Dijodohin sama Kian, sahabat dari kecil yang pernah nempelin permen karet di rambut gue itu sebuah bencana.
Gue tahu betul bobroknya Kian dari A sampai Z, tahu cara mikirnya yang ajaib sampai rekor kencannya yang melebihi jumlah anggota DPR. Kalau dipikir secara logika, harusnya tanpa pikir panjang gue langsung nolak.
Tapi masalah utamanya satu, Gue suka sama Kian.
Sialan emang.
Kini, demi gengsi Kian yang terluka gara-gara ditolak di meja makan, gue jadi terjebak masa percobaan 6 bulan jadi pasangan PDKT resmi. Masa di mana gue harus bertahan di antara dada yang deg-degan parah, dan dorongan kuat buat ngeplak kepala Kian saban hari.
Sanggupkah gue bertahan tanpa kehilangan akal sehat ini?😭
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Kepulangan Kian
Mobil Bima akhirnya membelah kemacetan tol Jagorawi menuju Jakarta. Di samping gue, Bima sibuk menyetir sambil menyanyi lirih mengikuti lagu yang berputar di radio, sesekali melirik ke arah gue yang sibuk senyum-senyum sendiri menatap layar ponsel.
"Yee... mulai gila lagi kan," celetuk Bima sambil mengocok kaleng minuman sodanya di cup holder. "Kemarin pas datang mukanya mirip kanebo kering, sekarang senyum-senyum sendiri kayak dapet togel."
"Berisik lu, Bim," balas gue, tapi gak bisa menahan cengiran di bibir. Gue baru aja menerima chat singkat dari Kian.
‘Hati-hati di jalan. Jangan ketiduran terus kepalanya ketok kaca mobil Bima. Nanti kacamata lu pecah, gue lagi yang disuruh beliin.’
Gue membalasnya dengan emoticon mengepal tangan, lalu menyandarkan kepala di sandaran kursi. Rasa hangat yang menjalar di dada rasanya begitu nyata. Perjalanan nekat jam tiga pagi tadi mungkin kelihatan gila, tapi itu adalah keputusan terbaik yang pernah gue ambil.
Keesokan harinya, sesuai janjinya, Kian dan tim riset resmi menyelesaikan tugas lapangan mereka.
Malam harinya sekitar jam delapan, suara deru mesin mobil Kian yang sangat familiar berhenti tepat di depan rumah. Gue yang lagi duduk di ruang tamu berpura-pura santai sambil mainin hp, padahal dari tadi telinga gue udah dipasang lebar-lebar menantikan kedatangannya.
Bel rumah berdenting dua kali.
Gue berjalan ke pintu depan dan membukanya. Kian berdiri di sana. Dia memakai kaus hitam polos dan jaket jins, membawa satu tas ransel besar yang dicangklong di bahunya. Rona lelah masih berbekas di bawah matanya, tapi pendar di matanya saat menatap gue benar-benar hangat dan jernih.
"Kian!"
Belum sempat Kian mengucapkan kata pertama, gue udah melangkah maju dan memeluk pinggangnya pelan.
Kian sempat tertegun sekilas, lalu tertawa renyah, suara tawa yang selalu berhasil bikin hati gue tenang. Dia menjatuhkan tas ranselnya ke lantai teras, lalu melingkarkan kedua tangannya di punggung gue, menyandarkan dagunya di atas kepala gue.
"Baru ditinggal sehari udah kangen banget ya?" goda Kian, suaranya bergetar halus di dada yang nempel di pipi gue.
"Dikit," aku gue, menengadahkan kepala menatap rahang tegasnya. "Lu capek banget ya?"
"Lumayan sih," Kian tersenyum tipis, merapikan poni gue yang agak berantakan. "Tapi pas liat lu nunggu di depan pintu begini, capeknya mendadak hilang lima puluh persen."
"Gombal," cibir gue, tapi pipi gue tetap aja merona.
"Ehh, Kian udah pulang!" suara Mama muncul dari arah dapur, memotong momen kami. Mama tersenyum lebar melihat Kian berdiri di ambang pintu. "Masuk, Ki. Kamu pasti belum makan kan? Tante udah masak garang asem kesukaan kamu."
"Wah, beneran, tan?" mata Kian langsung berbinar seratus persen. Rasa lelah di wajahnya seolah menguap begitu mendengar nama makanan favoritnya. "Tante emang calon mama mertua paling pengertian se-dunia!"
"Halah, dasar tukang cari muka!" gumam gue sambil menyikut pinggangnya pelan, yang langsung dibalas Kian dengan tawa tengilnya.
Malam itu, ruang makan rumah gue kembali riuh. Kehadiran Kian seolah mengembalikan warna yang sempat hilang selama dua minggu terakhir. Papa yang baru pulang dari luar kota juga ikut bergabung, mengobrol seru soal perkembangan proyek riset Kian.
Di tengah-tengah obrolan hangat itu, Papa menaruh sendoknya dan menatap Kian serta gue secara bergantian dengan raut wajah yang mendadak berubah agak formal.
"Ki, Ra," panggil Papa tenang. "Tadi siang Om Heru telepon Papa."
Gue dan Kian refleks menghentikan suapan kami. Gue melirik Kian, yang juga kelihatan sedikit terkejut.
"Papa bilang apa, om?" tanya Kian.
"Sabtu malam besok, keluarga besar kita mau adain makan malam resmi di restoran," jelas Papa, tersenyum tipis. "Om Heru juga mengundang beberapa kerabat dekat. Katanya mau sekadar silaturahmi... sekaligus menanyakan kelanjutan evaluasi masa percobaan enam bulan kalian."
Gue menelan ludah. Kata 'evaluasi' mendadak bikin perut gue terasa agak mulas.
Meskipun hubungan kami sekarang udah jauh lebih jelas dan solid, menyebutkan kata 'evaluasi' di depan keluarga besar tetap aja membawa beban tersendiri.
Gue melirik ke arah Kian. Kian menatap Papa sebentar, lalu pelan-pelan tangannya di bawah meja merayap, menggenggam jemari tangan gue yang ada di atas pangkuan, gaya khasnya setiap kali ingin memberikan rasa aman.
"Siap, om," jawab Kian mantap tanpa ada ragu sedikit pun di suaranya. "Sabtu malam nanti Kian yang bakal jemput Elora."
Kian menoleh menatap gue, menyunggingkan senyum tipis yang penuh keyakinan. Genggaman tangannya di bawah meja makin erat.
Dan rasanya sekarang, menghadapi riuhnya urusan keluarga besar dan janji enam bulan itu... gue gak lagi merasa takut.