Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.
Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.
Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.
pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.
Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.
takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan
Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Butuh kejelasan
Tatapan Takumi tiba-tiba berubah. Ia menoleh penuh kepada Rin.
"Rin...?"
Rin tetap menatapnya. Jantungnya berdebar, tetapi kali ini ia tidak mundur; ia ingin melihat bagaimana pria itu akan menjawab.
"Kau menghabiskan malam bersama wanita yang sudah bertunangan. Kau kira itu pantas ?"
Mata Takumi sedikit membelalak. Ia jelas tidak menyangka Rin mengetahui hal itu, namun hanya sesaat. Takumi segera mengendalikan ekspresinya kembali dan menyipitkan mata.
"Rin."
Ada jeda panjang. Takumi menghela napas pelan. Ia tersenyum "Sejak kapan kau jadi detektif, hm ?"
Rin tidak menjawab.
"Kau mencari tahu tentangku dari Kiba, ya?"
Rin mengerutkan dahi. "Aku tidak—”
Takumi melangkah lebih dekat. Tangannya terangkat dan menyentuh dagu Rin, mengangkatnya sedikit agar tatapan mereka kembali bertemu. Rin langsung menelan ludah. Jarak mereka kembali dekat—terlalu dekat—hingga ia bisa mendengar napas Takumi yang mulai berubah.
Namun kali ini, Rin tidak membiarkan dirinya terbawa suasana. Takumi menatap matanya dalam-dalam.
"Seberapa banyak yang kau tahu?"
Nada suaranya lebih rendah dari sebelumnya.
Rin terdiam beberapa detik, kemudian tangannya mendorong dada Takumi agar pria itu menjauh.
"Aku tidak ingin membahasnya...Aku mau pulang sekarang."
Takumi mundur sedikit.
Rin menghindari tatapannya. Wajahnya memerah, tetapi bukan karena malu—ia hanya tidak ingin percakapan itu berlanjut. Takumi memperhatikan ekspresinya, tahu bahwa Rin sudah tidak akan mau diajak berbicara lebih jauh. Akhirnya ia mengeluarkan remote dari sakunya dan menekan tombol kunci.
Terdengar bunyi pintu terbuka. Rin langsung masuk ke dalam mobil, diikuti Takumi yang duduk di kursi pengemudi.
Sepanjang perjalanan pulang, tidak ada satu pun dari mereka yang berbicara. Suasana di dalam mobil terasa mencekam; Takumi mengemudi lebih cepat dari biasanya, sementara Rin hanya duduk diam sambil memandang keluar jendela.
Tak lama kemudian, rumah nenek Rin mulai terlihat. Begitu mobil berhenti, Rin langsung membuka pintu bahkan sebelum kendaraan itu benar-benar terparkir dengan sempurna.
"Rin! Bahaya!"
Rin tidak mendengar. Ia berjalan cepat menuju pintu rumah dan buru-buru memasukkan kunci, tetapi karena masih terbawa emosi, kunci itu justru sulit masuk ke lubangnya. Takumi sudah berdiri di belakangnya.
"Biar aku."
Ia mengambil kunci dari tangan Rin dengan gerakan lembut, dan dalam sekali percobaan, pintu langsung terbuka.
Rin segera merebut kembali kuncinya, membuka pintu, melepas sepatu dengan asal hingga tergeletak begitu saja, lalu mengenakan sandal rumahnya dan langsung menaiki tangga menuju lantai dua.
Takumi masih berdiri di dekat pintu. Tatapannya mengikuti Rin sampai gadis itu menghilang di balik tangga, kemudian matanya turun ke lantai di mana sepasang sepatu Rin tergeletak tidak beraturan di dekat genkan.
Takumi menghela napas. Ia tahu Rin sengaja melakukannya; biasanya gadis itu memang ceroboh, tetapi kali ini berbeda. Cara Rin melemparkan sepatunya tadi terlalu jelas menunjukkan bahwa ia sedang kesal.
Takumi menutup pintu perlahan dan berdiri beberapa saat dalam diam. Pandangannya kembali tertuju pada tangga yang baru saja dilewati Rin.
"Benar-benar keras kepala..."
Namun tidak ada kemarahan dalam suaranya. Takumi justru tampak sedang memikirkan sesuatu, sementara ucapan Rin tadi terus terngiang di kepalanya:
Apa kau kira kau lebih baik daripada mereka?
Takumi mengalihkan pandangan. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak memiliki jawaban yang benar-benar bisa ia gunakan untuk membantahnya.
***
Rin menaiki tangga dengan langkah cepat, sengaja tidak menoleh ke belakang meskipun bisa merasakan tatapan Takumi masih mengikutinya. Begitu sampai di depan kamar, ia membuka pintu lalu membantingnya sedikit lebih keras dari biasanya.
BRAK.
Rin bersandar di balik pintu. Dadanya masih terasa sesak karena percakapan di Hanamibashi tadi—bukan karena takut pada Takumi, melainkan karena ia kesal pria itu selalu bicara seolah semua yang dikatakan benar, padahal Takumi sendiri bukan orang yang bisa dijadikan contoh. Rin mengembuskan napas panjang.
"Nyebelin..."
Ia berjalan menuju tempat tidur, kemudian menjatuhkan tubuhnya begitu saja. Semuanya terasa bercampur aduk di kepalanya.
