Indonesia
NovelToon NovelToon
Kontrak Rahasia Sang Istri

Kontrak Rahasia Sang Istri

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa Fantasi / Mengubah Takdir / Penyesalan Suami
Popularitas:241
Nilai: 5
Nama Author: fareva

Dila harus menjadi pendamping Azam dan merahasiakan hubungan mereka dari siapa pun.

Awalnya Dila mengira semuanya hanya tentang uang. Namun, semakin ia mengenal Azam, semakin banyak kejanggalan yang muncul.

Mengapa Azam memilih dirinya?

Dari mana pria itu mengetahui kehidupan Dila?

Dan mengapa ia memiliki foto masa lalu Dila?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon fareva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 15 — Anak yang Disembunyikan Takdir

"Dila bukan anaknya."

Kalimat Pranoto masih menggantung di udara, berat dan dingin.

Tidak seorang pun berbicara. Udara di ruang tamu yang sempit itu seolah berhenti mengalir.

Dila berdiri dengan halaman terakhir catatan Larasati yang sudah menguning di genggamannya. Jemarinya gemetar begitu hebat hingga kertas itu berderak pelan.

Ia menatap satu per satu wajah di ruangan itu. Mencari kejujuran yang selama ini tidak pernah ia dapatkan.

Jatmiko — ayah yang membesarkannya dengan kasih sayang.

Azam — pria yang menariknya masuk ke dalam pusaran keluarga ini.

Bu Ratih — perempuan yang ia anggap ibu kedua, yang ternyata menyimpan pengkhianatan.

Sekar — sepupu yang datang dengan permintaan maaf.

Pranoto — saksi hidup dari masa lalu yang kelam.

Kemudian tatapannya berhenti pada Fadil.

Hanya wajah Fadil yang tidak menghakiminya. Hanya mata Fadil yang membuatnya merasa sedikit aman.

"Jadi..." suara Dila akhirnya keluar, serak dan pecah. "Siapa aku sebenarnya?"

Tidak ada yang langsung menjawab.

Dila tertawa kecil. Tawa pendek, hambar, bukan karena lucu, melainkan karena terlalu banyak kebohongan yang harus ia telan dalam satu malam. Tawa seorang perempuan yang sudah terlalu lelah untuk menangis.

"Lucu sekali, ya," bisiknya.

Fadil menatapnya dengan cemas. "Dila..."

"Aku selama ini hidup dengan nama Dila," lanjut Dila, air matanya akhirnya jatuh tanpa bisa ia tahan. "Aku punya ibu yang ternyata harus mati demi melindungiku. Aku punya ayah yang membesarkanku dengan segenap jiwa, yang ternyata bukan ayah biologisku. Sekarang lelaki yang katanya ayah kandungku, Rangga, juga pernah diberi tahu bahwa aku bukan anaknya."

Ia menggeleng pelan, memandang langit-langit yang berjamur.

"Lalu aku ini siapa? Anak siapa aku ini sebenarnya?"

Fadil melangkah maju dan memegang kedua tangan istrinya dengan lembut namun kokoh.

"Kamu istriku," jawab Fadil. Suaranya tenang, jelas, tidak bergetar sedikit pun.

Dila menatapnya dengan mata yang penuh air mata.

Fadil tersenyum lembut, senyum yang sama seperti hari pertama ia melamarnya di depan rumah petak mereka yang bocor.

"Dan itu satu-satunya hal tentang dirimu yang tidak perlu dipertanyakan, tidak perlu tes DNA, dan tidak akan pernah berubah. Kamu adalah istriku, Dila. Perempuan yang aku pilih setiap hari."

Mendengar itu, pertahanan Dila runtuh seketika. Ia langsung memeluk Fadil erat, menyembunyikan wajahnya di dada suaminya yang penuh keringat dan debu.

"Aku takut, Mas... aku takut sekali..."

"Aku tahu," Fadil mengusap rambutnya dengan lembut, membiarkan istrinya gemetar di pelukannya.

