Berkisah tentang Varro Aldrian Wijaya, cowok playboy paling top di kampus. Semua wanita sudah jatuh hati padanya, kecuali aku, Gisella Vanessa Setiawan. Sebenarnya, Varro tidak seburuk itu. Kekurangannya hanya ada tiga, dia adalah ketua geng motor, playboy dan sangat egois. Sementara itu, aku paling membenci cowok sepertinya. Namun, seiring berjalannya waktu, kami semakin dekat. Bisakah cowok playboy dan egois sepertinya mampu berkomitmen untuk mencintai satu wanita saja? Apakah perjalanan cintaku akan berakhir bahagia atau malah tidak ada harapan bagiku sejak awal? Ikuti terus kisahnya!
Note : Mohon untuk tidak menjiplak karya Author!
IG = @bellakristyc_
E-mail = bellakristyc@gmail.com
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bella Kristy Cecilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Perubahan Demi Satu Nama
“Varro datang!”
Riuh teriakan mahasiswi menggema di sepanjang koridor lantai tiga. Puluhan pasang mata berlarian mengerubungi tiga pria yang melangkah anggun di tengah lorong. Namun kali ini, Varro Aldrian Wijaya menghentikan langkahnya tepat di tengah arena.
“Perhatian semuanya!” seru Varro dengan suara bariton yang menggelegar lantang, membungkam kebisingan seketika.
Seluruh mahasiswa mematung menantikan perkataannya.
“Mulai hari ini,” lanjut Varro tegas, “gue, Marcel, dan Brandon gak akan pernah menyakiti atau mengintimidasi siapa pun lagi di kampus ini. Geng motor ‘Starlit’ yang gue pimpin gak akan balapan liar di jalan raya, gak akan menguasai secara sepihak seluruh lahan parkir basement kampus, dan kami bertiga gak akan mengganggu hidup siapa pun... kecuali kalau ada yang berani mengganggu kami duluan.”
Marcel melangkah ke samping Varro, membetulkan kerah kemejanya seraya menaikkan suara. “Kalian semua sudah dengar sendiri, kan? Mulai detik ini, kami bertiga gak akan bertindak sewenang-wenang lagi!”
“Woooo!”
Sorakan heboh dan gemuruh tepuk tangan membahana memenuhi lorong lantai tiga. Banyak mahasiswa menghembuskan napas lega, seolah ancaman besar yang menyelimuti kampus baru saja diangkat. Tanpa memedulikan tatapan takjub di sekelilingnya, Varro membalikkan badan, memimpin dua sahabatnya melangkah menuju ruang kelas.
Siang harinya di area kantin yang riuh.
“Marcel! Brandon!” panggilku setengah berbisik seraya melangkah sembunyi-sembunyi menghampiri meja tempat dua sahabat Varro itu duduk.
Marcel menoleh, menahan tawa giginya melihat aksiku. “Eh, Gisel. Kenapa lo jalannya ngumpet-ngumpet kayak buronan gitu?”
Aku menarik kursi kosong di dekat mereka, menatap keduanya dengan rasa heran yang membuncah. “Kenapa Varro tiba-tiba bikin pengumuman aneh kayak gitu di koridor lantai tiga tadi pagi?”
Brandon yang sedang memutar pena di jarinya menoleh lambat padaku. “Varro ada ngomong sesuatu gak sama lo sebelum pengumuman itu?”
“Gak ada,” sahutku makin bingung. “Emangnya ada apa sih? Kenapa dia mendadak berubah?”
Marcel dan Brandon seketika mematung kaku. Mereka saling melempar pandangan penuh makna selama beberapa detik sebelum kembali menatapku.
“Dia jatuh cinta sama lo, Gisel,” jelas Marcel seraya menyunggingkan senyum menyeringai. “Makanya dia bikin deklarasi itu, supaya lo tahu dan sadar kalau dia udah berubah jadi cowok yang lebih baik.”
Dahiku berkerut dalam. “Apa yang beda dari dia?”
Brandon membetulkan kacamata tipisnya, menjawab dengan nada sangat datar. “Dia sengaja bertobat dari kelakuan buruknya cuma supaya lo mau membuka hati dan suka balik sama dia.”
“Maklum aja, Gisel. Si Varro itu sekarang lagi bucin setengah mati sama lo!” celetuk Marcel tertawa puas.
Kring... Kring...
Sebelum aku sempat mencerna omongan mereka yang rasanya tidak masuk akal, pengeras suara radio kampus mendadak berdering nyaring di langit-langit kantin.
“Panggilan darurat kepada Kevin Marcel Bastian dan Brandon Maxwell Adikusuma! Buruan balik ke kelas sekarang juga, ditunggu sama Varro Aldrian Wijaya yang paling ganteng dan baik hati se-kampus!”
