Indonesia
NovelToon NovelToon
TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Penyesalan Suami / Mengubah Takdir
Popularitas:12.1k
Nilai: 5
Nama Author: blcak areng

Di balik kesuksesan Bian sebagai Manajer, ada Husna istri sah yang anggun, mandiri, dan pemegang kendali finansial keluarga. Saat Bian tergoda Salma, karyawatinya dan meminta izin menikah lagi, Husna tidak mengamuk. Ia memberi satu syarat mutlak 100% gaji resmi Bian wajib ditransfer ke rekeningnya.
Sementara bagi Salma yang menawari cinta ala ABG hanya dinafkahi dari hasil toko swalayan baru yang belum pasti untung.

​Merasa menang, Salma setuju tanpa sadar ia salah lawan. Situasi makin panas saat Devan dan Deka, putra kembar yang saat ini sudah sekolah tingkat SMA, terang-terangan membela sang ibu dan membenci Bian. Siapa pemegang tahta sejati dalam keluarga ini?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blcak areng, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

TAHTA YANG TAK TERGOYAHKAN

Sinar matahari pagi menembus celah gorden tebal kamar suite hotel bintang lima, membiaskan cahaya hangat yang menyapu tempat tidur berseprai putih bersih. Bian membuka matanya perlahan, menghirup aroma harum maskulin dan parfum wanita yang masih tertinggal di udara. Di sampingnya, Salma bersandar manja di dadanya dengan senyum merekah yang tak kunjung padam sejak semalam.

​Semalam, mereka benar-benar merasa menjadi raja dan ratu seutuhnya. Pesta megah, pujian para undangan, serta malam pertama yang bertabur kemewahan membuat Salma merasa telah berhasil menaklukkan dunia Bian.

​"Pagi, Suamiku..." bisik Salma manja seraya mengelus rahang Bian.

​Bian tersenyum, mengecup dahi istri mudanya itu. "Pagi, Sayang. Gimana tidurnya? Nyenyak?"

​"Nyenyak banget, Mas. Salma merasa jadi wanita paling bahagia di dunia," jawab Salma seraya mendudukkan diri. "Oh ya, Mas... hari ini kita check-out jam sepuluh kan? Kita langsung boyong barang-barang Salma ke rumah utama, kan?"

​Bian sempat tertegun sejenak. Rencana memboyong Salma ke rumah yang ditinggali Husna dan si kembar sebenarnya murni ide dan desakan dari Salma. Wanita muda itu beralasan ingin belajar menjadi ibu yang baik, mendekatkan diri, dan mengenal kedua anak sambungnya, Devan dan Deka. Namun Bian tahu betul, ada riak kebanggaan dan keinginan Salma untuk mengukuhkan posisinya di hadapan Husna.

​Sebelumnya, Bian sudah menyampaikan niat ini kepada Husna. Rumah utama mereka memang memiliki sebuah paviliun dua lantai di area belakang sebuah bangunan terpisah dari bangunan utama yang dulunya dipakai untuk gudang penyimpanan barang rintisan bisnis dan kamar asisten rumah tangga yang sudah lama kosong. Husna mengizinkannya tanpa banyak perdebatan, membuat Bian merasa Husna sudah benar-benar pasrah dan menerima kehadiran Salma.

Pagi ini, hati Salma membuncah oleh rasa percaya diri yang meluap-luap. Pesta pernikahan megah semalam dan malam pertama yang bertabur kemewahan membuat Salma merasa telah resmi naik takhta. Dalam benaknya, ia bukan lagi sekadar staf administrasi biasa, melainkan wanita pemenang yang berhasil meluluhkan hati seorang eksekutif mapan.

​"Mas, sebelum kita ke rumah utama, kita mampir ke pusat oleh-oleh dulu, ya?" pinta Salma manja seraya menggamit lengan Bian.

​Bian mengerutkan kening. "Mau beli apa, Sayang?"

​"Ya beli buah-buahan segar sama kue bolu yang paling terkenal dong, Mas," sahut Salma dengan senyum manis yang mengembang. "Kan Salma mau sowan ke Mbak Husna dan kenalan lebih dekat sama Devan dan Deka. Sebagai orang baru, Salma mau tunjukkan kalau Salma ini beretika, bawa buah tangan untuk penghuni rumah."

​Bian tersenyum lega, mengusap kepala istri mudanya itu. "Wah, pikiranmu dewasa sekali, Salma. Mas bangga. Ya sudah, nanti kita mampir dulu."

​Di sepanjang perjalanan menuju kediaman Husna, Salma tak henti-hentinya menatap keluar jendela mobil sedan Bian. Pikirannya melayang jauh, membayangkan masa depan indahnya yang bertabur kemewahan.

​Dalam angan-angan Salma, kedatangannya hari ini akan menjadi awal dari pergeseran kekuasaan di rumah itu. Ia membayangkan Husna yang ia kira sudah pasrah dan menerima takdir akan menyambutnya dengan senyum tipis kepasrahan seorang istri tua. Salma sudah membayangkan skenario manis di kepalanya: ia akan duduk di ruang tamu utama yang megah, menyesap teh bersama Husna, lalu dengan anggun menyerahkan oleh-oleh yang ia belikan.