"Semua orang menyembunyikan sesuatu dariku, Mas. Semua orang."

"Aku tidak," bisik Fadil di atas kepalanya. "Aku di sini. Apa adanya."

"Aku percaya sama Mas," isak Dila di dadanya. "Cuma sama Mas."

 

Pranoto memperhatikan mereka berdua dari jauh. Ada haru yang tulus di matanya yang tua.

"Justru karena itulah Larasati memilih Fadil untukmu, Dila," ucap Pranoto pelan.

Dila perlahan melepaskan pelukannya, menatap Pranoto dengan bingung. "Apa maksud Anda?"

"Bukan secara langsung memilih jodoh," Pranoto tersenyum tipis. "Tapi Larasati pernah bertemu dengan keluarga Fadil. Lama sekali."

Fadil terkejut dan menoleh. "Keluarga saya? Ibu saya?"

Pranoto mengangguk. "Dua puluh delapan tahun lalu. Ibumu, Bu Lastri, adalah salah satu dari sedikit orang yang berani membantu Larasati melarikan diri dari kejaran keluarga Wiratama saat kamu masih bayi."

Fadil terdiam, benar-benar terpukul. "Ibu saya? Ibu saya tidak pernah cerita apa pun..."

"Tidak akan pernah dia ceritakan," jawab Pranoto. "Karena hubungan itu sengaja dihapus. Demi keselamatan kalian."

Jatmiko langsung bertanya dengan suara berat, "Siapa yang menghapus semua jejak itu?"

Pranoto tidak langsung menjawab. Tatapannya dalam.

"Orang yang paling kamu percaya untuk menjaga rahasia keluarga, Jatmiko."

Jatmiko menatap Bu Ratih dengan curiga. Bu Ratih langsung menggeleng cepat sambil menangis.

"Bukan saya, Mas Jatmiko, sumpah bukan saya..."

"Lalu siapa?" desak Jatmiko.

Pranoto menjawab dengan suara yang dingin, "Almarhum ayahmu. Ayahanda Wiratama. Dia menghapus seluruh catatan tentang Larasati di rumah sakit, di catatan sipil, di mana pun. Dia ingin Larasati seolah-olah tidak pernah ada."

Jatmiko terdiam, tubuhnya lemas bersandar di dinding.

"Termasuk catatan kelahiran Dila?"

"Ya," jawab Pranoto. "Karena sebenarnya..."

Ia berhenti, menatap Dila lekat-lekat.

"Dila bukan pewaris keluarga Wiratama. Sejak awal, kalian semua salah mengejar bayangan."

Dila mengerutkan kening, air matanya berhenti. "Lalu kenapa mereka mengejarku selama ini? Kenapa Sekar dan Bagaskara menginginkan aku mati?"

"Karena darahmu," jawab Pranoto. "Bukan darah Wiratama yang mereka takutkan. Tapi darah dari keluarga yang jauh lebih besar, jauh lebih tua, dan jauh lebih berbahaya daripada Wiratama."

Azam yang sejak tadi diam, langsung menatap Pranoto dengan tajam. Matanya membelalak seperti menyadari sesuatu yang mengerikan.

"Jangan bilang..."

Pranoto tersenyum tipis, senyum seorang pemain catur yang akhirnya membuka kartu as-nya.

"Kamu mulai memahami, Azam."

"Apa? Apa maksudnya?" Dila menatap mereka berdua bergantian.

Pranoto menatap Dila lurus-lurus.

"Ayah biologis Dila bukan Rangga."

Ruangan kembali sunyi senyap, lebih sunyi dari sebelumnya.

Dila menatapnya dengan wajah kosong, otaknya menolak untuk memproses lagi.

"Tadi Anda mengatakan Rangga adalah ayah kandungku. Tadi Anda mengatakan dia lelaki yang dicintai Ibu."