Marcel menepuk jidatnya sendiri, raut wajah tampannya mendadak muram. “Udah ya, Gi... Gue sama Brandon balik dulu ke kelas. Bos galak udah manggil pakai pengeras suara.”
Aku tidak bisa menahan tawa kecil melihat kepasrahan mereka. “Oke, bye Kak Marcel, Kak Brandon.”
“Bye, Gisel,” balas Brandon tenang sebelum melangkah cepat menyusul Marcel keluar dari kantin.
Sementara itu, di sebuah bangunan tua yang remang dan dingin di sudut kota Jakarta...
“Menurut lo, apa yang bikin si Varro bajingan itu mendadak mengumumkan pertobatan geng Starlit?” tanya seorang anggota geng motor berwajah garang seraya menyesap rokoknya.
“Ya pasti gara-gara wanita, Bro,” sahut rekannya yang duduk di atas drum bekas. “Mana ada hal lain yang bisa bikin ketua geng sekeras Varro melunak selain karena jatuh cinta?”
Pria pertama terkekeh sinis. “Tapi dia kan sering ke klab malam bareng sahabat-sahabatnya. Masa iya ketua Starlit kepincut sama cewek-cewek hiburan bar?”
Keheningan mendadak melingkupi ruangan saat langkah sepatu bersol tebal terdengar berdetak mantap. Dari balik kegelapan lorong, sesosok pria berkarisma dominan melangkah keluar. Pria itu membalut tubuhnya rapat-rapat dengan hoodie hitam, topi hitam yang menutupi dahinya, serta sepatu kets serba hitam.
Seluruh anggota geng di ruangan itu seketika berdiri tegap dan menundukkan kepala penuh rasa takut.
“Kenapa kalian malah buang-buang waktu bergosip di sini?” suara pria bertopi hitam itu meluncur dingin dan tajam, menusuk pendengaran. “Apa pentingnya dia lagi jatuh cinta atau enggak?! Kalian semua lupa apa tujuan utama kita mengincar Starlit?!”
“Enggak, Bos! Kami gak akan pernah lupa!” sahut seluruh anak buahnya serempak.
Pria bertopi hitam itu menyunggingkan senyum miring yang berbahaya di balik bayangan topinya. “Bagus. Mulai detik ini, cari tahu dan lacak semua informasi yang berhubungan sama Varro Aldrian Wijaya. Benda mati atau benda hidup, cewek favoritnya atau keluarganya, semuanya harus kita perhatikan secara detail! Jangan sampai ada satu celah pun yang terlewat!”
“Siap, Bos!” seru anak buahnya tegas.
Dalam sekejap, tim misterius itu bergerak cepat. Para peretas hacker mulai menari di atas kibor laptop, pengintai dikirim menyusup ke area kampus, dan para pelacak bersiap menguntit setiap pergerakan Varro.
Di dalam ruang kelas perkuliahan, Varro menyandarkan punggungnya ke kursi dengan raut wajah jengkel. Ia menatap dua sahabatnya dengan mata menyipit tajam.
“Hei, lo berdua tadi ngobrolin apa aja sama Gisel di kantin?” tanya Varro menuntut. Pria itu tahu persis karena baru saja memantau pergerakan mereka lewat layar CCTV ruang pengawas kampus.
Marcel mengibaskan tangannya santai seraya merogoh ponselnya. “Dia cuma nanya alasan lo kenapa tiba-tiba mengumumkan pertobatan Starlit di koridor tadi.”
“Dia gak percaya sama gue?” gumam Varro pelan, ada kilat kecemasan di matanya.
Brandon menggelengkan kepala pelan seraya menghela napas panjang. “Bukan gitu, Al.”
“Terus lo tahu dari mana kalau bukan gitu?!” bentak Varro dengan nada menekan.
Brandon membetulkan posisi duduknya, menatap lurus tepat ke dalam mata Varro dengan keseriusan mutlak. “Varro... gue mau lo pikirin hal ini baik-baik. Kalau lo beneran suka sama Gisel, lo harus berjuang keras buat mendapatkan hatinya. Selama ini lo selalu dikejar-kejar sama ratusan cewek, tapi Gisel beda. Dia bukan tipikal cewek yang bakal mengemis atau mengejar lo. Jadi kalau lo masih mempertahankan gengsi setinggi langit itu, siap-siap aja kehilangan dia.”
Varro mendengus kasar, membuang mukanya ke samping. “Jangan sok tahu deh lo.”
Brandon menyunggingkan senyum tipis yang sarat akan kepedihan masa lalu. “Gue bicara berdasarkan pengalaman hidup gue sendiri, Al. Lo juga udah tahu kan gimana tragisnya kisah percintaan gue dulu karena gengsi? Terserah lo mau percaya atau enggak.”