"Paling-paling Mbak Husna bakal terharu dan sadar kalau aku bukan wanita jahat," batin Salma percaya diri. "Nanti perlahan-lahan, aku bakal ambil alih peran mengurus Mas Bian di rumah itu. Aku yang siapkan bajunya, aku yang sambut Mas Bian pulang kerja. Mbak Husna biar fokus mengurus urusannya sendiri saja. Toh, lagipula Ibu mertua lebih sayang dan condong ke aku daripada ke Mbak Husna yang kaku itu."

​Tak hanya itu, angan-angan Salma makin liar saat mengingat dua anak kembar Husna, Devan dan Deka. Salma membayangkan kedua remaja SMA yang tampan itu akan terpesona oleh keramahan dan kebaikan hati ibu sambung mudanya.

​Nanti Devan sama Deka pasti luluh, lanjut Salma dalam hati dengan senyum dikulum. Anak laki-laki SMA biasanya gampang didekati kalau kita baik dan perhatian. Begitu mereka nyaman sama aku, posisi Mbak Husna di rumah itu bakal makin tergeser. Rumah megah itu bakal jadi tempat bermain baruku.

​Mobil Bian berhenti sebentar di sebuah toko kue dan buah-buahan ternama. Salma memilih satu keranjang buah berisi apel dan jeruk impor, serta dua kotak kue bolu dengan kemasan rapi. Bagi Salma, oleh-oleh seharga ratusan ribu itu sudah sangat cukup untuk menunjukkan dominasi dan kebaikan hatinya sebagai nyonya baru.

​Dengan dada terbusung bangga dan dua kantong besar oleh-oleh di tangannya, Salma kembali masuk ke mobil. Ia sudah tidak sabar untuk menginjakkan kaki di rumah utama dan melakoni peran barunya sebagai ratu pendamping di istana tersebut.

​Sekitar pukul sebelas siang, mobil sedan Bian akhirnya berhenti di depan pagar tinggi kediaman Husna. Salma memandangi rumah megah berarsitektur modern minimalis itu dengan mata berbinar-binar. Kemewahan bangunan itu seolah memanggilnya untuk segera masuk dan berkuasa.

Membawa dua koper besar beserta dua kantong oleh-oleh mewahnya, Salma berjalan penuh percaya diri di samping Bian memasuki area halaman.

​Pintu utama rumah terbuka. Husna berdiri di sana, tampil sangat anggun dengan setelan rumah bahan katun premium berwarna pastel dan hijab simpel bernilai jutaan rupiah yang keindahannya melekat alami. Di belakang Husna, Devan dan Deka berdiri menjulang dengan kaus kasual, menatap kedatangan ayah mereka dan istri mudanya dengan pandangan yang teramat dingin dan menusuk.

​Salma menyunggingkan senyum paling manis yang ia punya. Dengan gaya yang sengaja dibuat ceria dan anggun, ia melangkah maju dan mengangkat dua kantong oleh-olehnya.

​"Selamat pagi, Mbak Husna! Pagi Devan, Deka!" sapa Salma dengan suara yang riang. "Salma datang bawa buah-buahan segar sama kue bolu nih buat Mbak Husna dan anak-anak. Semoga Mbak dan anak-anak suka, ya. Salma beli ini khusus biar kita bisa makan bareng-bareng."

​Salma kemudian mengulurkan tangannya, hendak mencium tangan Husna untuk menunjukkan kesopanan sekaligus menegaskan bahwa ia kini adalah bagian dari keluarga ini.

​Namun, sebelum jemari Salma menyentuh kulitnya, Husna menarik tangannya secara halus namun tegas. Wajah Husna tetap tenang, memutar tubuhnya sedikit untuk menghindari sentuhan tersebut.

​"Tidak usah formalitas, Salma," cut Husna dingin. Suaranya datar, sedingin es yang membekukan seluruh euforia Salma.

​Husna melirik sekilas ke arah keranjang buah dan kotak kue di tangan Salma dengan pendar mata yang teramat meremehkan.

"Dan bawa kembali oleh-olehmu itu," lanjut Husna tenang namun sarat akan penekanan yang menyengat. "Di rumah ini, kami terbiasa memakan makanan yang jelas asal-usul kehalalannya dan dibeli dari rezeki yang bersih. Saya dan anak-anak tidak butuh buah tangan dari hasil uang yang tidak jelas."

​Senyum manis di wajah Salma seketika membeku total. Kantong oleh-oleh di tangannya mendadak terasa begitu berat dan tidak berharga. Angan-angannya tentang minum teh bersama, disambut ramah, dan meluluhkan hati si kembar mendadak hancur berkeping-keping di depan pintu utama.

​"Na," tegur Bian dengan nada tidak senang, merasa malu karena oleh-oleh istri mudanya ditolak mentah-mentah. "Salma ini datang dengan niat baik. Dia sengaja mampir beli ini untuk menyambung silaturahmi!"

