"Jauhi suami saya!"
Teriakan melengking di sebuah kafe elit Manhattan itu meremukkan dunia Pearl Glow Hurt dalam sekejap.
Pria bertutur kata lembut yang dicintainya ternyata seorang penipu beristri. Demi menyelamatkan harga diri dari skandal yang memalu, Glow nekat membual bahwa kekasih aslinya bernama "Lean"—dan bersumpah akan mengelilingi New York untuk menemukan serta menikahi pria bernama Lean demi memvalidasi kebohongannya.
Pencarian impulsif itu membawa Glow ke sebuah bengkel kusam di Queens, memutuskannya berhadapan dengan Lean—seorang mekanik bersikap dingin yang mengintimidasi dan mengaku sebagai kanibal. Glow menganggap sosoknya hanyalah rakyat jelata bersikap sok misterius.
Namun, Glow tidak menyadari bahwa pria itu adalah Orion Leander Ashford, putra penguasa takhta kegelapan New York yang menjalankan bisnis senjata rahasia.
Ketika takdir bertabrakan di antara intrik dan bahaya, permainan nama Lean mendadak berubah menjadi pusaran cinta dan bahaya yang mengancam nyawa.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#8
Detik-detik sebelum kehangatan sinar lampu gantung kristal sepenuhnya menyiram gaun satin gading Pearl Glow Hurt, dan tepat ketika alunan perdana musik piano pernikahan membumbung tinggi menembus malam New York, langkah kaki Orion Leander Ashford mendadak terhenti.
Genggaman tangannya yang kuat pada jemari Glow yang dilapisi kain tipis melonggar secara tiba-tiba.
Di balik veil transparan yang menutupi wajah cantiknya, mata Glow berkedip cepat. Ia menoleh ragu, mendapati Lean memutar separuh tubuhnya, membelakangi kerumunan tamu di luar dan menatap lurus ke arah Lucifer Hurt—sang ayah mertua yang berdiri satu langkah di belakang mereka.
Aura di sekitar Lean mendadak berubah. Tatapan matanya yang dingin berkilat dengan nuansa kebohongan yang dirancang teramat rapi.
"Berhenti membual kalau saya adalah pria Ashford, Ayah Mertua," ucap Lean dengan suara berat yang terdengar sangat santai, namun sanggup menembus keriuhan samar di luar. "Nama saya Orion Leander. Hanya Leander. Dan saya sama sekali bukan putra dari keluarga Ashford."
Deg.
Langkah kaki Glow mematung sempurna di atas lantai marmer gading. Udara di sekelilingnya mendadak terasa hampa. Seluruh sendi di tubuhnya seolah terkunci rapat.
Sudah kuduga! batin Glow berteriak nyaring di dalam kepalanya. Pria ini memang penipu! Dia cuma mekanik biasa yang memakai nama besar keluarga Ashford untuk menggaet para pemilik mobil sport kelas atas di Queens! Dan sekarang, di depan pintu pernikahan, dia baru saja jujur karena takut dituntut atas pencemaran nama baik?!
Glow menarik napas panjang, menahan denyut di kepalanya yang makin menjadi-jadi. Anehnya, alih-alih merasa marah atau kecewa, sebuah tawa kering justru hampir lolos dari bibirnya.
Baginya, kenyataan bahwa pria di sampingnya adalah "rakyat jelata penipu" justru terasa jauh lebih masuk akal ketimbang membayangkan seorang bangsawan penguasa takhta kegelapan New York mendadak sudi dinikahkan dengan nya yang bukan siapa-siapa dalam waktu sepuluh menit.
Namun, Glow tidak menyadari apa yang sebenarnya sedang terjadi di balik topeng tenang pria itu.
Lean menahan kedutan kecil di sudut bibirnya saat melirik perubahan raut wajah Glow dari balik veil. Keputusannya untuk melepaskan embel-embel "Ashford" di depan Lucifer dan para tamu bukanlah sebuah kepanikan, melainkan sebuah rencana taktis yang sempurna.
