Indonesia
NovelToon NovelToon
PENGUASA DEWA NAGA

PENGUASA DEWA NAGA

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam / Fantasi
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Otna Forever

"Mo Ling'er! Kau berjanji memberiku tiga tahun!" raungnya seperti harimau yang terluka. "Sekarang baru dua tahun! Kenapa kau lakukan ini padaku! Kenapa?!"

Mo Ling'er menyeringai, tersenyum penuh penghinaan.

"Menunggumu? Hmmph!

"Kau tidak pantas!"

Kalimat itu menghantam arena seperti petir.

"Aku dulu buta karena menganggapmu istimewa," kata Mo Ling'er sengaja lantang, biar semua orang mendengar.

"Kau memang Tuan Muda Ketiga Keluarga Feng, tapi selama enam belas tahun apa yang kau raih?"

"Jiwa Bela Diriku Peringkat Enam! Aku jenius Keluarga Mo, sekaligus jenius nomor satu di antara rekan-rekan di Kota Wushuang! Sementara kau hanya Peringkat Dua, apa hakmu menyuruhku menunggu?

"Hari ini, kau juga hanya sanggup membangkitkan Jiwa Bela Diri diperingkat Dua. Perempuan saja bahkan lebih baik darimu!"

"Dasar sampah!"

Seketika hati Feng Wuchen terasa seperti ditusuk ribuan pisau.

Enam belas tahun kenangan indah mereka terlintas di benaknya. Tawa, senda gurau, janji, kebersamaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Otna Forever, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 22: Rahasia di Balik Utang Jutaan

Feng Wuchen tidak menanggapi ucapan Mo Kun lagi. Ancaman yang perlu disampaikan sudah ia sampaikan, dan menurutnya tidak ada gunanya membuang waktu untuk berdebat dengan seseorang yang bahkan belum menyadari bahaya di depan matanya.

Tak lama kemudian, suara Yu Wanxiong terdengar dari panggung pelelangan.

“Karena tidak ada penawaran yang lebih tinggi, Pil Qingyuan resmi menjadi milik Klan Feng.”

Keputusan itu sekaligus menandai berakhirnya pelelangan hari itu. Zhang Han segera membawa Pedang Api dan Pil Qingyuan menuju ruang pribadi Klan Feng, lalu menyerahkan keduanya kepada Feng Wuchen dengan sikap yang jauh lebih hormat daripada biasanya.

Anehnya, tidak ada lagi kegaduhan di aula.

Para tamu yang sebelumnya berebut mengajukan harga kini justru meninggalkan Paviliun Wanbao satu persatu. Sebagian bahkan mempercepat langkah, seolah khawatir akan terseret ke dalam perselisihan antara Klan Feng, Klan Yang, dan Klan Mo.

Dalam waktu kurang dari seperempat jam, aula pelelangan yang semula penuh sesak telah menjadi lengang.

Yu Wanxiong kemudian datang menemui rombongan Klan Feng.

Sebelum Ketua Paviliun itu sempat berbicara, Feng Wuchen lebih dahulu menangkupkan tangan. “Ketua Paviliun Yu, terima kasih atas bantuanmu hari ini. Pedang Api dan Pil Qingyuan berjumlah tujuh juta enam ratus ribu keping emas. Untuk sementara aku berutang kepadamu, tetapi aku akan melunasinya secepat mungkin.”

Feng Zhengxiong dan beberapa orang di belakangnya langsung memandang Feng Wuchen.

Tujuh juta enam ratus ribu keping emas bukan jumlah kecil. Bahkan bagi Klan Feng, mengumpulkan kekayaan sebesar itu dalam waktu singkat nyaris mustahil.

Namun nada bicara Feng Wuchen begitu tenang seolah ia sedang membicarakan beberapa ribu keping emas saja.

Yu Wanxiong tersenyum dan menggeleng. “Tuan Muda Feng terlalu sungkan. Dibandingkan bantuanmu mengeluarkan Racun Api dari tubuhku, masalah ini tidak perlu terlalu dipikirkan.”

Feng Wuchen hanya membalas dengan senyum tipis.