​Devan langsung maju satu langkah, menatap keranjang buah Salma dengan senyum sinis yang sangat mahal. "Niat baik? Menghancurkan rumah tangga orang terus bawa kue bolu seharga ratusan ribu dibilang niat baik? Simpan saja buah-buahanmu itu. Bunda kami bisa beli toko buahnya sekalian kalau mau."

​"Devan! Jaga bicaramu sama Tante Salma!" bentak Bian keras, wajahnya memerah.

​Deka menyambung dengan suara tak kalah pedas, menatap Salma dari atas ke bawah. "Di rumah ini, kami dipasok makanan terbaik dari hasil keringat Bunda yang halal. Jangan coba-coba bawa pencitraan murahmu ke rumah kami."

​Salma berdiri mematung. Air mata kejengkelan dan rasa malu mulai menggenang di sudut matanya. Rencana indahnya untuk menjadi ratu di rumah utama hancur dalam hitungan detik.

Husna menepuk pelan bahu kedua putranya, lalu menatap Salma dengan tatapan teduh seorang Ratu sejati yang tak tersentuh.

​"Saya sudah izinkan kalian tinggal di sini sesuai kesepakatan," kata Husna sedingin es. "Tapi kalian tidak tinggal di bangunan utama ini."

​"Lho, Mbak? Terus kami tinggal di mana?" tanya Salma gagap, suaranya bergetar menahan malu.

​Husna menunjuk ke arah jalan setapak kecil di samping rumah yang menuju ke area belakang. "Paviliun belakang. Bangunan itu memang bertahun-tahun kosong, bekas gudang penyimpanan barang dan belum dibersihkan."

​Husna beralih menatap Salma yang wajahnya sudah pucat pasi. "Kalau kamu berniat jadi istri yang baik dan ingin belajar prihatin di keluarga ini, bawa oleh-olehmu itu ke sana. Bersihkan sendiri paviliun berdebu itu. Jangan pernah menginjakkan kaki di bangunan utama rumah ini tanpa izin dari saya."

​Husna dan kedua anak kembarnya berbalik arah, melangkah masuk ke dalam rumah utama yang sejuk dan harum. Pintu jati tebal rumah utama ditutup rapat dan dikunci dari dalam, menyisakan Salma yang berdiri mematung di halaman samping memegang keranjang buah murahannya di tengah hancurnya seluruh angan-angan indahnya.

1
Thewie
hahah mampuslah kau bian.. gatal burung kau itukan. sok muda, sok kuat, sok kaya padahal nyatanya alaahhhhhhhh
Lee Mba Young
lanjuttt.. selalu setia nunggu lanjutannya.
Lee Mba Young
gk papa husna jd janda yg penting bnyak duit, punya anak bhgia Wes.
Muft Smoker
Dana talang ,, Dana talang ,,
ngaca tuh di talang air ,,
😒😒😒😒

udh jgn ngimpi terlalu tinggi duluu ,,
nnti Kalo jatuh sakiit ,,
aku
/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/
Noey Aprilia
Mkanyaaaa.....
kl halu jgn ktinggian,gliran jtuh pst sakittttt.....😛😛😛....
ngarep jd nyonya,eehhh......
mlah jd gembel.....
Lee Mba Young
🤣🤣🤣👍👍🔥
Heni Setiyaningsih
kenapa Salmaaa????dapat zonk ya ha ha ha🤭
Heni Setiyaningsih
hahaha,,,,, bangun Salma,jgn kebanyakan mimpi
Muft Smoker
heran ma bian ,, kurang ap husna jdi istrii,,
msh juga nyari yg sengklek di luar,,
😒😒😒
falea sezi
🤣🤣 najis amat bertahan
falea sezi
heleh strategi apa 🤣sok kuat mending keruk harta nya trs ceraii🤣🤣🤣 ngapain berbagi batangan satu doank gk jijik apa 😒
Noey Aprilia
Mau heran,tp d dnia nyta pun emng bnyk yg ky gt...mmbuang berlian,dmi smpah yg ga brhrga....udh khilangn istri,ank,usaha,bntr lg jbatan yg melayang.....drita apa lg yg akan mreka hdapi????😛😛😛
Muft Smoker
gmn bian ,, udh mulai merasa penyesalan Blum ,,
kalo Blum berarti km bnr2 gx tau diri 😒😒
Noey Aprilia
Udh d usir,msih aja ngemis2....ga tau malu.....😡😡😡...
prgi sono,kl ga mmpu ngontrak tnggal aja d kolong jmbtan....
Nieta Poedjo
halo penulis
apa itu kehalangan?
Lee Mba Young
🔥👍👍👍 joss lanjuttt
Heni Setiyaningsih
yah,,,,,jadi gembel dong🤭🤭
Heni Setiyaningsih
oh,,, ternyata,,, ternyata,,,, masih numpang dirumahnya Husna kamu Bian 😲🤣
Cicih Sophiana
Husna istri luar biasa pintar 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!