"Budget nya ini terlalu berlebihan, harus lebih efisien!"
Kenzo Swara, memberikan revisi untuk Rain Edelweis tak terhitung jumlahnya.
Lelah dan ingin marah, tapi nasib sial Rain memang ada di tangan Teman Rival kantornya itu. Kepala Tim Marketing vs Kepala Tim Perencanaan memang sering bentrok.
Di sisi lain, ada Divisi Humas yang selalu jadi penengah.
Apa jadinya kalau rival kantor Rain malah diam diam suka sama Rain?
Padahal setiap hari Rain selalu mencacinya.
Simak kisah mereka disini
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Peri Bumi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cowok paling ramah
Rain sampai kantor lebih pagi dari biasanya, laptop di pelukan, mata masih agak sembab karena semalaman begadang ngerombak ulang slide pakai data yang dikirim Kenzo. Anehnya, revisi kali ini jauh lebih gampang dari yang dia kira. Data yang Kenzo kasih itu memang lengkap, terlalu lengkap sampai Rain sempat mikir, orang secuek ini kok bisa seniat itu nyusun analisis yang bahkan bukan tugas dia.
Belum sempat dia duduk, suara riuh dari meja sebelah udah nyapa duluan.
"Pandu udah dateng belum, ya?"
"Tadi lihat dia turun dari lift bareng Pak Direktur, ganteng banget pagi ini." Kata Rain pelan pada dirinya sendiri.
Rain menoleh sekilas. Dua staf HR Sarah dan Vina lagi ngobrol sambil sesekali ngintip ke arah pintu masuk, seperti biasa kalau Pandu belum keliatan batang hidungnya.
"Eh, katanya minggu ini ada yang mau ngajakin dia lunch," bisik Vina, agak keras sampai kedengeran satu ruangan.
"Siapa? Anak Finance yang baru itu?"
"Iya! Katanya udah nyiapin bekal juga."
Rain pura-pura sibuk sama laptopnya, meski kupingnya diam-diam nguping semua obrolan itu. Bukan hal baru sebenarnya Pandu emang selalu jadi bahan omongan di kantor. Ramah ke semua orang, murah senyum, sabar dengerin curhat siapa aja yang minta tolong. Ganteng dan rapi. Wajar kalau banyak yang naksir.
Yang bikin Rain sedikit nggak nyaman cuma satu: dia sendiri nggak yakin, apa dia beda dari semua orang yang "cuma temenan" sama Pandu itu.
"Rain, tolong bantuin cek data campaign kemarin dong," suara Pandu muncul dari belakang, bikin Rain kaget.
"Eh, iya bentar," jawab Rain, buru-buru menutup tab yang isinya obrolan grup WA divisi yang isinya, jujur aja, lagi rame ngomongin siapa yang bakal jadi "yang beruntung" dapetin hati Pandu.
Pandu duduk di sebelahnya, bawa map berisi laporan. Wangi kopi dari cangkirnya samar-samar tercium, familiar seperti biasa.
"Kamu kelihatan capek," kata Pandu, menyodorkan map itu. "Semalem begadang lagi?"
"Revisi dari Kenzo," jawab Rain singkat, masih agak enggan cerita detail soal email misterius kemarin sore.
"Aku bantu, deh." Pandu menggeser kursinya lebih dekat, mulai ikut ngecek data bareng Rain. Posisi mereka cukup rapat, cukup dekat sampai Rain bisa denger suara Pandu ngomong pelan sambil nunjuk-nunjuk angka di layar.
Dari kejauhan, dua-tiga pasang mata di ruangan itu diam-diam memerhatikan, lalu berbisik satu sama lain.
Rain berusaha nggak peduli. Tapi entah kenapa, hatinya diam-diam berharap kalau saja Pandu segamblang itu juga soal perasaannya, mungkin dia nggak perlu bingung-bingung nebak-nebak kayak sekarang.
Jadi kebaikan yang Pandu berikan padanya itu karena ada rasa atau sekedar basa basi seperti sikap Pandu pada yang lainnya.
Siang harinya, di lift menuju lantai kantin, Rain nggak sengaja satu lift sama Kenzo. Suasana canggung langsung terasa cuma mereka berdua, dan suara AC lift yang berdengung pelan.
"Revisinya udah kelar?" tanya Kenzo, nggak menoleh, mata masih fokus ke ponselnya.
"Udah. Makasih buat datanya," jawab Rain, agak berat mengakuinya. "Lumayan kepake."
"Bagus," jawab Kenzo singkat, tanpa embel-embel apa pun.
Lift berhenti sebentar di lantai lima, dua orang staf perempuan dari divisi lain masuk. Begitu sadar ada Kenzo di dalam, mereka langsung diam, saling lirik, lalu senyum-senyum kecil sambil pura-pura sibuk sama ponsel masing-masing.
Rain memperhatikan itu dari sudut matanya. Beda banget sama suasana di sekitar Pandu tadi pagi tadi, kalau di dekat Pandu orang-orang jadi riuh dan berani ngobrol, di dekat Kenzo malah jadi kaku dan diam-diam gugup. Padahal Kenzo tak kalah tampan dengan Pandu, tapi vibesnya emang beda sih. Rain akui itu.
Pintu lift terbuka di lantai kantin. Dua staf tadi buru-buru keluar duluan, sempat noleh sekali lagi ke arah Kenzo sebelum akhirnya kabur sambil cekikikan pelan.
"Mereka takut sama kamu," gumam Rain, setengah bercanda.
Kenzo akhirnya menoleh, ekspresinya tetap datar. "Aku nggak nyuruh mereka takut."
"Tapi kamu juga nggak berusaha bikin mereka nyaman," balas Rain, entah kenapa jadi berani ngomong blak-blakan.
Untuk sepersekian detik, ada sesuatu yang berubah di wajah Kenzo bukan marah, tapi juga bukan datar seperti biasa. Seperti dia lagi mikirin sesuatu yang nggak dia ucapkan.
"Kalau semua orang nyaman," kata Kenzo akhirnya, pelan, "nggak ada yang berkembang."
Pintu lift menutup lagi sebelum Rain sempat membalas. Dia berdiri diam sebentar, mencerna kalimat barusan.
Entah kenapa, kalimat itu terus terngiang sepanjang sisa hari itu.
se mistery apa dia...
biasany kalo rival gitu kan harus deket buat saling cekcok 🤭 tpi nyatanya ada hati disana...