Damar hanya ingin satu hal dalam hidupnya, pekerjaan kantoran yang tenang, duduk di belakang meja tanpa harus berhubungan dengan banyak orang. Namun, akibat terlilit utang dan tergiur gaji fantastis, si pemuda introvert dan penakut ini malah salah menandatangani kontrak kerja gaib di agen travel misterius bernama Last Trip Express.
Tugas Damar bukanlah membawa turis biasa, melainkan menjadi tour guide untuk rombongan hantu. Dari hantu penari yang histeris, hantu bapak-bapak yang lupa meletakkan kunci brankas, hingga hantu artis yang minta dibuatkan acara fansign terakhir—Damar harus memandu mereka mengunjungi tempat-tempat bersejarah dan TKP kematian demi menyelesaikan urusan terakhir mereka sebelum berpindah ke alam selanjutnya.
Di bawah ancaman bosnya yang cantik, modis, sarkastik, dan super galak—Madam Helga—Damar harus memutar otak mengatasi kehebohan para arwah, teror dari makhluk halus jahat, dan kepanikan dirinya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AnnaYoung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 - Pembersihan Nama Baik
Langkah-langkah berat berbalut perunggu menggetarkan lantai marmer Balai Pengadilan Agung Sektor Empat. Ruang persidangan megah itu dirancang bagaikan amfiteater kuno, dipenuhi pilar-pilar batu hitam yang menjulang ke langit-langit berhiaskan pita energi karma.
Di panggung utama, tiga Hakim Perwakilan Dewan Gaib duduk di atas tahta batu setinggi lima meter, mengenakan jubah keperakan tanpa wajah yang memancarkan aura penindasan mutlak.
Di tengah arena persidangan, Budi Santoso bersimpuh gemetaran. Rantai hitam berapi masih mengikat erat wujud gaibnya, siap menyedot jiwa sang guru SD ke dalam Sumur Penderitaan jika vonis eksekusi dijatuhkan.
"Waktu tenggang dua belas jam telah habis," gema suara Hakim Utama membahana dari balik topeng perak, memotong keheningan dengan intonasi dingin tanpa empati. "Terdakwa Jiwa 908-B gagal menghadirkan bukti sanggahan yang sah. Sesuai dengan Dokumen Registrasi Karma 908-B, terdakwa dijatuhi hukuman pelumpuhan dan pelontaran ke Alam Penderitaan Neraka Sektor Bawah!"
Palu batu raksasa di tangan Hakim Utama terangkat tinggi, siap dihantamkan untuk meresmikan vonis.
"Tahan palumu, Hakim!"
BAM!
Pintu gerbang perunggu Balai Pengadilan setinggi sepuluh meter tiba-tiba terbuka. Kepulan asap keemasan bergulung masuk ke dalam ruangan, disusul oleh derap langkah yang begitu percaya diri.
Madam Helga melangkah melayang masuk. Gaun malam hitamnya melambai anggun, kipas sutranya terbuka penuh memancarkan pendar sihir yang begitu cerah dan murni. Tepat di sampingnya, Damar berjalan dengan tegak, mengenakan seragam pemandu tur yang rapi seraya menggenggam clipboard kayu dan Lembar Koreksi Darurat yang bersinar keemasan.
Para penjaga zirah besi di dalam ruangan refleks mengacungkan tombak, namun kibasan lembut dari kipas Madam Helga menciptakan gelombang angin sihir yang menggeser barisan penjaga tanpa melukai mereka.
"Helga!" gertak Hakim Utama, alisnya terangkat di balik topeng. "Kau berani mengacaukan Sidang Agung Dewan Gaib?!! Tindakanmu ini sudah cukup untuk mencabut izin operasional agen Last Trip Express selamanya!"
"Izin agen kami tidak akan dicabut hanya karena membongkar kebobrokan juru ketik birokrasi kalian, Hakim," balas Madam Helga tenang. Suaranya halus namun berdenting nyaring, menguasai seluruh penjuru ruangan. "Kami di sini bukan untuk mengacau, melainkan untuk meluruskan vonis cacat hukum yang hendak kalian jatuhkan."
Damar melangkah maju ke titik tengah persidangan, berdiri tepat di samping Budi Santoso yang menatapnya dengan mata berbinar haru. Damar mengangkat clipboard-nya tinggi-tinggi, mengarahkan Lembar Koreksi Darurat berstempel emas ke hadapan ketiga Hakim Agung.
"Berdasarkan Pasal 12 Kitab Transmisi Jiwa," seru Damar dengan intonasi yang tegas dan terstruktur, "setiap jiwa berhak mengajukan banding jika ditemukan kesalahan fatal pada Aura ID dan Rekam Jejak Karma akibat Konjungsi Kematian Serentak!"
