Indonesia
NovelToon NovelToon
MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

MISTERI RUMAH WARISAN KAKEK

Status: sedang berlangsung
Genre:Horor / Hantu / Rumahhantu
Popularitas:711
Nilai: 5
Nama Author: Iephe Tyo

Theo adalah seorang laki laki yang baru saja menikah dengan perempuan bernama Tiara. keduanya adalah pasangan yang bahagia yang tinggal cukup sederhana di Kota. namun ketenangan mereka berubah ketika Thao mendapatkan warisan rumah dan tinggal di rumah tersebut.

keanehan demi keanehan ia alami selama tinggal di rumah tua yang memang sudah terkenal angker sejak lama.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Iephe Tyo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Dari balik kaca jendela kamarnya yang menghadap langsung ke arah pekarangan belakang, terdengar suara rintihan lirih seorang wanita. Suaranya terdengar begitu pilu, berbisik terbawa angin sore, memanggil-manggil dengan nada penuh kesakitan.

Bu Sri mematung. Rintihan itu... adalah suara yang sudah sangat lama tidak ia dengar. Sebuah teror gaib yang dulu sering menghantui rumah megah ini di masa-masa awal ia dan Pak Harto tinggal di sana, sebelum suaminya berhasil meredam dan menutup rapat misteri kelam tersebut.

Kini, sepeninggal Pak Harto, suara itu kembali bangkit, seolah menyadari bahwa pelindung utama rumah ini telah tiada.

Bu Sri tampak segera bergegas menuju ke ranjang dan memilih untuk berdoa sembari memejamkan matanya dan berharap segera terlelap.

.

.

.

KEESOKAN HARINYA.

Sinar matahari pagi menyelinap di antara dedaunan saat mobil Theo membelah jalanan desa menuju ujung wilayah Desa Bojasari. Di sana, terhampar luas lahan peternakan yang menjadi kebanggaan keluarga mendiang Pak Harto. Peternakan itu adalah aset terbesar yang kini harus dikelola Theo.

Saat mereka tiba, suasana peternakan sudah sangat sibuk. Kambing-kambing dan sapi-sapi yang dirawat dengan baik terlihat sehat, memberikan gambaran betapa terawatnya warisan sang kakek. Setelah memasuki gerbang peternakan dan memarkirkan mobil double cabin peninggalan kakeknya. Theo bersama dengan Bu Sri dan Tiara pun melanjutkan perjalanan mereka dengan berjalan kaki.

Langkah kaki Theo, Tiara, dan Bu Sri terngiang halus menapak jalan setapak berbatu menuju area dalam peternakan. Bau khas rumput gajah yang baru dipotong dan aroma khas peternakan mulai tercium di udara pagi. Bagi Theo, aroma ini membangkitkan ingatan masa kecil yang sempat terkubur.

"Mbah Utik ingat betul, dulu waktu kamu masih SD, kamu paling senang lari-lari di sekitar kandang sampai bajumu kotor semua," Bu Sri terkekeh pelan, mengenang kenangan lama sembari berjalan anggun di samping cucunya.

"Dan Kakung selalu marah kalau Theo sampai jatuh, kan, Ti?" sahut Theo sambil tersenyum menoleh ke arah Tiara, yang hanya dibalas tawa kecil dari istrinya.

 Di kejauhan, seorang pria berbadan kurus tegap dengan kulit kecokelatan akibat tersengat matahari tampak sedang memberi instruksi kepada pekerja lain. Itulah Joko, orang kepercayaan Pak Harto yang sudah mengabdi selama puluhan tahun sejak ia masih remaja dulu.

Mata Joko menangkap sosok Bu Sri yang berjalan dengan dua orang lain bersamanya. Seketika itu juga, ia melepas topi petaninya dan berlari kecil dengan penuh hormat.

"Ndoro Putri! Selamat pagi, Ndoro," sapa Joko dengan takzim, membungkukkan badan. "Alhamdulillah, akhirnya Ndoro Putri berkunjung ke sini lagi."

