Sebuah rumah yang menyimpan rahasia besar selama ratusan tahun kini mulai membuat penghuninya terganggu.
Tak hanya gangguan mistis, pemiliknya juga mulai sakit sakitan dan mulai menyadari ada yang aneh dengan rumah yang dia tinggali itu.
Akankah pemilik rumah itu berhasil memecahkan misteri di dalam rumah yang sudah puluhan tahun dia tempati?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ridwan01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Norman
•••••••••••••
Dhuar. Dhuar.
"Sial! Siapa yang sudah menghancurkan teluh yang aku tanam di telinga dan di tubuh si Jayden!" bentak seorang dukun yang sedang melakukan ritual agar teluhnya semakin kuat menempel di tubuh Jayden. Tapi tiba tiba saja guci yang terdapat rambut Jayden meledak dan terbakar, membuat semua ritual itu sia sia dan gagal.
Dia adalah Norman, dukun sakti yang merupakan penerus orang tuanya, dia adalah keturunan dukun sakti guru dari Patricia yang dulu tergila gila pada Ratri, tapi dukun itu harus menelan pil pahit karena Ratri menolak lamarannya, membuat dia sakit hati dan melakukan segala macam cara untuk membuat Ratri dan juga orang orang yang ada dekat dengannya menderita termasuk Vincent.
"Ada apa mas?" tanya istri Norman yang bernama Yanti, dia terkejut dan khawatir pada suaminya setelah mendengar suara ledakan di dalam tempat ritual Norman.
"Teluhku berbalik padaku" jawab Norman
"Sebaiknya hentikan saja mas, biarkan mereka hidup dengan tenang, begitupun kita" bujuk Yanti
Plak.
"Kamu pikir siapa kamu! Kamu itu hanya istri cadangan yang bahkan tidak bisa memberikan anak padaku! Jangan ikut campur urusanku! karena kamu aku jadi harus mengemban tugas yang begitu berat, aku harus membangkitkan jiwa kakek buyut ku yang terkurung tapi setelah semuanya berjalan lancar, orang orang sialan itu membuat rencanaku dan kakek gagal!"" bentak Norman menampar pipi Yanti
"Maafkan Yanti kang, tapi kenapa akang tidak mau menikah lagi, Yanti tidak keberatan" ungkap Yanti memegangi pipinya yang terasa kebas.
"Kalaupun aku akan menikah lagi, aku akan menikahi Jessica! dia jalanku untuk bisa membebaskan kakek!" jawabnya
"Dia tidak akan mau denganmu kang" gumam Yanti pelan.
"Pergi! Kamu mengganggu moodku saja, sudah teluhku hancur, sekarang aku melihat wajahmu yang jelek itu!" bentak Norman
"Baik kang"
Yanti pergi dari sana dengan wajah murung, dia sudah sempat meminta cerai tapi Norman tidak mengabulkan itu, Norman justru mengancam akan menghabisi nyawa orang tua Yanti kalau sampai dia berani kabur dan melakukan hal-hal yang membuat Norman marah.
"Jessica, aku sangat mencintai kamu meskipun kamu buta, tapi Kakek hanya bisa bebas dengan matamu atau mata anaknya Hatta, kamu punya pelet apa sampai sampai aku tidak bisa melupakan kamu dan hanya melihat kamu meski sedang bersama Yanti" gumam Norman
"Aku akan mencari cara supaya kamu bisa bersamaku dan akan bisa membangkitkan Kakek, kamu akan bersamaku karena ragamu nanti akan di tempati sosok putih pengikut Kakek" gumamnya
"Kakek dalam wujud nyonya meneer itu benar benar menakutkan, kenapa Kakek bisa terpikir untuk melakukan ritual terkutuk itu, niatnya ingin menjadi Vincent tapi dia malah masuk ke raga Patricia" kesal Norman yang sudah berkomunikasi dengan Patricia atau jiwa kakeknya melalui Erni.
Tok. Tok. Tok.
Ceklek.
"Mbah, ada pasien dari kota Mbah, katanya dia ingin pasang susuk supaya suaminya tidak berpaling" ucap anak buah Norman.
"Hahaha... Dasar payah, aku yakin miliknya tidak enak makanya suaminya selingkuh" ejek Norman lalu meminta anak buahnya untuk merapikan meja persembahannya yang berantakan.
"Selamat malam Mbah" sapa perempuan itu
"Masuklah"
••••••••••••
Pagi hari di rumah Karta.
"Kalian sudah menelepon Tama?" tanya Karta
"Sudah Om, katanya besok kami harus pulang" jawab Jayden yang sedang menyuapi Jessica.
