Di kampus, Reyhan Arkananta Wijaya adalah dosen muda yang dikenal killer karena sikap tegas dan tanpa pandang bulu yang dimilikinya. Satu kesalahan kecil saja cukup untuk membuat nilai mahasiswa melayang. Di mata Nadhira, mahasiswi semester enam yang ceroboh dan ahli panik, Pak Reyhan adalah ancaman terbesar bagi kelangsungan hidup akademisnya.
Namun, hidup Nadhira mendadak jungkir balik ketika perjodohan rahasia antar keluarga memaksanya menikah dengan sang dosen killer.
Kini, Nadhira harus menjalani dua kehidupan yang saling bertolak belakang, berpura-pura tidak saling kenal dan saling membenci di area kampus, lalu pulang ke rumah yang sama sebagai sepasang suami istri. Di tengah kejaran tenggat tugas, ancaman nilai E, gosip kampus yang memanas, dan rasa cemburu diam-diam sang dosen galak, mampukah rahasia besar mereka bertahan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chocomint09, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sabotase
Suasana koridor lantai dua Gedung FSD pagi itu terasa begitu riuh oleh langkah kaki mahasiswa yang berpacu dengan waktu. Pukul delapan pagi adalah tenggat akhir pengumpulan tugas besar mata kuliah Studio Desain Media Cetak dan Maket Display, salah satu mata kuliah paling berbobot yang diampu langsung oleh tim dosen, termasuk Reyhan Arkananta sebagai dosen penilai utama.
Nadhira berjalan menyusuri koridor dengan senyum cerah menyungging di bibirnya. Di kedua tangannya, ia membawa sebuah papan alas kayu yang menopang maket display pameran berukuran medium.
Maket itu adalah hasil kerja kerasnya selama dua minggu penuh, struktur akrilik transparan berpadu dengan potongan kayu balsa, lengkap dengan media cetak miniatur yang tertata sempurna.
Setiap detailnya ia kerjakan dengan tingkat ketelitian tinggi, mengikuti standar ukuran ketat yang biasa dituntut oleh Reyhan.
Di sampingnya, Kania berjalan sambil membawa portofolio cetak miliknya sendiri.
"Gue yakin banget maket lo bakal dapet nilai A dari Pak Reyhan, Nad," puji Kania melirik maket Nadhira yang tampak begitu rapi dan estetis.
"Potongan akriliknya halus banget. Lo nempelnya paka lem apa sih? Nggak ada bekas bercak putihnya sama sekali."
Nadhira tertawa kecil, membetulkan letak tali ranselnya. "Pakai lem khusus akrilik yang disuntik tipis-tipis, Kan. Capek banget sih jari gue sampai pegel, tapi puas banget pas lihat hasilnya."
Mereka berdua melangkah memasuki Laboratorium Media Cetak, tempat seluruh mahasiswa angkatan diwajibkan meletakkan karya maket mereka di atas meja panjang sebelum tim dosen masuk untuk melakukan penilaian tertutup.
Namun, begitu Nadhira melangkah mendekati deretan meja tempat ia menyimpan maketnya kemarin sore untuk dikeringkan, langkah kakinya mendadak terhenti total.
Benda di atas meja itu membuat telapak tangan Nadhira seketika dingin.
Papan alas kayu maketnya masih berada di sana, namun struktur akrilik transparan yang menjadi inti dari konsep display-nya sudah hancur.
Dinding akrilik utama retak memanjang dengan sudut patahan yang kasar, seolah-olah baru saja dihantam oleh benda tumpul dengan sengaja.
Tidak hanya itu, lembar media cetak miniatur yang menempel di dalam struktur tersebut terkoyak parah dan ternoda oleh cairan tinta hitam yang sengaja ditumpahkan di atasnya.
"Nadhira..." bisik Kania tertahan, matanya membelalak tak percaya melihat pemandangan tragis di depan mereka. "Ya ampun... maket lo!"
Papan kayu di tangan Nadhira gemetar hebat. Gadis itu menurunkan papan maketnya ke atas meja dengan gerakan kaku. Matanya menatap kosong pada tumpukan akrilik pecah dan noda tinta yang masih agak basah itu.
Dua minggu kerja keras, malam-malam tanpa tidur, dan jemari yang terluka terkena pemotong lembaran balsa, semuanya hancur berkeping-keping hanya dalam hitungan jam sebelum penilaian.
"G-gimana bisa...?" suara Nadhira mencicit halus, nyaris tak terdengar. Dada gadis itu naik turun, menahan gelombang rasa sesak yang mendadak menghimpit tenggorokannya.
"Kemarin sore pas gue pulang jam enam... maket ini udah selesai. Gue taro di ujung meja kering ini biar aman..."