Lean menikmati setiap detik dari drama ini. Ia sengaja membiarkan gadis cerewet di sampingnya tetap percaya pada asumsi konyolnya—bahwa Lean hanyalah pria miskin, mekanik berbau bensin, dan "kanibal" yang sedang bersandiwara.
Menjadi pria biasa di mata istrinya jauh lebih berguna untuk menyembunyikan jaringan perdagangan senjata rahasianya, sekaligus memberinya hiburan tersendiri untuk melihat sejauh mana Glow akan bersikap sombong sebagai "penyelamat finansial" keluarga barunya.
Di sudut ruangan hall utama, rombongan keluarga asli Lean yang berdiri di bayang-bayang dinding kaca ikut menahan napas.
Opa Dariush Chase Ashford dan Oma La Bonna De luca—pasangan tertua penguasa garis keturunan Ashford—menggelengkan kepala pelan melihat kelakuan cucu kesayangan mereka.
Oma Bonna mengelus dada, sementara Opa Dariush menyandarkan tongkat berkepala naganya ke lantai dengan gelak tawa tanpa suara.
Di samping mereka, Giovanni Costa Ashford—Sang Ayah—bersama Mommy nya–Tessa O'Conner Ashford, sempat menghentikan langkah mereka.
Giovanni dan Tessa tadinya tidak berniat keluar ke area terbuka; mereka khawatir ada kolega bisnis tingkat tinggi atau politisi Manhattan di antara ratusan tamu undangan yang akan langsung mengenali wajah mereka dan merusak penyamaran Lean.
Namun, Lucifer Hurt yang menyadari keraguan itu, cepat-cepat menoleh dan berbisik mantap pada Giovanni, "Tidak ada rekan bisnis tingkat atas Anda di luar Tuan Muda. Ini hanyalah tamu-tamu lingkaran properti lokal dan teman-teman media Glow."
Mendengar jaminan itu, dan demi melengkapi drama pernikahan gila sang cucu, Opa Dariush dan Oma Bonna akhirnya membulatkan keputusan. Dengan keanggunan bangsawan sejati yang tak terbantahkan meski berpakaian agak bersahaja, pasangan tua itu menyelaraskan langkah, bersiap ikut keluar mengantar Lean menuju altar.
Sebelum melangkah sepenuhnya menyeberangi pintu, Glow yang memiliki tingkat kepekaan dan kesopanan tinggi di balik keangkuhannya, menundukkan kepalanya perlahan ke arah wanita paruh baya bergaun malam anggun yang berdiri di rombongan keluarga Lean.
Glow mengamati gaun yang dikenakan wanita itu—wanita yang ia tebak sebagai ibu kandung Lean (Tessa). Di mata Glow yang terbiasa dengan barang-barang kurasi haute couture Manhattan, gaun yang dipakai Tessa terlihat sangat sederhana, tanpa label desainer ternama yang mencolok.
Huh, kasihan sekali ibu mertuaku, batin Glow iba dari balik kain transparan wajahnya. Matanya mengembara menatap sosok Tessa, Giovanni, serta Opa Dariush dan Oma Bonna. Si penipu gila ini pasti membelikan ibunya gaun branded palsu dari hasil menipu pelanggan bengkelnya! Kasihan sekali keluarga ini harus menanggung malu karena ulah Lean Kanibal.
Glow mengepalkan tangannya pelan, menegakkan bahunya dengan dada penuh tekad baru.
Nanti setelah pernikahan gila ini selesai, janji Glow mantap dalam hati, akan kupastikan aku memakai uang tabunganku sendiri untuk membelikan baju-baju desainer yang asli untuk ibu mertua, ayah mertua, juga untuk Opa dan Neneknya. Tentu saja! Aku tidak boleh membiarkan keluarga suamiku kelihatan seperti rakyat miskin di depan orang-orang New York.
TAP.
Langkah kaki Lean dan Glow akhirnya secara resmi menginjak karpet merah yang membentang di tengah halaman mansion keluarga Hurt.
Seketika itu juga, tepuk tangan riuh dan seruan kagum meledak dari ratusan tamu undangan. Ribuan pendar cahaya lampu gantung kristal membakar malam, memantul megah pada permukaan kain satin gading gaun Glow dan tuksedo hitam pekat milik Lean.