Bu Sri tersenyum tipis, meski matanya masih menyiratkan duka. "Iya, Jok. Saya datang bersama Theo dan istrinya, Tiara. Mereka sekarang yang akan melanjutkan urusan di sini."

Mata Joko beralih ke pria yang berdiri di samping Bu Sri. Ia terbelalak. "Mas Theo? Astaga... ini benar-benar Mas Theo?"

Theo tersenyum lebar dan segera menyalami Joko dengan hangat. "Apa kabar, Mas Joko? Sudah lama sekali kita tidak bertemu, ya."

Joko tampak tak percaya. "Ya ampun, terakhir saya melihat Mas Theo saat masih remaja dulu, yang waktu itu... yang kejadian malam mencekam itu, kan? Mas Theo sudah besar sekarang, sekitar 10 tahun mas kita nggak ketemu."

"Iya, Mas. Terakhir kita main ke hutan belakang itu kan waktu aku masih SMP, ya?" kenang Theo, memori tentang keseruan masa kecil bersama Joko kembali mengalir.

Joko tertawa, meski ada sedikit getaran di suaranya. "Benar, Mas. Saya masih ingat betul bagaimana Mas Theo kecil dulu. Dulu saya sering kewalahan menjaga Mas Theo karena hobinya yang nekat. Tapi jujur, Mas, setelah kejadian waktu itu, saya sempat takut Mas Theo tidak akan pernah mau menginjakkan kaki lagi di desa ini."

Tiara, yang hanya menyimak percakapan tersebut, merasa kagum melihat sosok Joko yang begitu setia. Di usia 40 tahun, Joko tampak begitu akrab dengan suaminya namun tetap menjaga tutur katanya terhadap keluarga majikannya.

"Sekarang saya kembali, Mas Joko. Dan kali ini, saya harus belajar banyak dari Mas Joko soal pengelolaan peternakan ini," ujar Theo sungguh-sungguh.

Joko mengangguk mantap, sorot matanya kini berubah penuh tekad. "Tentu, Mas Theo. Apa pun yang Ndoro Kakung ajarkan kepada saya, akan saya berikan semua kepada Mas Theo. Peternakan ini bukan sekadar bisnis, tapi amanah besar, Mas."

Di bawah langit pagi yang cerah, percakapan mereka terasa begitu hangat. Namun, di balik keramahan Joko, Theo menangkap pandangan sekilas dari pria itu ke arah tembok beton tinggi perbatasan lahan peternakan yang berbatasan langsung dengan hutan tua. Seolah-olah, Joko tahu benar bahwa di balik luasnya aset ini, ada hal-hal lain yang juga perlu mereka "jaga".

.

.

.

Matahari perlahan mulai meninggi, memancarkan kehangatan yang merata di atas luasnya area peternakan. Setelah puas berkeliling, melihat dari dekat kondisi kandang-kandang ternak, serta bernostalgia dengan berbagai kenangan masa lalu bersama Joko, kunjungan hari itu pun harus segera disudahi.

Theo merangkul pundak Tiara, sementara Bu Sri berdiri di samping mereka sambil merapikan selendangnya.

"Joko, kami pamit dulu ya. Pekerjaan di sini saya serahkan seperti biasa ke kamu. Nanti kalau ada apa-apa, kabari Theo atau langsung ke rumah," pesan Bu Sri ramah.

Joko mengangguk takzim. "Baik, Ndoro Putri. Hati-hati di jalan. Urusan peternakan di sini serahkan pada saya, insya Allah aman."

Sebelum benar-benar melangkah menuju mobil, Bu Sri tiba-tiba teringat sesuatu. Ia menoleh kepada Joko dengan senyuman khasnya.

"Eh, tunggu sebentar, Jok. Jangan lupa, di mobil bagian belakang ada beberapa kotak bekal makanan yang sengaja ku siapkan dari rumah tadi pagi untuk kamu dan yang lain di sini. Ambil ya, buat makan siang bersama," ujar Bu Sri penuh perhatian.