Jayden sudah memanggil Karta dengan panggilan Om, dia juga sudah mulai menerima kenyataan kalau dirinya hanya di manfaatkan sosok nyonya meneer palsu itu, Jessica juga sudah lebih tenang meskipun dia masih belum mau mengatakan trauma yang dia alami tanpa sepengetahuan Jayden.
"Tapi Jessica katanya boleh tinggal di sini" ucap Jayden lagi melirik Karta yang hanya santai makan.
Mereka memang sedang sarapan bersama, para keluarga Darmawan dan Raharja juga di kirim makanan karena hari itu Husna dan Aminah memasak banyak makanan untuk ungkapkan syukur karena Jayden sudah mulai bersahabat dengan Hatta juga keluarga Wihardja.
"Om senang permusuhan masa lalu ini akhirnya berakhir, meskipun sosok itu pasti masih akan tetap menghantui kita" ungkap Karta
"Saya juga senang Om, saya senang semuanya bisa terpecahkan, kesalahpahaman juga sudah di luruskan dan saya tidak akan terhasut lagi oleh iblis iblis itu" ungkap Jayden
"Mata Jesi perih kak" keluh Jessica
"Itu efek obat yang di oleskan dan kamu minum katanya, tidak apa apa" bujuk Jayden
"Kalau di sini sudah membaik, apa Jessica bisa pulang ke Bandung kak?" tanya Jessica
"Mungkin nanti setelan keadaan membaik dan kakak menikah lagi dengan Tisya, kakak tidak mau kamu dalam bahaya lagi Jessi, di sana kita tidak punya siapapun untuk membantu" jawab Jayden
"Anggap kami ini keluarga kamu, kamu aman di rumah ini dan jangan khawatir, Husna akan membantu kamu" bujuk Karta
"Saya tidak mau merepotkan Om, saya juga ingin berguna di rumah ini, saya tidak mau hanya duduk diam dan tidak melakukan apapun" jawab Jessica
"Siapa bilang kamu hanya diam, kamu bisa bermain dengan Hannah, dia sangat aktif dan tidak bisa diam, kamu juga bisa membantu Husna menanam bunga, kan Om sekarang membangun tembok pembatas, meskipun belum jadi tapi kan nanti perlu banyak tanaman hias di sana" ucap Karta membuat Jessica yang sejak kemarin murung sedikit tersenyum.
"Kakak juga akan sering ke sini kalau tidak ada pekerjaan di Bandung, tidak apa apa ya kamu di sini sementara" bujuk Jayden
"Kakak jangan lupa telepon Jessi" rengek Jessica langsung di kecup Jayden.
"Tentu saja, kamu satu satunya adikku" jawab Jayden
"Senyum dong, kamu lebih cantik kalau tersenyum, mirip Barbie kata kak Galuh" ucap Karta
"Parah sekali rayuan orang di sini" ungkap Sahara yang pagi pagi sekali sudah ke sana dengan alasan ingin sarapan di luar, di luar rumah Bintang dan Dimas.
"Hatta, apa tempat ini masih terdapat banyak dukun? Erni pernah mengatakan kalau ada dukun sakti yang bisa membantuku menyembuhkan Jessica dulu" tanya Jayden
"Dulu tempat ini sudah bersih dari praktek perdukunan, tapi sepuluh tahun terkahir ini kembali marak" jawab Afnan.
"Mungkin karena salah satu orang berpengaruh di kampung ini meninggal sepuluh tahun lalu, dia gagal melawan kak Dimas dan jadi banyak orang yang menjadi dukun pesaing kak Dimas" ucap Husna
"Itu sebabnya, jangan pernah melakukan sesuatu karena manusia, atau mencintai sesuatu karena manusia, lakukan karena Allah karena Allah itu maha kekal, dan tidak akan pernah pergi dari hambanya yang taat dan selalu mengingataNYA" ungkap Hatta
"Baik pak ustad" jawab Sahara cekikikan meskipun Husna dan Jessica tidak bisa melihatnya.
"Tunggu setelah keluar dari sini, kalian akan aku buat tak bisa meledek seorang Hatta lagi" sinis Hatta
"Hihihihi... Hatta mirip sekali dengan Karta, pasti masih saudaranya ya?" Tanya Sahara
"Astagfirullah Ratuku, Hatta itu anaknya Karta!" Gemas Gandra.
"Astagfirullah Sahara lupa"
ma'af thor mau nanya itu nyonya meneer sudah berdiri sejak taun berapa🤭🤭🤭