"Aku mengatakan Rangga adalah lelaki yang dicintai Larasati," koreksi Pranoto pelan. "Aku tidak pernah mengatakan dia ayah kandungmu. Kalian sendiri yang menyimpulkan."

Dila memejamkan mata, kepalanya berdenyut hebat. "Lalu siapa? Siapa ayah kandungku sebenarnya?"

Pranoto menarik napas panjang. Ia tahu, nama yang akan ia ucapkan akan mengubah segalanya untuk terakhir kali.

"Namanya..."

BRAK!

Pintu depan rumah itu terbuka paksa dengan tendangan keras. Kayu lapuknya pecah.

Semua orang tersentak dan berdiri.

Laras langsung berteriak, "Pak Azam! Di depan!"

Tiga pria bertubuh besar dengan penutup wajah masuk dengan kasar. Tanpa basa-basi.

Fadil dengan refleks menarik Dila ke belakang tubuhnya. "Dila, jangan keluar dari belakangku!"

Pranoto berdiri dengan tenang, meski matanya waspada. "Sepertinya tamu kita yang sebenarnya baru datang."

Azam langsung menghadang di depan. "Siapa kalian? Mau apa kalian datang ke rumah orang malam-malam begini?"

Tidak ada jawaban. Salah satu pria menunjuk ke arah Dila.

"Serahkan buku hitam itu. Sekarang."

Dila memeluk buku catatan Larasati erat di dadanya. Buku itu adalah satu-satunya peninggalan ibunya.

Fadil berdiri di depannya, dadanya membusung. "Tidak akan pernah."

Pria itu langsung menyerang. Sebuah pukulan keras mengarah ke wajah Fadil.

Fadil menahan dengan bahunya. Tubuhnya terhuyung.

BUK!

"MAS!" Dila menjerit.

Jatmiko berteriak, "Bawa Dila ke belakang! Cepat!"

"Tidak! Aku tidak mau meninggalkan Ayah! Tidak mau meninggalkan Mas Fadil!" Dila menangis, kakinya gemetar tapi ia tidak bergerak.

Salah satu penyerang berhasil menerobos barikade Azam dan Laras dan langsung mengincar Dila, tangannya terulur untuk merebut buku itu.

Fadil yang sudah terluka, kembali berdiri di depannya.

Pria itu memukul bahu Fadil yang sudah memar.

Fadil terhuyung, wajahnya menahan sakit.

"Mas Fadil!" Dila langsung memeluk suaminya.

"Aku tidak apa-apa," bisik Fadil dengan napas terengah, meski pelipisnya sudah mengeluarkan keringat dingin. "Sedikit saja."

"Bohong!" isak Dila.

Dila melihat sebuah vas bunga keramik yang berat di atas meja. Dengan tangan gemetar karena marah dan takut, ia mengangkatnya.

BRAK!

Vas itu ia hantamkan ke tangan pria yang mencoba merebut bukunya.

Pria itu mengerang kesakitan dan mundur.

Fadil menatap istrinya dengan kaget sekaligus bangga meski kesakitan.

"Kamu..."

Dila menatap pria itu dengan mata yang menyala karena amarah seorang istri yang suaminya disakiti.

"Jangan pernah sentuh suamiku lagi," ucapnya dengan suara bergetar tapi tegas.

Fadil tidak bisa menahan senyum kecil di tengah rasa sakitnya. "Galak juga ternyata istriku kalau marah..."

"Diam! Ini bukan waktunya bercanda!" omel Dila sambil menangis.

 

Azam dan Laras yang memiliki pengalaman bela diri akhirnya berhasil membuat para penyerang mundur. Salah seorang dari mereka panik dan berlari keluar menuju mobil yang sudah menunggu dengan mesin menyala.

Mobil itu melaju kencang membelah gelapnya sawah.

Azam tidak sempat mengejar.

"Laras! Catat nomor polisinya!"

"Sudah, Pak! Saya foto!"

Azam kembali masuk dengan napas memburu. Ia melihat Dila masih memeluk buku hitam itu erat-erat, sementara Fadil duduk menahan bahu.

