Di balik hilangnya seorang gadis, tersimpan rahasia yang selama ini disembunyikan. Seorang ibu bertekad mengungkapnya, meski harus melawan kekuasaan yang selama ini tak tersentuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nona Jmn, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan palsu
"JAWAB!"
"Aku nggak tahu, Al!"
Clarisa menepis tangan Alaric dengan sekuat tenaga, matanya berkilat marah bercampur takut.
"Kamu kenapa sih? Main nuduh aku aja! Awas ya, aku bisa laporin kamu ke Daddy aku!" ancamnya tegas, meski suaranya sedikit gemetar.
"Gue nggak peduli!" balas Alaric tak kalah tegas. Tatapannya tajam ke arah Clarisa, lalu ia menunjuk wajah gadis itu. "Tapi ingat kata-kata gue... kalau sampai gue tahu Lyn kenapa-napa gara-gara lo, jangan panggil Alaric Dewangga kalau lo nggak berakhir di tangan gue!"
Clarisa menatapnya dengan penuh kekecewaan, air matanya mulai menggenang di pelupuk matanya. "Al, kamu kenapa sih? Kamu lebih memilih gembel itu dibanding aku?! Aku sayang sama kamu, Al... tapi kamu nggak pernah sadar!"
Alaric terdiam sejenak, menatap Clarisa dengan tatapan yang jauh lebih dingin dari sebelumnya.
"Clarisa," suaranya dingin tanpa emosi, "cinta lo itu cuma bikin gue jijik. Lo pikir gue bisa suka sama cewek kayak lo, hah?!"
Kata-kata itu menghantam Clarisa lebih keras daripada tamparan apa pun.
Alaric berbalik, melangkah pergi tanpa menoleh lagi, meninggalkan Clarisa yang berdiri mematung.
Clarisa menatap punggung Alaric yang semakin menjauh, tapi kali ini tatapannya bukan lagi tatapan cinta yang selama ini ia simpan.
"Kamu baru saja bikin kesalahan besar, Al," desisnya dingin, tangannya mengepal erat.
—•—
"Bimo, berapa lama lagi kita sampai ke pelabuhan?"
Bimo menatap peta yang terpampang di tabletnya, lalu menjawab. "Dua puluh menit lagi, Tuan."
Cakra mengangguk-angguk. "Bagaimana dengan rencana kita?"
"Berjalan sesuai dengan rencana Tuan."
"Jangan biarkan si brengsek itu memeras kita."
"Siap, Tuan!"
Cakra menyandarkan tubuhnya ke jok mobil, matanya menerawang ke luar jendela sementara pikirannya dipenuhi berbagai rencana yang telah ia susun rapi.
Siang itu terik. Hanya deru mesin mobil dan pantulan sinar matahari yang berkelebat di kaca jendela menemani perjalan mereka.
Namun ketenangan itu tak berlangsung lama.
Cakra menatap keluar jendela mobil, matanya menyipit tajam saat menangkap sosok seseorang berlari kencang di kejauhan, menembus terik siang di sekitar area pelabuhan.
"Berhenti," ucapnya tiba-tiba, membuat sopir langsung menginjak rem.
"Ada apa, Tuan?"
Cakra tak menjawab, matanya masih terpaku pada sosok yang kian mendekat itu.
Ia menyeringai tipis.
"Bimo, lihat itu."
Bimo langsung mengikuti arah pandang Cakra, matanya menyipit tajam.
"Tidak perlu saya jelaskan lagi, kan?"
Bimo mengangguk paham. "Iya, Tuan!" jawabnya tegas, lalu ia mulai menghubungi pengawal lainnya melalui walkie talkie.
"Tim, kalian duluan ke pelabuhan. Saya akan menyusul belakangan bersama Tuan Besar. Pantau terus pergerakan Rama!"
"Diterima!"
"Ke arah barat!" perintah Bimo ke sopir.
"Siap, Tuan."
