Update tiap hari dijam 12.00 WIB.
Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.
Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.
Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.
Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Gema Langkah di Bawah Pohon Beringin
Angin pagi di kaki Pegunungan Seribu Kabut membawa hawa dingin yang menusuk tulang, namun bagi Ji Mo-Xian, udara tersebut terasa begitu akrab. Ia duduk bersila di atas sebuah batu besar yang tertutup lumut hijau, tepat di bawah naungan pohon beringin tua yang akarnya menjuntai liar bagaikan jaring laba-laba raksasa.
Di pangkuannya, seruling bambu kusam bergesek pelan setiap kali ia menarik napas. Kain sutra hitam yang melilit matanya tampak tenang, tetapi di balik kain itu, ada pusaran energi yang bergejolak setiap kali alam semesta di sekitarnya mengirimkan getaran bahaya.
Langkah kaki.
Bukan langkah sembarangan. Suara itu diredam oleh teknik pernapasan tingkat tinggi, namun indra pendengaran Ji Mo-Xian yang telah ditempa dalam kegelapan abadi mampu menangkap getaran sekecil apa pun di atas tanah. Ada lebih dari sepuluh orang. Mereka bergerak serentak, membentuk formasi pengepungan melingkar dengan disiplin militer yang ketat.
Bau darah dan niat membunuh yang pekat mendahului kemunculan mereka. Ini bukan lagi prajurit rendahan seperti anggota Sekte Darah Langit semalam. Ini adalah Pasukan Bayangan Besi—unit pembunuh elit milik Klan Ji, keluarga tempat Ji Mo-Xian dilahirkan dan dibuang.
"Ji Mo-Xian," sebuah suara berat memecah keheningan hutan. Suara itu menggema dari balik semak-semak, membawa tekanan Qi yang menekan dada siapa pun yang mendengarnya.
Dari balik tirai daun-daun beringin, sesosok pria berzirah perak melangkah keluar. Di dadanya terukir lambang kepala naga bermata tiga—simbol kebanggaan Klan Ji. Di belakangnya, sepuluh kultivator berpedang tajam berdiri tegak dengan mata penuh cibiran dan kebencian.
Ji Mo-Xian perlahan menegakkan punggungnya. Ia tidak berdiri, tetap duduk bersila di atas batu seolah-olah orang-orang di depannya bukanlah ancaman mematikan.
"Aku tidak menyangka anjing-anjing peliharaan Klan Ji sudi mengotori kaki mereka di tempat kotor seperti ini," suara Ji Mo-Xian meluncur tenang, datar, namun sarat akan sarkasme yang menusuk.
Pria berzirah perak itu adalah Ji Wu-Chen, komandan Pasukan Bayangan Besi sekaligus sepupu jauh Ji Mo-Xian. Wajahnya mengeras, urat-urat di pelipisnya menegang mendengar nada bicara Mo-Xian yang sama sekali tidak menunjukkan rasa hormat.
"Jaga mulutmu, bajingan cacat!" bentak Ji Wu-Chen, tangannya mencengkeram hulu pedang panjang yang memancarkan cahaya kebiruan menyilaukan. "Kau mencoreng kehormatan klan! Kau membawa kutukan mata dewa naga air, tetapi alih-alih mengabdi untuk kejayaan Klan Ji, kau malah memilih hidup sebagai buronan rendahan!"
Ji Mo-Xian tersenyum tipis. Senyuman itu bukan senyuman gembira, melainkan seringai getir dari seseorang yang telah melihat terlalu banyak kemunafikan. "Kehormatan klan? Kalian mengurungku di ruang bawah tanah selama sepuluh tahun, merantai tanganku, dan menyebut mata ini sebagai kutukan ketika kalian tidak bisa mengendalikannya. Dan sekarang, ketika aku berhasil keluar dan hidup dengancaraku sendiri, kalian datang membawa nama kehormatan?"
"Itu karena mata itu bukan milikmu!" seru Ji Wu-Chen geram. "Mata dewa naga air adalah warisan leluhur Klan Ji! Kembalikan mata itu, dan kami akan memberi izin bagimu untuk mati dengan tenang tanpa tersiksa!"
Suasana di bawah pohon beringin mendadak senyap. Angin berhenti berhembus. Daun-daun yang tadinya melayang seolah terpaku di udara akibat tekanan Qi yang dilepaskan oleh Ji Wu-Chen dan anak buahnya. Alam Pemurnian Jiwa tingkat puncak—inilah kekuatan elit Klan Ji.
