Berawal dari ketidaksengajaan darahnya mengenai gagang pintu berukir naga di tumpukan rongsokan, Raka Mahesa mendadak memiliki akses gerbang penembus dua dunia. Berbekal barang murah modern yang menjadi pusaka di dunia kuno dan herbal purba yang bernilai miliaran di Jakarta, pemulung melarat ini mulai membangun kerajaan bisnisnya untuk merajai kedua dunia tersebut.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17
Sasa kembali duduk di sofanya lalu mengetuk-ngetuk meja kaca dengan jari telunjuknya.
Otak jenius wanita itu berputar sangat cepat mencari cara untuk mencairkan asetnya tanpa terdeteksi pemerintah.
"Aku akan mentransfer dua puluh miliar rupiah ke rekening pribadimu sebagai uang saku tunai yang masih masuk akal."
"Lalu sisanya bagaimana?" kejar Raka tidak mau rugi satu sen pun.
"Sisa delapan puluh miliar akan kuberikan dalam bentuk aset yang sudah dicuci bersih atas namamu," jawab Sasa lugas.
Sasa menatap Bima dan memberi isyarat tangan.
"Bima, siapkan dokumen pengalihan saham lima persen dari perusahaan properti bayangan kita untuk Raka."
"Tambahkan juga satu unit rumah mewah di kawasan Pondok Indah dan tiga buah mobil sport edisi terbatas."
"Baik Nona Sasa, saya akan menghubungi tim legal kita untuk mengurus semuanya hari ini juga," jawab Bima sigap.
Raka bersiul pelan mendengar daftar aset yang baru saja diucapkan Sasa dengan sangat santai itu.
Rumah mewah di Pondok Indah dan mobil sport adalah mimpi basah setiap anak muda di jalanan.
"Bagaimana Raka? Apakah penawaran pencucian uangku ini cukup memuaskan untukmu?" tanya Sasa tersenyum percaya diri.
"Sangat memuaskan Nona Sasa, saya merasa seperti ditraktir oleh kakak perempuan yang sangat kaya raya," puji Raka mengacungkan jempolnya.
Sasa mendengus pelan tapi tidak bisa menyembunyikan semburat merah tipis di pipinya karena pujian murahan itu.
"Jangan besar kepala dulu Raka, karena transaksi sebesar ini pasti akan menarik perhatian lalat-lalat kotor di luar sana."
Ekspresi Sasa mendadak berubah menjadi sangat dingin dan waspada.
"Kau ingat pria yang mengikutimu sampai ke apartemen waktu itu? Dia bukan cuma anak buahku."
Raka memajukan posisi duduknya mulai tertarik dengan topik pembicaraan ini.
"Maksud Anda ada orang lain yang menyusup ke dalam kelompok informasi Anda?" tanya Raka serius.
"Benar. Aku baru tahu semalam kalau salah satu informanku ternyata adalah mata-mata ganda yang dibayar oleh saingan bisnisku."
Sasa mengambil tablet di mejanya lalu menggeser layar dan menunjukkannya pada Raka.
Di layar itu terpampang foto seorang pria muda tampan yang memakai setelan jas putih mencolok dengan senyum arogan.
"Namanya Kevin, pewaris tunggal dari Grup Naga Mas yang menguasai pasar properti dan hiburan malam di kota ini."
"Grup Naga Mas sudah lama ingin mencaplok bisnis farmasiku, dan Kevin pasti sudah mendengar desas-desus soal ginseng pusaka milikmu."
Raka menatap foto Kevin itu dengan pandangan malas yang sangat meremehkan.
Orang-orang kaya yang lahir dari harta orang tuanya ini selalu punya wajah yang minta dipukul menurut Raka.
"Lalu apa hubungannya anak manja ini dengan saya Nona Sasa? Saya cuma penjual akar rumput biasa."
"Kevin itu licik dan kejam Raka. Kalau dia tahu kau adalah sumber utama ginsengku, dia pasti akan mencoba merebutmu dariku."
Sasa mencondongkan tubuhnya ke depan menatap tepat ke dalam mata Raka.
"Kalau dia gagal menyuapmu, dia tidak akan segan-segan menggunakan kekerasan atau menyewa pembunuh bayaran."
"Wah menyeramkan sekali ya, saya jadi takut mau keluar rumah sekarang," ucap Raka dengan nada datar yang sangat sarkas.
Raka memang tidak takut sama sekali pada ancaman mafia bumi karena ia punya tempat sembunyi di dunia lain yang tidak bisa disentuh siapa pun.
