Update tiap hari dijam 12.00 WIB.
Ji Mo-Xian, pemuda yang terlahir di keluarga berdarah bangsawan. Namun, ia memiliki mata yang unik menurut para tetua klan mata Mo-Xian adalah mata dewa naga air yang masuk ke dalam tubuh Mo-Xian.
Alih-alih dibenci Ji Mo-Xian menjadi buronan para kultivator karena kekuatan matanya yang hebat. Ji Mo-Xian memilih menutup matanya menjadi pendekar buta yang menggunakan kekuatan syair kematian.
Ketika Ji Mo-Xian membuka ikatan matanya, maka musuh akan hancur seketika tanpa sisa. Kekuatan Ji Mo-Xian bukan asalan untuk digunakan.
Apa yang terjadi dengan Ji Mo-Xian? Ikuti kisahnya!!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Diah Nation29, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Seruling Giok Naga Purba
Cahaya biru lembut yang berpendar dari gulungan kulit naga purba memantulkan bayangan aksara-aksara kuno ke dinding batu ruang rahasia di jantung Lembah Tengkorak. Suasana di dalam ruangan itu begitu hening, seolah waktu berhenti berputar dan memisahkan tempat ini dari hiruk-pikuk dunia kultivasi di luar sana.
Ji Mo-Xian berdiri terpaku di depan altar batu hitam. Jari-jarinya yang ramping perlahan terulur untuk menyentuh permukaan seruling giok putih bersih yang tersimpan di dalam kotak giok terbuka. Begitu ujung jarinya bersentuhan dengan giok tersebut, getaran halus yang hangat langsung menjalar naik melalui lengannya, meresap ke dalam jalur meridian di dada kirinya dan menenangkan sejenak amukan mata dewa naga air yang selama ini terus berdenyut liar.
Seruling itu bukan sekadar artefak biasa. Itu adalah peninggalan leluhur dari era para dewa purba, sebuah instrumen spiritual yang diciptakan khusus untuk meredam dan menyelaraskan kekuatan dahsyat dari mata naga air tanpa harus merusak wadah fisik sang pengguna.
Mo-Xian mengangkat seruling giok itu dari tempatnya. Beratnya pas di genggaman, dan ukiran naga melingkar di batangnya terasa hidup ketika dialiri oleh sisa tenaga dalamnya. Sebagai seorang pendekar buta yang menggunakan syair kematian dan gelombang sonik sebagai senjata utamanya, kehilangan seruling bambu lamanya di dataran es sempat menjadi sebuah kendala. Namun, kehadiran seruling giok naga purba ini seolah menjadi jawaban atas takdir yang membimbing langkahnya ke lembah tersembunyi ini.
Ia kemudian mengalihkan perhatiannya ke gulungan naskah kulit naga purba yang terbentang di atas altar. Dengan jemarinya yang menyentuh permukaan naskah, Mo-Xian membaca barisan kalimat aksara kuno yang terukir dengan tinta emas:
“Barang siapa yang mewarisi Mata Dewa Naga Air, ia bukanlah pembawa kutukan, melainkan penjaga gerbang antara dunia fana dan keabadian. Suara kematian bukanlah kehancuran semata, melainkan kidung penyucian bagi mereka yang tersesat dalam keserakahan...”
Kalimat-kalimat itu bergemerincing di dalam kesadaran Ji Mo-Xian. Selama bertahun-tahun, Klan Ji dan faksi-faksi besar di Tiga Benua selalu mencap dirinya sebagai monster pembawa sial yang mengutuk klan. Mereka memperlakukannya bagai budak dan hewan buruan, merampas kebebasannya, dan mencoba mencungkil matanya demi ambisi kekuasaan pribadi.
Namun, naskah kuno ini menegaskan kebenaran sebaliknya. Kekuatan yang ia miliki bukanlah kutukan, melainkan takdir mutlak seorang pelindung kebenaran mutlak yang berjalan di atas garis tipis antara hidup dan mati.