Ji Mo-Xian perlahan mengangkat tangan kanannya. Jemarinya menyentuh simpul kain hitam di sisi kepalanya. Ia tidak langsung membuka ikatan itu, melainkan mengelusnya perlahan, seolah sedang menenangkan makhluk buas yang tertidur lelap di balik kain tersebut.
"Kalian selalu mengira mata ini adalah pusaka yang bisa direbut," bisik Ji Mo-Xian lirih, suaranya hampir kalah oleh desir angin pagi. "Kalian tidak tahu... bahwa membuka mata ini bukanlah tentang mendapatkan kekuatan, melainkan tentang membangunkan kematian itu sendiri."
"Jangan dengarkan omong kosongnya! Bunuh dia! Ambil matanya utuh-utuh!" perintah Ji Wu-Chen dengan mata merah menyala.
Sepuluh anggota Pasukan Bayangan Besi bergerak serempak. Mereka tidak membuang waktu. Sepuluh bilah pedang menebas udara bersamaan, memancarkan gelombang energi es yang membekukan dedaunan di sekitar mereka. Serangan itu dirancang khusus untuk memotong kepala Mo-Xian tanpa merusak rongga matanya.
Namun, Ji Mo-Xian tidak bergeming.
Ia membuka mulutnya, dan alih-alih berteriak, ia kembali melantunkan bait syair maut dengan nada yang begitu merdu, bagaikan seorang penyair istana yang sedang membacakan sajak cinta di hadapan para bangsawan:
“Pedang berkilat menembus angin pagi...”
“Mengejar bayang dalam mimpi abadi...”
“Darah bangsawan tumpah ke bumi...”
“Menjemput takdir yang telah digariskan pasti.”
BOOM!
Getaran sonik meluncur dari bibir Ji Mo-Xian, menghantam gelombang es sepuluh pembunuh itu seketika. Suara itu begitu nyaring di dalam kepala, membuat gendang telinga para penyerang serentak pecah. Darah segar mengalir deras dari telinga, hidung, dan mata mereka.
Formasi bayangan besi hancur berantakan dalam sekejap. Lima orang langsung jatuh tersungkur ke tanah, tewas seketika dengan organ dalam yang hancur berkeping-keping. Enam lainnya, termasuk Ji Wu-Chen, terpental mundur belasan meter, menabrak batang-batang pohon beringin hingga patah.
Ji Wu-Chen memuntahkan darah segar berwarna kehitaman. Pedang di tangannya patah menjadi dua bagian. Ia menatap Ji Mo-Xian dengan ketakutan yang teramat sangat di dasar hatinya. Monster. Pemuda ini benar-benar monster. Tanpa melihat, tanpa bangkit dari duduknya, ia membunuh separuh pasukan elit hanya dengan suara.
"Ba... bagaiman mungkin..." Ji Wu-Chen merangkak mundur, jemarinya mencakar tanah yang basah. "Kekuatan apa ini? Syair macam apa yang bisa meremukkan Qi pelindung kami?!"
Ji Mo-Xian perlahan berdiri dari batu tempat ia duduk. Kain hitam di matanya bergesek diterpa angin. Ia melangkah maju, langkah kakinya begitu ringan, tanpa suara, namun setiap ketukan sepatunya di tanah terasa bagaikan dentang lonceng kematian bagi Ji Wu-Chen.
"Syair kematian," jawab Ji Mo-Xian pelan, berhenti tepat beberapa langkah di depan Ji Wu-Chen yang gemetar ketakutan. "Dan kalian baru mendengarkan bait pertamanya."
Ji Wu-Chen mendongak, wajahnya pucat pasi. Ia menyadari, jika ia tidak melakukan sesuatu sekarang, nyawanya akan melayang dalam hitungan detik. Dengan sisa-sisa tenaga dan keputusasaan yang melanda, Ji Wu-Chen merogoh jubahnya dan mengeluarkan sebuah jimat giok kuno berwarna merah darah—Jimat Penghancur Jiwa Leluhur.
"Jika aku mati, kau harus ikut binasa, Ji Mo-Xian!"teriak Ji Wu-Chen histeris, lalu menghancurkan jimat giok itu dengan telapak tangannya.
Cahaya merah darah yang menyilaukan seketika melesat ke langit, menembus awan dan menciptakan retakan besar di udara. Suara raungan naga purba yang memekakkan telinga bergema ke seluruh penjuru Pegunungan Seribu Kabut.
Di kejauhan, para tetua agung Klan Ji yang sedang bermeditasi di aula utama sekte mendadak membuka mata mereka secara bersamaan. Sinyal bahaya telah berbunyi. Pertarungan besar di kaki gunung baru saja dimulai, dan segel mata dewa naga air kini berada di ambang kehancuran.