Lima tahun lalu, Larasati pergi tanpa penjelasan, meninggalkan Raka dalam kebencian yang tak pernah ia pahami alasannya. Kini takdir mempertemukan mereka kembali—bukan sebagai kekasih, tapi sebagai atasan dan bawahan. Raka yang dingin membalas luka lamanya lewat cara-cara kecil yang menyakitkan, meski diam-diam hatinya masih menyimpan rasa.
Namun ketika kebenaran akhirnya terungkap—bukan dari Laras, melainkan dari orang lain—Raka sadar betapa kejamnya ia selama ini. Sayangnya, penyesalan itu datang terlambat. Laras telah menemukan kebahagiaannya sendiri, bersama seseorang yang benar-benar memilih untuk mendengarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuna_Pena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Panggilan yang tak terduga
Telepon yang dilakukan Ibu Retno malam itu bersambung ke seseorang yang sudah lama menjadi kenalannya—Bu Marlina, pemilik sebuah agen penyalur tenaga kerja yang juga dikenal memiliki jaringan luas di berbagai kalangan, termasuk kalangan yang biasa menangani "urusan-urusan sensitif" bagi keluarga kaya.
"Jadi begini," kata Ibu Retno, duduk di kursi kerjanya dengan nada suara yang diatur serapi mungkin, "saya butuh informasi lebih dalam soal seorang gadis. Bukan cuma latar belakang keluarganya, tapi juga kelemahan-kelemahannya. Apa yang bisa dijadikan... pertimbangan."
"Pertimbangan untuk apa, Bu Retno?" tanya Bu Marlina di seberang telepon, suaranya tenang seolah sudah terbiasa menerima permintaan semacam ini.
"Untuk membuat gadis itu mengerti posisinya. Dan kalau perlu, membuatnya pergi dengan sendirinya, tanpa harus saya turun tangan secara langsung."
Ada jeda sejenak sebelum Bu Marlina menjawab. "Saya mengerti, Bu. Beri saya waktu beberapa hari untuk menyusun rencana yang rapi."
"Saya percayakan ini pada Anda. Tapi ingat, semua harus terlihat seperti keputusan gadis itu sendiri. Bukan paksaan dari pihak saya."
"Tentu, Bu. Itu keahlian saya."
Sambungan telepon terputus, meninggalkan Ibu Retno yang duduk sendirian dengan senyum tipis yang mengembang perlahan di wajahnya—senyum kemenangan yang dingin, jauh dari kehangatan seorang ibu yang biasanya diharapkan orang-orang di sekitarnya.
Sementara itu, kehidupan Raka dan Laras berjalan seperti biasa, tanpa mengetahui apa pun tentang rencana yang mulai disusun di balik layar. Beberapa hari setelah makan malam dengan keluarga Hartono, Raka mengunjungi Laras di kedai kopi tempatnya bekerja, membawa sekotak donat sebagai oleh-oleh kecil.
"Buat kamu," katanya, menaruh kotak itu di meja kasir.
"Wah, tumben bawa oleh-oleh." Laras membuka kotaknya, tersenyum senang melihat isinya. "Ada acara apa?"
"Nggak ada acara apa-apa. Cuma pengen aja."
"Kamu makin pinter cari-cari alasan buat manjain aku."
"Bukan cari alasan. Emang niat manjain kamu."
Laras tertawa kecil, menaruh satu donat di piring kecil dan menyodorkannya ke Raka. "Sini, makan juga. Jangan cuma aku."
Mereka menghabiskan waktu istirahat Laras dengan mengobrol ringan, seperti biasa, tanpa menyinggung lagi soal makan malam dengan keluarga Hartono yang sudah berlalu beberapa hari. Namun di tengah obrolan itu, ponsel Laras berdering—nomor tidak dikenal.
"Siapa itu?" tanya Raka.
"Nggak tau. Nomor asing." Laras mengangkat telepon dengan ragu. "Halo?"
"Selamat siang, apakah ini dengan Larasati?" Suara di seberang terdengar profesional, formal.
"Iya, benar. Ini siapa, ya?"
"Saya dari agen penyalur kerja Marlina Group. Kami mendapat data Anda dari salah satu klien kami yang tertarik menawarkan posisi pekerjaan yang cukup menjanjikan untuk Anda."
Laras mengerutkan kening, bingung. "Maaf, saya nggak pernah daftar ke agen mana pun."