Tepat saat itu, dosen masuk ke dalam kelas. Brandon bergeser duduk di kursi sebelah kiri Varro, membiarkan Varro tenggelam dalam pikirannya sendiri.
Selama dua jam dosen menerangkan materi di depan papan tulis, otak Varro sama sekali tidak menyerap lembaran ilmu bisnis tersebut. Bayangan wajah Gisella dan nasihat menohok dari Brandon terus berputar meracuni konsentrasinya.
Sial! Cewek itu bener-bener bikin gue gak fokus sama sekali! gerutu Varro frustrasi di dalam hatinya.
Sore harinya, langit Jakarta dinaungi awan mendung yang tebal. Titik-titik air gerimis mulai membasahi pelataran parkir kampus saat aku baru saja merapikan tali helmku di dekat motor matik.
“Hei, Gisel.”
Sebuah suara berat menyapa dari belakang. Aku membalikkan badan, mendapati Varro sudah berdiri bersandar santai di dekat motorku.
“Apa?” tanyaku bingung.
Varro melangkah mendekat, menatap langit yang makin mengabu. “Lo berangkat kerja di kafe naik mobil gue aja ya? Gue antar.”
Aku mengulas senyum tipis, menolak halus. “Makasih udah nawarin, Varro. Tapi gak usah, gue bawa motor kok hari ini.”
Varro mengerutkan dahinya cemas. “Ini udah mulai gerimis, Gisel. Masa lo mau hujan-hujanan bawa motor ke tempat kerja?”
“Gak apa-apa kok, gue udah bawa jas hujan di dalam bagasi,” sahutku menenangkan.
Varro diam sejenak, lalu melangkah lebih dekat hingga berdiri tepat di depanku. Matanya menatapku penuh permohonan yang langka. “Gisel... tolong izinkan gue yang kendarai motor lo sampai ke kafe.”
Aku menatapnya dengan raut wajah tak percaya. “Mata lo masih sehat kan buat lihat ini motor bebek tipe apa?”
“Sehat. Kenapa rupanya?” balas Varro polos.
“Lo harus sadar, Varro! Motor bebek matik gue ini jauh beda sama motor sport mewah lo! Emang lo pernah naik motor bebek kayak gini seumur hidup lo?”
Varro tersenyum tipis, mengusap tengkuknya canggung. “Gak pernah sih, tapi kan semua motor sama aja prinsip nyetirnya. Percaya aja sama gue, oke?”
Aku menyipitkan mata penuh curiga. “Nanti lo malah bawa motor gue ngebut-ngebutan lagi.”
“Gak bakal, Gisel. Ayo cepat naik!” ajak Varro seraya menyambar helm dari tanganku dan memasangkannya ke kepalaku dengan lembut.
“Terus mobil sport lo gimana?” tanyaku heran.
“Gampang. Nanti gue suruh Marcel yang bawa pulang ke rumah gue,” jawab Varro santai.
“Tapi gue cuma bawa jas hujan satu...” sahutku panik melihat rintik air yang makin deras.
“Tenang aja, gue pakai jaket kulit ini udah cukup tahan air kok,” potong Varro mantap.
Tanpa membiarkan aku memprotes lagi, Varro menaiki motor matik tuaku. Pria berpostur 183 sentimeter itu tampak sedikit canggung menata kakinya, namun ia mengendalikan kemudi dengan sangat hati-hati dan melaju dengan kecepatan sedang menembus gerimis sore kota Jakarta—memastikan aku sampai di pelataran kafe dengan selamat dan tidak basah kuyup.
“Makasih ya, Varro...” ucapku seraya melepas helm begitu kami sampai di depan kafe. “Tapi lain kali... lo gak usah repot-repot antar gue begini lagi.”
Varro memiringkan kepalanya bingung. “Kenapa?”
Aku hanya mengulas senyum tipis tanpa menjawabnya.
“Gisel! Ayo masuk, di luar makin deras!” panggil Steven dari ambang pintu kafe seraya menyunggingkan senyum ramahnya padaku.
“Makasih, Steven!” sahutku membalas senyumnya seraya melangkah mendekati pintu.
Di belakangku, Varro memperhatikan interaksi itu dengan mata menyipit tajam. Tangannya mencengkeram stang motor jengkel. “Dasar cowok genit!” gerutu Varro pelan seraya menggelengkan kepala.
Setelah memastikan motorku terparkir aman di pelataran kafe, Varro melangkah menuju mobil jemputan pribadi supirnya yang sudah menunggu di seberang jalan untuk membawanya pulang ke rumah.
Bersambung......