi kamu masih perawan ‘kan?”
Ophelia membulatkan mata. Ia mencoba berteriak dan menendang pria itu ketika jas dan kemeja yang dipakainya dibuka paksa.
Pria itu memukul wajah Ophelia dengan keras, membuatnya terbatuk di tanah.
“Jangan terlalu banyak bergerak,” pria itu membuka kancing Ophelia satu persatu kemudian menatap pemandangan di depannya sembari tersenyum. “Nanti malah makin susah.”
Sialan!
Ophelia hanya bisa mengumpat ketika merasakan lehernya digigit. Sesuatu, dia mesti mencari sesuatu untuk—
Duakk!!
“Bajingan!”
Ophelia menahan nafas ketika melihat pria itu ditendang ke tembok sana. Seseorang yang memakai jas lengkap dengan dasi terlihat murka.
...datangnya terlambat sekali.