Indonesia
NovelToon NovelToon
BESAN ADALAH MAUT

BESAN ADALAH MAUT

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cintapertama / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:3.6k
Nilai: 5
Nama Author: Barra Ayazzio

Handoko Priambodo dan Mellisa Ariani pernah saling mencintai saat masih kuliah. Namun, impian mereka kandas ketika Handoko melanjutkan studi S2 ke luar negeri, memaksa mereka berpisah dan menjalani kehidupan masing-masing.

Puluhan tahun kemudian, takdir mempertemukan mereka kembali di acara lamaran putra Handoko dengan putri Mellisa. Pertemuan itu membangkitkan kembali cinta lama yang seharusnya telah terkubur.

Di balik status mereka sebagai calon besan, terjalin kembali hubungan terlarang yang mengancam menghancurkan rumah tangga, melukai anak-anak mereka, dan mengoyak dua keluarga sekaligus.

Akankah mereka memilih cinta masa lalu, atau mempertahankan kebahagiaan anak-anak mereka?

Karena terkadang, **besan adalah maut**.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Barra Ayazzio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

17. Rahasia Dibalik Sebuah Pernikahan

Pagi itu, keluarga Handoko berkumpul di ruang makan. Meja makan yang panjang dan mewah telah dipenuhi berbagai hidangan sarapan. Aroma kopi yang baru diseduh berpadu dengan wangi roti panggang dan masakan hangat yang tersaji di atas meja.

Pratiwi duduk berhadapan dengan putra semata wayangnya, sementara Handoko berada di sisi lain meja. Suasana pagi itu terasa santai, sampai Pratiwi membuka pembicaraan mengenai persiapan pernikahan Raka.

"Gimana, Ka? Sudah sejauh mana persiapan pernikahannya? Kamu sudah sejauh mana berbincang dengan Kania?” tanya Pratiwi sambil menatap putranya.

"Belum, Mi. Hari ini kan aku ambil cuti. Aku mau ke WO, membicarakan konsep dan lain-lainnya.”

"Oh, jadi kamu jemput Kania dong?” Pratiwi kembali bertanya.

"Nggak, Mi. Kita langsung janjian di WO-nya. Kebetulan Kania baru pulang dari Jakarta.”

Mendengar kata Jakarta, Handoko yang sejak tadi lebih banyak menikmati sarapannya tiba-tiba ikut mengangkat wajah.

"Ngapain dia ke Jakarta?”

Pratiwi langsung menoleh kepada suaminya. Ia meletakkan sendoknya, lalu menatap Handoko dengan ekspresi gemas.

"Tuh, kelihatan kan kalau papimu itu seringnya nggak pernah nyimak kalau kita lagi ngobrolin keluarga calon istrimu itu.”

Raka hanya tersenyum kecil. Ia sudah tidak asing dengan kebiasaan papinya yang terkadang lebih asyik dengan pikirannya sendiri ketika mereka sedang berbincang di meja makan.

"Emang keluarga Kania gimana?” Handoko kembali bertanya.

Pratiwi belum sempat menjawab ketika Raka lebih dahulu menyahut. "Pi, Raka sudah bilang lebih dari sekali di meja makan ini kalau orang tua Kania sudah bercerai sejak dia TK. Ayahnya kerja dan tinggal di Jakarta, dan sudah punya keluarga baru. Sementara bundanya tinggal bersama Kania di Bandung.”

Raka berhenti sebentar untuk mengambil minum.

"Tapi menurut Kania, dia nggak pernah kehilangan kasih sayang dari kedua orang tuanya. Ayahnya tetap bertanggung jawab secara finansial, perhatian juga. Kania sering datang ke Jakarta. Begitu juga sebaliknya, ayahnya yang sering datang ke Bandung. Mereka tetap berhubungan baik meskipun sudah tidak tinggal bersama. Begitu, Pi.”

Pratiwi mengangguk membenarkan penjelasan putranya. "Ya, seperti itu, Pi.”

Handoko terdiam sesaat. Informasi yang sebenarnya sederhana itu entah mengapa membuat pikirannya bergerak ke tempat lain.

*Orang tuanya bercerai sejak Kania masih TK...*

Ada sesuatu yang terasa familiar. Namun, ia segera menepisnya.

"Berarti ayahnya Mmenikah lagi?” tanya Handoko.

"Iya, Pi. Ayahnya sudah punya keluarga lagi.”

"Oh, gitu, Mi.”

