Bagi Kinanti, Arka hanyalah suami sederhana yang berprofesi sebagai tukang cilok. Pria lembut yang rajin mendorong gerobak demi mencukupi kebutuhan mereka.
Namun, Kinanti tidak tahu bahwa di balik kaus lusuh itu, Arka adalah mantan bos mafia paling ditakuti yang rela pensiun demi dirinya. Ketika musuh masa lalu Arka mulai mengincar Kinanti, sang raja kegelapan terpaksa bangkit kembali tanpa membuat istrinya sadar bahwa suami manisnya adalah seorang pembunuh berdarah dingin.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Van pen., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 24
Sore hari menyelimuti langit Bandung dengan pendar jingga yang hangat. Angin sejuk pegunungan berembus lembut, membawa ketenangan bagi siapa saja yang menikmatinya. Di teras depan rumah panggung, Kinanti tampak begitu anggun dengan gaun kasual berwarna krem dan tas slempang kecil. Wajah cantiknya dipenuhi binar antusiasme.
"Mas Arka! Ayo cepat, nanti pasar kotanya keburu rame banget!" panggil Kinanti ceria seraya merapikan ujung jilbabnya di depan cermin kecil teras.
Arka melangkah keluar dari dalam rumah, mengenakan jaket kulit hitam yang membalut tubuh tegapnya. Melihat semangat sang istri, sudut bibirnya terangkat membentuk senyum hangat yang amat tulus.
"Iya, Sayang. Mas sudah siap kok," sahut Arka lembut, melangkah mendekat lalu merangkul pinggang Kinanti penuh rasa cinta. "Seneng banget ya mau beli perlengkapan dapur baru?"
"Seneng banget lah, Mas! Panci steamer yang lama kan udah agak kecil, terus aku mau beli cetakan cilok yang lebih rapi," jawab Kinanti penuh binar kebahagiaan seraya menyandarkan kepalanya sejenak di dada bidang Arka.
"Apapun buat Ibu Bos. Ayo, motor sewaan Mas Lingga udah siap di halaman," goda Arka, mengecup pelipis Kinanti gemas.
Mereka pun berkendara menembus jalanan berliku perkebunan teh menuju area pasar kota. Kinanti memeluk pinggang Arka dari belakang dengan erat, menyandarkan dagunya di bahu sang suami seraya menikmati angin sore yang menerpa wajah mereka. Bagi Kinanti, momen sederhana boncengan motor seperti ini adalah kebahagiaan yang tak tertandingi.
Namun, di balik helm hitamnya, mata Arka tidak pernah berhenti memindai situasi sekitar.
Pengalaman bertahun-tahun di dunia gelap memberitahunya bahwa pesan yang disampaikannya pada eksekutor Club Strawberry tadi siang tidak akan membuat sosok seperti Blackcurrant menyerah begitu saja. Pimpinan tertinggi musuh itu justru akan memanfaatkan momen di luar desa untuk menjebak Arka.
Ponsel rahasia di saku jaket Arka bergetar halus dua kali. Sambungan earpiece nirkabel yang tersembunyi di balik helmnya terhubung secara otomatis ke saluran terenkripsi Lingga.
"Bos, Blackcurrant gila," bisik suara Lingga dari balik sambungan earpiece. "Dia nggak berani masuk desa, tapi dia nyebar belasan eksekutor berpakaian sipil di pusat grosir alat dapur pasar kota. Dia tahu Lu sama Mbak Kinanti mau ke sana."
Arka tetap mengendarai motor dengan stabil, suaranya sangat tenang agar tak terdengar oleh Kinanti di belakangnya. "Berapa orang?"
"Sekitar dua puluh orang, Bos. Mereka menyusup jadi pedagang dan pembeli. Gua sama Sarah udah di lokasi, penyamaran Sarah jadi pembeli barang mewah udah berhasil ngedistraksi dua tim pantau mereka," jawab Lingga.
"Jangan buat kekacauan di pasar publik," balas Arka tegas melalui pemancar mikro. "Jaga area luar. Biarkan aku yang tangani sisanya di dalam secara senyap."
"Beres, Bos. Ingat gaya rambut mullet gua selalu siaga!" sahut Lingga seraya memutus sambungan.
Motor Arka akhirnya berhenti di pelataran parkir pasar kota yang riuh oleh pengunjung. Kinanti turun dengan wajah gembira, menyambut uluran tangan Arka dan menggenggamnya erat.
"Ayo Mas! Toko peralatan dapurnya ada di lantai dua!" ujar Kinanti antusias, menuntun Arka masuk ke dalam bangunan pasar yang ramai.
