Indonesia
NovelToon NovelToon
Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Manis Yang Tidak Pernah Kumiliki

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat / Penyesalan Suami
Popularitas:6.9k
Nilai: 5
Nama Author: teteh lia

Setelah diminta mengundurkan diri dari jabatannya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, Viola Shania memilih memulai hidup baru dengan membuka toko kue sederhana bernama Sweet Cake.
Di balik senyum manis dan kue-kue manis yang dibuatnya, tersimpan luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Sebuah kejadian tak terduga mengubah jalan hidupnya, memaksanya menikah dengan Han Seokjin, seorang CEO dingin, angkuh, berusia 35 tahun. Han Seokjin menutup rapat pintu hatinya setelah cinta tak berbalas terhadap sepupunya sendiri.
Di tengah pernikahan yang penuh tantangan, Viola bertekad mencairkan hati suaminya.
Mampukah ia meraih cinta Seokjin, atau justru menyerah pada takdir yang tak pernah berpihak padanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon teteh lia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 4. Takdir yang mulai mendekat.

Jarum jam baru menunjukkan pukul empat dini hari ketika lampu dapur Sweet Cake Viola telah menyala.

Di luar, langit masih gelap. Jalan kecil di depan toko bahkan masih lengang, hanya suara jangkrik dan sesekali deru kendaraan yang melintas memecah keheningan.

Viola mengikat rambut panjangnya, lalu mengenakan celemek warna cokelat muda. Hari ini sedikit berbeda, ada pesanan khusus yang harus dikirim sebelum pukul delapan pagi dengan jumlah yang cukup banyak.

Puluhan butter croissant telah mengembang sempurna di atas loyang. Aroma mentega memenuhi seluruh dapur ketika Viola membuka pintu oven.

Uap hangat langsung mengepul, senyum kecil mengembang di bibirnya. Aroma seperti inilah yang selalu membuat hatinya tenang.

Viola mengambil satu croissant yang baru matang, lalu mematahkannya perlahan. Lapisan pastry yang renyah mengeluarkan bunyi lirih sebelum memperlihatkan bagian dalam yang lembut dan berongga sempurna.

Senyum puas kembali menghiasi wajah Viola. "Pas," gumamnya pelan.

Ia memang selalu mencicipi setiap menu yang dibuatnya. Bukan karena meragukan kemampuannya sendiri, melainkan karena ia ingin memastikan setiap pelanggan memperoleh rasa yang pas dan sama seperti ketika pertama kali mencicipinya.

Dulu, saat masih menjadi CEO, ia terbiasa memeriksa laporan keuangan dan kontrak kerja sama sebelum ditandatangani. Kini ... yang ia periksa adalah tekstur roti, tingkat kemanisan krim, hingga aroma mentega yang keluar dari oven. Anehnya, pekerjaan itu justru membuatnya merasa jauh lebih baik.

"Bu Viola, saya datang." Suara Dimas terdengar dari pintu belakang.

"Terima kasih sudah datang lebih pagi hari ini."

Dimas tersenyum kecil. "Katanya pesanan harus sampai sebelum jam delapan."

"Viola mengangguk. "Iya. Dan ini pesanan petama kita dari perusahaan besar. Jangan sampai mengecewakan."

Tak lama kemudian, Rani dan Siska ikut datang. Keempatnya bekerja tanpa banyak bicara. Yang terdengar hanya denting spatula, suara mixer, dan harum kopi yang baru diseduh.

Menjelang pukul tujuh lewat tiga puluh menit, puluhan kotak berwarna putih dengan pita cokelat akhirnya tersusun rapi di atas meja. Di bagian atasnya terpasang stiker sederhana. Sweet Cake.

Viola memperhatikan satu per satu. "Pastikan semuanya sampai dalam keadaan sempurna."

"Siap, Bu." Dimas mengangkat kotak-kotak itu dengan hati-hati ke dalam mobil boks kecil milik toko.

Viola berdiri di depan pintu, memperhatikan mobil itu perlahan meninggalkan halaman. Entah mengapa hari ini hatinya terasa sedikit berbeda, seolah akan terjadi sesuatu yang tak pernah ia duga.

****

Debu beterbangan setiap kali angin bertiup. Beberapa eskavator berdiri diam dengan ember besi yang mulai dipenuhi karat tipis akibat terlalu lama tidak digunakan.

Di sudut lain, tumpukan baja masih terikat rapi dengan plastik pelindung. Seorang pekerja tampak duduk di bawah pohon sambil meminum air mineral. Begitu melihat rombongan Seokjin datang, mereka spontan berdiri. Suasana yang semula santai berubah tegang.

Han Seokjin turun dari mobil. Mengenakan jas berwarna hitam yang tampak rapi dan kacamata senada, tatapannya menyapu seluruh kawasan. Tak ada senyum ataupun sekedar basa-basi.