Handoko mengangguk-angguk, lalu kembali mengambil cangkir kopinya. "Maaf, papi kan pelupa. Bukan nggak pernah nyimak. Kalau itu mami fitnah.”

Ia tertawa kecil. Pratiwi ikut tersenyum sambil menggelengkan kepala.

"Dasar.”

"Kan mami tahu sendiri, papi pernah koma selama sebulan, jadi otak Papi agak sedikit terganggu."

"Ya semoga Papi bukan ngeles ya."

"Ya nggak lah."

Raka hanya terkekeh melihat kedua orang tuanya.

Percakapan itu kemudian berlanjut membahas hal-hal lain mengenai pernikahannya. Namun, bagi Handoko, ada satu bagian yang justru tertinggal di kepalanya.

*Jadi, Mellisa hanya bisa bertahan sekitar empat atau lima tahun dengan laki-laki yang menikahinya setelah kami berpisah?*

Entah mengapa, dada Handoko terasa sedikit sesak. Selama ini ia hanya mengetahui bahwa Mellisa pernah menikah dan kemudian bercerai. Ia tidak pernah benar-benar tahu bagaimana kehidupan perempuan itu setelah mereka berpisah.

Kini, sedikit demi sedikit, potongan-potongan cerita tentang kehidupan Mellisa seolah mulai tersusun di kepalanya. Bagaimana sebenarnya kehidupan perempuan yang pernah begitu ia cintai itu setelah mereka kehilangan satu sama lain.

Ia meneguk kopinya perlahan, berusaha menyembunyikan perubahan raut wajahnya dari Pratiwi dan Raka. Namun, nama Mellisa sudah telanjur kembali memenuhi pikirannya

"O ya, Pi,” ujar Raka tiba-tiba, seperti baru teringat sesuatu. “Ayahnya Kania bilang kalau beliau mau memberikan hadiah buat kita. Katanya, paket honeymoon keliling Eropa.”

Handoko yang sedang menikmati sarapannya mengangkat wajah. “Wah, hebat dong?”

Awalnya ayahnya memberikan pilihan, antara Amerika atau keliling Eropa.” Raka tersenyum kecil. “Atas saran Tante Mellisa, Kania memilih keliling Eropa. Katanya, kalau keliling Eropa, bisa lebih banyak negara yang dikunjungi.”

Pratiwi yang duduk di samping Handoko mengangguk-angguk. “Oke juga pilihannya. Mami juga pasti lebih memilih keliling Eropa dibandingkan hanya ke Amerika.”

Raka kemudian menoleh kepada ibunya. “Mami sendiri dulu honeymoon ke mana sama Papi?”

Pertanyaan sederhana itu seketika membuat suasana di meja makan berubah. Handoko dan Pratiwi tidak langsung menjawab. Keduanya justru saling pandang beberapa saat, seolah sama-sama sedang mencari jawaban yang paling tepat.

"Lah, malah saling pandang.” Raka mengerutkan kening, lalu terkekeh. “Aku nanya, nih, Mi, Pi.”

Handoko akhirnya tersenyum tipis. Ia meletakkan sendoknya sebelum menjawab. "Papi bingung mau jawabnya bagaimana. Waktu Papi dan Mami menikah dulu, suasananya masih dalam keadaan berkabung. Kakekmu dan Om-mu baru saja meninggal karena kecelakaan.”

"Oh, gitu.” Raka mengangguk-angguk, menerima jawaban itu begitu saja.

Ia kembali menyantap sarapannya, kemudian mulai membicarakan hal lain tentang rencana pernikahannya.

Sementara itu, Pratiwi hanya diam. Tatapannya sesekali jatuh pada Handoko yang kini kembali menyentuh cangkir kopinya.

Ada cerita panjang di balik pernikahan mereka yang tidak pernah mereka ceritakan kepada Raka. Cerita yang bahkan sampai bertahun-tahun kemudian masih menyisakan bagian-bagian yang terlalu berat untuk dibicarakan.

Mereka memang menikah dalam suasana berkabung.

Tetapi bukan hanya karena kehilangan. Ada keputusan-keputusan besar yang harus diambil, ada perasaan yang harus disimpan, dan ada luka yang harus mereka bawa masing-masing ketika memulai kehidupan sebagai suami istri.

Raka tidak pernah tahu semua itu. Dan Handoko serta Pratiwi memilih untuk membiarkannya tetap begitu.

