Naya selalu diabaikan Aslan, suaminya. Hingga suatu hari Aslan pergi dinas dan tak pulang selama tiga bulan.
Naya yang khawatir memutuskan untuk menyusulnya, Namun dia justru mendapati Aslan telah menikah siri dengan wanita lain secara diam-diam.
Tanpa marah dan tanpa meminta penjelasan, Naya memilih pergi dari kehidupan suaminya.
Namun, ketika Naya benar-benar menghilang, Aslan justru mulai menyadari bahwa kehilangan istrinya adalah kesalahan terbesar dalam hidupnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Hari bergulir begitu cepat. Aslan akhirnya kembali ke rumah setelah tiga bulan berada di Bandung bersama istri barunya.
Klek....
Tapi saat kunci berputar dan pintu terbuka, yang menyambutnya hanyalah keheningan.
Rumah itu terasa berbeda. Bukan karena berantakan. Justru sebaliknya. Semuanya rapi, dan bersih. Tidak ada aroma masakan yang biasanya menyambutnya. Tidak ada sandal yang disiapkan di dekat pintu. Tidak ada suara langkah kaki yang buru-buru mendekat. Padahal sebelum pulang dia sudah memberitahu Naya, bahwa dia akan pulang.
Aslan meletakkan koper di lantai, melepas sepatu, lalu melangkah masuk ke dalam. Cahaya televisi menyala di ruang tengah. Di sofa, terlihat Naya duduk bersandar santai dengan kaki dilipat. Di pangkuannya ada mangkuk kecil berisi keripik, dan matanya tertuju pada layar.
“Naya, aku pulang,” ucap Aslan, suaranya terdengar lebih tinggi dari yang ia maksudkan.
Naya menoleh sekilas. Hanya sepersekian detik. Ia mengangguk pelan, ekspresi wajahnya datar, lalu kembali menatap televisi seolah kehadiran suaminya tidak lebih penting daripada acara yang sedang ditontonnya.
Aslan berdiri kaku di tengah ruangan. Dada terasa sesak oleh sesuatu yang campur aduk, antara kaget, kesal, dan sedikit… tersinggung.
“Aku haus,” katanya lagi, kali ini nada suaranya lebih keras. “Aku mau minum.”
Naya tidak menoleh. Tangannya masih memasukkan keripik ke mulut. “Ambil sendiri aja di dapur. Aku mager,” jawabnya santai, seolah sedang berbicara dengan teman kos, bukan dengan suami yang baru pulang setelah tiga bulan menghilang.
Aslan merasa darahnya naik ke kepala. Ia mengepalkan tangan di sisi tubuh. Rahangnya mengeras, merasa harga dirinya tergores oleh sikap Naya. Selama bertahun-tahun, Naya tidak pernah berbicara seperti itu kepadanya. Selalu lembut. Selalu menurut. Selalu siap melayani meski ia sendiri sedang lelah.
“NAYA!” suaranya meledak, memenuhi ruang tamu yang sebelumnya sunyi. “SEJAK KAPAN KAMU BERANI MEMBANGKANG, HAH?!”
Naya akhirnya berhenti mengunyah. Ia meletakkan mangkuk keripik di meja, lalu bangkit berdiri dengan gerakan yang tenang. Tidak tergesa. Tidak takut. Ia berbalik dan menatap Aslan langsung di mata.
Tatapan itu membuat Aslan terdiam sejenak.
Bukan tatapan istri yang bersalah. Bukan tatapan wanita yang takut dimarahi. Itu tatapan seseorang yang sudah selesai dengan sesuatu.
“Sejak kau tak pernah menghargai keberadaanku, Mas,” ucap Naya pelan, tapi setiap katanya jelas dan menusuk. Suaranya tidak gemetar. Tidak ada air mata. Hanya ketenangan yang dingin.
Tanpa menunggu jawaban, Naya berjalan melewati Aslan menuju tangga. Bahunya tidak menyentuh tubuh suaminya meski jarak mereka sangat dekat. Ia naik ke lantai atas dengan langkah anggun.
Aslan masih berdiri di tengah ruang tengah. Tinjunya masih terkepal. Napasnya berat. Di layar televisi, acara masih berjalan seolah tidak terjadi apa-apa. Mangkuk keripik masih di atas meja. Rumah yang biasanya penuh usaha Naya untuk menyenangkan hatinya kini terasa kosong dan asing.
Untuk pertama kalinya Aslan merasakan sesuatu yang selama tiga bulan terakhir tidak pernah ia rasakan.