Ia tentu memahami alasan Yu Wanxiong bersedia memberikan kelonggaran sebesar ini. Di dunia kultivasi, hampir tidak pernah ada bantuan yang benar-benar diberikan tanpa alasan. Namun selama kedua pihak memperoleh keuntungan, Feng Wuchen tidak merasa perlu mempermasalahkannya.

Setelah berbincang sebentar, rombongan Klan Feng meninggalkan Paviliun Wanbao.

Begitu mereka pergi, Zhang Han akhirnya tidak mampu menahan kegelisahannya.

“Ketua Paviliun, apakah menurut Anda Klan Feng benar-benar mampu mengembalikan tujuh juta enam ratus ribu keping emas?”

Yu Wanxiong menatap pintu yang baru saja dilewati Feng Wuchen.

“Klan Feng mungkin tidak mampu,” jawabnya perlahan. “Tetapi Feng Wuchen... aku tidak berani meremehkannya.”

Semakin banyak ia berurusan dengan pemuda itu, semakin sulit baginya melihat batas kemampuan Feng Wuchen.

Setibanya di kediaman Klan Feng, persoalan utang pelelangan segera menjadi topik utama.

Xiao Qingqing bahkan belum bisa benar-benar tenang sejak meninggalkan Paviliun Wanbao.

“Chen'er, Ibu tahu kau menginginkan pedang itu, tetapi tujuh juta enam ratus ribu keping emas bukan jumlah yang bisa kita dapatkan begitu saja.”

Feng Yuan yang berada tidak jauh darinya menghela napas.

“Adik Ketiga, Mo Kun jelas sengaja menaikkan harga. Kau seharusnya tidak terpancing olehnya.”

Feng Wuchen duduk dengan santai dan sama sekali tidak terlihat seperti seseorang yang baru saja membuat klannya menanggung utang jutaan keping emas.

Ling Xiaoxiao yang duduk di sampingnya justru tersenyum. “Bibi Xiao tidak perlu terlalu khawatir. Kakak Feng pasti sudah memikirkan jalan keluarnya.”

Xiao Qingqing menatap gadis itu, lalu kembali memandang putranya.

Justru ketenangan Feng Wuchen itulah yang membuatnya bingung.

Berbeda dengan istrinya, Feng Zhengxiong masih mampu tertawa. “Sudahlah. Pedang Api dan Pil Qingyuan sama-sama berguna bagi Klan Feng. Keping emas bisa dicari kembali, tetapi harta yang cocok belum tentu datang dua kali.”

Feng Qianyang yang sejak tadi diam akhirnya angkat bicara.

“Wuchen.”

Tatapan Tetua Agung itu tertuju tajam kepada Feng Wuchen.

“Orang tua ini melihatmu tumbuh sejak kecil. Kau memang berani, tetapi bukan orang yang bertindak tanpa memikirkan akibatnya. Kalau benar-benar tidak mempunyai cara untuk membayar utang itu, kau tidak mungkin berani menawarkan lima juta keping emas untuk Pedang Api.”

Senyum Feng Wuchen sedikit melebar.

“Tetua Agung memang paling mengenalku.”

Ia menoleh kepada Xiaolan. “Tolong ambilkan kuas, tinta, dan bilah bambu.”

Xiaolan segera menurut.

Tak lama kemudian, benda-benda yang diminta telah tersedia di atas meja. Feng Wuchen mengambil kuas, mencelupkan ujungnya ke dalam tinta, kemudian mulai menulis.

Feng Zhengxiong dan yang lainnya mendekat karena penasaran.

Pada awalnya mereka masih belum memahami apa yang sedang dilakukan Feng Wuchen. Namun setelah beberapa baris tertulis, ekspresi Feng Qianyang berubah.

Tatapan lelaki tua itu terpaku pada bilah bambu.

“Ini...”

Tangannya bahkan sedikit bergetar.

Feng Wuchen menyelesaikan baris terakhir sebelum meletakkan kuasnya.

“Ini jalan keluar kita.”

Feng Qianyang mengambil bilah bambu tersebut dengan hati-hati. Setelah membaca seluruh isinya sekali lagi, ia mengangkat kepala dengan wajah penuh keterkejutan.

“Serbuk Pengumpul Qi Tujuh Harta?”

Feng Zhengxiong mengerutkan kening. “Resep ramuan?”

“Benar.” Feng Wuchen mengangguk.