Hakim Kedua menyipitkan mata. "Konjungsi Kematian Serentak? Jangan membual, Manusia! Data Budi Santoso tercatat tunggal dalam Buku Besar Tinta Hitam!"
"Tercatat tunggal karena juru catat kalian malas memperbarui data!" potong Damar kencang. Ia menekan tombol pemancar pada Chrono-Compass di saku dadanya.
PING!
Proyeksi cahaya putih keemasan membumbung dari jam saku Damar, membentangkan dua lembar grafik rekam jejak jiwa melayang di udara persidangan.
"Lihat ini!" Damar menunjuk grafik pertama. "Jiwa di sebelah kiri adalah Budi Santoso – Kode 908-A. Warga biasa, seorang guru SD yang meninggal kecelakaan saat menyeberang jalan untuk membeli obat anaknya. Resonansi emosi dominannya: kasih sayang dan ketulusan!"
Damar menggeser pandangannya ke grafik kedua yang diimpor langsung dari data murni Ruang Arsip Pusat. "Dan ini adalah Jiwa 908-B yang sebenarnya. Seorang perampok berdarah dingin dengan nama yang sama, meninggal ditembak polisi di kilometer sembilan pada menit yang sama persis. Resonansi emosinya: kerakusan dan dendam!"
Riak bisik-bisik kaget seketika meledak di antara para pejabat dan panitia Dewan yang hadir di dinding amfiteater.
"Kalian menyatukan dua rekam jejak yang berbeda hanya karena kesamaan nama dan jam kematian di dunia!" tegas Damar, matanya memancarkan keberanian. "Kalian membiarkan jiwa perampok yang sebenarnya melarikan diri ke jalur transmisi umum, sementara seorang guru SD tidak bersalah kalian siksa di Alam Penderitaan! Apakah ini yang kalian sebut sebagai Keadilan Birokrasi Dewan?"
Wajah ketiga Hakim di balik topeng perak berubah amat kaku. Mereka menatap dokumen proyeksi dari Chrono-Compass yang memuat stempel Tinta Jiwa Murni, sebuah bukti otentik yang hanya bisa didapatkan dari Konsol Utama Menara Arsip.
"D-Dokumen itu ...," gumam Hakim Ketiga gugup. "Data itu ... otentik dari Jantung Arsip."
"Tentu saja otentik," potong Madam Helga seraya mengibaskan kipas sutranya anggun. "Pemanduku mempertaruhkan staminanya untuk menyalin data murni itu langsung dari konsol kalian. Sekarang, Hakim Agung ... apakah kalian akan tetap menjatuhkan hukuman pada jiwa yang salah, atau mengakui cacat hukum birokrasi kalian di hadapan seluruh Sektor?"
Hakim Utama meremas pegangan tahtanya kaku. Keheningan yang menekan membeku di dalam Balai Pengadilan selama beberapa menit yang terasa begitu panjang. Dinding gengsi birokrasi Dewan Gaib runtuh sepenuhnya di hadapan bukti tak terbantahkan yang dibawa oleh seorang pemandu seorang manusia dan pemilik agen Last Trip Express.
BRAK!
Hakim Utama akhirnya memukulkan palu batunya, memutus keterpakuan ruangan.
"Berdasarkan bukti otentik Lembar Koreksi Darurat," kata Hakim Utama dengan suara yang terpaksa melunak, "Majelis Hakim memutuskan bahwa Vonis Registrasi 908-B dinyatakan BATAL DAN CACAT HUKUM!"
BZZZZZT-CRACK!
Seketika itu juga, rantai hitam berapi murka yang mengikat tubuh Budi Santoso terputus dan lenyap menjadi asap abu-abu. Wujud gaib sang guru SD kembali memancarkan pendar putih keemasan yang bersih dan tenang.
"Terdakwa Budi Santoso dipulihkan nama baiknya," lanjut Hakim Utama, "dan dialihkan ke jalur Transmisi Jiwa Murni Sektor Lima. Petugas Dewan diperintahkan untuk segera memburu jiwa perampok 908-B yang sebenarnya!"
Budi Santoso jatuh terduduk, menangis tersedu-sedu seraya menggenggam erat tangan Damar. "Terima kasih. Terima kasih banyak, Mas Damar ... Madam Helga ... nama saya ... keadilan saya kembali."
Damar tersenyum hangat, menepuk bahu Pak Budi pelan. "Sama-sama, Pak Budi. Tugas saya memastikan setiap penumpang sampai di tujuan yang tepat."
