Indonesia
NovelToon NovelToon
SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

SISTEM PEMERAN PENJAHAT PROFESIONAL

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Sistem / Mengubah Takdir
Popularitas:4.1k
Nilai: 5
Nama Author: Nissa Safira

Reyhan Mahardika adalah seorang aktor figuran gagal yang nasibnya berubah drastis setelah ia diikat oleh Sistem Pemeran Penjahat Profesional yang menjanjikan karier legendaris. Namun keberuntungan itu berubah menjadi mimpi buruk ketika setiap adegan pembunuhan yang ia perankan di depan kamera tiba-tiba terjadi di dunia nyata dengan pola yang sama persis. Publik dan polisi, termasuk Detektif Alena Prameswari yang cerdas dan dingin, mulai mencurigainya setelah sebuah video aktingnya yang terlalu realistis tersebar ke internet. Kini Reyhan harus membuktikan dirinya tidak bersalah sambil terus menjalankan misi dari sistem misterius itu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nissa Safira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 17

Reyhan duduk di sebuah kafe kecil di kawasan Jakarta Selatan, mengaduk es kopinya dengan perasaan lega.

Untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu, ia bisa duduk di tempat umum tanpa harus memakai topi, kacamata hitam, atau khawatir ditangkap polisi.

Status penangguhan buronannya membuat hidupnya sedikit lebih normal, meski tatapan beberapa orang di kafe masih menyiratkan rasa penasaran dan curiga.

"Jadi, Kombes Darmawan akhirnya resmi ditahan?" tanya Reyhan pelan saat Alena duduk di depannya.

Alena mengangguk sambil melepaskan kacamata hitamnya.

"Ya, Divisi Propam menemukannya bersalah atas beberapa tuduhan korupsi dan perusakan barang bukti."

"Tapi dia bungkam seribu bahasa tentang Yayasan Pelita Hati."

"Sepertinya dia lebih takut pada orang-orang di balik yayasan itu daripada hukuman penjara."

Reyhan tersenyum tipis.

"Setidaknya kita sudah memotong salah satu tangan mereka."

"Dan reputasiku tidak lagi hancur lebur."

"Jangan terlalu senang dulu, Reyhan," tegur Alena.

"Atasanku yang baru jauh lebih tegas dan kaku."

"Dia belum sepenuhnya percaya padamu."

Tiba-tiba, suara sistem berdengung sangat keras di dalam kepala Reyhan.

[Ding! Misi Utama terpicu.]

[Misi: Pecahkan Teka-teki Korban Ketiga.]

[Deskripsi: Polisi baru saja menemukan mayat di sebuah pabrik kimia yang terbengkalai.]

[Target adalah seorang pengusaha farmasi kotor yang memalsukan obat-obatan.]

[Syarat khusus: Anda harus menyamar sebagai Ahli Forensik Khusus dan memeriksa mayat tersebut secara langsung untuk mendapatkan petunjuk.]

[Hadiah: Peningkatan Skill Observasi (Tingkat Tinggi), Petunjuk tentang lokasi persembunyian pembunuh.]

[Kegagalan: Reputasi Host kembali hancur, dan pembunuh akan menargetkan orang terdekat Host.]

Reyhan menelan ludah.

"Alena," potong Reyhan dengan wajah serius.

"Apakah ada penemuan mayat baru di sebuah pabrik kimia terbengkalai pagi ini?"

Alena membelalakkan matanya terkejut.

"Bagaimana kau bisa tahu?"

"Laporannya baru saja masuk ke radarku sepuluh menit yang lalu."

"Aku punya sumber informasiku sendiri," jawab Reyhan cepat.

"Korban adalah pengusaha farmasi, kan?"

Alena semakin terkejut namun ia segera mengangguk.

"Benar. Namanya dr. Tirta, pemilik perusahaan farmasi yang bulan lalu dibebaskan dari tuduhan memproduksi obat palsu."

"Pola pembunuh bertopeng itu terulang lagi."

"Aku harus ikut ke tempat kejadian perkara (TKP)," putus Reyhan tegas.

"Kau gila?!" seru Alena tertahan.

"TKP itu dipenuhi oleh tim Inafis dan penyidik dari Polda!"

"Kalau kau muncul di sana, mereka akan langsung menendangmu keluar."

Reyhan mencondongkan tubuhnya ke depan.

"Tidak kalau aku masuk sebagai konsultan forensik khusus dari kepolisian pusat."

"Kau hanya perlu meminjamkan aku jas lab, masker, dan kacamata pelindung."

"Percayalah padaku, Detektif."

Alena menatap Reyhan dengan ragu.

Namun, setiap kali pemuda ini nekat, ia selalu berhasil memberikan hasil yang mengejutkan.

"Baiklah."

"Tapi kalau penyamaranmu terbongkar, aku tidak akan melindungimu lagi."

Satu jam kemudian, Reyhan dan Alena tiba di lokasi pabrik kimia yang sudah tidak beroperasi di pinggiran kota.

Garis polisi berwarna kuning sudah terpasang melingkari area pabrik.

Reyhan turun dari mobil dengan mengenakan jas lab putih panjang, masker bedah yang menutupi separuh wajahnya, dan kacamata pelindung.

Penampilannya sangat profesional, ditunjang dengan kemampuan akting dan karisma yang ia pancarkan.

"Siapa dia, Detektif Alena?" tanya seorang petugas yang menjaga garis polisi.

"Ini dr. Rey, konsultan forensik khusus yang didatangkan langsung dari pusat," jawab Alena dengan nada meyakinkan.