Suasana di dalam pusat grosir perlengkapan dapur lantai dua tampak sangat sibuk. Para pengunjung berdesakan memilih panci, wajan, dan berbagai peralatan rumah tangga. Di antara kerumunan tersebut, Kinanti tampak berbinar-binar memegang sebuah panci steamer berbahan baja tahan karat.
"Mas Arka, lihat deh! Ukurannya pas banget buat bikin porsi cilok kuah yang lebih banyak," bisik Kinanti antusias, menunjukkan barang itu kepada Arka.
Arka tersenyum hangat, mengelus puncak kepala istrinya dengan penuh kelembutan. "Bagus, Sayang. Ambil aja kalau kamu suka."
Namun, di balik tatapan matanya yang lembut kepada sang istri, panca indra Arka menangkap pergerakan mencurigakan dari tiga pria berbadan tegap yang mengenakan jaket kasual. Mereka menyebar mengepung lorong toko perlengkapan dapur tersebut, tangan mereka merogoh ke dalam saku jaket bersiap mencabut belati tersembunyi.
Itu adalah tim eksekutor bayaran suruhan Blackcurrant. Mereka mengira keramaian pasar kota akan menjadi perisai yang aman untuk melumpuhkan Arka.
Arka tidak membiarkan itu terjadi. Dengan gerakan yang sangat halus dan terukur, ia merangkul pinggang Kinanti, membimbing langkah istrinya bergeser sedikit ke balik rak pajangan piring keramik yang tebal.
"Kin, tunggu sebentar di sini ya. Mas mau ambilkan rak wadah kecil di sebelah sana yang tadi kamu bilang mau lihat," ucap Arka lembut dan tenang.
Kinanti mengangguk polos tanpa curiga. "Iya, Mas. Jangan lama-lama ya!"
Begitu Kinanti sibuk melihat deretan piring, Arka berbalik melangkah keluar dari balik rak. Tatapan matanya berubah dingin dalam hitungan detik.
Tiga eksekutor Club Strawberry yang melihat Arka bergerak sendirian langsung menerjang cepat dari tiga arah berbeda, mengacungkan belati taktis mereka.
Arka tidak bergeming. Saat eksekutor pertama mengayunkan belatinya ke arah dada, Arka menepis pergelangan tangan musuh dengan satu gerakan kilat, memutar sendi tangannya hingga terdengar bunyi retakan tertutup suara bising pasar. Sebelum pria itu sempat menjerit, Arka mendaratkan tendangan telak ke rusuknya hingga tubuh musuh terlempar menabrak tumpukan ember plastik.
Eksekutor kedua dan ketiga mencoba menyerang bersamaan dari belakang. Arka merunduk mulus, menyapu kaki musuh kedua hingga terjatuh membentur lantai keramik, lalu melayangkan hantaman siku presisi ke leher eksekutor ketiga.
Dalam kurun waktu kurang dari lima belas detik, ketiga eksekutor bayaran itu tumbang tak sadarkan diri di antara tumpukan barang dagangan. Para pengunjung di sekitar tidak sempat menyadari apa yang baru saja terjadi karena gerakan Arka yang luar biasa cepat dan tanpa suara.
Dari ujung lorong, Lingga yang mengenakan jaket kulit dengan gaya rambut mullet-nya muncul sambil membawa dua cangkir kopi kaleng dingin. Ia tersenyum miring melihat tiga tubuh musuh yang tergeletak pingsan.
"Wah, kerja kilat ala Bos Arka emang nggak pernah ada tandingannya," bisik Lingga santai, menendang pelan salah satu pisau musuh masuk ke dalam tas belanjaannya. "Sisa anak buah Blackcurrant di lantai bawah udah diberesin sama Sarah sama anak-anak White Dragon. Aman, Bos."
Arka merapikan sedikit kerah jaketnya, mengembalikan ekspresi wajahnya menjadi teduh dan tenang dalam sekejap. "Bagus. Jangan sampai ada yang mengganggu waktu belanja istriku."
"Siap, Bos!" cengir Lingga sambil melangkah santai pergi meninggalkan area tersebut.
Arka kembali menghampiri Kinanti di balik rak pajangan. Wanita itu tampak sedang memegang spatula kayu dengan senyum ceria.
"Mas Arka! Nih, aku juga ambil spatula kayu estetik buat di dapur," ujar Kinanti riang menyambut kedatangan suaminya.
Arka tersenyum hangat, merangkul bahu Kinanti dengan penuh rasa cinta. "Wah, pilihan yang bagus sekali, Istriku. Ayo kita ke kasir."