Ardi, seorang pemuda miskin yang tulus, tiba-tiba dicampakkan oleh Siska, kekasihnya selama lima tahun, demi Bagas, sahabat Ardi yang baru saja naik jabatan menjadi manajer yang kaya raya. Di tengah keputusasaan dan hinaan brutal, Ardi secara tak terduga membangkitkan [Sistem Flash Sale Rp1], sebuah antarmuka misterius yang memungkinkannya membeli barang apa pun—dari mobil sport mewah, penthouse, hingga seluruh perusahaan—hanya dengan satu rupiah. Dengan kekayaan instan yang tak terbayangkan ini, Ardi mulai membalas dendam secara face-slapping kepada mereka yang meremehkannya, sembari menjelajahi kehidupan barunya sebagai miliarder muda yang paling berkuasa di negeri ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 11
Siska merasa dunia di sekelilingnya berputar sangat cepat hingga kepalanya pusing luar biasa seolah ingin pingsan.
Lutut wanita itu seketika lemas tak bertulang dan dia jatuh berlutut di atas lantai marmer lobi yang dingin.
"Tidak mungkin, ini semua pasti cuma mimpi buruk kan," gumam Siska dengan air mata penyesalan yang mulai menetes merusak riasan mahalnya.
"Bagas baru saja meneleponku sambil menangis histeris dan bilang dia dipecat dengan tidak hormat olehmu," isak Siska menatap ngeri pada sepatu kulit Ardi.
"Jadi pria malang yang sudah jadi pengangguran itu langsung mengadu pada pacar barunya ya?" ejek Ardi sambil tertawa pelan meremehkan musuhnya.
"Iya Ardi, Bagas dipecat dan dia menyalahkan semua kesialannya hari ini padaku!" adu Siska mencoba mencari celah simpati dari hati Ardi.
"Bagas bahkan mengusirku dari mobil sedannya dengan kasar dan meninggalkanku sendirian di pinggir jalan tol tadi siang," tangis Siska semakin pecah mengingat nasib tragisnya.
Ardi sama sekali tidak merasakan simpati sedikit pun melihat air mata buaya wanita yang telah merobek hatinya ini.
"Lalu apa hubungannya semua drama murahan kalian berdua itu denganku sekarang?" tanya Ardi dingin dan sama sekali tanpa belas kasihan.
Siska tiba-tiba merangkak maju seperti pengemis dan memeluk erat kaki Ardi dengan kedua tangannya yang gemetar.
"Ardi tolong maafkan aku sayang, aku sadar aku sangat salah karena sudah meninggalkan pria sebaik dirimu," mohon Siska sambil menangis tersedu-sedu.
"Aku khilaf Ardi, mataku dibutakan oleh janji palsu Bagas si pria miskin dan kasar itu!" lanjut Siska memutarbalikkan fakta dengan tingkat ketidaktahuan malu yang luar biasa.
"Ayo kita balikan dan mulai semuanya dari awal Ardi, aku janji akan menjadi istri yang sangat baik dan patuh padamu selamanya," rayu Siska mencoba menggunakan pesona tubuhnya.
Ardi menatap sangat jijik pada tangan Siska yang berani menempel di celana jas mewahnya.
Dia menendang pelan namun kuat bahu Siska hingga wanita itu terjengkang ke belakang dan tangannya terlepas paksa dari kaki Ardi.
"Jangan pernah berani menyentuh pakaian mahalku dengan tangan kotormu itu Siska," ucap Ardi dengan tatapan sedingin es kutub utara.
"Ardi, kenapa kau tiba-tiba berubah menjadi begitu kejam padaku?" tanya Siska sambil memegangi dadanya yang sesak karena ditolak mentah-mentah.
"Bukankah kau sendiri yang menangis dan memohon padaku karena sangat mencintaiku tadi pagi?" lanjut Siska mencoba mengorek masa lalu mereka.
"Cinta katamu?" ulang Ardi sambil tertawa keras hingga tawanya menggema di seluruh sudut lobi gedung itu.
"Pria bodoh yang dengan tulus mencintaimu tadi pagi sudah mati membusuk di dalam kafe itu, dibunuh dengan kejam oleh hinaanmu sendiri," jawab Ardi mutlak tanpa celah untuk dibantah lagi.
"Lagipula, wanita mana yang mau bersusah payah dibonceng motor butut saat hujan deras kan?" sindir Ardi mengembalikan kata-kata hinaan Siska sendiri tepat ke wajahnya.
Wajah Siska memerah matang seperti kepiting rebus karena rasa malu yang luar biasa menampar habis harga dirinya di depan umum.
"Sekarang aku sudah punya supercar Ferrari, dan kursi penumpangnya terlalu mewah dan berharga untuk diduduki oleh pengkhianat murahan sepertimu," tambah Ardi memberikan pukulan mental terakhir.