"Oh, silakan masuk, Dok."

Reyhan mengangguk kecil dan melangkah masuk ke dalam pabrik.

Bau bahan kimia sisa dan bau busuk menyengat langsung menusuk hidungnya.

Di tengah ruangan pabrik yang luas itu, terdapat sebuah tong besi besar berkarat.

Beberapa anggota Inafis (Indonesia Automatic Fingerprint Identification System) sedang memotret isi tong tersebut.

"Bagaimana kondisinya?" tanya Reyhan dengan nada suara berat dan berwibawa, persis seperti seorang ahli forensik senior.

Kepala tim Inafis menoleh.

"Kondisinya sangat buruk, Dok."

"Korban sepertinya dimasukkan ke dalam tong ini secara hidup-hidup, lalu diisi dengan zat asam pekat."

Reyhan melangkah mendekati tong itu dan melihat ke dalamnya.

Isi tong itu sangat mengerikan.

Tubuh korban sudah hancur meleleh hingga hampir tidak bisa dikenali, menyisakan kerangka dan sedikit jaringan otot yang menghitam.

Reyhan harus menahan rasa mual yang luar biasa di perutnya.

"Sistem, bantu aku," batin Reyhan.

[Mengaktifkan Mode Fokus Forensik dari Skill Observasi (Tingkat Menengah).]

Pandangan Reyhan tiba-tiba menjadi sangat jernih.

Rasa mualnya hilang, digantikan oleh analisis logis yang sangat tajam.

Ia memperhatikan sisa-sisa tulang korban dengan saksama.

"Zat asam ini tidak cukup kuat untuk melelehkan seluruh tubuh dalam waktu kurang dari dua belas jam," analisis Reyhan dengan lantang.

"Perhatikan ujung tulang rusuknya."

"Ada bekas patahan yang tidak rata."

"Korban tidak mati karena zat asam."

Kepala Inafis mengerutkan kening.

"Lalu karena apa, Dok?"

"Dada korban dihancurkan dengan benda tumpul yang sangat berat sebelum ia dimasukkan ke dalam tong," jelas Reyhan.

"Zat asam ini hanya digunakan untuk menghilangkan jejak, bukan sebagai senjata pembunuh."

Reyhan terus mengamati pinggiran tong berkarat itu.

Matanya menangkap sebuah benda kecil yang terselip di celah karat bagian bawah tong.

Ia menggunakan pinset dari saku jas labnya untuk mengambil benda tersebut.

"Dan lihat apa yang ditinggalkan oleh sang 'Aktor' di panggungnya," gumam Reyhan.

Benda itu adalah sebuah topeng hitam polos berukuran sangat kecil, persis seperti yang ditemukan di lokasi pembunuhan Hendra Setiawan.

"Itu... tanda tangan si pembunuh berantai," ucap Alena yang berdiri di belakang Reyhan.

Reyhan memasukkan topeng kecil itu ke dalam plastik bukti.

Namun, ia merasakan sesuatu yang aneh saat memegang topeng tersebut.

Topeng ini tidak terbuat dari plastik seperti sebelumnya, melainkan dari bahan logam ringan yang dilapisi cat hitam.

"Bahan topengnya berbeda," batin Reyhan.

Reyhan membalik topeng logam itu dan melihat ada ukiran angka kecil di bagian dalamnya.

"03."

"Ini korban ketiga," ucap Reyhan pelan pada Alena.

"Pembunuh ini benar-benar menghitung jumlah korbannya."

Tiba-tiba, suara kilatan blitz kamera berkali-kali menyilaukan mata Reyhan.

Seorang wanita muda dengan kemeja flanel dan kamera DSLR besar menggantung di lehernya sedang mengambil foto dari balik garis polisi.

"Hei! Kau tidak boleh memotret di sini!" bentak salah seorang petugas polisi.

Wanita itu hanya tersenyum mengejek sambil memamerkan kartu persnya.

"Saya jurnalis, Pak."

"Saya berhak meliput berita sebesar ini."

"Apalagi ini menyangkut pembunuh berantai yang sedang viral itu."

Wanita itu kemudian menatap lurus ke arah Reyhan yang masih mengenakan masker.

"Dan saya yakin, konsultan forensik yang ada di sana itu bukan ahli sungguhan."

"Benar kan, Reyhan Mahardika?"

Jantung Reyhan langsung berdegup sangat kencang.

Bagaimana jurnalis wanita ini bisa mengenali wajahnya yang tertutup masker dan kacamata?

Alena langsung maju dan menghalangi pandangan wanita itu.

"Siapa kau?"

"Dan jangan sembarangan menuduh orang!" bentak Alena.

Wanita itu tersenyum manis.

"Nama saya Kania."

"Saya jurnalis investigasi independen."

"Dan saya sudah mengikuti kasus Reyhan ini sejak video pertamanya bocor."

"Postur tubuh, cara berdiri, dan bentuk matanya tidak bisa berbohong pada jurnalis yang teliti seperti saya."

Kania menatap Reyhan dengan pandangan menantang.

"Jadi, Reyhan."

"Apakah kau benar-benar sang pahlawan pembasmi koruptor?"

"Atau kau hanya pembunuh bayaran gila yang sedang mencari perhatian publik?"

Reyhan mengepalkan tangannya di dalam saku jas lab.

Identitasnya terbongkar dalam waktu kurang dari setengah jam.

Dan jurnalis bernama Kania ini sepertinya akan menjadi duri baru dalam penyelidikannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!