Indonesia
NovelToon NovelToon
Mnemosynes Blood Mate

Mnemosynes Blood Mate

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Romansa Fantasi / Misteri
Popularitas:528
Nilai: 5
Nama Author: Soobin Chan

[SEASON 3]

"Aku sudah menandai lehernya. Dia milikku!" — Jonah (Vampir Dingin)

"Jangan membual! Dia adalah Mate sejatiku!" — Josiah (Vampir Playboy)

"Mustahil kami bertiga memiliki satu Mate yang sama!" — Jonas (Demon Sulung)

"Lepaskan dia, atau klanmu akan kuhancurkan." — Cedric (Bangsawan Elf)

Elisa mengira dia hanya gadis panti miskin dengan kekuatan aneh memanipulasi ingatan. Namun dalam semalam, dunianya runtuh saat ia dikepung oleh tiga pangeran kegelapan Salvatore yang tampan namun mematikan. Mereka semua mengklaim Elisa sebagai belahan jiwa (Blood Mate) yang tertulis di takdir kuno.

Saat berusaha kabur, Elisa justru tak sengaja membuka gerbang menuju Alfheim—dunia Elf Hutan—di rumah Cedric, bos restorannya yang misterius.

Siapa sebenarnya Elisa? Mengapa para makhluk abadi ini begitu terobsesi pada darahnya? Di tengah ingatan masa lalunya yang perlahan terhapus, permainan berburu di antara mereka baru saja d

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Soobin Chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 31.

"Mungkin baru sekitar lima tahun terakhir ini saya mengasuhnya, Tuan Alan. Elisa adalah seorang anak pindahan darurat dari panti asuhan lamanya di distrik utara yang kabarnya sudah bangkrut total. Kasihan sekali nasib anak itu... saat pertama kali ia menapakkan kakinya datang ke tempat panti saya, ia bahkan menderita amnesia parah hingga melupakan total apa nama panti asuhan sebelumnya, dan dari mana sesungguhnya wilayah tempat asalnya berada."

Mendengar penuturan jujur yang keluar dari mulut Ibu Iris, Alan Pendragon mendadak terdiam seribu bahasa. Ketidakhadiran jalinan benang masa lalu pada seluruh riwayat ingatan Elisa seketika memicu alarm kewaspadaan supranatural yang teramat nyaring di dalam lubuk benaknya.

Ada sebaris rahasia kuno berskala besar yang sengaja dikunci rapat dari kesadaran jiwa gadis manusia tersebut. Namun, Alan sangat paham bahwa saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk menyelidiki anomali ganjil itu lebih jauh di hadapan sang wanita tua yang fana.

"Oh, jadi begitu rupanya sejarah asalnya," gumam Alan Pendragon dengan nada suara baritonnya yang terdengar tenang dan berwibawa.

Ia memaksakan seulas senyuman tipis di bibirnya demi menetralkan kembali atmosfer udara lobi yang sempat menegang.

"Saya turut merasa sangat prihatin atas segala bentuk kemalangan yang sempat menimpa garis hidupnya di masa lalu. Namun, melihat bagaimana cara dia bersikap tegap hari ini, dia dipastikan adalah sesosok gadis manusia yang teramat tangguh."

"Anda benar sekali, Tuan Alan," sahut Ibu Iris cepat, sepasang matanya seketika berbinar terang memancarkan rasa kebanggaan yang mendalam saat membicarakan perihal putri asuh kesayangannya.

"Elisa adalah seorang gadis yang teramat baik hati, tulus, dan pekerja keras. Dia bahkan rela mengorbankan seluruh waktu mudanya hanya demi membantuku menguras tenaga, mencari uang untuk menghidupi anak-anak malang di panti asuhan ini."

Alan menganggukkan kepala jalannya tanda paham. Kepekaan insting ras Pegasus yang bersemayam di dalam inti jiwanya sanggup menangkap dengan sangat jelas kemurnian ketulusan dari setiap bait kata yang diucapkan oleh wanita tua di hadapannya.

"Mulai detik ini, Anda beserta seluruh anak-anak panti sudah berada dalam posisi yang teramat aman di tempat ini. Segala bentuk kebutuhan hidup, pangan, dan fasilitas kalian ke depan akan dijamin penuh secara absolut. Saya bersumpah memberikan janji ini atas nama kehormatan besar Keluarga Pendragon."

"Terima kasih banyak, Tuan Alan... Terima kasih yang sebesar-besarnya," ucap Ibu Iris dengan nada suara yang mendadak memberat serak.

Buliran air mata haru yang sedari tadi ditahannya kini benar-benar berkaca-kaca di sudut matanya yang digaris oleh usia senja.

"Kami semua benar-benar merasa teramat beruntung karena bisa dipertemukan dengan sosok berhati mulia seperti Anda di kota ini."

"Saya hanya melakukan apa yang sudah sepatutnya dilakukan untuk membantu mereka yang sedang dirundung kesusahan, Nyonya Iris," tutur Alan lembut.

Namun, pancaran dari sepasang matanya yang jernih mendadak menyiratkan sekelebat kilasan memori kuno yang teramat kelam dan pekat dari masa lalu klan.

"Karena jauh sebelum saya berhasil menduduki posisi kepemimpinan agung di sini, saya pribadi pernah merasakan langsung bagaimana perihnya rasa kehilangan segalanya di bawah tekanan kejamnya dunia. Kalau begitu, saya mohon pamit undur diri terlebih dahulu, Nyonya. Seluruh urusan administrasi saya di tempat ini sudah selesai dan saya harus segera kembali ke kediaman."

