Indonesia
NovelToon NovelToon
Hi My Lord

Hi My Lord

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Terlarang / Ibu susu / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:6.6k
Nilai: 5
Nama Author: Daeena

"Aku punya segalanya, kecuali izin untuk mencintaimu." — Arthur
______

"Hi, Mr. Lord! Aku bukan siapa-siapamu, tapi mulutku masih hafal cara memanggilmu." — Snow
_______

Benedictus Arthur Blackwood, pewaris tunggal kerajaan yang dingin dan tegas, terpaksa menikahi sahabatnya—Dixie Savea Lopez—akibat ancaman bunuh diri yang manipulatif.
Meski terikat pernikahan tanpa cinta dan tanpa sentuhan, takdir kembali mempermainkannya saat sang putra butuh asupan ibu susu.

Lima tahun berlalu sejak malam terlarang di Hampshire, wanita tanpa nama yang pergi meninggalkan Arthur tanpa patah kata kini hadir di hadapannya sebagai "Snow"—ibu susu yang dipillih oleh istrinya sendiri.

Di tengah intrik politik istana, kecurigaan Savea, dan rahasia masa lalu yang membakar, Arthur harus berjuang menahan diri dari Rasa kepemilikan mendalam pada Snow.

Sebuah kisah romansa terlarang tentang takdir, dominasi, dan rasa cinta yang terperangkap di balik dinding emas kehormatan kerajaan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

#20

Malam telah larut menyelimuti Sayap Barat Istana Blackwood. Angin malam yang berembus dari arah perbukitan membawa hawa dingin yang menusuk tulang, menyusup melalui celah-celah jendela kaca tinggi.

Di dalam ruang perawatan Pangeran Ocean, pencahayaan redup dari lampu dinding berlapis kuningan menciptakan bayang-bayang panjang yang menari di atas lantai kayu oak.

Snow sedang berdiri diam di samping boks bayi, mengusap pelan selimut wol lembut yang membungkus tubuh mungil Pangeran Ocean. Bayi itu telah tertidur lelap, napas teraturnya mengalun halus di tengah keheningan malam yang mencekam.

Klek.

Suara engsel pintu yang ter buka pelan memecah kesunyian. Snow tidak terkejut. Ia tidak perlu menoleh untuk mengetahui siapa sosok yang baru saja melangkah masuk dengan pijakan kaki yang terasa begitu berat dan penuh kelelahan. Aroma maskulin khas kayu cendana dan musk yang familiar langsung memenuhi ruangan.

Arthur berdiri di ambang pintu, bersandar kaku pada bingkai kayu. Pria tegap itu telah melepas jubah kebesarannya; kini ia hanya mengenakan kemeja putih berkerah longgar yang lengannya tergulung hingga siku, memperlihatkan guratan urat yang menegang keras. Tatapan matanya yang biasanya tajam dan mengintimidasi kini nampak teramat rapuh, redup, dan dibayangi oleh kelelahan jiwa yang telah mencapai batas kemampuannya.

Snow membalikkan badan secara perlahan. Wajahnya dipasang serapi mungkin, memancarkan raut polos, lembut, namun menyimpan duka yang amat dalam.

"Pangeran..." bisik Snow amat lirih, menundukkan kepalanya tipis.

Langkah kaki Arthur terayun kaku mendekati Snow. Pria itu tidak lagi sanggup mempertahankan benteng pertahanan dan topeng wibawanya sebagai seorang Duke Blackwood. Di hadapan wanita yang selama ini menjadi satu-satunya pendar cahaya di jiwanya yang kelam, seluruh ketegangan Arthur hancur berkeping-keping.

Arthur merengkuh tubuh Snow. Pria tegap itu menarik Snow ke dalam pelukan yang teramat erat, menyembunyikan wajahnya di lekuk leher wanita itu.

Tubuh Arthur yang tegap mendadak bergetar hebat. Isak tangis yang ditahannya seharian di hadapan Raja dan Ratu akhirnya pecah—sebuah tawa dan tangis kehabisan daya dari seorang pria yang telah terlalu lama menanggung beban sendirian.

"Snow..." suara Arthur terdengar tercekik, napasnya memburu dan hangat menembus kain gaun di bahu Snow. "Demi Tuhan... rasanya aku sudah tidak tahan lagi, Snow..."