Lagipula ia sudah mulai terbiasa menghadapi ancaman parang dan tombak sungguhan dari dunia kuno.
"Terserah kalau kau menganggap remeh masalah ini Raka, tapi mulai hari ini kau resmi masuk ke dalam radar pengawasan kelas atas."
Sasa kembali menyandarkan punggungnya dan melipat kedua tangannya di dada.
"Aku akan menyiapkan beberapa bodyguard bayangan untuk mengawasimu dari jauh agar kau tidak mati konyol."
"Tidak perlu repot-repot Nona Sasa, saya lebih suka bergerak sendirian tanpa buntut yang mengganggu."
Raka berdiri dari sofanya lalu merapikan jaket kulitnya bersiap untuk pergi.
"Transfer saja dua puluh miliarnya sekarang, saya mau pergi cari makan siang yang enak."
Sasa menghela nafas panjang melihat kekerasan kepala Raka yang benar-benar di luar kendalinya.
Wanita itu mengambil ponselnya dan memproses transfer dana seperti yang ia janjikan.
Ting!
Suara notifikasi dari ponsel baru Raka berbunyi nyaring.
Raka mengecek layarnya dan tersenyum sangat lebar melihat deretan angka yang masuk ke rekeningnya.
"Uangnya sudah masuk, terima kasih atas kerja samanya Nona Sasa yang cantik."
Raka membalikkan badannya berjalan menuju pintu lift VIP meninggalkan karung goni kotornya di sana.
"Raka tunggu sebentar," panggil Sasa menghentikan langkah pemuda itu.
Raka menoleh ke belakang dengan sebelah alis terangkat.
"Minggu depan akan ada acara pelelangan elit rahasia yang diadakan oleh beberapa konglomerat di hotel bintang lima."
Sasa menatap Raka dengan pandangan menantang.
"Aku akan memasukkan satu batang ginsengmu ke dalam daftar lelang itu untuk menguji reaksi pasar."
"Kau harus ikut denganku ke acara itu sebagai asisten pribadiku agar kau paham cara kerja dunia orang kaya yang sesungguhnya."
Raka tertawa pelan mendengar ajakan Sasa yang terdengar seperti perintah mutlak itu.
"Asisten pribadi? Kenapa tidak sekalian bilang sebagai rekan bisnis Nona Sasa?" bantah Raka tidak mau direndahkan.
"Statusmu masih terlalu misterius untuk diungkap ke publik, jadi asisten adalah kedok yang paling aman untukmu sekarang."
"Baiklah Nona Sasa, saya akan datang ke pesta orang kaya kalian minggu depan."
Raka melambaikan tangannya lalu masuk ke dalam lift yang pintunya mulai tertutup perlahan.
Setelah Raka pergi, Sasa kembali berjongkok di depan meja kacanya dan membelai ginseng-ginseng itu dengan penuh kekaguman.
"Nona Sasa, apakah membiarkan pemuda itu bebas bergerak sendirian adalah keputusan yang bijak?" tanya Bima dengan wajah khawatir.
"Grup Naga Mas pasti akan segera mencium bau uang dari transaksi besar kita hari ini."
Sasa tersenyum dingin tanpa mengalihkan pandangannya dari hartanya.
"Biarkan saja Kevin mencoba menyentuh Raka Mahesa, Bima."
"Aku justru sangat penasaran ingin melihat bagaimana cara pemuda ajaib itu menghancurkan kecongkakan keluarga Naga Mas nanti."
Di saat yang sama, di sebuah klub malam eksklusif yang gelap dan berisik.
Kevin sedang duduk di sofa VIP ditemani beberapa wanita cantik yang menuangkan minuman mahal untuknya.
Seorang pria berpakaian serba hitam mendekat dan membisikkan sesuatu ke telinga Kevin.
"Kau yakin Sasa baru saja menerima pasokan herbal besar dari seorang pemuda antah berantah?" tanya Kevin dengan mata menyipit tajam.
"Benar Tuan Kevin, mata-mata kita melihat pemuda itu membawa karung goni besar ke lantai atas dan belum membawanya turun."
Kevin tersenyum miring lalu menenggak habis minumannya dalam satu tegukan.
"Cari tahu latar belakang pemuda itu sampai ke akar-akarnya."
"Kalau dia punya barang bagus, kita harus merebutnya sebelum Sasa menguasai seluruh pasar farmasi nasional."