Mata Joko melebar, menyiratkan rasa haru dan hormat yang mendalam atas kebaikan hati majikannya yang tidak pernah luntur meski baru saja berduka.

"Ya Allah, Ndoro Putri... repot-repot amat pakai bawain bekal segala. Terima kasih banyak, Ndoro. Ini pasti sedap sekali masakan Ndoro," ucap Joko sambil membungkuk, seraya berjalan dan mengajak pegawai yang lainnya untuk mengambil makanan yang di buatkan oleh Bu Sri di mobil.

Setelah berpamitan sekali lagi dan melambaikan tangan kepada para pekerja peternakan yang berdiri berjajar melepas kepergian mereka, Theo membuka pintu mobil. Mesin mobil dinyalakan, perlahan meninggalkan area peternakan yang sibuk itu, membawa serta harapan baru bagi keluarga kecil mereka di Desa Bojasari.

.

.

.

Matahari perlahan tenggelam di balik cakrawala, menyisakan bias jingga yang lekas digantikan oleh pekatnya malam. Seiring surutnya cahaya, kehangatan yang sempat dirasakan Theo, Tiara, dan Bu Sri di Desa Bojasari seolah ikut terkikis lenyap.

Di dalam rumah berarsitektur Eropa klasik itu, lampu-lampu bohlam berwarna putih seakan tak mampu mengusir bayangan gelap yang merayap di setiap sudut ruangan. Udara mendadak berubah menjadi dingin menusuk tulang, jauh lebih dingin dari malam-malam sebelumnya.

Bagi Theo, malam ini menjadi pengingat nyata bahwa di balik ketenangan desa dan indahnya peternakan tadi pagi, rumah warisan ini menyimpan rahasia kelam yang sewaktu-waktu siap kembali menagih teror.

Entah kenapa, menurut Theo malam ini serasa berbeda dari malam sebelumnya. Ia merasa suasana malam ini ....

1
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh... Bakalan ada apa lagi, nih?
Tiba-tiba hawanya dingin begitu...
🤨🤨🤨
Tita Tata
sumpahhhh penasaran bgt sama kelanjutannya
Tita Tata
pokoknya terus lanjut bacaa
Tita Tata
suara apa itu thorrrrrrr
Tita Tata
lanjut thor ... semakin seruuuu
Tita Tata
jadi Theo pernah se trauma itu yaaa
Tita Tata
aku suka bngt sama tulisan author ini
Tita Tata
apa yang akan terjadi selanjutnya yah
Tita Tata
tegang bgt sumpah
Tita Tata
lanjut thorrrr
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Loh, wafatnya Kakung Theo belom dikasih kabar ke orang tuanya kah??? 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Kira-kira Theo bisa "merasakan" kejanggalan di rumah peninggalan Kakeknya gak, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Owalaaah... Jadi makhluk-makhluk yang mengganggu itu kiriman orang lain ternyataaa... Gak bisa dibiarin terus kalo begitu...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Aduuuh, saya bener-bener jadi inget sama Almarhum Mbah saya pas baca BAB ini, Kak... Emosi memorinya kuat banget... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Jangan-jangan semua makhluk yang ada di rumah Almarhum Kakek Theo itu, sosok penjaga rumah itu kah???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Saya suka banget nih, ceritanya semakin mendebarkan... 🤭🤭🤭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Siapa sih, wanita yang menangis itu? Penasaran banget jadinya...
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waaah, nostalgia banget pas baca kata "Playstation"... Jadi sama-sama inget masa SMP dulu, mirip kayak Theo... 😭😭😭
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Waduh, ada rahasia apa di balik rumah dan peternakan Almarhum Kakek Theo, ya???
☠️🩸Deni Komarulloh🩸☠️
Wah... Makin seru ceritanya Thor!

Kira-kira, suara rintihan dari sosok siapa atau apa yang di denger sama neneknya Theo, ya???

🤨🤨🤨🤨🤨
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!