“Serbuk Pengumpul Qi Tujuh Harta digunakan untuk membantu kultivator Alam Penempaan Tubuh meningkatkan kecepatan kultivasi. Khasiatnya setidaknya sepuluh kali lebih kuat dibanding Serbuk Penguat Qi yang biasa dimurnikan Tetua Agung.”

Ruangan mendadak sunyi.

Feng Qianyang menatapnya seolah baru saja mendengar sesuatu yang mustahil.

“Sepuluh kali?”

Sebagai seorang Alkemis Tingkat Satu, ia lebih memahami arti angka itu daripada siapa pun di ruangan tersebut.

Ia segera membaca resep tersebut sekali lagi. Semakin lama diperhatikan, keterkejutan di wajahnya justru semakin besar.

“Tidak mungkin...”

“Kenapa?” tanya Xiao Qingqing cemas.

Feng Qianyang menunjuk beberapa bagian resep.

“Bahan-bahannya sangat umum. Tidak ada satu pun yang sulit diperoleh. Namun komposisi, urutan, dan jumlah setiap bahan... semuanya tersusun sangat tepat.”

Ia mengangkat wajah dan menatap Feng Wuchen.

“Resep ini bukan sesuatu yang dibuat sembarangan.”

Xiao Qingqing semakin kebingungan. “Tapi Chen'er bukan seorang Alkemis. Dari mana dia mendapatkan resep seperti ini?”

Pertanyaan itu membuat Feng Zhengxiong teringat pada semua keanehan putranya selama sebulan terakhir.

Kecepatan kultivasi yang tidak masuk akal. Kemampuan melihat kelemahan jurus lawan. Cara misterius mengeluarkan Racun Dingin Tetua Su dan Racun Api Yu Wanxiong.

Semuanya terlalu sulit dijelaskan sebagai kebetulan.

“Chen'er,” ujar Feng Zhengxiong serius. “Sebenarnya apa yang terjadi padamu selama sebulan terakhir?”

Feng Wuchen tahu saat ini akan tiba.

Tentu saja ia tidak mungkin menceritakan tentang ingatan Dewa Naga Jahat. Karena itu, ia telah mempersiapkan sebuah alasan yang cukup masuk akal.

“Sekitar sebulan lalu, aku bertemu seorang ahli.”

“Seorang ahli?” Feng Qianyang langsung bereaksi.

Feng Wuchen mengangguk. “Dia mengatakan aku memiliki bakat dalam bidang alkimia dan bersedia menerimaku sebagai murid. Teknik yang kugunakan untuk mengeluarkan racun, metode kultivasiku, termasuk resep ini, semuanya berasal darinya.”

Feng Zhengxiong tercengang. “Seberapa kuat gurumu?”

Feng Wuchen berpura-pura berpikir sebentar. “Aku tidak tahu ranah pastinya. Tetapi dia bisa terbang tanpa bantuan Binatang Buas terbang.”

Ekspresi orang-orang di ruangan itu langsung berubah.

Mampu terbang dengan kekuatan sendiri berarti orang tersebut setidaknya telah mencapai ranah yang sangat tinggi, jauh melampaui orang-orang kuat di Kota Wushuang.

“Kenapa kau tidak pernah memberi tahu kami?” tanya Xiao Qingqing.

“Guru tidak suka menarik perhatian. Wataknya juga agak... aneh.”

Feng Qianyang justru mengangguk penuh pengertian. Dalam pandangannya, ahli tingkat tinggi memang sering memiliki sifat yang sulit ditebak.

“Tidak heran,” gumamnya. “Tidak heran kultivasimu meningkat begitu cepat.”

Feng Wuchen menahan senyum.

Alasannya ternyata jauh lebih mudah diterima daripada yang ia bayangkan.

Ia kemudian menyerahkan resep tadi kepada Feng Qianyang.

“Guru pernah mengatakan bahwa Serbuk Pengumpul Qi Tujuh Harta hampir tidak dikenal di dunia luar. Setelah Tetua Agung menghafalnya, bakar resep itu. Jangan sampai jatuh ke tangan orang lain.”

Setelah berkata demikian, Feng Wuchen kembali mengambil kuas.

Kali ini ia menulis rangkaian metode yang jauh lebih rumit.