Alunan musik piano yang membumbung tinggi mengiringi pasangan itu melangkah perlahan menuju panggung porselen tempat pendeta telah menunggu dengan kitab suci terbuka.
Di sepanjang jalan menuju altar, Glow berjalan dengan keanggunan sempurna. Ia menyandarkan jemarinya di atas lengan kekar Lean, mencoba mengabaikan tatapan mata para tamu yang sempat kebingungan karena perubahan mendadak sosok pengantin pria yang mendampinginya. Namun, kecantikan Glow dan aura dominan Leander yang begitu memikat sanggup membungkam segala keraguan dan spekulasi dalam hitungan detik.
Di belakang mereka, suasana haru yang teramat pekat menyelimuti keluarga inti.
Camilo Hurt berjalan di samping Angelina yang tak berhenti menyapu air matanya dengan saputangan sutra. Camilo menatap punggung adik perempuannya dengan mata berkaca-kaca. Ada rasa lega luar biasa yang membakar dadanya—penipu bernama Leonardo telah disingkirkan, dan kini adiknya melangkah bersama pria yang memiliki aura perlindungan yang jauh lebih nyata.
"Dia terlihat sangat bahagia... dan aman," bisik Camilo pelan pada Angelina, yang dibalas anggukan pasrah oleh sahabat Glow tersebut.
Sementara itu, di barisan belakang pengantin, Lucifer Hurt melangkah dengan beban berat yang perlahan terangkat dari pundaknya. Rasa bersalah karena hampir membiarkan putri tunggalnya jatuh ke tangan penipu beristri kini berganti menjadi rasa haru yang mendalam.
Tiba-tiba, sebuah tangan tua yang kokoh namun hangat merangkul pundak Lucifer dari samping.
Lucifer menoleh, mendapati Dariush—Tuannya—sedang menatapnya dengan senyuman hangat yang sarat dengan pengertian. Tanpa sepatah kata pun, Opa Dariush menarik tubuh Lucifer ke dalam sebuah pelukan hangat khas seorang Kakak kepada Adiknya.
"Kau sudah melakukan hal yang benar untuk putrimu, Lucifer," bisik Opa Dariush dengan suara beratnya yang menenangkan, menepuk-nepuk punggung pria paruh baya yang kini meneteskan air mata harunya. "Serahkan sisanya pada cucuku. Dia tahu cara menjaga apa yang sudah menjadi miliknya."
Lucifer mengangguk dalam pelukan itu, menyapu air mata di sudut matanya dengan jemari yang gemetar.
Di mata Glow yang sempat melirik ke belakang dari balik veil, pemandangan ayahnya dipeluk hangat oleh pria paruh baya yang ia duga sebagai "Opa dari Lean" itu makin menyentuh hatinya.
Opa Lean kelihatan sangat baik dan hangat... kasihan dia punya cucu tukang bohong seperti Lean, pikir Glow dengan sisa-sisa kepolosannya.
Akhirnya, kedua pengantin tiba di atas panggung porselen, berdiri berhadapan tepat di depan pendeta.
Bunga-bunga mawar putih dan peony segar yang mengepung panggung memancarkan aroma wangi yang menenangkan. Angin malam New York yang berembus pelan memainkan pinggiran kain veil milik Glow.
Lean memutar tubuhnya, menghadapi Glow sepenuhnya. Dengan gerakan yang lambat dan sangat telaten, jemari Lean yang kekar terangkat, meraih pinggiran kain transparan itu, lalu mengangkatnya perlahan ke atas kepala Glow.
Wajah cantik Pearl Glow Hurt tersingkap sepenuhnya di bawah pendar cahaya lampu kristal. Pipinya yang mulus sedikit memerah, matanya yang bundar dan jernih menatap Lean dengan gabungan antara rasa gengsi yang membumbung dan ketakutan samar yang tersembunyi.
Lean menatap wajah itu. Untuk pertama kalinya malam ini, tidak ada senyum sinis atau cemoohan di bibirnya. Tatapan mata sejernih es milik Orion Leander Ashford meredup, berganti dengan kilatan fokus yang sangat dalam dan tak terjangkau.
