Indonesia
NovelToon NovelToon
Cintai Aku Mas

Cintai Aku Mas

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nurul Marisa putri

"Mas... apakah kamu tidak mencintaiku, walaupun hanya sedikit?" tanya Indah dengan suara bergetar.
Namun jawaban yang ia terima menghancurkan hatinya.
"Lupakan saja, Indah. Aku tidak mencintaimu. Hatiku hanya untuk dia."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nurul Marisa putri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

bab 10 - hari yang bingung

Pagi itu, Rizki sudah berada di ruang kerjanya. Saat ia sibuk meneliti laporan keuangan perusahaan, keningnya perlahan berkerut. Angka pengeluaran bulan ini terlihat jauh lebih besar dari biasanya.

"Kok semakin hari pengeluaran kantor malah semakin membengkak ya?" gumamnya pelan. "Hampir satu miliar rupiah untuk pengeluaran bulan ini. Padahal seingatku, bulan ini tidak ada jadwal dinas besar atau proyek khusus. Apakah ada selisih atau ketidakberesan di keuangan ini?"

Rizki segera menekan tombol telepon internal. "Anton, masuk ke ruanganku sekarang."

Tak lama, Anton masuk dengan berkas di tangannya.

"Anton, saya mau tanya soal laporan pengeluaran bulan ini. Kenapa angkanya bisa membengkak sedemikian rupa?" tanya Rizki tegas.

Anton menunduk sopan. "Maaf, Pak. Bukankah kemarin Bapak memerintahkan untuk mencarikan dan membeli perumahan untuk Nona Hana? Dan Nona Hana menginginkan tempat tinggal dengan fasilitas yang sangat mewah, Pak. Sebagian besar biayanya diambil dari dana kantor."

Rizki terdiam sejenak, baru teringat permintaan Hana kemarin. "Begitu rupanya..."

"Apakah perumahannya sudah didapat?" tanyanya lagi.

"Sudah, Pak. Hari ini bisa langsung ditempati. Ini kunci rumahnya." Anton menyodorkan sepasang kunci di atas meja.

"Baiklah, kalau begitu. Terima kasih, Anton."

"Saya permisi, Tuan."

Rizki menatap kunci rumah itu di atas mejanya, pikirannya melayang.

"Akhir-akhir ini memang Hana semakin sering meminta barang-barang sesukanya. Tapi biarlah... apa pun yang ia minta akan kuberikan. Dia adalah wanita yang kusayangi. Nominal harga bisa dicari, yang penting dia bahagia," batinnya berusaha meyakinkan diri sendiri.

Namun keraguan perlahan muncul. "Tapi... tumben sekali orang tuanya ikut ke kota dan tinggal bersamanya sekarang. Tidak seperti biasanya. Apakah ada sesuatu yang sedang terjadi yang belum aku ketahui?"

Tiba-tiba Hana masuk ke ruangan itu dengan wajah berseri-seri, mendekat ke arah Rizki sambil bersikap manja.

"Sayang... Apakah kamu sudah dapat tempat tinggal yang aku mau?" tanyanya lembut penuh harap.

Rizki mengangguk pelan, lalu menyodorkan sepasang kunci di atas meja. "Sudah dapat, Sayang. Ini kuncinya."

Mata Hana langsung berbinar bahagia. "Cintaku... Terima kasih banyak! Kamu memang orang paling baik sedunia!" serunya girang.

"Sama-sama, Sayang. Tapi... tumben sekali kamu tiba-tiba ingin tempat yang lebih luas begini?" tanya Rizki pelan.

Hana tersenyum manis tanpa ragu. "Kebetulan Ibu datang ke kota, Sayang. Aku ingin membahagiakan Ibu saja, supaya dia bisa tinggal dengan nyaman. Soalnya rumahku yang dulu itu terlalu kecil, kasihan kalau untuk bertiga."

Rizki mengangguk pelan, berusaha percaya. "Ya sudah, kalau begitu. Semoga kamu senang ya."

"Senang banget! Terima kasih banyak, Sayang!" Hana langsung memeluknya dengan wajah penuh kemenangan.

Di dalam hatinya, Hana tertawa penuh kemenangan dan keangkuhan.

"Yes! Dapat juga akhirnya! Rizki, Rizki... kamu memang begitu bodoh, gampang sekali aku tipu. Tapi biarlah, aku akan menikmati semua ini. Akhirnya bagian pertama dari rencanaku berhasil — aset berharga ini sudah menjadi milikku. Tunggu saja, perlahan tapi pasti, akan kugunakan segala cara untuk menguras semua hartamu sampai tak bersisa sepeser pun!"

Ia memeluk Rizki dengan penuh kepura-puraan, sementara di balik senyum manisnya tersembunyi niat jahat yang semakin dalam. Rumah itu baru permulaan — dan ia takkan berhenti sebelum mendapatkan semuanya.