Snow mematung sejenak merasakan hangatnya air mata Arthur yang menetes basah di bahunya. Dengan gerakan yang teramat lembut, tangan Snow terangkat, mengelus rambut gelap suaminya yang berantakan, memberikan kenyamanan palsu yang justru makin membelenggu jiwa pria itu.

"Aku tidak tahu mengapa Savea begitu murka, Arthur..." bisik Snow dengan nada lembut penuh kepasrahan yang dibuat-buat.

"Maafkan dia... maafkan kegilaannya, Snow..." tangis Arthur makin pecah, jemarinya meremas kain gaun di punggung Snow seolah-olah wanita itu adalah satu-satunya pegangan agar ia tidak tenggelam ke dalam jurang kegelapan. "Aku sungguh minta maaf atas sikap kasarnya padamu tadi pagi..."

Arthur melepaskan pelukannya perlahan, menyapu air mata di wajahnya dengan kasar. Tatapan matanya yang memerah dan dipenuhi rasa bersalah terkunci pada sepasang mata bening milik Snow.

"Aku membencinya, Snow... Demi Tuhan aku sangat membencinya!" desis Arthur dengan nada penuh kepahitan yang membakar ulu hati. "Tapi aku tidak bisa menceraikannya begitu saja saat ini... Aku tidak punya alasan hukum yang cukup kuat di hadapan dewan kerajaan... Tapi berteriak dan mengaku bahwa Ocean bukan anakku?! Bukankah itu sebuah kehancuran yang teramat besar bagi keluargaku?"

Arthur mengepalkan tangannya, menatap lantai dengan pandangan hampa. "Savea benar-benar sudah sakit... Akal sehatnya telah hancur total..."

Snow menatap Arthur dalam diam. Jemari jemarinya yang dingin bergerak pelan, meraih tangan tegap Arthur dan mengusap punggung tangannya dengan lembut.

"Arthur..." panggil Snow dengan suara amat halus, menuntun pandangan Arthur kembali padanya. "Abaikan kata-kata Savea... Pangeran Ocean adalah putramu. Putra kandungmu."

Arthur terdiam kaku. Kalimat Snow bergaung membalas keraguan di dalam dadanya.

Snow tersenyum tipis, matanya melirik hangat ke arah boks bayi. "Lihatlah dia saat tertidur... Alisnya, garis hidungnya, bahkan cara bibirnya mengatup... semuanya adalah cerminan dari dirimu. Pangeran Ocean adalah darah dagingmu yang sesungguhnya. Bagaimana mungkin dia dikatakan bukan bayimu?"

Ucapan Snow menghantam benak Arthur dengan kebenaran yang nyata. Pria itu menoleh menatap bayi mungil yang tertidur lelap di boks. Memang benar. Setiap kali Arthur memandangi Ocean, ia melihat bayangan dirinya sendiri sewaktu kecil.

Kemiripan genetis itu terlalu sempurna untuk dibantah oleh bentakan histeris dari seorang wanita yang terganggu jiwanya. Perasaan lega yang luar biasa mendadak menyusup ke dalam dada Arthur, memvalidasi ikatan batin yang selama ini ia rasakan pada Ocean.

Arthur berbalik, kembali menatap Snow. Sepasang matanya berkilat oleh tekad dan keputusasaan yang bercampur menjadi satu. Diraurnya kedua pipi Snow dengan jemarinya yang hangat dan sedikit gemetar.

"Aku tidak pernah berniat menjadikanmu seperti wanita rendahan, Snow..." bisik Arthur dengan kejujuran yang membakar jiwanya. "Melihatmu berada di istana ini sebagai ibu susu... mendengarmu dihina oleh Savea... itu meremukkan harga diriku sebagai seorang pria yang mencintaimu."

Snow menatap lurus ke dalam manik mata Arthur, tidak menyela sepatah kata pun.

"Aku memang belum bisa menceraikan Savea secara terbuka saat ini karena rantai hukum kerajaan," lanjut Arthur, napasnya berembus hangat menyapu bibir Snow. "Tapi aku bersumpah demi napas dan kehormatanku... aku akan menikahimu, Snow."

Deg.

Jantung Snow berdesir tipis, meski wajahnya tetap terpasang tenang bagai telaga jernih.

