Gilang cuma tukang galon biasa bangun sebelum subuh, dorong gerobak dari gang ke gang, dan pulang dengan tubuh remuk demi biayai kuliah malam dan ibunya yang sakit-sakitan. Sampai suatu pagi, sebuah alamat baru di komplek elite membawanya ke depan pagar tinggi milik Anindita Prameswari pewaris tunggal bisnis keluarga yang hidup dikelilingi kemewahan, namun sepi dari kehangatan yang sesungguhnya ia rindukan. Dari transaksi jual beli galon yang sederhana, tumbuh sesuatu yang tak pernah mereka duga: percakapan singkat di depan pagar, yang perlahan berubah jadi alasan bagi keduanya untuk menunggu hari berikutnya tiba. Tapi cinta yang lahir dari dua dunia yang begitu berbeda ini harus membayar harga yang mahal. Seorang paman licik dengan rahasia gelap, fitnah yang mengancam merenggut kebebasan Gilang, hingga pengkhianatan dari orang yang paling dipercaya keluarga Prameswari semua bersatu untuk memisahkan mereka selamanya. Akankah ketulusan seorang tukang galon cukup kuat melawan kekuasaan dan kelicikan yang mengintai dari dalam rumah mewah itu sendiri? Cinta Segalon adalah kisah tentang cinta yang menolak tunduk pada status sosial dan keberanian untuk memperjuangkannya, sekalipun dunia terus berusaha memisahkan mereka.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wabula, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Makan malam yang canggung
Sabtu malam yang telah dijadwalkan tersebut akhirnya tiba, membawa Nindi pada sebuah ruang makan formal di rumahnya sendiri yang telah didekorasi lebih mewah dari biasanya, khusus untuk menyambut kedatangan keluarga Wicaksana. Nindi mengenakan gaun sederhana namun elegan yang dipilihkan asisten pribadinya, wajahnya menunjukkan kesopanan yang terlatih meski hatinya dipenuhi keengganan yang mendalam.
"Nindi, kamu cantik banget malam ini," puji Broto ketika putrinya turun dari tangga menuju ruang makan, meski pujian tersebut terasa hambar bagi Nindi yang tahu betul motif sesungguhnya di balik acara tersebut.
"Makasih, Pa," jawab Nindi singkat, berusaha menyembunyikan kegugupan yang mulai menjalar seiring semakin dekatnya waktu kedatangan tamu undangan tersebut.
Tidak lama kemudian, keluarga Wicaksana tiba, dipimpin oleh Rafael yang mengenakan setelan jas rapi, senyumnya terlihat begitu percaya diri seolah sudah yakin dengan hasil pertemuan tersebut. "Nindi, senang bisa ketemu lagi. Kamu makin cantik aja," ujar Rafael sambil mengulurkan tangan.
Nindi membalas jabatan tangan tersebut dengan sopan, meski dalam hatinya dia merasakan ketidaknyamanan yang sulit dia jelaskan. "Terima kasih, Rafael. Silakan duduk."
Sepanjang makan malam tersebut, Om Hensa dengan cerdik mengarahkan percakapan agar Nindi dan Rafael terus berinteraksi, sesekali melontarkan pujian mengenai kecocokan keduanya yang membuat Nindi semakin merasa terjebak dalam skenario yang sudah dirancang dengan begitu rapi tersebut.
"Rafael ini anak yang cerdas lho, Nin. Dia yang mengelola divisi properti perusahaan keluarganya sejak umur dua puluh lima," ujar Om Hensa dengan nada penuh pujian, sengaja menonjolkan kualitas Rafael di hadapan Nindi dan seluruh keluarga yang hadir.
"Ah, Om terlalu memuji. Saya masih banyak belajar kok," jawab Rafael dengan sikap merendah yang terkesan dilatih, meski matanya tetap menatap Nindi dengan penuh ketertarikan yang sulit disembunyikan.
Nindi hanya tersenyum sopan, pikirannya justru melayang jauh ke suasana hangat dan sederhana yang biasa dia rasakan setiap kali berbincang dengan Gilang di teras rumahnya, sebuah kontras yang membuat kekakuan acara makan malam formal tersebut terasa semakin menyesakkan baginya.