"Dila, kamu baik-baik saja?"

Dila mengangguk cepat, air matanya masih mengalir. "Aku tidak apa-apa. Mas Fadil yang terluka. Bahunya..."

Azam melihat luka Fadil. "Kita harus obati. Laras, ambil kotak P3K."

"Aku bisa sendiri," Fadil mencoba menolak.

"Tidak!" potong Dila cepat. Ia menatap Fadil dengan tatapan yang tidak bisa dibantah, tatapan seorang istri yang khawatir. "Kita pulang nanti dan aku yang obati lukamu. Dengar?"

Fadil tersenyum lemah. "Baik, Bu Dokter galak."

Dila mendengus kesal, tapi genggaman tangannya pada tangan Fadil semakin erat.

 

Setelah keadaan kembali aman dan pintu di ganjal, Pranoto duduk kembali di kursi. Wajahnya jauh lebih serius.

Jatmiko menatapnya dengan tatapan lelah. "Kita tidak bisa terus begini, Pranoto. Dikejar-kejar seperti binatang. Jelaskan semuanya sekarang. Siapa ayah kandung Dila sebenarnya?"

Pranoto mengangguk pelan. "Benar. Sekarang waktunya kamu tahu, Dila. Waktunya semua kebohongan ini berakhir."

Dila duduk perlahan di lantai, bersandar pada Fadil. Azam dan Jatmiko mendekat, membentuk lingkaran kecil.

Pranoto mengeluarkan sebuah foto lama dari dompet kulitnya yang usang. Foto itu berbeda. Bukan Rangga.

Pria di foto itu jauh lebih muda, jauh lebih berwibawa. Mengenakan jas rapi, berdiri di samping Larasati yang tersenyum malu-malu sambil memegang perutnya yang sedikit membuncit.

Dila menatap foto itu dengan jantung berdebar.

"Siapa... siapa pria ini?"

Pranoto menjawab dengan suara pelan namun jelas, seolah mengucapkan sebuah nama keramat.

"Raden Arya Mahendra."

Dila mengerutkan kening. Nama itu asing, tapi terasa berat. "Siapa dia?"

"Pria yang sebenarnya dicintai Larasati dengan segenap jiwanya," jawab Pranoto. "Bukan Rangga. Rangga hanyalah sahabat yang membantu Larasati melarikan diri."

Jatmiko terdiam, wajahnya pucat. "Tidak... Mahendra..."

Pranoto menatap Jatmiko. "Dia adalah ayah biologis Dila."

Jatmiko menutup wajahnya dengan kedua tangan. Bahunya terguncang.

Dila tidak mampu berkata-kata. Fadil menggenggam tangannya semakin erat, memberi kekuatan.

Pranoto melanjutkan dengan suara berat.

"Mahendra bukan orang biasa, Dila. Dia adalah pemilik sebuah perusahaan besar sebelum dia difitnah dan menghilang."

"Perusahaan apa?" bisik Dila.

Pranoto menatap Azam lurus-lurus.

"Perusahaan yang sekarang kalian kenal sebagai bagian terbesar dan paling menguntungkan dari keluarga Wiratama. Wiratama Holding."

Azam langsung berdiri, tidak percaya. "Tidak mungkin! Itu aset inti keluarga kami! Semua sahamnya atas nama kakek dan ayah!"

Pranoto mengangguk pelan. "Sebagian besar aset keluarga Wiratama sebenarnya berasal dari Mahendra. Kakekmu, Ayahanda Wiratama, adalah rekan bisnisnya. Ketika Mahendra difitnah menggelapkan dana dan harus melarikan diri, ayahmu mengambil alih semuanya. Termasuk perusahaannya."

Jatmiko terlihat semakin pucat. "Kenapa aku tidak pernah tahu ini?"