"Data Anda kami dapat dari rekomendasi pihak ketiga. Tapi jangan khawatir, ini kesempatan yang sangat baik, terutama mengingat latar belakang ekonomi keluarga Anda."
Kalimat itu membuat Laras semakin waspada. "Maaf, tapi dari mana Anda tau soal latar belakang keluarga saya?"
"Kami hanya melakukan riset standar sebelum menawarkan posisi, Nona Larasati. Posisi ini di luar kota, dengan gaji yang jauh lebih besar dari pekerjaan Anda sekarang. Bisa sangat membantu keluarga Anda, terutama ayah Anda yang saat ini bekerja serabutan."
Laras terdiam, jantungnya berdegup lebih cepat. Informasi itu terlalu detail untuk sekadar riset standar. "Maaf, saya belum tertarik. Terima kasih atas tawarannya."
Ia menutup telepon dengan tangan yang sedikit gemetar, wajahnya pucat.
"Kenapa?" tanya Raka, memperhatikan perubahan raut wajah Laras.
"Nggak tau. Ada yang nawarin kerjaan di luar kota. Tapi caranya aneh, kayak udah tau banyak banget soal keluargaku."
Raka mengerutkan kening, merasa ada yang tidak beres. "Aneh gimana?"
"Dia tau soal bapakku yang kerja serabutan. Itu kan bukan informasi yang gampang didapat orang asing."
"Mungkin kebetulan aja?"
"Mungkin," Laras menjawab pelan, meski nada suaranya tidak sepenuhnya yakin. "Tapi kok rasanya ganjil banget."
Raka meraih tangan Laras, mencoba menenangkan. "Kalau ada yang nelpon lagi, kasih tau aku. Aku bakal cari tau siapa yang ngirim data kamu ke agen itu."
Laras mengangguk pelan, meski kekhawatiran di matanya belum sepenuhnya hilang. Mereka melanjutkan obrolan, meski suasana sudah tidak sesantai sebelumnya, seperti ada bayangan tak kasat mata yang mulai menyelinap masuk ke antara mereka.
Malam harinya, Raka mencoba mencari tahu lebih jauh soal telepon yang diterima Laras, namun tidak menemukan petunjuk apa pun yang jelas. Ia tidak menyadari bahwa jawabannya sebenarnya ada jauh lebih dekat dari yang ia kira—di dalam rumahnya sendiri, di ruang kerja ibunya yang selalu terkunci rapat setiap malam.
Ibu Retno menerima laporan dari Bu Marlina melalui pesan singkat: "Percobaan pertama gagal. Gadis itu menolak tawaran. Perlu pendekatan lain."
Ibu Retno membaca pesan itu dengan alis berkerut, kemudian mengetik balasan singkat: "Coba pendekatan yang lebih personal. Kalau perlu, libatkan keluarganya langsung."
Ia menutup ponselnya, menatap keluar jendela dengan ekspresi tenang yang menyembunyikan tekad kuat di baliknya. Bagi Ibu Retno, ini bukan sekadar soal menjaga status sosial keluarga—ini soal melindungi masa depan yang sudah ia rencanakan bertahun-tahun untuk putra semata wayangnya, meski itu berarti harus mengorbankan kebahagiaan orang lain yang menurutnya "tidak sepadan" untuk berada di lingkaran keluarganya.
Sementara itu, di kamarnya yang sederhana, Laras berbaring gelisah, pikirannya masih dipenuhi oleh telepon aneh yang diterimanya sore itu. Ada firasat yang terus mengganggu, seolah sesuatu yang lebih besar sedang bergerak di balik layar, sesuatu yang tidak bisa ia lihat namun bisa ia rasakan kehadirannya.
Ia meraih ponselnya, mengirim pesan singkat ke Raka.
"Raka, aku takut."
Balasan datang cepat. "Takut kenapa?"
"Nggak tau. Cuma perasaan aja. Kayak ada sesuatu yang nggak beres."
"Tenang aja. Aku di sini. Apa pun yang terjadi, kita hadapi bareng-bareng."
Laras menatap layar ponselnya lama, mencoba menenangkan diri dengan kata-kata itu. Namun jauh di dalam hatinya, ada bagian kecil yang terus berbisik bahwa firasat ini bukan sekadar kekhawatiran tanpa dasar—melainkan pertanda nyata bahwa kebahagiaan yang mereka bangun bersama sedang berada di ambang kehancuran, dihancurkan oleh tangan yang bahkan tidak pernah mereka duga akan sekejam itu.