"Aku usaha, kamu juga usaha. Kita sama-sama berusaha demi mewujudkan wedding dream kita."
Demi janji itu, Rhea rela menjadi TKI dan mengubur mimpinya untuk bekerja di perusahaan yang sangat ia inginkan.
Saat pulang, tenda biru justru berdiri di depan rumah Oza. Pria yang sangat ia cintai itu menikahi Trisna, sahabat yang paling ia percaya.
Rhea berlari dengan air mata berurai, ketika ia memutuskan mengakhiri hidupnya, seseorang menahan tubuhnya dan menariknya.
"Jangan bertindak bodoh. Jangan hanya karena manusia, kamu rela memberikan nyawa."
Sejak hari itu, takdirnya berubah. Akankah pengkhianatan itu menjadi akhir hidupnya, atau awal dari kebahagiaan yang tak pernah ia bayangkan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tenda Biru 08
"Dia masih belum mau keluar kamar?"
Radit menghembuskan nafasnya kasar melihat anggukan kepala Lavia. Ia lalu menatap ke arah kamar Rhea. Sudah sebulan berlalu sejak kejadian itu, tapi Rhea masih terus saja mengurung diri di kamar.
"Pergilah Mas, nanti aku akan coba kembali bujuk Rhea buat mau keluar kamar atau sekedar jalan-jalan di halaman. Perut ini bisa jadi alasan mungkin," jawab Lavia. Ia mengelus perutnya yang sudah tampak besar.
Radit mengangguk, ia mengusap perut Lavia sejenak, mengucapkan sebuah doa lalu mencium pucuk kepala sang istri.
"Assalamualaikum, tolong ya Sayang," ucap Radit sambil meninggalkan rumah.
"Waalaikumsalam, iya Mas."
Bibir Radit memang tersenyum, namun sorot matanya sendu. Sekali lagi ia melihat ke dalam, ke arah kamar adiknya berada. Lavia lalu mengusap lengan Radit pelan, dan menganggukkan kepala.
Radit masuk ke mobil dan bergegas menuju ke tempat kerjanya berada. Sedangkan Lavia, ia kembali masuk ke rumah. Sambil memegangi perutnya, ia berjalan lurus menuju ke kamar Rhea.
Tok tok tok
"Dek, Rhea ... Sarapan dulu."
Lavia terdiam sejenak setelah memanggil Rhea. Ia menunggu jawaban dari dalam sana. Namun setelah menunggu beberapa saat Lavia kembali mengetuk pintu dan memanggil sang adik ipar.
Beberapa kali di panggil, tetap saja tak ada jawaban.
Wanita hamil itu semakin kencang mengetuk pintu. Ia juga semakin mengeraskan suaranya memanggil Rhea.
"Rheaaa, kamu nggak ap~"
Ceklek
Mata Lavia membelalak melihat Rhea yang keluar dari kamar. Wajah adik iparnya itu tampak segar dengan polesan make-up tipis. Rambut di sisir rapi, dan diikat sebagian agar bagian sisi telinga tidak berantakan. Baju warna putih dipadu dengan blazer hitam dan juga celana panjang warna senada.
Tubuh Lavia mundur satu langkah. Ia mengamati tampilan Rhea dari ujung kepala sampai ujung kaki.
"Mau kemana?" Akhirnya pertanyaan itu keluar juga dari mulut Lavia. Lavia juga meraih tangan Rhea dan menggenggamnya erat. Bola mata Lavia bergerak kesana kemari, kembali mengamati tampilan sang adik.
Sebulan tak keluar kamar, dan tiba-tiba muncul dengan tampilan demikian, membuat Lavia bingung.
"Mau interview," jawab Rhea singkat. Tatapan matanya tak ada isi, terasa dingin. Wajah Rhea juga datar tak menunjukkan ekspresi apapun yang mana malah semakin membuat Lavia khawatir.
"Mau Mbak telponin Mas Radit, biar puter balik anterin kamu?" tawar Lavia. Dia merogoh ponsel yang ada di saku dasternya.
"Nggak usah, aku bisa sendiri Mbak."
Ucapan Rhea melembut. Kali ini wajahnya juga melemas. Mata Rhea menatap dalam kepada Lavia, dan senyuman kecil terbit di bibirnya.
"Beneran? Tapi~"
Kalimat Lavia menggantung. Lidahnya kelu untuk melanjutkan ucapannya. Kat-kata yang ada di kepalanya, sangat berat untuk diutarakan mengingat apa yang pernah dilakukan Rhea sebelumnya.
Rhea tersenyum, kekhawatiran yang dirasakan oleh Lavia itu bisa ditangkap dengan mudah olehnya.
Kini Rhea yang berbalik menggenggam tangan Lavia. Ia mencium punggung tangan sang kakak ipar dengan hikmat.
"Aku nggak apa-apa, Mbak. Aku harus segera berangkat. Jam interviewnya tepat pukul 08.00, kalau nggak segera jalan aku bisa terlambat. Aku berangkat dulu ya, assalamualaikum."
"Wa alaikumsalam. Rhe, hati-hati ya. Kabarin Mbak kalau udah sampai tempatnya."
Lavia mengekor Rhea yang sudah jalan lebih dulu ke teras. Di depan sana ternyata sudah ada ojek online yang menunggu.
"Bang, tolong hati-hati ya," ucap Lavia kepada pengemudi ojek online tersebut.
"Ya Bu, baik."
Rhea mengenakan helm yang diberikan oleh si pengemudi. Dia naik ke motor dan motor itu melaju meninggalkan rumah.
