Seo Tae-jun telah hidup selama 34 tahun dengan keyakinan bahwa cinta hanya membuat seseorang lemah.
Han Ji-eun justru hidup dengan keyakinan sebaliknya.
Bagi Ji-eun, kehilangan orang yang dicintai memang menyakitkan, tetapi itu bukan alasan untuk berhenti mencintai.
Pertemuan mereka dimulai dari hubungan profesional.
Tae-jun adalah pewaris sekaligus pemegang kendali jaringan hotel Seo Group.
Ji-eun adalah manager hotel yang telah bekerja keras selama lima tahun untuk mendapatkan posisinya.
Tae-jun awalnya hanya tertarik pada keberanian Ji-eun.
Namun perhatian itu berubah menjadi ketertarikan.
Ketertarikan berubah menjadi kebutuhan.
Dan kebutuhan perlahan berubah menjadi cinta yang membuat Tae-jun mempertanyakan seluruh hidupnya.
Masalahnya, keluarga Seo menyimpan rahasia yang berkaitan dengan kematian orang tua Ji-eun.
Semakin dekat mereka, semakin besar kemungkinan cinta mereka menghancurkan keluarga Tae-jun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiara L, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Malam ini Tae-jun mengajak Ji-eun berkunjung ke apartemen pribadinya yang terletak di kawasan pemukiman eksklusif. Tae-Jun menjemput Ji-eun yang sudah lebih dulu pulang beberapa jam yang lalu sedangkan dirinya harus menyelesaikan pekerjaannya.
Ketika Ji-eun melangkah masuk, ia sempat terpaku sejenak. Apartemen itu sangat luas, didominasi warna-warna netral yang elegan, namun terasa agak sepi dan terlalu rapi, tipikal hunian seorang pria pekerja keras yang jarang menghabiskan waktu di rumah.
"Masuklah, Ji-eun-a. Maaf kalau tempatnya terlalu membosankan," ujar Tae-jun seraya menggantung mantelnya dan menyediakannya sepasang sandal rumah yang empuk.
"Tidak, tempat ini sangat indah," jawab Ji-eun jujur. Namun, ada nada sedikit canggung dalam suaranya saat menyadari bahwa kini ia berada di ruang paling pribadi milik pria di hadapannya.
Melihat kekakuan Ji-eun, Tae-jun tersenyum tipis. Ia melonggarkan kemejanya dan menggulung lengan bajunya hingga ke siku. "Ayo ke dapur. Karena kita sudah sepakat tidak mau memesan makanan dari luar, malam ini kita masak sendiri."
Kecanggungan yang semula menggantung di udara perlahan menguap ketika mereka mulai berbagi tugas di dapur. Tae-jun yang biasanya memimpin rapat dengan sangat dominan dan tanpa cela, ternyata terlihat sangat kikuk di hadapan talenan.
Ji-eun tidak bisa menahan tawanya saat melihat bagaimana Tae-jun memotong wortel dengan potongan yang sangat tebal dan tidak beraturan.
"Tae-jun-ssi, Kau mau membuat sup atau mau memberi makan kelinci?" goda Ji-eun sambil menunjuk potongan wortel yang berserakan di talenan.
Tae-jun menghentikan pisau di tangannya, menatap potongan sayuran itu lalu menatap Ji-eun dengan alis berkerut serius. "Bukankah potongan tebal seperti ini bagus?"
Ji-eun tertawa renyah, tawa yang lepas dan penuh kepuasan. "Tidak seperti ini caranya. Sini, biar aku ajari."
Ji-eun melangkah mendekat, berdiri di samping Tae-jun dan mengambil alih pisau dari tangan pria itu. Tanpa sadar, Tae-jun justru mengikis jarak, berdiri tepat di belakang Ji-eun dan melingkarkan kedua tangannya di pinggang perempuan itu, merapatkan tubuh mereka sembari memandangi jemari Ji-eun yang lihai mengiris sayuran.
"Begini lebih nyaman," bisik Tae-jun di dekat telinga Ji-eun, mengabaikan pelajaran memotong yang sedang diperagakan.
Pipi Ji-eun memerah seketika. "Bagaimana Kau bisa belajar kalau tidak memperhatikan pisaunya?"
"Aku memperhatikan hal yang lebih penting," jawab Tae-jun singkat, mengecup pipi Ji-eun dengan lembut sebelum kembali terkekeh.
Setelah diwarnai sedikit kehebohan kecil di dapur, mereka akhirnya menikmati makan malam sederhana berupa sup hangat dan tumis daging olahan sendiri. Tidak ada hidangan mewah olahan koki bintang lima, namun rasa hangat yang tercipta di meja makan kecil itu jauh melebihi apa pun yang pernah dirasakan Tae-jun sepanjang hidupnya.