Madam Helga melangkah mendekati meja persidangan, melirik ketiga Hakim dengan senyuman miring yang begitu menawan dan penuh kemenangan. "Urusan kita di sini selesai, Hakim. Jangan biarkan armada kami menemukan kecerobohan data kalian lagi."
Dengan kibasan syal bulu hitamnya yang megah, Madam Helga berbalik arah, melayang memimpin jalan keluar dari Balai Pengadilan Agung. Damar menuntun Pak Budi dengan bangga, melangkah melintasi barisan penjaga Dewan yang kini menundukkan kepala mereka penuh rasa hormat.
Kabar tentang keberhasilan Last Trip Express membongkar kesalahan birokrasi Dewan Gaib dan membebaskan jiwa tak bersalah meledak bagaikan api menyambar jerami kering di seluruh Sektor Dunia Bawah.
Dari Sektor Satu hingga Sektor Lima, nama Agen Last Trip Express tidak lagi dipandang sebagai agen perjalanan buangan yang misterius. Para arwah, agen independen, bahkan perwakilan birokrasi kini membicarakan keberanian Madam Helga dan kecerdasan Damar, sang pemandu manusia yang mampu mematahkan perangkap musuh sekaligus menegakkan keadilan.
Malam itu, Armada 000 terparkir di dermaga transisi Sektor Lima yang indah. Sinar rembulan dimensi memantul di atas permukaan air danau gaib yang tenang.
Pak Budi Santoso telah menyeberang dengan damai menuju Alam Perbatasan, melambaikan tangan penuh rasa syukur sebelum wujudnya menyatu dengan pendar cahaya keemasan. Penumpang lain seperti Marlina, Pak Indra, dan Mayor van Der Berg menyaksikan prosesi itu dengan tatapan haru dan penuh harapan akan giliran transmisi mereka sendiri.
Damar berdiri di panggung luar bus, menghirup udara malam yang segar seraya memoles permukaan Chrono-Compass dengan kain lembut. Jam saku pusaka itu kini berdetik sangat halus dan konstan, memancarkan kehangatan yang menenangkan di telapak tangannya.
"Kau terlihat sangat puas, Damar." Suara halus Madam Helga terdengar dari sampingnya.
Madam Helga melayang mendarat di samping Damar, menggenggam cangkir porselen berisi teh bunga melati hangat. Tidak ada lagi jarak dingin atau bayangan ketakutan masa lalu di antara mereka. Senyuman tipis yang terukir di bibir sang pemilik agen memancarkan kehangatan tulus yang tak tertutupi.
"Puas, Madam," jawab Damar seraya memasukkan jam sakunya ke dalam saku kemeja. "Nama Pak Budi bersih, nama agen kita melambung, dan yang paling penting ... kita membuktikan kalau Last Trip Express gak bisa dihancurkan oleh hasutan Gabriel atau kekakuan Dewan."
Madam Helga menyesap tehnya perlahan, memandang jauh ke arah horizon danau gaib. "Reputasi baru ini akan memancing musuh-musuh yang lebih berbahaya di perjalanan kita berikutnya, Damar. Gabriel dan Eternity Horizon juga tidak akan tinggal diam setelah dipermalukan dua kali."
Damar membetulkan letak clipboard-nya, menatap Madam Helga dengan tatapan intens dan senyuman berani.
"Biarin aja mereka datang, Madam," ujar Damar penuh keyakinan. "Selama Madam yang mengendalikan sihir bus ini dan saya yang memegang itinerary-nya ... gak ada rute yang gak bisa kita taklukkan."
Madam Helga terkekeh anggun, suara tawanya bagaikan denting genta emas yang merdu di malam hari. Ia membuka kipas sutranya, menutupi separuh wajahnya seraya melirik Damar.
"Sikap yang bagus, Pemandu Amatir," puji Madam Helga lembut. "Sekarang, masuklah ke dalam. Itinerary berikutnya sudah menanti di atas meja."
Damar mengangguk tulus, membalikkan tubuhnya dan melangkah masuk ke dalam interior Bus 000 yang hangat. Armada mistis itu siap menyongsong rute-rute baru, membawa harapan, keadilan, dan kedamaian bagi setiap jiwa yang melangkah di atas jalurnya.
judulnya gantii yaa 🤔
ada kesempatan ke 2 untuk menuntaskan urusan dunia
pasti tak kan ada arwah gentayangan
😂
mangkane ndak usah rahasiaan kepada keluarga pak tedjo yg belom mnjdi bejo ..krn penyesalan harta warisan yg tak sampai ke anak nya
tour kemana kita yakk
ngga ngompol di tempat
😂😂
serreemmm bgt