Feng Qianyang hanya membaca beberapa baris sebelum napasnya tercekat.

“Metode pemurnian pil?”

“Benar.”

Feng Wuchen meletakkan kuas.

“Guru meninggalkannya untukku. Tetapi aku belum membutuhkannya sekarang, jadi Tetua Agung bisa mempelajarinya terlebih dahulu. Dengan metode ini, seharusnya tidak membutuhkan waktu lama bagimu untuk menjadi Alkemis Tingkat Dua.”

Ia berhenti sejenak sebelum menambahkan dengan santai, “Jika pemahaman Tetua Agung cukup baik, mencapai Alkemis Tingkat Enam di masa depan juga bukan sesuatu yang mustahil.”

“Alkemis Tingkat Enam?”

Feng Zhengxiong nyaris mengira dirinya salah mendengar.

Bahkan Feng Qianyang kehilangan ketenangannya.

Di seluruh Kekaisaran Api, keberadaan Alkemis Tingkat Enam hampir seperti legenda. Status orang seperti itu bahkan cukup untuk membuat kekuatan-kekuatan besar memperlakukannya sebagai tamu kehormatan.

“Bagus... bagus!”

Feng Qianyang menggenggam bilah bambu itu dengan tangan gemetar.

Tetua Kedua Feng Yunshan yang sejak tadi menyaksikan semuanya bahkan matanya terlihat berkaca-kaca.

“Langit benar-benar memberi kesempatan kepada Klan Feng untuk bangkit.”

Feng Zhengxiong tiba-tiba memahami sesuatu.

“Chen'er, jadi alasanmu meminta hak perdagangan dari Paviliun Wanbao...”

“Benar.”

Feng Wuchen tersenyum. “Suatu hari nanti, Serbuk Pengumpul Qi Tujuh Harta akan dijual melalui Paviliun Wanbao.”

Tatapannya perlahan berubah dingin. “Semua orang boleh membelinya. Kecuali Klan Yang dan Klan Mo.”

Keheningan singkat menyelimuti ruangan.

Feng Zhengxiong kemudian tertawa lebar.

“Bagus! Ini baru putraku!”

Namun Feng Qianyang segera mengingatkan mereka agar tidak terburu-buru. Resep seperti ini dapat mendatangkan kekayaan besar, tetapi juga bisa mengundang bencana apabila tersebar sebelum Klan Feng memiliki kekuatan untuk melindunginya.

Feng Zhengxiong langsung menyetujui pendapat tersebut.

“Mulai hari ini, semua yang kalian dengar di ruangan ini adalah rahasia tertinggi Klan Feng. Siapa pun yang membocorkannya akan dihukum berdasarkan aturan klan.”

Semua orang mengangguk serius.

Ling Xiaoxiao mendekat sedikit kepada Feng Wuchen dan berbisik, “Kakak Feng ternyata sudah memikirkan semuanya sejak awal.”

Feng Wuchen hanya tersenyum.

Tatapannya beralih ke luar jendela.

Serbuk Pengumpul Qi Tujuh Harta memang berharga bagi Kota Wushuang, bahkan mungkin bagi seluruh Kekaisaran Api. Namun dibandingkan seluruh pengetahuan yang ia peroleh dari ingatan Dewa Naga Jahat, resep itu hanyalah setetes air di tengah lautan.

Yang lebih penting baginya sekarang adalah menerobos ke alam berikutnya.

Alam Pengumpulan Qi.

Begitu mencapai alam itu dan berhasil memadatkan Qi Sejati, banyak teknik yang selama ini hanya tersimpan di dalam ingatannya akhirnya dapat digunakan.

Feng Wuchen mengepalkan tangannya perlahan.

Perjalanannya baru saja dimulai.

......................

Bersambung...

1
Didi h Suawa
baik,,
Otna Forever: Makasih bosku 🙏
Sehat selalu dan lancar rezekinya 🤲
total 1 replies
Didi h Suawa
menaril,,
Didi h Suawa
cerita yang bagus,,🙏lanjut,
Ed Troivan
Lanjutkan thorku 🤭
Ed Troivan
lanjutkan thorku😊🤭💪
Ed Troivan
lanjut
Ed Troivan
Shuuuyyyt👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!