"Karena pernikahanmu dengan Larasati terjadi setelah Mahendra menghilang. Ayahmu sengaja menjodohkanmu dengan Larasati karena dia tahu Larasati sedang mengandung anak Mahendra. Dengan begitu, cucu Mahendra tetap berada di dalam kendali keluarga Wiratama."

Dila menatap foto itu dengan air mata yang kembali mengalir. Pria di foto itu... matanya, hidungnya, mirip dengannya.

"Jadi Ibu mencintai dia..."

"Ya," jawab Pranoto.

"Lalu Ayah Jatmiko?" Dila menatap Jatmiko dengan pandangan yang penuh kasih dan luka.

Jatmiko menatap Dila dengan mata yang penuh air mata dan penyesalan.

"Ayah menikahi ibumu karena ingin melindunginya, Dila. Ayah tahu kamu bukan darah daging Ayah sejak awal. Larasati jujur padaku malam sebelum kami menikah. Dia bilang dia hamil. Tapi Ayah mencintai ibumu. Ayah ingin menjaga kalian berdua."

Dila mulai menangis terisak. "Jadi Ayah tahu sejak awal aku bukan anak kandung Ayah?"

Jatmiko mengangguk dengan air mata yang jatuh. "Sejak awal, Nak. Sejak detik pertama."

"Kenapa Ayah tidak pernah mengatakan padaku?"

"Karena ibumu memintaku bersumpah," jawab Jatmiko dengan suara hancur. "Dia takut jika kamu mengetahui siapa ayah kandungmu yang sebenarnya, kamu akan mencarinya. Dan itu sangat berbahaya. Mahendra adalah alasan seluruh masalah ini dimulai. Semua orang menginginkan kematiannya."

Dila menggenggam foto Mahendra erat-erat di dadanya.

"Dia masih hidup? Ayah kandungku masih hidup?"

Pranoto tidak menjawab langsung. Ia hanya tersenyum tipis yang menyedihkan.

"Mahendra menghilang dua puluh delapan tahun lalu karena dia diburu."

"Oleh siapa?"

"Orang-orang yang ingin mengambil seluruh hartanya. Termasuk..."

Pranoto menatap Jatmiko.

"Termasuk ayahmu sendiri, Jatmiko. Kakekmu."

 

Malam semakin larut. Setelah semua orang beristirahat dengan luka masing-masing, Dila duduk sendirian di kamar yang gelap.

Fadil masuk membawa kotak P3K dan obat merah.

"Bahu kamu harus dikompres, Sayang. Lukamu juga."

Dila melihat bahu Fadil yang memar biru. "Mas juga terluka tadi karena melindungiku."

"Tidak parah, cuma memar," Fadil mencoba tersenyum.

Dila mengambil kapas dan obat, duduk di hadapannya. Dengan hati-hati ia mengoleskan obat pada luka di bahu suaminya.

"Mas," panggilnya pelan.

"Ya?"

"Kalau suatu hari ternyata keluargaku, darah dagingku yang asli, menyebabkan keluargamu terluka... menyebabkan Mas terluka begini..."

Fadil menatap mata istrinya dalam-dalam dan menggenggam tangannya yang sedang mengobati.

"Aku tidak akan pernah menyalahkan kamu, Dila."

"Tapi ini semua karena aku..."

"Dila," potong Fadil lembut. "Dengar aku. Kamu bukan masa lalu keluargamu. Kamu bukan dosa kakekmu. Kamu bukan korban. Kamu adalah orang yang memilihku setiap hari, bahkan saat aku tidak punya apa-apa."

Fadil tersenyum dan mengusap air mata Dila.

"Dan aku akan tetap memilihmu. Setiap hari. Sampai kapan pun."

Air mata Dila kembali jatuh. Bukan karena sedih, tapi karena akhirnya ia merasa dicintai tanpa syarat. Ia memeluk Fadil dengan erat.

"Jangan tinggalkan aku ya, Mas..."

"Tidak akan pernah," bisik Fadil, memeluk istrinya kembali dengan satu tangan yang masih bisa ia gerakkan.