Alan memberikan sebuah anggukan penghormatan yang teramat anggun khas aristokrat kelas atas. Ia menyunggingkan seulas senyuman lebar yang menawan, lalu membalikkan tubuh tegapnya, melangkahkan kaki keluar dari area lobi gedung panti asuhan Pendragon dengan memancarkan wibawa absolut seorang bangsawan abadi yang murni.

Ibu Iris menatap lekat punggung tegap Alan Pendragon yang kian berjalan menjauh, lalu mengembuskan sebaris napas panjang yang sarat akan rasa kelegaan yang luar biasa mendalam.

Beban berat finansial yang selama bertahun-tahun ini menghimpit pundak tuanya seolah-olah menguap lenyap begitu saja ditelan angin. Sembari memandangi lampu indikator lift yang bergerak naik menuju ke lantai atas, wanita tua itu menggumamkan untaian doa penuh rasa syukur di dalam batinnya.

Ia tahu betul, tanpa adanya keberadaan fisik dan pengorbanan nekat Elisa yang berjalan kaki mencari bantuan tadi siang, ia beserta belasan anak-anak panti saat ini mungkin sudah terlantar kelaparan di sepanjang jalanan distrik pesisir Kota Luminara yang pekat.

****

Sementara itu, di dalam interior kamar tidur luas yang terletak di lantai dua puluh, Scarlett Pendragon tampak sedang duduk dengan sangat telaten dan hati-hati. Jemari tangannya bergerak lembut membersihkan sisa-sisa bercak darah yang mulai mengering di sepanjang kulit kaki telanjang Elisa, sebelum akhirnya mengoleskan cairan antiseptik secara perlahan.

"Elisa, sebenarnya ke mana saja kau melangkahkan kakimu sejak tadi pagi? Kenapa sepasang kaki manusiamu bisa berakhir terluka separah ini?" tanya Scarlett tanpa memalingkan wajah mendongak, fokus penuhnya terkunci pada luka lecet di hadapannya.

"Apakah Kak Evelyn sama sekali tidak mengantarmu menggunakan mobil sampai ke depan gerbang gedung ini? Jangan katakan padaku bahwa kau baru saja berjalan kaki nekat dari lokasi panti asuhan lamamu yang jaraknya membentang puluhan kilometer itu?"

Elisa hanya bisa meringis pelan menahan perih saat kapas basah berlumur antiseptik itu menyentuh permukaan kulit kakinya yang terluka.

Sorot mata cokelat gelap manusianya sesekali bergerak melirik cemas ke arah sosok pelayan paruh baya, Marrie, yang posisinya masih setia berdiri tegak, mematung di sudut ruangan layaknya sebuah patung manekin bernyawa.

"Ini... semua luka ini tercipta karena tadi aku terpaksa harus berlari menyusuri jalanan aspal kota tanpa menggunakan alas kaki apa pun," ucap Elisa dengan nada suara pelan yang agak bergetar menahan ngeri.

"Sepatu lamaku mendadak rusak hancur, lalu ban mobil mewah milik Evelyn tiba-tiba meletus bocor di tengah jalan raya sepi. Karena didera rasa panik yang teramat sangat akan keselamatan adik-adik, aku memilih berlari kembali menuju ke panti lama dan sempat beberapa kali salah menaiki armada bus umum. Itulah alasan ilmiah kenapa aku baru bisa datang terlambat sampai di tempat ini."

Elisa kembali memilih opsi aman untuk merangkai untaian kebohongan fana. Kesadaran jiwanya sama sekali tidak akan pernah sanggup jika harus dipaksa menceritakan kronologi kejadian gila perihal insiden penculikan terbangnya ke dimensi kuno Alfheim, ngerinya bentangan sepasang sayap Demon hitam raksasa milik Jonas, ataupun klaim sepihak penuh obsesi dari para pangeran kegelapan yang menakutkan itu.

Gerakan tangan Scarlett mendadak terhenti seketika di udara. Ia memalingkan wajah mendongak, menatap lekat-lekat ke arah raut wajah pucat milik sahabat barunya itu dengan sepasang kening yang berkerut teramat dalam.

"Kau... saat ini sedang tidak mencoba untuk berbohong di hadapan wajahku, bukan, Elisa? Instingku bisa menangkap dengan sangat jelas bahwa ada sesuatu hal supranatural yang teramat tidak beres sedang terjadi di tempat ini."

Scarlett mengembuskan sebaris napas panjang yang sarat akan rasa jengkel yang memuncak. "Pasti... segerombolan sepupu-sepupuku dari keluarga Salvatore yang tidak tahu adat adat itu telah melakukan tindakan buruk untuk menyakitimu, bukan? Mereka sengaja membuat jiwamu ketakutan setengah mati hingga kau berakhir terluka sekacau ini di tengah jalan, kan?"

Elisa memilih untuk tetap membisu seribu bahasa, sama sekali tidak memiliki keberanian untuk membenarkan ataupun membantah tuduhan tersebut.

Tatapan sepasang manik mata berwarna ungu jernih milik Scarlett kemudian beralih drastis, menajam lurus, menusuk tepat ke arah sosok pelayan wanita yang berdiri kaku di sudut kamar.

"Bibi Marrie, kenapa Anda terus-menerus diam mematung di tempat itu dan malah nekat membuntuti pergerakan kami hingga masuk ke dalam area kamar pribadi?"

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!