Dua tahun hidup seperti janda meski masih bersuami, Larasati terus dihina mandul oleh keluarga suaminya. Sampai sebuah kecelakaan membangkitkan ingatannya: ia hanyalah istri karbitan dalam sebuah novel, tokoh malang yang ditakdirkan mati agar Rendra dan selingkuhannya hidup bahagia.
Kali ini Laras menolak menjadi korban. Ia menuntut cerai, merebut kembali harga dirinya, lalu menerima lamaran Mayor Bramantyo Adiningrat, perwira dingin yang juga dikabarkan tak bisa punya keturunan.
Pernikahan mereka seharusnya hanya sebuah kesepakatan. Namun sang Mayor perlahan menjadi lelaki yang selalu berdiri di depannya saat bahaya datang. Dengan keahlian sebagai dokter hewan dan mimpi yang dapat menunjukkan masa depan, Laras membangun hidup baru, menaklukkan wabah, dan membungkam setiap orang yang pernah merendahkannya.
Semua orang menertawakan pernikahan dua manusia yang dianggap mandul. Mereka tidak tahu bahwa satu rahasia akan segera terungkap: Laras bukanlah sumber masalah dalam pernikahan pertamanya.
Dan ketika tes itu menunjukkan dua garis, siapa sebenarnya yang akan menjadi bahan tertawaan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vyrkon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 3
Bab 3: Domba Mengamuk, dan Ibu yang Tertolong
Besok pagi, Laras justru akan melamar pekerjaan.
Ia berangkat ketika bekas warna jingga masih menggantung di langit timur. Ijazah dan dokumen perceraian tersimpan dalam map tahan air, sementara botol jamu dari Bu Marni tetap berada di dasar tasnya.
Laras belum punya rumah tetap, pekerjaan, atau keluarga di kota ini. Uang tabungannya cukup untuk membayar kos selama beberapa minggu. Setelah itu, ia harus berdiri dengan kakinya sendiri.
Untungnya, ia masih memiliki satu hal yang tidak pernah bisa dirampas Keluarga Kusnadi.
Keahliannya.
Peternakan yang disebut pemilik kos terletak di pinggir padang kering. Bau rumput, tanah, dan kotoran ternak menyambut Laras bahkan sebelum ia melewati gerbang koperasi. Beberapa pekerja sedang menggiring domba keluar dari kandang, sementara sapi di bagian belakang menunggu giliran diperiksa.
Seorang pria berkulit legam berdiri sambil memegang papan catatan.
"Permisi, Pak. Saya mencari Pak Yohanes."
Pria itu menoleh. "Saya Yohanes. Ada apa?"
"Nama saya Larasati. Saya dokter hewan. Saya dengar peternakan ini membutuhkan tenaga tambahan."
Pak Yohanes mengamati rok sederhana, sepatu berdebu, dan map di tangannya. "Pernah kerja di peternakan besar?"
"Belum sebesar ini. Tapi saya menangani ternak warga sejak kuliah. Ibu saya dulu mantri hewan di desa."
"Kami tidak butuh orang yang hanya pandai pegang ijazah."
"Saya juga tidak datang untuk duduk di kantor."
Jawaban itu membuat Pak Yohanes mengangkat alis, tetapi sebelum ia sempat berkata lagi, Laras melihat tiga ekor domba di kandang samping berjalan tidak wajar. Langkah mereka melebar, kepala bergoyang, dan salah satunya berulang kali menghantam pagar meski tak ada sesuatu yang mengusiknya.
"Sejak kapan domba-domba itu seperti itu?"
Pak Yohanes mengikuti arah pandangnya. "Cuma stres karena baru dipindahkan."
"Bukan cuma stres. Yang putih di kiri liurnya berlebihan. Yang jantan napasnya terlalu cepat dan pupilnya tidak merespons cahaya dengan normal."
"Baru datang sudah sok tahu," sahut seorang pekerja.
Laras mendekati pagar, tetapi tidak memasukkan tangan. Ia mengamati wadah pakan, gerak rahang, dan warna selaput mata dari jarak aman.
"Pisahkan tiga ekor itu. Jangan campurkan pakan atau alat minumnya dengan kandang lain."
Pak Yohanes mendecakkan lidah. "Belum juga saya terima kerja, kamu sudah memberi perintah."
"Kalau saya salah, Bapak boleh menyuruh saya pulang. Kalau saya benar dan Bapak menunggu sampai sore, satu kandang bisa ikut sakit."
Sebuah mobil berhenti di dekat kantor sebelum perdebatan mereka selesai. Seorang perempuan berusia sekitar lima puluhan turun bersama prajurit muda yang membawa kamera dan tas kerja.
Blusnya sederhana, tetapi caranya berjalan membuat para pekerja spontan merapikan sikap.
