Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.
Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN
Hawa panas terik matahari pagi mulai menyengat kulit. Di depan pintu rumah utama yang telah terkunci rapat, Bian berdiri mematung dengan bahu yang merosot lunglai. Keheningan yang ditinggalkan Husna seolah menjadi vonis tak kasatmata yang menggantung tepat di atas kepalanya. Raut anggun dan wajah berpura-pura polos dari istri pertamanya tadi tak memberi ruang sedikit pun bagi Bian untuk meminjam dana darurat.
"Mas! Gimana ini?!" pekik Salma dengan nada melengking, menarik-narak kemeja Bian yang makin kumal oleh keringat dan debu paviliun. "Swalayan kamu bisa hancur, Mas! Terus Salma mau makan apa? Pesta nikah kita baru semalam, masa sekarang Salma sudah harus hidup melarat di gudang kotor ini?."
Telinga Bian berdengung mendengarkan rengekan Salma. Kepalanya yang sejak tadi dihantam tekanan bertubi-tubi akhirnya mencapai titik didih. Bian membalikkan badan dengan cepat, menatap istri mudanya itu dengan pandangan tajam dan napas memburu.
"Salma, diam!" bentak Bian keras hingga Salma tersentak mundur satu langkah. "Jangan cuma bisa menjerit-jerit panik! Kamu kan punya uang simpanan. Kamu punya tabungan pribadi dari hasil kerja kamu sebelum ini, kan?"
Salma membelalakkan mata, refleks merapatkan tas mewahnya ke dada. "Maksud Mas apa?! Mas mau minta uang Salma?!"
"Bukan minta, Salma! Mas mau pinjam!" desak Bian dengan nada memohon yang bercampur frustrasi. "Tolong bantu Mas dulu! Uang kas toko tidak cukup untuk bayar pasokan barang hari ini secara cash. Kalau kamu ada simpanan, keluarkan dulu untuk talangan! Lagipula, kamu ingat tidak? Sebelum kita menikah, siapa yang membelikan kamu tas-tas mahal? Siapa yang mentransfer uang bulanan untuk gaya hidupmu? Siapa yang membiayai semua keinginan pesta pernikahan mewah yang kamu minta semalam?! Itu semua pakai uang Mas, Salma!"
Mendengar tuduhan itu, wajah Salma memerah padam. Wanita itu langsung bersedekap dada dan mengalihkan pandangannya dengan angkuh. "Loh! Itu kan memang sudah kewajiban Mas Bian sebagai laki-laki yang mau menafkahi Salma! Mas yang janji mau membahagiakan Salma, mau jadikan Salma ratu. Kenapa sekarang malah dihitung-hitung?! Uang simpanan Salma itu uang dingin, Mas. Tabungan buat masa depan Salma sendiri. Gak bisa asal dipakai buat urusan bisnis Mas yang teledor."
Kata-kata dingin itu menghantam dada Bian bagai gada besi. Ia menatap wanita di hadapannya dengan raut tak percaya. Wanita yang selama bertahun-tahun ini selalu bertutur kata manis, manja, dan bersumpah akan mencintainya dalam kondisi apa pun, kini begitu gigih mempertahankan dompetnya di saat Bian sedang berada di ujung jurang.
"Salma..." suara Bian mendadak memelan, bergetar oleh rasa cemas dan kekecewaan yang mendalam. "Kamu benar-benar cinta sama Mas atau cuma cinta sama uang Mas?"
Salma tersentak pelan. Matanya sedikit berkilat ragu saat melihat tatapan terluka di mata Bian. Namun sebelum Salma sempat menyusun kebohongan manis baru, ponsel Bian kembali berdering nyaring di sakunya.
Nama supervisor toko kembali berkedip-kedip di layar.
"Halo, Riko!" sambar Bian cepat.
"Pak Bian! Waktu dari distributor sudah habis, Pak!" suara Riko terdengar sangat mendesak dari ujung telepon. "Sales-nya sudah minta jalan! Kalau tidak ada kepastian pembayaran tunai detik ini juga, tiga truk pasokan barang resmi balik kanan menuju gudang pusat. Gimana ini, Pak?."
Bian mengepalkan tangannya rapat-rapat. Keringat dingin mengucur deras di pelipisnya. Ia tahu, jika truk itu berbalik arah, kehancuran swalayannya tinggal menghitung hari.
"Riko! Berikan saya waktu satu jam! Saya sedang jalan menuju toko untuk bawa uang tunainya!" seru Bian nekat, lalu mematikan telepon secara sepihak tanpa menunggu jawaban Riko.
Bian mencengkeram pergelangan tangan Salma dengan kuat, menarik wanita itu menuju mobil sedan milik Bian yang terparkir di halaman luar.
"Mas! Sakit! Mas mau bawa Salma ke mana?!" jerit Salma berusaha melepaskan genggaman Bian.