"Dua hari lagi..." Arthur memajukan wajahnya, menatap penuh kerinduan dan kepasrahan yang mendalam. "Aku akan mendatangi Raja. Aku akan meminta izin untuk berlibur ke kediaman peristirahatan di pegunungan utara dengan alasan menenangkan diri atas skandal hari ini... Di sana, jauh dari mata-mata istana dan kegilaan Savea... mari kita menikah. Hanya ada kita, seorang pendeta, dan saksi terpercaya."

Arthur menundukkan kepalanya sedikit, merapatkan dahinya pada dahi Snow. "Maafkan aku... maafkan aku karena lagi-lagi aku harus menyembunyikanmu di balik bayang-bayang... Tapi ini satu-satunya cara agar aku bisa memilikimu secara sah sebelum aku Menceraikan Savea sepenuhnya."

Suasana ruangan mendadak menjadi begitu intim dan hening. Hanya ada deru napas mereka berdua yang bersahutan di bawah pendar redup lampu dinding.

Dengan lembut dan penuh penghayatan, Arthur mendaratkan sebuah ciuman hangat di sudut bibir Snow. Ciuman yang tidak menuntut keintiman kasar, melainkan sebuah kecupan yang sarat akan kerinduan, janji suci, dan kepasrahan seorang pria yang telah menyerahkan seluruh jiwanya pada satu wanita.

Arthur melepaskan ciumannya perlahan, menatap Snow dengan mata berkaca-kaca, menantikan jawaban dari wanita yang paling dicintainya.

"Maukah kau bersabar sebentar lagi bersamaku, Snow?" bisik Arthur memohon.

Snow terdiam sejenak. Di balik kehangatan sentuhan Arthur dan janji pernikahan yang baru saja diucapkan, benak Snow berputar menyusun langkah catur berikutnya.

Rencana pernikahan rahasia di pegunungan utara justru akan menjadi panggung eksekusi paling sempurna untuk meruntuhkan seluruh sisa-sisa kewarasan Savea ke dalam puncak pembalasan dendamnya.

Perlahan, sebuah senyuman lembut dan patuh terukir di bibir Snow. Ia mengangguk pelan.

"Tentu, Aku bersedia Arthur..." bisik Snow amat halus. "Ke mana pun kau membawaku... Aku akan ikut."

Arthur menghembuskan napas lega yang teramat dalam, kembali merengkuh tubuh Snow ke dalam pelukannya dengan erat, tanpa pernah menyadari bahwa senyuman di balik bahunya adalah senyuman dingin penuh dendam–Atas pembunuh Ibunya.

1
Astrid Kucrit
ocean minta adik tuhh 😂😂
Astrid Kucrit
menikah jugaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: yeayyy🥳
total 1 replies
Yusry Ajay
akhirnya snow menikah jg🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
keren raja
Astrid Kucrit
yukk nikah yukk
Astrid Kucrit
yeeaayyyyyyy akhirnyaaaaaa 👏👏
Rosdianah 🌷: uhuuuuuiii 🥳
total 1 replies
Astrid Kucrit
di tunggu besok
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Yusry Ajay
ya kk lanjut besok ditunggu up nya kk Thor 🤗🤗🤗
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
Ranita Rani
q kurang paham waktu mundur dlm crta ini,,,,
Ranita Rani
ocean umur brp sih
Rosdianah 🌷: Ocean umur dua bulan sebelumnya ya kak
total 1 replies
Astrid Kucrit
siap2 kaget tur arthur
Rosdianah 🌷: Gedubrak dia🤣
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan berpikir buruk dulu arthur
Astrid Kucrit
silahkan bermimpi savea
Leo
Bener2 cerita yg keren, selalu bikin penasaran
Rosdianah 🌷: ikutin terus cerita nya kak🤭
total 2 replies
Yusry Ajay
savea ga waras..🤔
Rosdianah 🌷: author silent 🤭🤣
total 1 replies
Leo
Bener2 gila nihh savea
Rosdianah 🌷: mau digetok 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
jangan termakan bualan istrimu
Rosdianah 🌷: nah kasih tau 🤭
total 1 replies
Astrid Kucrit
tunggu tanggal mainnya wanita gila
Rosdianah 🌷: wkwkw🤭
total 1 replies
Hotmayanti Yanti
semoga ocean tidak jadi tumbal,kasian Thor 😭
Rosdianah 🌷: tenang kak🫶
total 1 replies
Leo
Ceritanya keren gak sabar nunggu lanjutnya
Rosdianah 🌷: siap kak🫶
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!