"Pak Yohanes," sapanya, "saya Ratih dari Jakarta. Kita sudah membuat janji untuk liputan tentang peternakan rakyat di wilayah perbatasan."
Pak Yohanes langsung menyambutnya. "Iya, Ibu Ratih. Maaf, tadi ada sedikit urusan. Mari saya tunjukkan kandang utama."
Ratih sempat melirik Laras. Tatapan mereka bertemu, dan perempuan itu memberi senyum ramah sebelum mengikuti Pak Yohanes ke tepi padang.
Laras kembali menatap domba jantan yang gelisah. Kakinya mengais tanah. Telinganya terlipat ke belakang, lalu kepalanya tiba-tiba menghantam palang kayu.
"Pak, jangan keluarkan yang itu!"
Terlambat.
Seorang pekerja membuka gerbang kecil karena mengira domba tersebut hanya perlu ruang. Begitu celah terbuka, domba jantan itu menerjang keluar. Pekerja yang memegang pintu terpelanting. Dua ekor lain ikut panik, membuat kawanan di kandang sebelah berdesakan dan mengembik keras.
"Tutup gerbang utama!" teriak Laras.
Debu naik dari tanah. Orang-orang berhamburan mencari tempat tinggi. Ratih yang berdiri dekat pagar liputan mundur tanpa melihat ember logam di belakang kakinya. Tumitnya tersangkut. Ia jatuh terduduk di sudut sempit antara pagar dan tumpukan karung pakan.
Domba jantan itu berputar.
Kepalanya merendah tepat ke arah Ratih.
"Ibu, jangan bergerak!" Laras berteriak.
Ratih membeku. Wajahnya kehilangan warna.
Wahyu, prajurit yang mendampinginya, berlari dari sisi lain, tetapi dua domba yang panik memotong jalannya. Para pekerja membawa tali, namun tak satu pun berani berdiri di jalur tanduk hewan seberat itu.
Laras melepas jaket tipisnya.
Ia tidak berlari lurus ke arah domba. Ia bergerak menyamping, masuk ke batas penglihatan hewan dari sisi kiri, lalu mengibaskan jaket cukup rendah untuk merebut perhatiannya.
"Hei! Ke sini!"
Domba itu mengentakkan kaki dan mengalihkan kepala.
Begitu hewan tersebut menerjang, Laras melompat ke balik palang pembatas. Tanduk menghantam jaket yang ia lemparkan ke wajahnya. Kain menutupi kedua mata domba selama beberapa detik, membuat lajunya kehilangan arah.
"Sekarang! Dorong panelnya!"
Pak Yohanes akhirnya memahami maksudnya. Ia dan dua pekerja mendorong pagar portabel dari samping, membentuk lorong sempit menuju kandang kosong. Laras mengetuk sisi kanan panel dengan batang kayu, memanfaatkan naluri domba untuk menjauh dari tekanan dan bergerak ke ruang terbuka di depannya.
Hewan itu masuk ke lorong.
"Tutup belakangnya!"
Palang jatuh tepat setelah domba melewati batas. Hewan itu menghantam pagar sekali, lalu terkurung di kandang isolasi.
Baru saat suara gaduh mereda, Laras menyadari lututnya gemetar.
Ia segera berlari kepada Ratih. "Ibu terluka?"
Ratih mencoba bangkit, tetapi wajahnya meringis ketika kaki kanan menapak. "Sepertinya terkilir."
"Jangan dipaksa." Laras berjongkok dan memeriksa pergelangan kakinya tanpa menggerakkan sendi berlebihan. "Tidak tampak perubahan bentuk, tapi tetap harus diperiksa dan dikompres."
Wahyu tiba dengan napas terengah. "Ibu Ratih, maaf. Saya tadi terhalang."
"Bukan salahmu." Ratih menggenggam tangan Laras. "Kalau Nak Laras tidak mengalihkan hewan itu, mungkin saya sudah masuk ruang operasi."
Pak Yohanes mendekat dengan wajah penuh debu. Sikap meremehkannya sudah hilang.
"Bagaimana kamu tahu cara menggiringnya?"
"Domba menyerang sasaran yang terlihat dan cenderung bergerak menjauhi tekanan dari sisi. Saya tidak menahannya dengan tenaga. Saya hanya mengubah arah larinya." Laras menunjuk kandang isolasi. "Tapi itu bukan masalah utama. Hewan sehat tidak berubah seperti ini tanpa penyebab. Tiga ekor menunjukkan gangguan saraf dan pernapasan. Pisahkan sekarang, pakai alat makan berbeda, lalu periksa pakan dan asal pengiriman terakhir."
Kali ini Pak Yohanes tidak membantah. "Kerjakan. Saya akan panggil penanggung jawab koperasi."