Pendeta berdehem pelan, membuka ikrar suci.
"Di hadapan Tuhan dan para saksi yang hadir malam ini," suara pendeta bergema lembut melalui pengeras suara, "apakah Engkau, Orion Leander, bersedia menerima Pearl Glow Hurt sebagai istri sahmu? Mencintainya, menghormatinya, dan melindunginya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, hingga maut memisahkan?"
Lean tidak berkedip. Matanya tetap terkunci pada iris mata Glow.
Ia menggenggam kedua tangan Glow, merasakan getaran halus di jemari wanita itu. Sebuah janji yang awalnya hanya ia anggap sebagai permainan drama sepuluh menit mendadak terasa begitu berbobot saat diucapkan di bawah langit New York.
"Aku bersedia," jawab Lean. Suaranya rendah, mantap, dan sarat dengan ketegasan mutlak yang membuat beberapa tamu di barisan depan menahan napas. "Aku akan mencintainya, menghormatinya, dan melindunginya... dengan seluruh cara yang kupunya."
Dada Glow berdesir aneh mendengar nada suara pria itu. Ada getaran asing yang merayap di ceruk hatinya—sebuah rasa aman yang tidak pernah ia dapatkan dari kata-kata manis Leonardo selama lima bulan terakhir.
Pendeta kemudian beralih menatap Glow. "Dan apakah Engkau, Pearl Glow Hurt, bersedia menerima Orion Leander sebagai suamimu yang sah? Mencintainya, menghormatinya, dan mendampinginya dalam suka maupun duka, dalam kaya maupun miskin, hingga maut memisahkan?"
Glow menarik napas panjang. Ia menatap Lean—pria yang beberapa jam lalu ia maki di bengkel kusam Queens, pria yang mengaku kanibal, pria yang mengusirnya dari ruangan berbau bensin, dan pria yang baru saja mengaku bukan seorang Ashford.
Glow menegakkan dagunya, memasang senyum paling anggun dan penuh tekad yang ia miliki.
"Aku bersedia," ucap Glow nyaring dan jelas. Ia mempererat genggaman tangannya pada jemari Lean, lalu menambahkan dengan bisikan pelan yang hanya bisa didengar oleh pria di hadapannya: "...termasuk mendampingimu keluar dari kemiskinan dan penipuan ini, Tukang Bengkel."
Satu sudut bibir Lean seketika terangkat tipis mendengar bisikan gila istrinya.
"Dengan ini," seru pendeta dengan senyuman lebar, "atas nama hukum dan iman yang suci, saya menyatukan kalian sebagai pasangan suami istri yang sah. Pengantin pria... Anda diperbolehkan mencium pengantin wanita."
Tepuk tangan dan sorak-sorai riuh seketika meledak kembali membelah malam.
Lean tidak membuang waktu. Sebelum Glow sempat bereaksi atau memasang benteng pertahanannya lagi, Lean menyambar pinggang ramping Glow dengan satu tangan kekarnya, menarik tubuh wanita itu merapat tanpa jarak. Tangan kirinya naik mengusap rahang lembut Glow, menahannya dengan kelembutan yang mengejutkan.
Lean menunduk, mendaratkan sebuah ciuman hangat dan dalam tepat di atas bibir Pearl Glow Hurt di hadapan ratusan saksi New York.
Mata Glow membelalak sejenak oleh sensasi sengatan hangat yang menjalar dari bibir Lean menuju seluruh aliran darahnya. Aroma bensin dan minyak kotor yang tadi sore ia benci dari pria ini kini telah sepenuhnya berganti menjadi aroma kayu cedar mahal dan kehangatan pria sejati yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.
Glow perlahan memejamkan matanya, membiarkan dirinya tenggelam dalam pelukan pria yang kini secara resmi menjadi suaminya.
Di balik ciuman suci itu, Orion Leander Ashford berjanji pada dirinya sendiri: permainan drama ini baru saja dimulai, dan ia akan memastikan Pearl Glow Hurt tidak akan pernah bisa melarikan diri dari takhtanya.
pdhl penasaran ama kelanjutannya😍😍😍