Perasan Lavia berkecamuk. Matanya masih tak berkedip melihat Rhea yang telah menghilang dari pandangannya.
Dalam hatinya, Lavia terus saja melantunkan doa kepada sang adik ipar.
Di atas motor, Rhea yang duduk di belakang sesekali menengadahkan wajahnya ke atas. Langit yang berwana biru cerah itu membuat hatinya terasa luas.
Rhea menggenggam map yang dibawanya dengan erat. Map berisi berkas lamaran yang diminta untuk panggilan interview itu, membuat senyumnya mengembang walau sejenak.
Hatinya semakin membuncah ketika sampai di tempat tujuan. Ia turun dari motor sambil mengepalkan tangannya erat.
LINFORD TRANSPORTATION
Nama yang tertera di gedung itu begitu besar dan sangat gagah, seperti gedung-gedung yang dilihatnya sepanjang jalan tadi.
"Permisi, saya ada panggilan interview, tempatnya sebelah mana ya, Kak."
Rhea mengucapkan doa dalam hati, dia masuk ke lobi gedung dan menghampiri bagian resepsionis.
"Ah Kakaknya yang mau interview ya. Sebelah sini, mari saya antar."
Rhea mengangguk, ia berjalan mengikuti si resepsionis.
Mata Rhea menyapu setiap tempat yang dilewatinya. Ia tersenyum. Baginya ini terasa mimpi, perusahaan yang sudah lama dia inginkan kini akhirnya bisa didatanginya.
"Sebelah sini ya, Kak. Mohon ditunggu. Saya akan beritahu bagian HRD dulu kalau Kakak sudah datang."
Rhea duduk di sebuah kursi dalam ruangan itu. Ruangan yang tak terlalu luas. Ada satu set meja dan kursi di bagian tengah. Di belakang meja itu terdapat dua rak buku besar yang isinya tidak penuh. Lalu di bagian sisi pintu, berjajar kursi-kursi yang jumlahnya sekitar 5 buah.
"Kayaknya ini emang ruangan buat interview deh," gumam Rhea lirih.
Rhea kembali merapikan blazernya dan juga mengusap rambutnya. Memastikan tidak ada yang berantakan dalam penampilannya.
Ceklek
Pintu kembali dibuka. Seorang wanita dengan kaca mata yang bertengger di hidungnya masuk.
"Selamat pagi, dengan Saudari Rhea."
Rhea bangkit dari duduknya, dia menjawab sambil menerima uluran tangan dari wanita tersebut.
"Saya Anita, saya adalah kepala HRD di sini. Silakan duduk Rhea. Apa Anda membawa berkas yang saya minta."
Rhea mengangguk, ia lalu menyerahkan map yang sedari tadi dipeluknya dengan erat.
"Good," kata Anita singkat.
Jantung Rhea berdegup dengan sangat cepatnya. Tangannya juga berkeringat. Ia bahkan berkali-kali mengusapkan telapak tangannya itu ke celana panjang miliknya.
"Kamu bisa bahasa mandarin?" pertanyaan pertama yang Anita lontarkan dijawab dengan mudah bagi Rhea.
"Bisa Bu."
"Wooaaah bagus sekali. Lalu di sini kamu menulis pernah bekerja di negara tetangga ya setahun. Sebagai apa kamu disana, bisa ceritakan?"
Pertanyaan kedua Anita tidak menggunakan bahasa Indonesia, tapi menggunakan bahasa Mandarin. Rhea pun menjawab dengan begitu mudahnya.
Wajah Anita tampak puas, namun bukan berarti pertanyaannya selesai disitu. Anita kini kembali bertanya, namun menggunakan bahasa Inggris, dan lagi-lagi Rhea menjawab dengan sangat mudah.
"Waah kamu hebat Rhea. Aku suka dengan kemampuan berbahasa kamu. Apa mungkin kamu menguasai bahasa lain selain Inggris dan mandarin?"
Anita menatap dalam ke arah Rhea. Ia suka dengan wanita yang ada di depannya ini karena punya tatapan tajam tapi tenang dan ucapan yang tertata rapi, sangat sesuai dengan posisi yang saat ini dibutuhkan oleh perusahaan.
"Saya bisa bahasa Perancis dan sedikit bahasa Jepang."
"Good, kamu diterima Rhea. Selamat bergabung di Linford Transportation."
Degh!
Mata Rhea membelalak, dadanya bergemuruh. Ia membeku sejenak, tapi setelah itu senyumnya mengembang dengan begitu lebarnya.
"Benarkah saya diterima?" tanya Rhea memastikan.
"Iya, kamu diterima Rhea."
"Terimakasih, terimakasih banyak Bum saya akan bekerja dengan baik."
Rhea mengulurkan tangannya untuk menerima jabatan tangan dari Anita. Dadanya berdegup tidak karuan, seperti ada kembang api disana. Senyuman itu tak pudar meski sudah berada di luar gedung LT.
Rhea menoleh sekali lagi ke belakang, ia tersenyum lalu berkata, "Katanya aku nggak sesuai kualifikasi di perusahaan ini. Tapi nyatanya nggak gitu. LT, aku akan sungguh-sungguh bekerja untukmu."
TBC
Rhea ga berhasil kekejar eeh yg kau dapat hanya penyesalan mendalam, lu kira kamu guanteng bangett gitu sampe2 mikir Rhea msh mau sm kamu?? percaya diri kali kau 😆😆
lanjutin napa, kasian loh itu Nayaka dah nunggu lama momen ini 🤭🤭