Arthur Summers, mantan Jenderal pasukan elit rahasia, memutuskan pensiun dari dunia pertumpahan darah untuk hidup tenang bersama istrinya, Elena. Ia kembali ke kota metropolis dan mengambil pekerjaan rendah hati sebagai dosen di Universitas St. Jude, tempat Elena bekerja sebagai Dekan.
Namun, kepulangan Arthur disambut dengan kenyataan pahit. Ia memergoki Elena berselingkuh dengan Julian Thorne, putra donatur utama kampus yang arogan. Pengkhianatan ini menghancurkan hati Arthur, apalagi istrinya ternyata lebih memilih bersenang-senang dengan pria lain—sebuah drama pengkhianatan yang mengingatkan pada kekecewaan saat mendengar pasangan bersenang-senang dengan pria bejat di tempat hiburan.
Namun yang lebih buruk, Arthur menyadari bahwa perselingkuhan itu hanyalah puncak gunung es. Julian Thorne ternyata menggunakan universitas tersebut sebagai kedok untuk sindikat kriminal internasional yang berencana mengancam keamanan kota.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 3: Kehancuran Sebuah Janji
Langkah kaki Arthur terhenti di depan pintu kayu berpelitur gelap milik ruang dekan Fakultas Seni. Udara malam yang dingin seakan ikut membeku. Suara dari dalam ruangan itu terdengar semakin jelas menembus celah pintu tawa manja yang sangat ia kenal, berpadu dengan suara serak seorang pria.
Seketika itu juga, perasaan pria itu sangat hancur, Arthur mulai bertanya-tanya apakah wanita yang sangat dirindukannya selama bertahun-tahun ini benar-benar telah mementingkan dirinya sendiri demi bersenang-senang dengan pria bejat. Hatinya bergemuruh hebat; mungkinkah selama ini dia telah salah menilai wanita itu?
Gelombang amarah seketika muncul dan langsung memenuhi dadanya. Wajah Arthur berubah menjadi sangat gelap seperti seekor binatang buas yang marah, siap untuk menerkam. Tanpa sedikit pun keraguan, ia mengangkat kakinya dan menendang pintu ruangan itu hingga terbuka lebar.
Brak!
Pintu kayu tebal itu terpelanting hebat, menghantam dinding dengan suara memekakkan telinga.
Di atas sofa kulit mewah di sudut ruangan, Elena istrinya yang selalu tampil elegan tengah berada dalam pelukan Julian Thorne. Kemeja sutra Elena sudah berantakan, sementara tangan Julian dengan santai melingkar di pinggangnya.
Keduanya tersentak kaget. Wajah Elena memucat seketika saat melihat sosok tegap yang berdiri di ambang pintu dengan pakaian basah kuyup karena hujan.
"Arthur...?" suara Elena bergetar, matanya terbelalak seolah melihat hantu. "B-bukankah kau masih bertugas di perbatasan? Bagaimana kau bisa..."
Julian Thorne, di sisi lain, hanya mendecakkan lidah karena merasa terganggu. Alih-alih takut, pewaris kekayaan kampus itu merapikan kerahnya dengan santai dan menatap Arthur dengan tatapan meremehkan.
"Oh, jadi ini suami rendahan yang sering kau ceritakan itu, Elena?" ejek Julian dengan seringai congkak. "Aku kira dia sudah mati membusuk di antah berantah. Sayang sekali kau harus kembali dan melihat ini, Kawan."
Arthur melangkah masuk dengan perlahan. Udara di ruangan itu terasa turun sepuluh derajat. Matanya yang dingin menatap tajam ke arah dua orang di depannya.
"Enam tahun," desis Arthur, suaranya pelan namun membawa tekanan aura membunuh yang membuat Julian tanpa sadar menelan ludah. "Enam tahun aku bertaruh nyawa di neraka, bertahan hidup hanya karena memegang janjiku untuk kembali padamu, Elena. Dan ini sambutan yang kudapatkan?"
Elena dengan cepat membenahi pakaiannya, mencoba mengembalikan ketenangannya. Rasa bersalahnya dengan cepat tergantikan oleh sikap defensif dan arogan. "Kau tidak berhak menghakimiku, Arthur! Kau meninggalkanku! Kau tidak pernah ada. Julian ada di sini saat aku butuh dukungan, saat aku butuh membangun karirku di kampus ini! Pria sepertimu tidak bisa memberiku masa depan!"
"Dukungan?" Arthur tersenyum sinis. "Maksudmu dukungan dari sindikat lintah darat yang bersembunyi di balik yayasan ayah badut ini?"
Wajah Julian seketika memerah karena amarah. Sebagai pewaris yang ditakuti di kota, tidak ada yang berani memanggilnya badut. "Jaga mulutmu, gembel! Kau tidak tahu dengan siapa kau berhadapan!" bentak Julian. Ia melangkah maju dengan arogan, mengangkat tangannya lebar-lebar berniat menampar wajah Arthur untuk memberinya pelajaran.
Namun, sebelum tangan Julian sempat mendarat, Arthur telah bergerak lebih dulu. Gerakannya terlalu cepat untuk dilihat oleh mata telanjang. Sebelum Julian selesai mengayunkan tangannya, Arthur telah mengangkat tangannya dan menamparnya dengan sangat keras.
Plak!
Suara tamparan itu menggema keras. Julian terpental hebat ke belakang, menabrak meja kaca di tengah ruangan hingga hancur berantakan. Dalam sekejap, lima garis bekas telapak tangannya telah terpampang jelas di wajah pria itu. Darah segar mengucur dari sudut bibirnya.
"Kau... Beraninya kau..."jerit Elena histeris, berlari menghampiri Julian yang mengerang kesakitan di lantai. Ia menatap Arthur dengan penuh kebencian. "Apa yang kau lakukan, Arthur?! Kau gila! Kau baru saja memancing masalah dengan orang paling berkuasa di kota ini!"
Arthur berdiri tegak di tengah pecahan kaca, memandang keduanya bak dewa kematian yang menatap serangga. Tidak ada lagi sisa cinta di matanya; yang tersisa hanyalah tekad baja seorang Jenderal.
"Tidak, Elena," ucap Arthur dingin, memutar balik langkahnya menuju pintu yang hancur. "Kalianlah yang baru saja memancing amarah iblis. Nikmati sisa malam kalian, karena mulai besok, aku akan menghancurkan segalanya yang kalian banggakan hingga tak tersisa."
Jika Kalian Suka dengan cerita ini silahkan beri
Like, Ranting ⭐️ dan Vote 🎟 serta Gift 💰.
Penilaian & Kontribusi kalian sangat berharga bagi author untuk tetap semangat update cerita ini.
TERIMA KASIH.... ✌️
kira2 kultivasi arthur sudah kaisar bumi minimal...