 

Di luar kamar, Azam berdiri sendirian di teras yang gelap. Ia melihat siluet Dila dan Fadil yang berpelukan dari celah pintu. Ada rasa nyeri yang tulus di dadanya, tapi juga rasa lega karena Dila akhirnya aman.

Laras datang mendekat dengan napas tergesa, membawa sesuatu.

"Pak Azam."

Azam mengangguk tanpa menoleh. "Katakan."

"Kami menemukan sesuatu yang terjatuh dari saku salah satu penyerang tadi."

"Apa?"

Laras menyerahkan sebuah kartu nama kecil yang tebal dan elegan, sedikit kotor oleh tanah.

Azam membacanya di bawah cahaya lampu teras yang temaram. Wajahnya seketika berubah tegang.

Tertulis dengan huruf emboss emas:

MAHENDRA HOLDING - EST. 1985

Laras mengerutkan kening. "Perusahaan lama itu, Pak? Bukankah perusahaan itu sudah dinyatakan bangkrut dan hilang dua puluh delapan tahun lalu setelah pemiliknya kabur?"

"Seharusnya sudah tidak ada," jawab Azam pelan.

Azam membalik kartu tersebut. Di bagian belakangnya ada tulisan tangan dengan spidol hitam yang masih baru, tulisan yang tergesa-gesa:

Aku masih hidup. Jangan percaya Pranoto.

Azam terdiam, darahnya berdesir.

Tiba-tiba ponselnya berdering. Nomor tidak dikenal lagi.

Ia mengangkat dengan waspada. "Siapa?"

Suara seorang pria terdengar dari seberang. Suara tua, tenang, dalam, dan sangat berwibawa. Suara yang terdengar seperti sudah menahan beban selama puluhan tahun.

"Azam Wiratama."

"Siapa kamu?" Azam langsung siaga.

"Aku tahu Dila ada bersamamu. Jaga dia."

Azam menahan napas. Tenggorokannya kering. "Mahendra? Raden Arya Mahendra?"

Hening selama dua detik yang terasa abadi.

Kemudian suara itu menjawab pelan, namun jelas,

"Jangan biarkan Dila membaca halaman terakhir buku Larasati."

Azam membeku. "Kenapa? Kenapa tidak boleh?"

"Karena kalau dia membacanya..." suara pria itu terdengar semakin berat, menahan emosi yang dalam, "...dia akan mengetahui bahwa selama dua puluh delapan tahun, semua orang telah salah mencari ayahnya. Dan ayah kandungnya yang sebenarnya... bukan aku."

Sambungan terputus.

Tut... tut... tut...

Azam menatap layar ponselnya yang mati dengan tangan gemetar.

Di dalam kamar, Dila masih memeluk Fadil erat tanpa mengetahui bahwa sebuah kebenaran yang jauh lebih besar, lebih kelam, dan lebih menghancurkan baru saja bergerak mendekati mereka.

Dan di sebuah tempat yang jauh dari sana, di sebuah ruangan penthouse yang gelap dengan pemandangan lampu Jakarta yang gemerlap, seorang pria tua berdiri di depan jendela kaca yang besar.

Di tangannya terdapat dua foto: satu foto Larasati yang masih muda dan tersenyum, dan satu foto Dila yang diam-diam diambil oleh anak buahnya di pasar beberapa bulan lalu.

Ia menyentuh foto Larasati dengan perlahan, dengan kasih sayang yang tidak pernah pudar.

"Maaf, Laras..." Air matanya jatuh membasahi foto itu. "Aku terlambat... aku terlambat menemukan anak kita. Maafkan aku."

Pria itu kemudian menatap foto Dila yang berada di tangannya yang lain. Wajahnya yang tua itu penuh kerinduan seorang ayah yang kehilangan.

Kemudian ia berbisik dengan suara yang penuh janji dan penyesalan,

"Dila... Ayah pulang. Tunggu Ayah."

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!