"Penjaga gerbang..." gumam Ji Mo-Xian lirih, suaranya bergemerincing pelan di dalam ruang rahasia yang sunyi. Sebuah senyuman tipis tersungging di bibirnya—bukan senyuman sinis atau penuh dendam, melainkan senyuman kelegaan dari seseorang yang akhirnya memahami makna di balik penderitaan panjang yang ia lalui.
Tiba-tiba, udara di dalam ruang rahasia bergetar hebat.
Tanpa peringatan apa pun, dinding batu di sebelah kiri altar runtuh berkeping-keping. Debu tebal berhamburan memenuhi ruangan, dan gelombang tekanan spiritual tingkat tinggi dari alam Pemuka Keabadian—jauh melampaui tingkat alam Nirwana—menghantam masuk, memecahkan sisa-sisa pilar batu di aula utama Lembah Tengkorak.
Ji Mo-Xian tidak bergeming. Ia dengan sigap menyelipkan seruling giok naga purba ke dalam lipatan jubah putihnya, lalu perlahan membalikkan badan menghadapi sumber gangguan tersebut.
Dari balik reruntuhan dinding yang jebol, sesosok bayangan tua berjubah abu-abu koyak melayang turun dengan perlahan. Pria tua itu memiliki tubuh yang sangat kurus, kulit keriput menyerupai kulit pohon tua, dan sepasang mata putih keruh yang memancarkan aura kehampaan mutlak. Ia memegang tongkat kayu mati yang di puncaknya tergantung sebuah tengkorak kristal berkilau ungu.
Ia adalah Leluhur Ketiga dari Sekte Jiwa Abadi—seorang monster tua purba yang telah menutup diri dan bertapa di dalam gua bawah tanah selama lebih dari delapan ratus tahun. Kebangkitan energi dari mata dewa naga air di Lembah Tengkorak telah membangunkannya dari meditasi abadi, menariknya keluar untuk merenggut pusaka tersebut demi menembus batas akhir menuju keabadian fana.
"Luar biasa..." suara pria tua itu terdengar serak, parau, dan bergemerincing bagaikan gesekan batu nisan tua. "Bocah ingusan dari Klan Ji... aku tidak menyangka cucu buangan yang dianggap sampah oleh klannya sendiri berhasil menjejakkan kaki di ruang rahasia ini dan menemukan warisan dewa naga air."
Ji Mo-Xian sedikit mendongakkan kepalanya ke arah suara tersebut, kain sutra hitam di matanya berkibar tenang diterpa angin reruntuhan. "Satu lagi monster tua yang keluar dari kuburannya karena keserakahan," ucap Mo-Xian datar, suaranya tidak menunjukkan rasa gentar sedikit pun meski berhadapan langsung dengan kultivator di tingkat yang belum pernah ia temui sebelumnya.
Leluhur Ketiga tertawa hambar, suara tawanya terdengar mengerikan dan memecah kesunyian lembah. "Sombong! Kau baru saja membunuh sekumpulan anak-anak bodoh dari aliansi rendahan dan mengira dirimu sudah menguasai dunia kultivasi? Di hadapanku, alam Nirwana tempatmu berpijak tidak ada apa-apanya. Serahkan mata itu dan seruling giok naga purba, maka aku akan memberikan kematian yang damai tanpa rasa sakit."
Ji Mo-Xian perlahan meraba seruling giok di dalam jubahnya. Ia tahu, menghadapi kultivator tingkat Pemuka Keabadian dalam kondisi meridian yang belum pulih sepenuhnya adalah pertaruhan nyawa yang paling ekstrem. Namun, di dalam hatinya, tidak ada rasa takut—hanya ada kesiapan mutlak untuk menuntaskan takdirnya.
Ia mengeluarkan seruling giok putih bersih itu kembali, meletakkannya perlahan di bibirnya, dan bersiap meniup bait pertama dari syair kematian tertinggi.