"Selamat pagi, Tuan Han." Direktur proyek segera menyambutnya.

"Pagi," jawab Seokjin singkat.

Mereka berjalan menuju posko proyek. Berbagai dokumen, peta lokasi, hingga perkembangan pembebasan lahan dipaparkan secara rinci.

Seokjin mendengarkan tanpa menyela. Sesekali ia mengajukan pertanyaan singkat yang membuat seluruh ruangan kembali hening.

"Laporan di atas kertas selalu terlihat rapi." Ia menutup map di depannya. "Saya ingin melihat kondisi sebenarnya."

"Baik, Tuan."

Sebelum keluar, salah seorang staf proyek buru-buru membuka beberapa kotak makanan yang baru saja diantar.

"Silakan menikmati snack terlebih dahulu, Tuan."

Aroma mentega langsung memenuhi ruangan. Croissant, mini cake, dan dessert lainnya tersusun cantik di atas meja.

"Dari toko mana?" tanya salah seorang staf. "Kelihatannya enak."

"Bakery yang sedang terkenal di kawasan sini."

"Namanya Sweet Cake."

Beberapa orang langsung mengambil satu per satu.

Salah seorang staf menggigit croissant itu, matanya langsung membesar. "Astaga ...," remahan pastry jatuh ke atas meja. "Menteganya benar-benar terasa."

Staf lain ikut mengambil strawberry shortcake. "Krimnya lembut dan tidak bikin enek." Potongan stroberi segar memberi sedikit rasa asam yang justru membuat kuenya semakin seimbang.

"Pantas saja toko ini selalu ramai."

Celotehan para staf yang sedang menikmati aneka snack itu tidak membuat Seokjin tertarik untuk ikut mencicipinya. Ia bahkan tidak melirik sedikit pun meja itu.

"Sebaiknya kita pergi sekarang." Seokjin lalu melangkah keluar. Baginya, pekerjaan selalu lebih penting daripada makanan manis.

****

Matahari mulai meninggi.

Seokjin berjalan menyusuri batas proyek bersama Direktur Proyek dan Asisten Kim. Mereka berhenti tepat di depan deretan bangunan yang belum berhasil dibebaskan.

"Asisten Kim."

"Ya, Tuan." Sekretaris Kim berdiri satu langkah lebih dekat.

"Bangunan mana saja yang masih belum mencapai kesepakatan?"

Asisten Kim membuka tablet. "Masih ada tujuh bangunan lagi." Ia menunjuk satu per satu.

"Lima rumah tinggal, satu ruko." Kemudian jarinya berhenti pada sebuah bangunan dua lantai bercat krem dengan jendela-jendela besar. "Dan satu bakery sekaligus rumah tinggal."

Pandangan Seokjin mengikuti arah yang ditunjuk. Sebuah bangunan dua lantai bergaya klasik modern berdiri kokoh. Dinding luarnya bercat krem dengan tanaman dalam pot yang tumbuh subur dan tampak rapi. Sebuah papan nama sederhana tergantung di depan bangunan bertuliskan. Sweet Cake.

Melalui dinding kaca yang lebar, tampak beberapa pelanggan menikmati kopi dan cake sambil berbincang santai. Sesekali terdengar tawa kecil yang keluar dari dalam toko. Suasana hangat itu terasa begitu bertolak belakang dengan kawasan proyek yang dipenuhi debu dan deru alat berat.

"Itu juga termasuk bangunan yang belum bersedia dilepas?" tanya Seokjin tanpa mengalihkan pandangan.

"Benar, Tuan."

"Siapa pemiliknya?"

Asisten Kim membuka data di tabletnya. "Bangunan milik seorang wanita paruh baya yang tinggal di kota lain. Beliau menyewakannya pada seorang wanita muda yang membuka bakery di tempat itu."

Seokjin mengangguk pelan. "Tidak ada masalah dengan penyewanya?"

"Sepertinya, penyewanya belum mengetahui tentang rencana pembebasan lahan ini," jawab Asisten kim. "Pemilik asli bangunan belum bersedia menjual asetnya. Tim pembebasan lahan sudah beberapa kali melakukan negosiasi, tetapi belum menemukan kesepakatan."

Tatapan Seokjin kembali menyapu bangunan itu. Tidak besar, tidak juga mewah. Namun, entah mengapa, tempat sederhana itu tampak begitu hidup.

Pintu kaca terus terbuka dan tertutup, silih berganti menyambut pelanggan yang datang. Beberapa keluar sambil membawa kotak-kotak cake berlogo Sweet Cake, sementara yang lain memilih menikmati secangkir kopi.

