Indonesia
NovelToon NovelToon
Terpikat Pesona Suami Cadangan

Terpikat Pesona Suami Cadangan

Status: tamat
Genre:Cinta Seiring Waktu / Balas Dendam / Perjodohan / Tamat
Popularitas:5.3k
Nilai: 5
Nama Author: my name si phoo

Sejak kecil, Mili selalu menjadi anak yang dianaktirikan, sementara Gea, adik kesayangannya, selalu mendapatkan segalanya. Saat perjodohan keluarga mempertemukan mereka dengan Andrew dan David, Mili terpaksa menikah dengan David yang dingin, sedangkan Gea memilih Andrew yang dianggap sempurna.
Namun, kenyataan berbalik. Andrew jauh dari harapan, sementara David justru menjadi suami yang tulus mencintai Mili. Diliputi penyesalan, Gea tanpa malu meminta Mili menceraikan David agar bisa merebutnya. Kali ini, Mili menolak mengalah. Dengan satu kalimat yang menohok, ia menatap adiknya dan berkata, "Kamu kira suamiku barang?"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 27

Malam harinya di sebuah ruang serbaguna hotel berbintang di kawasan Denpasar, suasana riuh memuncak.

Lampu kilat kamera berkedip tanpa henti menyoroti wajah Ibu Gea—mama Mili—yang tampil dengan riasan sengaja dibuat pucat dan matanya yang sembab oleh air mata buatan.

Di hadapan belasan mikrofon wartawan dari berbagai media hiburan nasional, wanita itu memegang sapu tangan, siap melemparkan fitnah terbesarnya.

"Saya sebagai seorang ibu sudah tidak tahan lagi melihat penderitaan putri bungsu saya, Gea!" tangis Mama pecah di depan kamera, menyuarakan kebohongan yang dirancangnya dengan rapi.

"Dunia harus tahu kebenaran di balik keluarga Hermawan!"

Para wartawan mulai kasak-kusuk, merekam setiap kata yang keluar dari bibir wanita itu.

"Sejak awal, perjodohan besar keluarga Hermawan itu ditujukan untuk Gea dan David! David Hermawan adalah tunangan sah Gea!" seru Mama dengan intonasi memelas yang begitu meyakinkan.

"Tapi, Mili putri sulung saya yang tega! Dia iri melihat kebahagiaan adiknya sendiri. Mili yang seharusnya dijodohkan dengan Andrew—kakak David—malah merancangkan niat jahat untuk merebut David!"

Suasana konferensi pers mendadak gempar. Kamera makin gencar mengambil gambar.

"Mili menjebak David, merusak hubungan Gea, dan, sekarang setelah berhasil merebut posisi sebagai istri David, Mili memfitnah adiknya sendiri! Dia menyuap dan memakai kekuasaan untuk memasukkan Gea ke dalam sel penjara atas tuduhan palsu peracunan!"

Mama memegang dadanya seolah hendak pingsan, menangis histeris.

"Gea tidak bersalah! Gea adalah korban dari kelicikan dan kekejaman Mili!"

Sementara itu, di kamar penthouse hotel yang mewah dan tenang, Mili sedang duduk di tepi ranjang.

Ia baru saja selesai mengeringkan rambutnya ketika ponselnya bergetar tanpa henti.

Puluhan notifikasi pesan dan panggilan masuk dari nomor tak dikenal membanjiri layarnya.

Dahi Mili berkerut bingung. Ia membuka salah satu aplikasi media sosial, dan seketika seluruh tulisan tebal di layar ponselnya menghantam dadanya seperti godam besi.

[SKANDAL KELUARGA HERMAWAN: MILI DITUDUH REBUT TUNANGAN ADIK KANDUNG DAN JEBLOSKAN GEA KE PENJARA!]

[Ibu Kandung Buka Suara: Mili Adalah Pembawa Petaka yang Memfitnah Adiknya Sendiri Demi Harta!]

Video konferensi pers ibunya terputar otomatis. Mili menyaksikan dengan mata kepala sendiri bagaimana ibu kandungnya membongkar kebohongan melintasi batas kemanusiaan, memutarbalikkan fakta, dan mencoreng namanya di depan seluruh rakyat Indonesia.

"Ti-tidak, ini tidak benar," bisik Mili dengan suara bergetar hebat.

Ponsel di tangannya terlepas dan jatuh meremuk di atas karpet.

Kepala Mili mendadak terasa dihantam pusaran angin kencang.

Penglihatan di sekelilingnya kabur, warna-warna kamar penthouse berubah gelap.

Dada Mili sesak luar biasa, napasnya terputus-putus menahan rasa syok yang teramat sangat atas pengkhianatan ibu kandungnya sendiri.

"David," rintih Mili lirih sebelum seluruh kesadarannya hilang sepenuhnya.

Tubuhnya yang lemas ambruk meluncur dari tepi ranjang, tergeletak tak berdaya di atas lantai.

David keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melingkar di lehernya, bermaksud menghampiri sang istri dengan senyum hangat di wajahnya.

Namun, senyum itu seketika sirna digantikan horor yang mencekam saat matanya menangkap tubuh Mili yang tergeletak tak berdaya di atas lantai, dingin dan tak bergerak.