Bagi mereka, masa lalu itu sudah cukup mereka simpan berdua. Yang terpenting adalah Raka tumbuh dengan keyakinan bahwa kedua orang tuanya menikah karena saling mencintai dan membangun keluarga dengan sebaik-baiknya.

Pratiwi kembali tersenyum ketika Raka memanggilnya.

"Mi, nanti kalau aku sama Kania jadi pergi keliling Eropa, Mami mau nitip apa?”

Pratiwi terkekeh kecil. "Titip oleh-oleh saja. Jangan lupa Mami.”

"Mana mungkin lupa.”

Raka tertawa. Handoko dan Pratiwi ikut tersenyum.

"Kok ke papi gak nanya mau nitip apa?" Handoko menatap putranya.

"Nggak ah, biasanya Papi juga suka nolak kalau aku tawarin oleh-oleh pas aku mau pergi ke mana."

"Iya deh, papi kan bisa pergi dan beli sendiri." Semuanya tertawa.

Percakapan di meja makan kembali terasa ringan. Seolah tidak pernah ada percakapan singkat yang membawa mereka sesaat kembali ke masa lalu.

Baginya, jawaban tersebut sudah cukup. Ia tidak lagi mempertanyakan ke mana kedua orang tuanya pergi setelah menikah. Yang ia tahu, pernikahan Papi dan Maminya memang berlangsung di tengah suasana duka.

Namun, ada bagian dari kisah itu yang tidak pernah Raka ketahui.

Ketika Handoko dan Pratiwi memutuskan untuk menikah, keduanya tidak sedang memikirkan bulan madu, apalagi perjalanan jauh ke tempat-tempat indah. Mereka menikah dengan hati yang masih dipenuhi kehilangan. Pernikahan itu terjadi bukan dalam suasana penuh kegembiraan seperti yang dibayangkan Raka tentang sebuah pernikahan, melainkan sebagai bagian dari perjalanan panjang keluarga mereka untuk bertahan setelah kehilangan dua orang yang sangat berarti.

Dan sampai hari ini, hanya Handoko dan Pratiwi yang benar-benar tahu bagaimana beratnya hari-hari setelah pernikahan itu.

1
Oma Gavin
lanjutkan dan jgn melek mata' kalian berdua kan lagi jatuh cinta jadi masing" buta dengan kebahagiaan anak" kalian tetaplah edan jgn sadar
sutiasih kasih: sadarnya nnti aj... klo sdh di hadpkn dgn khilangan dan kehancuran keluarga....
tak ada lgi jln pulang dri petualangan nafsu yg sesat....
🙄🙄
total 1 replies
sutiasih kasih
gmn klo smpe km tau knyataannya wi.... suamimu sdh main gila dgn calon besanmu....
Jamayah Tambi
Depan isteri kau boleh buat Handoko.Kalau ketahuan macam mana.Tak ke merusak hubungn anak2 kamu nanti
Jamayah Tambi
Masalah manusia ialah otak sihat kalah dgn hati yg bercelaru
Jamayah Tambi
Menikah kerana tanggungjawab, bukan cinta kerana hati masing2 mencintai yg lain
Jamayah Tambi
Kacau ni kerana cinta lama
Jamayah Tambi
Kan dah kata salah faham.Dapat pulak ART dungu
Jamayah Tambi
ART Yg bodoh jawab call dari Mellusa mengatakan Handoka melamar kekasih hati.Dah agak dah mesti salah faham.
Jamayah Tambi
Tak salah faham ke ni
Jamayah Tambi
Mesti suami Mellisa selingkuh
Jamayah Tambi
Bahaya ni ,bila lelaki berjumpa semula dgn cinta pertama
Oma Gavin
wed .. wes .. angel musuh wong tuwo ora duwe isin yg ada seperti puber kedua 😅
Oma Gavin
drama perselingkuhan dimulai dari sekarang ngga mikir anak . mereka masing" yg akan nikah udah ketutup sama cinta pertama yg blm kelar
Oma Gavin
intinya sudah pada tua dan mau jadi besan tolong dijaga kehormatan diri masing" jgn merasa kayak abg mau clbk ingat umur
Oma Gavin
ngga bisa dibayangin kalau ada di dunia nyata bukannya mikir gimana anaknya bisa bahagia dgn pernikahan nya malah mengenang mantan sampai segitunya
Dew666
💜
Oma Gavin
berarti yg berkhianat pertama kali handoko dong jgn salahin mellisa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!