Rizki melihat Hana tampak begitu bahagia, lalu lembut mencium pipinya.

"Ya sudah, aku mau bekerja dulu ya. Masih banyak tugas yang harus diselesaikan," ucapnya pelan.

"Baiklah, Sayang. Mau aku buatkan sesuatu untuk menemani kerjamu?" tawarnya manis.

"Tidak usah, terima kasih," jawab Rizki lembut.

Hana pun melangkah keluar ruangan dengan senyum lebar yang tak bisa disembunyikan — senyum kemenangan dan kepuasan. Semuanya berjalan persis seperti yang ia rencanakan.

⚘️⚘️⚘️⚘️........

Pagi itu, Indah sudah berada di rumah sakit sejak tadi. Saat berjalan menyusuri lorong, matanya tak sengaja menangkap sosok Daffa yang sedang berdiri bersama Mawar.

Mawar berdiri di samping Daffa, menatapnya penuh harap. "Kak Daffa... Aku belum mengerti bagian ini. Boleh dijelaskan lagi, Kak?"

Indah melihat mereka berdiri begitu dekat, seolah tak ada jarak di antara mereka. Hatinya perlahan terasa perih. "Sepertinya mereka memang sedang dekat... Sebaiknya aku tidak mengganggu mereka," batinnya pelan, lalu berniat melintas tanpa menyapa.

Namun Daffa yang melihat kehadiran Indah justru diam saja. Ia tak menyapa, tak tersenyum, seolah tak mengenali wanita itu. Langkah Indah terhenti, hatinya terasa semakin berat.

"Tumben sekali dia cuek padaku... Apa salahku sebenarnya?" pikirnya mulai berkecamuk. "Apakah... dia mulai menjauh dariku gara-gara perempuan ini?"

"Kak... Kak Daffa? Ini apa kok diam saja?" tanya Mawar lagi.

"Ini cara mengerjakannya begini, Mawar," jawab Daffa singkat sambil menunjuk berkas di tangannya.

Indah masih berdiri di sana, menatap mereka berdua. Pemandangan itu terasa begitu berbeda baginya — Daffa yang biasanya hangat dan akrab justru berdiri begitu dekat dengan Mawar, dan tak sekalipun menoleh ke arahnya.

"Tumben sekali... Orang sedingin dan sesibuk dia, mau didekati terus sama Mawar si cerewet itu," gumamnya pelan dalam hati, rasa cemburu tak sengaja merayap di dadanya. "Tapi ngapain aku memikirkan hal ini sih? Idih, aneh banget aku..."

Ia segera membuang wajah, berusaha menepis pikiran yang mulai mengganggunya, lalu berjalan pergi dengan hati yang entah mengapa terasa berat.

Mawar menyadari pandangan Indah yang sempat tertuju pada mereka. Bibirnya mencibir sinis, matanya menatap kepergian Indah dengan tatapan tak suka.

"Ngapain sih dia lagi melihat-lihat? Sudah tahu aku lagi berusaha dekat sama Kak Daffa, tapi wanita itu harus ada di mana-mana saja," gerutunya dalam hati penuh rasa kesal dan cemburu.

Ia kembali menatap wajah Daffa di hadapannya, lalu tersenyum penuh keyakinan dan kepemilikan. "Tapi tidak apa-apa... Kak Daffa itu hanya milikku. Lihat saja nanti, dia pasti akan menjadi milikku sepenuhnya."

Daffa yang tanpa sengaja melihat Indah memperhatikannya sedari tadi, hatinya langsung berdebar cemas.

"Apakah dia kesal melihat aku bersama Mawar lagi?" batinnya cemas. "Wanita itu... kerjanya saja nempel terus ke mana-mana. Kalau tidak ditanya soal pekerjaan, dia sendiri yang datang mendekat. Belum lagi cerewet banget, bikin pusing rasanya!"

Ia ingin sekali langsung meninggalkan Mawar dan menyusul Indah, tapi ia tahu ia belum bisa — setidaknya sampai pekerjaan ini selesai. Namun di dalam hatinya, ia berharap sekali Indah tidak salah paham.

1
Lisna Wati
kok beres lanjut dong
nurulmarisa: belum aku update ka,abis jagain ade🤣
total 1 replies
aswati seran
💪
nurulmarisa: cemangat💪👍
total 1 replies
Naura Azizah
suka heran sama cowo bingung,gak bisa milih mau dua duanya bukannya terlalu serakah ya kasian indah tertekan🙏
nurulmarisa: emng kdg bikin kesel km😄
total 1 replies
Clara Maiy
begitulah cewe yang di kerja umur di suruh nikah Mulu persis kaya mama ku kasian indah🤣
nurulmarisa: hmm aku nyimak🤣
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!