"MILI!!"

Jeritan histeris meluncur dari tenggorokan David.

Pria itu berlari cepat, menjatuhkan tubuhnya berlutut di samping istrinya yang pucat pasi. Suasana kamar mewah itu mendadak menjadi neraka bagi David.

Dengan tangan yang gemetar hebat, ia merengkuh tubuh lemas Mili ke dalam dekapannya, menopang kepala istrinya yang tak bersuara.

"Sayang! Mili, bangun! Buka matamu, Sayang!!"

David menepuk-nepuk pipi istrinya dengan panik, matanya menatap panik pada raut wajah Mili yang seputih kertas.

Ketakutan paling mengerikan dalam hidupnya mendadak menjadi nyata di depan matanya sendiri.

Detak jantung David bergemuruh liar bagai dihantam martil.

Pandangan David yang kalap melirik ponsel Mili yang tergeletak retak tak jauh di atas karpet, masih menampilkan layar yang menyala tipis.

Namun, rasa takut kehilangan Mili menguasai seluruh akal sehatnya melampaui rasa penasaran apa pun.

"JONAS!! PANGGIL DOKTER SEKARANG!!" teriak David melengking memecah keheningan penthouse, suaranya sarat akan amarah dan keputusasaan yang liar.

Dalam hitungan detik, pintu penthouse didobrak dari luar.

Jonas menerobos masuk dengan wajah tegang, langsung memahami gawatnya situasi saat melihat sang tuan besar memangku tubuh nyonyanya yang pingsan dengan aura membunuh yang membakar seluruh ruangan.

"Baik, Tuan! Tim medis segera menuju ke sini!" seru Jonas cepat seraya merogoh ponselnya, menyadari bahwa jika terjadi sesuatu pada Nyonya Hermawan malam ini, Bali akan berubah menjadi ladang pembantaian di tangan David.

David tidak memedulikan hal lain. Ia membopong tubuh lemas Mili, membawanya ke atas ranjang, lalu mendekap jemari dingin istrinya erat-erat di dadanya, terus membisikkan kata-kata cinta penuh keharusan agar wanita itu segera membuka matanya kembali.

David membopong tubuh istrinya ke atas tempat tidur dengan sangat hati-hati, membaringkannya di atas kasur yang empuk lalu menyelimutinya hingga dada.

Wajah tampannya mengeras penuh kecemasan, jemarinya terus menggenggam erat tangan Mili yang terasa dingin.

Tak berselang lama, dokter tiba dan memeriksa keadaan Mili.

Dengan alat periksa yang dibawanya, dokter mengecek denyut nadi, tekanan darah, dan respons pupil mata Mili.

"Nyonya mengalami kecemasan ekstrem dan syok berat yang membuat tekanan darahnya turun mendadak," terang dokter dengan raut serius.

"Beliau membutuhkan ketenangan mutlak dan tidak boleh mengalami stres berat."

Perlahan-lahan, jemari Mili bergerak tipis. Kelopak matanya yang berat terbuka perlahan, menyesuaikan dengan remang cahaya lampu penthouse.

"David," rintih Mili lirih, suaranya parau dan bergetar.

Mili menangis sesenggukan, air matanya merebak membasahi pipi.

Rasa sakit atas fitnah kejam dari ibu kandungnya sendiri terasa bagaikan sembilu yang menyayat dadanya tanpa ampun.

"Sayang, ada apa?" bisik David lembut seraya menunduk, mengusap air mata Mili dan mengecup dahinya penuh kehangatan.

"Katakan padaku, apa yang sakit? Apa yang terjadi?"

Jonas mendekat dari balik pintu dengan langkah terburu-buru.

Wajahnya tampak begitu tegang sembari memegang ponsel pintar milik sang master yang baru saja menerima laporan darurat dari tim peretas dan media.

"Tuan, mungkinkah Nyonya pingsan karena ini?" potong Jonas dengan suara rendah, menyodorkan layar ponsel ke hadapan David.

David menerima ponsel itu. Matanya menyipit tajam saat membaca baris demi baris berita heboh yang dipublikasikan secara masif di berbagai portal media hiburan.

Layar ponsel itu menampilkan rekaman video wawancara Ibu Gea yang menangis buaya, menuduh Mili sebagai wanita licik yang merebut David dari Gea dan memfitnah adiknya hingga masuk sel tahanan.

Urat-urat di leher dan dahi David menonjol tegang.

Matanya berkilat menakutkan, memancarkan murka yang sanggup membumihanguskan siapa saja yang menjadi dalang di balik kekejaman ini.

"Iblis tua tak tahu diri!" geram David dengan suara geraman rendah bagai binatang buas yang siap menerkam mangsanya.

1
Yensi Juniarti
lanjuuut ya say 😘😘
Yensi Juniarti
ayo mili tunjukan ke gea kalau km lebih dari segala galanya .... 🥰🥰🥰
Yensi Juniarti
bahagia menyertai mu Mili...🥰🥰
Yensi Juniarti
🥰🥰🥰🥰 semuanya milik Mili
Yensi Juniarti
lanjutkan 🙏🙏
Rian Moontero
lanjooott👍😍👍
my name is pho: terima kasih kak 🥰🥰
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!