"Ikut Mas ke mobil! Kita bicara di jalan!" tegas Bian tanpa membantah. Ia membukakan pintu mobil, menghempaskan Salma ke kursi penumpang depan, lalu Bian sendiri masuk ke kursi pengemudi dan menekan pedal gas dalam-dalam, meninggalkan area rumah dan paviliun belakang.
Di dalam kabin mobil yang sejuk oleh hembusan pendingin udara, suasana terasa teramat tegang. Salma mengusap pergelangan tangannya yang memerah sambil bersungut-sungut, sementara mata Bian menatap lurus ke jalan raya dengan raut wajah yang misterius dan mengeras.
"Mas mau bawa Salma ke mana sih?! Salma gak mau ya kalau diajak ke toko cuma buat dipermalukan sama orang-orang supplier itu!" cerceh Salma kekeh.
Bian menarik napas panjang, menghembuskannya perlahan. Ia memelankan laju kendaraannya di lajur kiri. Wajah Bian yang semula panik mendadak berubah sedikit lebih tenangmseolah-olah sebuah ingatan berharga baru saja melintas di kepalanya.
"Salma... dengarkan Mas baik-baik," ujar Bian dengan suara rendah namun sarat penekanan. "Kamu pikir Mas ini laki-laki bodoh yang cuma mengandalkan satu swalayan saja?"
Salma mengerutkan keningnya, menoleh menatap Bian dari samping. "Maksud Mas apa?"
Bian menyunggingkan senyum tipis, ada kilat kesombongan yang kembali muncul di matanya. "Selama dua tahun terakhir ini... Mas punya aset rahasia yang sama sekali tidak diketahui oleh Husna."
Mata Salma seketika melebar. "Aset rahasia? Maksudnya?"
"Kebun kelapa sawit," bisik Bian mantap. "Ada puluhan hektar lahan sawit produktif di daerah luar kota atas nama kerabat jauh Mas yang bisa Mas kendalikan penuh. Selama dua tahun ini, kebun sawit itu menghasilkan uang bersih yang sangat besar. Ratusan juta tiap kali panen! Uang hasil sawit itu Mas putar secara sembunyi-sembunyian tanpa pernah ada satu rupiah pun yang tercatat di pembukuan rumah tangga bersama Husna!"
Jantung Salma berdegup kencang. Wajahnya yang semula muram dan dingin seketika berbinar terang. Dasar sifatnya yang gila harta dan haus akan kekayaan langsung bergejolak mendengar fakta tersembunyi tersebut.
"Puluhan hektar kebun sawit?! Dua tahun tidak diketahui Husna?." batin Salma bersorak girang. Uang dari hasil sawit jelas bukan jumlah yang sedikit. Dalam sekejap, pandangan Salma terhadap Bian yang tadinya dianggap hampang dan bangkrut, kini kembali terangkat naik sebagai lumbung emas yang menggiurkan.
"Jadi... Mas Bian punya simpanan uang sebanyak itu di luar?" tanya Salma dengan nada suara yang mendadak berubah manis, senyum manisnya kembali terukir di bibir.
"Punya, Salma. Sangat cukup untuk menutupi modal pasokan toko hari ini dan bahkan membiayai gaya hidup mewahmu," jawab Bian membalas tatapan Salma.
"Tapi masalahnya, pencairan hasil panen bulan ini baru bisa masuk ke rekening rahasia Mas nanti sore atau paling lambat besok pagi. Bank butuh proses kliring karena jumlahnya besar. Sedangkan orang distributor toko butuh uangnya cash dalam waktu satu jam ini."
Bian mengulurkan tangannya, menggenggam jemari Salma yang halus.
"Makanya Mas butuh bantuan kamu detik ini juga, Salma. Keluarkan dulu tabunganmu untuk menalangi tagihan Swalayan pagi ini. Begitu uang pencairan hasil sawit Mas masuk besok pagi, Mas janji akan kembalikan uangmu utuh dua kali lipat! Kamu bisa pakai uang bonusnya buat belanja gaun atau perhiasan baru yang kamu suka."
Umpan manis itu meluncur dengan sempurna. Mata Salma berkilat penuh minat saat membayangkan keuntungan dan bonus melimpah yang dijanjikan Bian. Sifat keserakahannya memenangkan pergulatan batin di kepalanya.
Namun, sebagai wanita yang cerdik dan tidak mau rugi total, Salma tetap memasang benteng pertahanan. Ia mengurai genggaman tangan Bian dengan perlahan, mengulas senyum manja yang dibuat-buat.
"Hmm... Mas Bian beneran janji kan bakal balikin dua kali lipat besok?" goda Salma dengan nada mendayu-dayu.
"Janji, Sayang! Mas janji demi cinta Mas sama kamu!" jawab Bian mantap.
"Ya sudah... Salma bantu," ujar Salma akhirnya mengalah. Namun raut wajahnya mendadak berubah tegas. "Tapi Salma cuma mau talangi lima puluh persen dari total tagihannya ya, Mas! Salma gak mau bantu seratus persen full! Sisa limapuluh persennya lagi Mas harus putar otak cari talangan lain atau pakai sisa uang kas toko yang ada!"