Mobil itu berbalik arah, melaju cepat menuju barat, meninggalkan debu tipis yang mengepul di belakangnya.
-•-
Di bawah terik matahari, Lyn terus berjalan, langkahnya limbung dan tak beraturan. Tubuhnya letih luar biasa, perutnya kosong melilit menahan lapar, sementara kepalanya berdenyut-denyut pusing setiap kali ia melangkah.
"Tolong..." gumamnya lirih, suaranya nyaris hilang ditelan angin.
Ia terus memaksakan diri berjalan, matanya menyapu sekeliling mencari tanda-tanda kehidupan. Hingga akhirnya, ia menemukan sebuah sungai kecil, airnya jernih mengalir tenang di antara bebatuan.
"Air..." Lyn segera berlutut di tepiannya, tanpa pikir panjang menciduk air dengan kedua tangannya, meminumnya sebanyak mungkin, membiarkan kesegaran itu sedikit meredakan tenggorokannya yang kering.
Setelah beberapa saat beristirahat, Lyn kembali bangkit, memaksakan kakinya untuk terus melangkah. Ia tak ingin berlama-lama di satu tempat, bayangan orang-orang yang mungkin mengejarnya untuk mengambil keuntungan dari dirinya terus menghantui pikirannya.
Beberapa saat berjalan, akhirnya ia menemukan jalanan aspal. Semangatnya kembali membara.
"Akhirnya..." bisiknya, matanya berbinar penuh harap.
Ia berdiri di pinggir jalan, melambaikan tangannya panik setiap kali mobil melintas. "Tolong! Tolong!"
Namun satu per satu mobil melaju begitu saja, tak ada yang berhenti.
Lyn nyaris kehilangan harapan. Tubuhnya semakin lemas. Namun, sebuah mobil sedan hitam muncul dari kejauhan. Dengan sisa tenaga yang ada, Lyn kembali melambaikan tangannya kuat-kuat.
"Tolong! Tolong berhenti..."
Mobil itu melambat, lalu berhenti tepat di depannya. Kaca jendela turun perlahan, menampakkan seorang pria paruh baya dengan senyum ramah.
"Tuan, tolong bantu saya, Tuan," ucap Lyn terengah-engah, air mata lega mulai menggenang di mata.
"Naiklah," ucap pria itu, membukakan pintu.
Lyn tersenyum lega, segera masuk ke kursi depan tanpa curiga sedikit pun, tanpa sadar, di balik jok belakang, sesosok bayangan tersenyum miring, mengawasi setiap gerakannya dalam diam.
"Terima kasih banyak, Tuan," ucap Lyn tulus, menghela napas lega. "Saya benar-benar nggak tahu harus gimana lagi kalau Tuan nggak berhenti."
Pria itu tersenyum, tangannya meraih sesuatu dari dashboard. "Kamu pasti lapar, kan? Nih, makan dulu," Ia menyodorkan sebungkus roti pada Lyn, matanya menatap wajah pucat gadis itu dengan tatapan yang sulit diartikan.
"Terima kasih, Tuan," Lyn menerimanya dengan penuh syukur, tak menaruh curiga sedikit pun. Tanpa ragu, ia langsung membuka bungkusnya dan menggigit roti itu, rasa lapar mengalahkan segala kewaspadaan yang seharusnya ia miliki.
Saat mengunyah, matanya tanpa sengaja melirik ke kaca spion tengah dan seketika tubuhnya membeku.
Sosok di balik jok belakang itu menatapnya lewat pantulan kaca, menyinggung senyum miring yang terasa mengerikan.
Jantung Lyn berdegup kencang. Perlahan, dengan tangan gemetar, ia menoleh ke belakang.
"Anda..."
Namun sebelum ia sempat berkata lebih jauh, kesadarannya mulai kabur. Pandangannya berputar, tubuhnya melemas seketika.
Dan semuanya menjadi gelap.