"Nindi, kamu suka apa sih biasanya di waktu senggang?" tanya Rafael, mencoba mencairkan suasana dengan pertanyaan yang lebih personal.
"Biasanya sih baca buku atau nonton film aja," jawab Nindi sekadarnya, tidak ingin menceritakan lebih jauh mengenai kesehariannya yang sebenarnya, terutama mengenai kebiasaan barunya menunggu kedatangan tukang galon setiap minggu.
"Wah, kebetulan aku juga suka baca. Lain kali kita bisa tuker rekomendasi buku deh," ujar Rafael dengan nada yang berusaha terdengar akrab, meski Nindi merasakan kepalsuan dalam setiap kata yang diucapkan pemuda tersebut.
Menjelang akhir acara, Broto sengaja mengajak Rafael dan Om Hensa berbincang di ruang kerja, memberikan kesempatan bagi Nindi untuk beristirahat sejenak dari kewajiban sosial yang cukup melelahkan tersebut. Dia segera menuju kamarnya, melepas sepatu hak tinggi yang membuat kakinya pegal, dan duduk di tepi ranjang dengan perasaan lega yang begitu besar.
Karin, yang sengaja menunggu di kamar Nindi untuk mendengar cerita mengenai acara tersebut, segera menghampiri sahabatnya itu begitu dia masuk. "Gimana, Nin? Cape banget kelihatannya."
"Cape banget, Rin. Rasanya kayak lagi ikut wawancara kerja, bukan makan malam keluarga biasa," jawab Nindi dengan nada lelah, menceritakan berbagai kejanggalan yang dia rasakan sepanjang acara tersebut.
"Rafael-nya gimana? Baik nggak orangnya?" tanya Karin penasaran.
"Sopan sih, tapi entah kenapa aku ngerasa semuanya kayak settingan banget. Kayak dia udah hafal skrip buat bikin aku terkesan," jawab Nindi, mengungkapkan kejanggalan yang selama ini dia rasakan namun belum sepenuhnya dia pahami maknanya.
"Hati-hati, Nin. Feeling kamu itu biasanya nggak pernah salah," ujar Karin dengan nada serius, menguatkan kecurigaan yang mulai berkembang dalam diri Nindi mengenai motif tersembunyi di balik seluruh rangkaian pertemuan yang telah diatur sedemikian rapi oleh keluarganya sendiri, tanpa mereka berdua menyadari bahwa kebenaran yang sesungguhnya jauh lebih gelap dan berbahaya dari sekadar perjodohan biasa.
Setelah Karin pamit pulang malam itu, Nindi duduk sendirian di balkon kamarnya, menatap langit malam yang dipenuhi bintang samar di tengah gemerlap lampu kota. Pikirannya masih dipenuhi oleh kejanggalan-kejanggalan yang dia rasakan sepanjang acara makan malam tersebut, terutama mengenai betapa antusiasnya Om Hensa mendorong kedekatannya dengan Rafael, sebuah antusiasme yang terasa berlebihan untuk sekadar urusan perjodohan biasa.
Dia mengambil ponselnya, hendak menghubungi Gilang untuk sekadar mencari ketenangan, namun akhirnya mengurungkan niat tersebut, tidak ingin membebani pemuda itu dengan kerumitan kehidupannya yang penuh intrik keluarga. Sebagai gantinya, dia menuliskan perasaannya malam itu dalam buku catatan kecil yang belakangan semakin sering dia gunakan.
"Kenapa ya, semakin aku mengenal dunia yang seharusnya jadi duniaku sendiri, aku malah semakin merasa asing di dalamnya. Sementara di dunia yang sama sekali berbeda, aku justru menemukan kenyamanan yang selama ini aku cari," tulisnya, sebuah refleksi yang menandakan semakin dalamnya keterikatan emosionalnya terhadap sosok sederhana bernama Gilang, jauh melampaui sekadar rasa penasaran biasa yang dia rasakan di awal pertemuan mereka.