Usai makan malam, mereka berpindah ke sofa ruang tengah yang empuk. Tae-jun memutar sebuah film drama dengan alur yang tenang. Ji-eun duduk merapat di samping Tae-jun, menyandarkan kepalanya di dada bidang pria itu. Suara detak jantung Tae-jun yang teratur, berpadu dengan kehangatan pendingin ruangan dan rasa lelah setelah bekerja seharian, membuat kelopak mata Ji-eun beberapa kali terkulai berat.
Ji-eun tertidur beberapa kali di tengah-tengah jalan cerita film. Setiap kali kepala Ji-eun mulai merosot, Tae-jun dengan penuh kehati-hatian membetulkan posisinya, membiarkan Ji-eun bersandar nyaman di pundaknya. Tae-jun sengaja tidak membangunkannya, hanya mengusap-usap bahu Ji-eun dengan lembut.
Malam bergulir makin larut. Ketika film usai dan Ji-eun terbangun sepenuhnya dengan wajah agak linglung, percakapan di antara mereka mengalir ke arah yang belum pernah mereka jelajahi sebelumnya. Mereka mulai berbicara tentang hal-hal mendasar yang selama ini tersembunyi di balik kesibukan pekerjaan.
"Kau tahu..." gumam Ji-eun pelan, memandangi jemarinya yang bertaut dengan jemari Tae-jun. "Dulu aku selalu takut membayangkan masa depan. Aku takut tidak bisa menjadi apa-apa, atau ditinggalkan sendirian jika tidak berusaha keras. Karena itulah aku selalu memagari diriku rapat-rapat."
Tae-jun mendengarkan dengan penuh kesabaran, mengusap punggung tangan Ji-eun dengan jempolnya. "Lalu sekarang?"
"Sekarang, bersamamu... aku mulai membayangkan kehidupan yang berbeda," bisik Ji-eun, menatap mata Tae-jun dengan kejujuran yang murni. "Aku ingin punya kehidupan yang tenang. Di mana aku tidak perlu selalu merasa takut, dan bisa pulang ke tempat yang membuatku merasa aman."
Tae-jun menatap perempuan di sampingnya dengan binar mata yang dalam. Melalui perjalanan waktu yang singkat ini, Ji-eun mulai memahami bahwa Tae-jun bukanlah tipe pria yang pandai merangkai kata-kata manis atau mengumbar janji puitis. Tae-jun adalah pria yang menunjukkan cintanya melalui tindakan, cara ia memastikan Ji-eun selalu makan tepat waktu, cara ia memegang tangannya, dan cara ia selalu ada di saat Ji-eun membutuhkan perlindungan.
Sebaliknya, Tae-jun pun belajar bahwa Ji-eun yang tampak mandiri dan kuat sebenarnya membutuhkan rasa aman serta kepastian yang terucap tegas dari bibirnya.
Saat malam kian larut dan keheningan kota makin pekat, mereka memutuskan untuk beristirahat. Berbaring berdampingan di atas tempat tidur yang luas dan hangat, Tae-jun meraih telapak tangan Ji-eun dan menggenggamnya erat.
"Aku suka malam seperti ini," kata Tae-jun pelan, suaranya terdengar amat tenang di dalam kegelapan kamar.
Ji-eun menolehkan kepalanya di atas bantal, menatap profil wajah Tae-jun yang diterpa samar cahaya dari luar jendela. "Kenapa?"
Tae-jun memalingkan wajahnya, menatap Ji-eun lurus-lurus dengan senyuman tulus yang begitu langka. "Karena tidak ada seorang pun di ruangan ini yang memanggilku Direktur Seo."
Ji-eun tersenyum hangat. Seluruh sisa ketakutan dan keraguan yang pernah membebani hatinya lenyap tanpa sisa.
"Kalau begitu, malam ini Kau hanya Seo Tae-jun," bisik Ji-eun lembut.
"Dan Kau?" tanya Tae-jun balik.
"Aku hanya Han Ji-eun."
Tae-jun memajukan wajahnya sedikit, mengecup dahi Ji-eun cukup lama sebelum menarik tubuh perempuan itu ke dalam pelukannya yang hangat dan protektif. Ji-eun melingkarkan tangannya di dada Tae-jun, memejamkan mata dengan perasaan damai yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Malam itu, mereka tidur berdampingan, merasa jauh lebih dekat dari hari-hari yang telah berlalu.
...****************...