Rin memiringkan tubuh dan menarik bantal hingga menutupi wajah.
"Aku juga nggak peduli..."
Kalimat itu terdengar meyakinkan hanya sampai ia mengingat perempuan yang bersama Takumi—perempuan yang membuat Takumi tidak pulang malam itu. Rin mengerutkan kening.
"kalian berdua sama saja !?"
Ia membalikkan badan, lalu beberapa saat kemudian kembali membaliknya lagi. Tidak berhasil tidur.
Sementara itu, di lantai bawah, Takumi masih berdiri di dekat pintu. Ia memandangi sepatu Rin yang tadi sengaja dilempar sembarangan, lalu menghela napas. Biasanya, hal seperti itu akan langsung membuatnya kesal, tetapi malam ini ia justru mengambil kedua sepatu itu dan meletakkannya berdampingan di rak.
Tatapannya kemudian naik ke arah tangga. Takumi tahu Rin marah, dan untuk pertama kalinya, ia merasa tidak tahu harus mengatakan apa. Bukan karena ia tidak punya jawaban, melainkan karena pertanyaan Rin tadi terlalu tepat sasaran.
"Apakah aku lebih baik daripada mereka?"
Ia mengusap tengkuknya. Tidak. Takumi sendiri tahu jawabannya tidak sesederhana itu.
Ia kemudian mematikan lampu ruang tengah dan naik ke lantai atas. Saat melewati kamar Rin, langkahnya berhenti; dari balik pintu terdengar suara permainan dari ponsel, menandakan gadis itu belum tidur.
Takumi sempat mengangkat tangan, seolah hendak mengetuk, namun urung. Ia menurunkan tangannya kembali.
"Biarkan saja." Ia turun kembali menuju kamarnya.
***
Pagi itu Rin terbangun dengan perasaan malas. Matanya masih berat—permainan yang ia mainkan semalam membuatnya tidur terlalu larut, tetapi entah bagaimana tubuhnya justru terbangun lebih pagi dari biasanya. Rin menatap langit-langit kamar beberapa saat.
"Kenapa bangun sekarang..."
Ia menarik selimut sampai menutupi kepala, tetapi beberapa menit kemudian rasa tidak nyaman membuatnya bangkit juga. Dengan langkah malas, ia turun dan langsung menuju kamar mandi. Air hangat membuat tubuhnya sedikit lebih segar.
Begitu membuka pintu kamar mandi, aroma mentega dan udang langsung menyambutnya. Di dapur, Takumi baru saja selesai menyiapkan sarapan. Ia mengenakan celemek sederhana, dan di atas meja sudah tersedia dua piring nasi goreng udang mentega yang masih mengepul. Takumi menoleh.
"Rin. Makan."
Rin hanya melirik sebentar. Perutnya sebenarnya sudah lapar sejak tadi, tetapi rasa kesalnya kepada Takumi semalam masih lebih kuat. Tanpa menjawab, ia justru berbalik dan berniat menaiki tangga kembali. Takumi mengernyit.
"Rin."
Langkah gadis itu berhenti. "Duduk."
Rin menghela napas panjang. Ia tahu dirinya lapar, dan ia juga tahu kalau terus bersikap seperti ini, Takumi mungkin akan terus memanggilnya. Dengan wajah masam, ia berbalik, mengambil piringnya, lalu hendak membawanya ke lantai atas.
"Rin. Duduk di meja makan."
Kali ini Rin benar-benar berhenti. Ia menatap piring di tangannya, kemudian menatap Takumi tanpa berkata apa-apa. Ia menghela napas lagi, meletakkan piring di meja, lalu menarik kursi dan duduk.
"Itadakimasu."
Takumi melepas celemeknya, menggantungnya di dekat dapur, kemudian ikut duduk di seberang Rin. Mereka mulai makan. Namun sepanjang sarapan, Rin hampir tidak pernah mengangkat wajah; tatapannya hanya tertuju pada piring. Takumi beberapa kali memperhatikannya. Biasanya gadis itu akan mengomentari masakan, meminta tambahan, atau mengeluh karena sesuatu—pagi ini tidak. Hanya makan. Diam.
Takumi akhirnya membuka percakapan.
"Hari ini aku libur."
Rin tetap makan.
"Sudah waktunya mengepel lantai."
Tangan Rin berhenti sebentar. Ia mengangkat wajah.
"Ya." Suaranya datar. "Aku yang ngepel."
Takumi sedikit mengangkat alis, tetapi sebelum ia sempat mengatakan apa pun, Rin sudah kembali makan.
"Setelah itu, sapu halaman dan siram bunga."
"Ya."
"Aku akan ke pasar. Kau ikut aku."
"Ya."
Takumi menatapnya beberapa detik. Ia sebenarnya sengaja menyebutkan semua pekerjaan itu satu per satu—semalam Rin sudah membuatnya kesal, dan pagi ini ia berniat sedikit menggoda gadis itu dengan setumpuk pekerjaan rumah.
Namun reaksi Rin justru membuatnya kehilangan kesempatan. Tidak ada protes, tidak ada rengekan, dan tidak ada wajah kesal yang biasanya disertai banyak omelan. Hanya satu jawaban yang sama.
"Ya."
Takumi menyipitkan mata. Sepertinya Rin masih marah.