Dengan langkah gontai, Aslan menaiki tangga menuju lantai atas. Setiap anak tangga terasa lebih berat dari biasanya. Punggungnya sedikit membungkuk, jasnya masih terpasang meski sudah kusut di beberapa bagian, dan wajahnya masih menyimpan sisa kemarahan yang belum sepenuhnya reda. Ia tidak terbiasa ditinggalkan seperti tadi. Tidak terbiasa dibiarkan berdiri sendiri di ruang tengah ruangan tanpa seorang istri yang buru-buru menyiapkan segala kebutuhannya.
Pintu kamar sedikit terbuka. Aslan mendorongnya pelan dan masuk.
Naya sudah duduk di tepi ranjang, punggung bersandar pada headboard, kedua kaki dilipat rapi. Ponsel di tangannya menyala terang. Jari-jarinya bergerak cepat di layar, seolah sedang membalas pesan penting. Ia tidak menoleh ketika Aslan masuk. Bahkan tidak mengangkat wajah sedikit pun. Wanita itu benar-benar cuek, seolah kehadiran suami yang baru pulang setelah tiga bulan bukanlah sesuatu yang layak mendapat perhatiannya.
Aslan berdiri di dekat pintu beberapa saat, menatap punggung istrinya. Ia menghela napas panjang, mencoba menekan rasa kesal yang kembali naik. “Tolong siapkan air hangat,” katanya akhirnya. “Aku mau mandi.”
Naya hanya menoleh sekilas. Matanya bertemu dengan mata Aslan selama sepersekian detik, datar, kosong, tanpa emosi. Lalu ia kembali menunduk ke ponselnya, seolah permintaan itu tidak pernah diucapkan.
Aslan merasa dadanya sesak. Dulu, Naya selalu menjadi orang pertama yang melayani dirinya. “Mas mau mandi? Aku siapkan air hangat ya.” Ia selalu bilang begitu, meski berkali-kali ditolak dengan jawaban ketus.
Sekarang posisinya terbalik. Ia yang meminta, dan Naya yang mengabaikan.
Kesal yang sempat ia tahan akhirnya meledak dalam bentuk lain. Aslan menghempaskan koper hitamnya ke lantai dengan keras. Bunyi benturan itu memenuhi kamar. Tanpa mengucapkan satu kata pun lagi, ia berbalik dan masuk ke kamar mandi, menutup pintu dengan keras hingga engselnya berderit.
Keheningan kembali menguasai kamar.
Beberapa saat kemudian, bunyi getar ponsel terdengar dari atas meja rias. Layarnya menyala, menampilkan nama Liza yang sudah cukup familiar untuk Naya.
Naya mengangkat wajahnya. Pandangannya bergeser ke arah pintu kamar mandi yang tertutup rapat. Suara air mulai mengalir dari dalam. Aslan sudah menyalakan shower.
Dengan gerakan yang sangat tenang, Naya berdiri. Ia berjalan mendekati meja rias tanpa mengeluarkan suara. Jari-jarinya yang ramping meraih ponsel Aslan. Tidak ada rasa ragu di wajahnya. Hanya ketenangan yang dingin dan terhitung.
Layar terbuka. Pesan baru dari Liza muncul.
"Sayang, kamu sudah sampai rumah belum? Baru sebentar ditinggal kamu, aku sudah kangen"
Naya menatap tulisan itu lama. Tidak ada ekspresi marah yang meledak. Tidak ada air mata. Hanya senyum tipis yang sempat muncul di sudut bibirnya.
Dengan cepat ia menekan tombol screenshot. Lalu membuka aplikasi pesan, mengirim foto layar itu ke nomornya sendiri. Setelah status terkirim muncul, ia kembali ke percakapan Aslan dan Liza, lalu menghapus pesan tersebut hingga bersih, idak ada jejak, tidak ada notifikasi yang tersisa.
Naya meletakkan kembali ponsel Aslan ke posisi semula di atas meja rias. Ia bahkan merapikan sedikit sudutnya agar terlihat tidak terganggu. Setelah itu ia kembali duduk di tepi ranjang, mengambil ponselnya sendiri, dan menyimpan screenshot itu ke dalam folder tersembunyi yang sudah ia buat sejak seminggu lalu.
Folder itu sudah berisi beberapa bukti perselingkuhan suaminya dengan Liza.
Naya menatap layar ponselnya dengan tatapan yang tenang. Di dalam dadanya tidak ada lagi badai emosi yang dulu sering mengacak-acak. Yang ada hanyalah keputusan yang sudah matang.
Ia akan mengumpulkan segalanya, secara pelan, rapi, dan tanpa ampun, sampai tiba saatnya ia bisa berdiri di depan pengacara dengan tangan penuh bukti.
jadi kenapa kamu harus marah?