"Tolong... tolong saya... ada yang mengejar saya..." bisik Elara dengan suara parau dan napas yang membakar kulit dada pria itu.
Detik berikutnya, dua pria yang mengejar Elara mendobrak keluar dari semak-semak. Mereka menghentikan langkah seketika saat melihat pemandangan di depan mereka. Namun, sebelum salah satu dari mereka sempat membuka mulut untuk meminta maaf atau melarikan diri, Haidar—sang bos mafia yang memimpin wilayah tersebut—beralih pandang. Mata tajamnya yang sedingin es menatap kedua pria pengganggu itu. Tanpa rasa ragu atau sepatah kata pun, Haidar mengarahkan moncong pistolnya ke bawah dan menembak pergelangan kaki pria terdepan.
DOR!
Suara dentuman senjata api memecah keheningan hutan. Pria yang tertembak itu menjerit histeris, terhuyung jatuh ke tanah sambil memegang kakinya yang hancur, sebelum akhirnya merangkak mundur bersama temannya dengan wajah pucat pasi sambil terus membungkuk dan berteriak meminta maaf hysterical kepada Haidar. Mereka tahu betul siapa
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elwa Zetri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PERMINTAAN SEDERHANA
Sinar matahari pagi menembus celah gorden ruang perawatan, membawa kehangatan baru setelah malam yang panjang. Dokter memeriksa kondisi Elara untuk terakhir kalinya sebelum memberikan kabar lega—ia sudah diperbolehkan pulang hari ini. Karena usia kandungannya yang masih sangat muda, janin itu luruh sepenuhnya sebagai gumpalan darah tanpa menyisakan jaringan di dalam rahim. Tidak diperlukannya prosedur kuretase membuat proses pemulihan fisiknya berlangsung jauh lebih cepat.
Haidar mendampingi setiap prosesnya dengan kehati-hatian luar biasa. Pria itu sendiri yang memasangkan mantel tebal ke tubuh Elara, memastikan wanita itu terselimut hangat sebelum memapahnya keluar dari rumah sakit menuju mobil yang sudah bersiap di pelataran.
Perjalanan kembali ke mansion terasa jauh berbeda dari hari sebelumnya. Suasana di dalam mobil tenang dan penuh perhatian. Haidar tak pernah melepaskan genggaman tangannya dari jemari Elara, sesekali mengusap punggung tangannya untuk menyalurkan rasa aman.
Begitu mobil berhenti di depan pelataran mansion megah milik Haidar, para pengawal dan pelayan berbaris rapi dengan kepala menunduk penuh hormat. Tidak ada lagi keberadaan Soraya maupun Sinta; Haidar telah memastikan area tempat tinggal mereka benar-benar steril dari gangguan masa lalu.
Haidar membopong Elara dengan lembut menaiki tangga dan membawanya masuk ke dalam kamar utama yang sudah dibersihkan total. Ia membaringkan Elara di atas ranjang king-size berseprai putih bersih, menyelimutinya hingga dada.
"Istirahatlah," bisik Haidar seraya mengecup kening Elara lembut. "Besok adalah hari pernikahan kita. Aku ingin kau fokus memulihkan tenagamu."
Elara mengangguk pelan, mengukir senyum tulus yang memberikan rasa hangat di dada Haidar. Di kamar yang kini terasa tenang dan aman ini, Elara memejamkan mata, bersiap menyambut esok hari dengan harapan baru.
Haidar baru saja hendak berdiri untuk merapikan selimut Elara ketika jemari halus wanita itu menahan ujung kemejanya. Langkah Haidar terhenti seketika. Ia kembali menunduk, menatap wajah Elara yang menatapnya dengan binar mata penuh harap.
"Apa aku boleh meminta satu permintaan, Haidar?" tanya Elara pelan, suaranya terdengar begitu lembut di tengah keheningan kamar yang luas itu.
Haidar kembali berlutut di samping ranjang, menyejajarkan posisinya dengan Elara. Jemari kokohnya mengusap lembut helai rambut hitam yang menutupi sebagian wajah calon istrinya.
"Sebutkan saja, Elara," jawab Haidar tanpa ragu, tatapannya menyuarakan kesediaan penuh untuk mengabulkan apa pun. "Apapun yang kau minta, akan aku berikan."
Elara mengetatkan cengkeraman kecilnya pada kemeja Haidar, memajukan tubuhnya sedikit agar bisa lebih dekat dengan pria itu.
"Temani aku sampai aku tidur," ucap Elara lirih. Ada nada ketakutan tersirat di suaranya—bayang-bayang trauma dan rasa cemas akan kehilangan kembali membayang tiap kali ia memejamkan mata sendirian.
Haidar tersenyum tipis, sebuah senyuman hangat yang jarang sekali ia perlihatkan kepada siapa pun. Rasa duka di hatinya perlahan luruh melihat betapa Elara begitu membutuhkannya.
"Hanya itu?" bisik Haidar lembut.
Tanpa membuang waktu, Haidar melepaskan sepatu dan jas hitamnya, lalu naik ke atas ranjang besar itu. Ia berbaring di samping Elara, merengkuh tubuh wanita itu ke dalam pelukan hangatnya dan membiarkan kepala Elara bersandar nyaman di dada bidangnya.
"Bahkan jika kau meminta aku menemanimu seumur hidupku, aku tidak akan pernah pergi," bisik Haidar seraya mendaratkan kecupan hangat di puncak kepala Elara.
Elara memejamkan matanya, mendengarkan detak jantung Haidar yang teratur di bawah telinganya. Rasa aman yang selama ini hilang perlahan kembali penuh, membimbingnya masuk ke dalam tidur yang lelap dan tenang.