Bian menghela napas lega. Meski tidak terbayar penuh seratus persen dari tabungan Salma, setidaknya dana talangan lima puluh persen itu sudah lebih dari cukup untuk menahan para supplier agar tidak membatalkan pengiriman barang pagi ini.
"Terima kasih, Salma... terima kasih banyak, Sayang. Mas tahu kamu memang istri yang paling mengerti Mas," puji Bian lega seraya mengusap lembut kepala Salma, kembali terbuai oleh ilusi cinta istri mudanya tanpa sadar bahwa Salma membantunya murni karena tergiur oleh kebun sawit rahasia tersebut.
Sementara itu, di lantai atas gedung perkantoran megah yang megah dan ber-AC dingin di pusat kota..
Suasana ruangan eksekutif milik Husna terasa teramat tenang dan elegan. Bau aroma terapi kayu cendana menyeruak halus di udara. Di balik meja kerja kaca berukuran besar, Husna duduk anggun mengenakan setelan blazer formal berwarna krem yang memancarkan ketegasan seorang wanita karir papan atas.
Di hadapannya, berdiri seorang pria paruh baya mengenakan kacamata tebal pengacara kepercayaan keluarga sekaligus konsultan keuangan pribadi Husna.
"Bagaimana reaksinya pagi ini?" tanya Husna santai tanpa mengalihkan pandangannya dari dokumen di meja. tangannya mengetuk-ngetuk pena mahal dengan ritme teratur.
"Sesuai prediksi Anda, Bu Husna," jawab sang pengacara seraya mengulas senyum mengagumi. "Pak Bian sangat panik saat telepon dari supervisor swalayannya masuk. Seluruh distributor utama resmi membatalkan tenor dan diskon tepat pukul 08.00 pagi ini. Saat ini Pak Bian sedang kelabakan mencari dana talangan."
Husna menyunggingkan senyuman tipis senyuman anggun namun sarat akan kejamnya pembalasan dendam yang terencana.
"Dia pasti mengira bahwa saya hanya mematikan arus kas Swalayan dari lini distributor," gumam Husna pelan.
Dengan gerakan jemari yang tenang, Husna menarik sebuah map tebal berwarna hitam dari dalam laci mejanya. Map itu bukan berisi berkas bisnis biasa, melainkan lembaran audit independen dan salinan kepemilikan aset rahasia yang telah dikumpulkan oleh tim penyelidik swasta kepercayaan Husna selama beberapa bulan terakhir.
Judul di halaman depan berkas itu tertulis sangat jelas. Laporan Hasil Investigasi Aset Tak Tampak & Kebun Kelapa Sawit Atas Nama Rekayasa Nominator - Mr. Bian Pratama.
Ya. Husna tidak pernah sedetik pun buta atau tidak tahu.
Husna membalik lembar demi lembar berkas tersebut dengan raut wajah penuh kesenangan. Di dalam berkas itu, tertera secara terperinci lokasi puluhan hektar lahan sawit rahasia milik Bian, jumlah hasil panen bulanan, hingga nomor rekening penampungan rahasia yang digunakan Bian untuk menyembunyikan uang tersebut dari pembukuan harta bersama keluarga.
Bian merasa sangat cerdas karena berhasil menyembunyikan "harta tak tampak" itu dari Husna selama dua tahun. Bian lupa bahwa Husna adalah seorang pengusaha berdarah dingin yang memiliki jaringan hukum dan intelijen bisnis yang jauh lebih luas dari apa yang bisa dibayangkan oleh Bian.
Husna membiarkan Bian menikmati ilusi kekayaannya selama dua tahun ini semata-mata karena Husna sedang mengumpulkan bukti sah secara legal agar aset rahasia tersebut bisa dimasukkan penuh ke dalam gugatan pembagian harta gono-gini dan ganti rugi penggelapan dana keluarga di kemudian hari.
Klek.
Husna menutup map hitam itu dengan ketukan pelan jemarinya, lalu bersandar santai di kursi kerjanya yang empuk. Ia menatap ke luar jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan menjulang gedung-gedung pencakar langit kota.
"Mas Bian... kamu benar-benar berpikir bahwa kebun sawit rahasiamu itu bisa menjadi juru selamatmu hari ini?" bisik Husna halus pada udara hampa, matanya berkilat tajam oleh kepuasan yang luar biasa.
Husna meraih ponsel mewahnya, lalu mengetikkan satu pesan singkat kepada pengacara di depannya.
"Siapkan berkas pembekuan rekening rahasia dan surat sita jaminan atas lahan sawit di luar kota. Eksekusi begitu dia mencoba mencairkan dana haramnya hari ini."
Husna mematikan layar ponselnya, lalu mengulas senyuman paling memikat dan mematikan. Permainan baru saja dimulai, dan Bian beserta istri mudanya sedang melangkah dengan percaya diri masuk ke dalam perangkap utama yang sudah Husna siapkan di ujung jalan.
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒
udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
apa itu kehalangan?