Dari arah tempat itu, samar-samar tercium aroma mentega yang baru keluar dari oven. Harumnya terbawa angin, lembut dan hangat.

Tanpa disadari, Seokjin menarik napas sedikit lebih dalam. Belum sempat ia berkata apa-apa, suara lirih dari perut seseorang memecah keheningan.

Asisten Kim langsung memegangi perutnya sendiri sambil tersenyum kikuk. "Maaf, Tuan." Ia terkekeh pelan. "Sepertinya aroma dari toko itu terlalu menggoda."

Seokjin meliriknya datar lalu menghembuskan napas pelan. Tatapannya kembali jatuh pada etalase kaca di dalam toko.

Dari tempatnya berdiri, ia bisa melihat deretan croissant keemasan yang baru ditata, aneka cake berlapis krim, dan beberapa dessert mungil yang tersusun rapi.

Seorang pelanggan yang baru keluar bahkan masih sempat membuka kotak kuenya, mengambil sepotong kecil, lalu tersenyum puas setelah mencicipinya.

Pemandangan sederhana itu membuat langkah Seokjin tertahan.

"Asisten Kim."

"Ya, Tuan."

"Bukankah kita masih punya waktu sebelum rapat berikutnya?"

Asisten Kim segera melihat jam tangannya. "Masih sekitar tiga puluh menit."

Seokjin terdiam sesaat. Sorot matanya kembali mengarah pada papan nama kayu yang bergoyang pelan di terpa angin.

Ia akhirnya melangkah maju. "Kita masuk sebentar."

Wajah Asisten Kim seketika berbinar. "Baik, Tuan!" Ia buru-buru membuka pintu kaca untuk atasannya.

Tepat ketika tangan menyentuh gagang pintu ... suara denting bel kecil dari dalam toko terdengar samar, seolah menyambut seseorang yang bahkan belum benar-benar melangkah masuk.

****

Viola Shania.

*****berdambung.

1
-Thiea-
Istighfar seokjin. Nara udah jadi milik orang lain.. /Gosh/
Aegis
itu aja pendapat gue. Sebagai orang yang lebih menikmati kisah yang ada latar belakang dan proses, mending gua baca yang alya aja.
Aegis
iya, pas masih lajang ae bisa jaga jarak, sekarang malah ngrangsek🥴
Aegis
nah, pelecehan seksual
Aegis
terlali denial si seok jong un ini🥴
Aegis
kali ini saya akan lawan🥴🥴🥴
Aegis
udah gue duga, gue paling gak suka sama seok jong un, terlalu gajelas alang ujurnya, makanya gue mutusin gak baca sekuel ini. Soalnya menuruku emang hubungan viola ama seok jong un terlalu dipaksakan. Soalnya di cerita sebelumnya mereka juga gadak kontak sama sekali. Kayak dua kutub magnet yang saling tolak menolak tapi terus didorong, ya jadinya ancur🥴. Ini cuma pendapat pribadi.
Teteh Lia: coba cermati judul na..
total 1 replies
Aegis
udah rusak sih kalo menurut pembaca cowok, gak tau ya kalo cewek. Soalnya rerata pembaca cowok kalo tokoh ceweknya udah disentuh tokoh cowok lain, ya dianggep bekas atau Latjur.🥴 mungkin sebaliknya juga gitu🥴 ini jenis nyesek yang tergantung gender.
Aegis
nah, nyeseknya lebih kerasa di sagara kalo gue.
Aegis
di sini seok jong un udah gak terlalu obses ke nara, kalo dibikin obses, mungkin bakal lebih nyelekit buat viola.
Aegis
kalo penjabarannya lewat berita, pembaca juga cuma kayak lagi baca berita, coba pendekatan konfliknya lebih ke personal, lebih langsung, mungkin bakal lebih kerasa, walau gak secara universal.
Aegis
kalo beneran kejadian, itu ngerusak cerita ini dan sebelumnya
Aegis
paling abid gelud kek biasa
Aegis
karena gue udah tau hubungan antara nara ama seok jong un, terlebih sebagai cowok, gue gak bisa terlalu ngerasain yang dirasain viola, mingkin pembaca cewek lebih ngerti ... di otak gw udah tau, ah palingan salah paham. Kalau beneran kejadian, lebih kerasa nyeseknya ke sagara.
Lisa
Wah jadi kacau semuanya..Seokjin seharusnya bisa mengendalikan dirinya..moga sj berita itu dpt dihentikan
mama Al
ya karena Seok Hyeon mencintai Nara. makanya Poto itu di biarkan di sana
mama Al
iya malas nunggu kalau masih lama
mama Al
Viola sejak ketemu Opa Han jadi sering bepergian ya.
mama Al
iya di beli si Han buat kamu viola
mama Al
Viola belom cerita sama mereka tentang kontrak gedung kayaknya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!