Laras memeriksa singkat tiga domba tersebut dan mengambil sampel pakan. Ia belum bisa memastikan apakah penyebabnya infeksi, racun, atau pakan tercemar tanpa pemeriksaan lanjutan, tetapi satu hal jelas: kasus itu bukan kejadian tunggal.
Ia meminta para pekerja menandai tiga kandang dengan tali merah, mencuci sepatu sebelum keluar dari area isolasi, dan mencatat siapa saja yang memberi pakan sejak pagi. Seorang pekerja hendak menuangkan sisa pakan ke kandang lain agar tidak terbuang. Laras segera menahan karungnya.
"Jangan dipindahkan. Kalau sumber masalahnya ada di sini, Bapak malah menyebarkannya ke seluruh peternakan."
"Tapi satu karung mahal, Bu."
"Kehilangan satu karung lebih murah daripada kehilangan satu kandang. Tutup, beri label, lalu simpan untuk sampel."
Pak Yohanes mengambil spidol dari saku dan menulis waktu pada karung tersebut. Untuk pertama kalinya, ia mengikuti perintah Laras tanpa mendebat satu kata pun.
Ratih yang menunggu dibantu masuk ke mobil memperhatikan semuanya. "Kamu tetap memikirkan ternak setelah hampir tertanduk?"
"Kalau semua orang pulang karena takut, hewan-hewan itu yang akan menanggung akibatnya."
"Kamu memang dokter hewan?"
Laras menyerahkan salinan ijazah yang tadi dibawanya. "Saya sedang mencari tempat untuk kembali menjadi dokter hewan, Bu. Dua tahun terakhir saya terlalu sibuk mencoba menjadi istri yang diterima keluarga suami."
Ratih membaca nama lengkap di atas dokumen itu, lalu menatap Laras lebih lama. "Kalau begitu, mungkin hari ini bukan cuma saya yang diselamatkan."
Laras belum memahami maksudnya. Ratih hanya tersenyum dan meminta Wahyu membantu mereka menuju rumah sakit.
Sebelum pergi ke rumah sakit, Pak Yohanes menghampirinya lagi.
"Besok datang kembali. Bawa semua dokumenmu."
"Apakah itu berarti saya diterima?"
"Itu berarti saya tidak akan bilang kamu sok tahu sebelum melihat hasil pemeriksaanmu."
Sudut bibir Laras terangkat. Untuk pria sekaku Pak Yohanes, kalimat itu sudah cukup dekat dengan permintaan maaf.
Di rumah sakit, dokter memastikan pergelangan Ratih hanya terkilir ringan. Laras menunggu sampai kompres terpasang dan obat diberikan. Ketika ia keluar untuk mengambil air minum, suara yang sangat dikenalnya menyambut dari ujung koridor.
"Baru cerai sehari sudah kembali ke rumah sakit?"
Bu Marni berdiri di depan ruang pemeriksaan dengan tas belanja di tangan. Tatapannya menyapu map Laras dan langsung berubah penuh ejekan.
"Jangan bilang kamu menyesal. Rendra tidak akan menerima perempuan yang suka mengancam."
Laras berhenti. "Saya datang mengantar orang yang terluka, bukan mencari Rendra."
"Alasan. Kamu tidak punya siapa-siapa di sini. Pasti akhirnya memohon juga."
"Saya masih menyimpan semua jamu, air jampi, pesan Rendra, dan alamat Mbah Karyo." Laras mengeluarkan ponselnya. "Kalau Anda terus mengganggu saya, bukti itu bukan hanya akan tersimpan. Saya pastikan direktur rumah sakit dan publik melihat semuanya."
Senyum Bu Marni lenyap.
"Kamu berani?"
"Coba saja."
Laras melangkah melewatinya. Bu Marni hanya berani mengumpat pelan di belakang karena dua perawat sudah memperhatikan mereka.
Di balik pintu kamar, Ratih mendengar hampir seluruh percakapan.
"Perempuan sebaik itu malah dibuang karena tidak bisa punya anak," gumamnya.
Wahyu yang sedang menata tas kamera menoleh. "Ibu bilang apa?"
Ratih tidak menjawab. Matanya justru semakin terang.
Anak keduanya juga diyakini tidak bisa memberi keturunan. Bram menolak hampir semua pembicaraan tentang pernikahan karena tak mau perempuan mana pun merasa ditipu. Laras baru saja bercerai, berani, terdidik, dan tampaknya sudah terlalu lelah disiksa soal anak.
Untuk pertama kalinya, kemalangan dua orang tampak seperti jalan keluar yang sangat masuk akal.
Ratih meraih ponselnya lalu menoleh kepada Wahyu.
"Cepat panggil Bram ke sini."