"Ardi kumohon, jangan buang aku seperti sampah begini setelah lima tahun kita bersama," rengek Siska masih tidak mau menyerah melepaskan tambang emas di depannya.
"Keamanan, seret wanita gila ini keluar ke jalan raya sekarang juga!" perintah Ardi dengan suara tegas dan otoriter yang tidak terbantahkan.
"Dan pastikan foto wajahnya dipajang di pos satpam, jangan pernah biarkan dia menginjakkan kakinya lagi di radius seratus meter dari perusahaanku!" tambahnya tanpa ampun.
Dua orang petugas keamanan bertubuh kekar langsung maju dan memiting kedua lengan Siska secara paksa dari kanan dan kiri.
"Lepaskan aku sialan! Ardi tolong beri aku satu kesempatan terakhir saja untuk membuktikan cintaku!" jerit Siska meronta-ronta dengan sangat histeris.
Suara tangisan putus asa Siska terus bergema memilukan saat tubuhnya diseret paksa keluar dari pintu kaca lobi gedung raksasa itu.
Ardi hanya melihat pemandangan memuaskan itu dengan senyum miring dan tangan terlipat di dada.
Semua rasa sakit hatinya selama lima tahun mengabdi pada wanita itu terbayar lunas tanpa sisa sedikit pun hari ini.
"Pak Herman, pastikan lantai marmer yang disentuh wanita tadi dipel dengan sabun karbol sampai tidak ada kuman yang tersisa," pesan Ardi menoleh pada direktur utamanya.
"Baik Tuan Ardi, saya akan segera menyuruh kepala petugas kebersihan untuk menyikatnya sampai mengkilap," jawab Herman sambil menunduk sangat hormat.
Ardi mengangguk puas lalu melangkah keluar dari lobi menuju mobil Ferrari SF90 hitamnya yang sudah terparkir rapi bagai raja jalanan di depan pintu utama.
Saat dia baru saja duduk di kursi kemudi berbahan kulit asli itu, antarmuka cahaya emas kembali muncul melayang di depan matanya.
[Notifikasi Sistem Flash Sale Rp1]
[Selamat, tuan rumah telah berhasil membuang masa lalu yang beracun dan tidak berguna sepenuhnya.]
[Sebagai hadiah pencapaian tambahan, Sistem akan memberikan penawaran properti mewah untuk tempat tinggal baru tuan rumah agar sesuai dengan status Anda.]
Ardi tersenyum lebar menatap layar semi transparan yang hanya bisa dilihat olehnya itu.
"Pemikiran yang sangat cerdas Sistem," gumam Ardi pada dirinya sendiri di dalam kabin mobil yang kedap suara.
"Sangat tidak lucu jika bos besar dari perusahaan miliaran rupiah masih tidur di kosan pengap yang harga sewanya lima ratus ribu per bulan," batinnya sambil terkekeh pelan.
"Tunjukkan padaku penawaran terbaik apa yang kau miliki hari ini Sistem," ucap Ardi dengan nada sangat bersemangat menunggu kejutan selanjutnya.
[Item: Penthouse Eksklusif Dua Lantai di Puncak Mega Tower Jakarta.]
[Fasilitas: Helipad pribadi, kolam renang infinity di atap, pelayan pribadi 24 jam, dan keamanan tingkat presiden.]
[Harga Spesial: Rp1.]
[Waktu Tersisa: 23 Jam 59 Menit.]
"Beli sekarang juga tanpa ragu," ucap Ardi cepat dan langsung menekan layar sistem di depannya dengan telunjuknya.
[Memproses transaksi luar biasa...]
[Pembelian Berhasil.]
[Saldo Anda terpotong Rp1.]
[Sertifikat hak milik atas nama Anda dan kartu akses utama penthouse telah dikirim ke dalam laci dasbor mobil Anda.]
Ardi mencondongkan tubuhnya dan membuka laci dasbor mobil mewahnya dengan perasaan berdebar kencang.
Di dalam sana, dia menemukan sebuah map kulit tebal berisi tumpukan dokumen legal dan sebuah kartu akses berwarna hitam pekat dengan ukiran emas murni.
"Malam ini aku akan tidur di atas awan, menatap rendah pada kota yang sempat mencoba menghancurkanku ini," gumam Ardi tertawa lepas membayangkan betapa mewahnya tempat tinggal barunya itu.
Dia menyalakan mesin V8 mobilnya dengan menekan tombol merah di setir kemudi.
Vroom!
Suara mesin buas itu langsung mengaum memecah kesunyian sore hari di pelataran gedung perkantoran elit tersebut.
Mobil hitam mengkilap itu melesat cepat meninggalkan gedung perusahaan, meluncur masuk menuju kehidupan malam ibu kota yang penuh godaan dan gemerlap kemewahan.