Beberapa mahasiswa lain yang berada di dalam laboratorium mulai berbisik-bisik, mengerumuni meja Nadhira. Ada yang menatap iba, namun ada pula yang melemparkan pandangan dingin tanpa simpati.
"Duh, kasihan banget Nadhira," bisik seorang mahasiswi di barisan belakang.
"Tapi kok bisa cuma punya dia yang rusak parah gitu ya? Maket yang lain di sebelahnya padahal utuh," sahit mahasiswa lain dengan nada curiga.
Kania yang mendengar bisik-bisik itu langsung berbalik dengan raut wajah berang. "Heh maksud lo apa ngomong gitu? Ini tuh ada orang jahat yang sengaja ngerusak maket Nadhira!"
Kania lalu kembali menghampiri Nadhira yang masih berdiri mematung. "Nad, ini gak wajar. Tumpahan tintanya masih baru, potongan akriliknya retak sengaja ditekan dari atas. Ini bukan ketidaksengajaan, pasti ada oknum yang sengaja ngerusak karya lo!"
Nadhira menunduk dalam-dalam. Air mata menetes pelan dari sudut matanya, jatuh menimpa noda tinta di atas mejanya. Rasa frustrasi dan ketakutan menyatu. Pukul delapan kurang lima belas menit.
Dalam waktu singkat ini, mustahil baginya untuk membuat ulang struktur akrilik dan mencetak ulang media pendukungnya. Ini berarti, ia terancam tidak mendapat nilai untuk tugas besar berbobot empat puluh persen ini. Ia terancam gagal di mata kuliah ini.
Dan yang paling menakutkan bagi Nadhira, apa yang akan dikatakan Reyhan nanti saat melihat karyanya hancur seperti ini di depan dosen-dosen lain.
Tiba-tiba, suasana riuh di dalam laboratorium seketika senyap.
Langkah kaki yang tegas dan beraturan menggema di ambang pintu masuk. Sosok tegap bersetelan kemeja biru tua yang tergulung rapi hingga siku melangkah masuk. Kacamata berbingkai tipis terpasang manis di wajahnya yang dingin tanpa ekspresi.
Reyhan masuk ke dalam laboratorium bersama Pak Bagas untuk memulai proses pendataan karya sebelum penilaian resmi.
"Selamat pagi," sapa Pak Bagas santai pada para mahasiswa.
"Harap semua mahasiswa berdiri di samping karya masing-masing. Pak Reyhan dan saya akan melakukan pemeriksaan kelengkapan berkas fisik lebih dulu."
Reyhan berjalan menyusuri barisan meja dengan buku catatan tipis di tangan kirinya. Tatapannya menyapu setiap karya dengan ketelitian.
Namun, saat langkahnya mendekati area meja Nadhira, Reyhan mendapati kerumunan mahasiswa yang memandang ke arah satu titik dengan raut tegang.
Pandangan mata Reyhan dari balik lensa kacamatanya seketika mengunci pada sosok Nadhira yang berdiri menunduk di samping meja, bahunya gemetar pelan menahan tangis.
Lalu, mata tajam sang dosen turun ke atas meja, menatap serpihan akrilik yang retak dan noda tinta hitam yang merusak seluruh visual maket milik istrinya.
Alis tebal Reyhan seketika menukik tajam. Sorot matanya yang tenang mendadak berubah sangat dingin dan pekat. Rahangnya mengetat keras, menahan gejolak amarah yang membakar dadanya melihat karya yang ia tahu betul dikerjakan Nadhira hingga larut malam di rumah kini hancur tak berbentuk.
Reyhan tahu seberapa besar usaha Nadhira. Ia menyaksikan sendiri bagaimana jari-jari kecil Nadhira gemetar memegang pemotong kayu balsa di meja belajar rumah mereka dua hari lalu, bagaimana Nadhira meminta pendapatnya tentang sudut kemiringan akrilik itu dengan mata berbinar. Dan sekarang seseorang telah merusaknya secara kejam.
Pak Bagas yang berjalan di belakang Reyhan ikut terperanjat saat melihat meja Nadhira. "Astaga Nadhira, kenapa maket kamu bisa hancur begini?!"
Nadhira mendongak pelan dengan mata berair. Ia memandangi Reyhan yang berdiri tegak di hadapannya. Di depan teman-teman dan dosen lain, mereka berdua harus mempertahankan jarak profesional sebagai dosen dan mahasiswi.
"S-saya tidak tahu, Pak Bagas..." ujar Nadhira dengan suara bergetar dan serak.
"Kemarin sore saat laboratorium dikunci jam enam, maket saya sudah selesai dan utuh di meja ini. Pagi ini saat saya datang... kondisinya sudah seperti ini."
"Tapi Nadhira, peraturan pengumpulan tugas besar sangat jelas," potong sebuah suara dari sudut ruangan.
Itu adalah Siska, mahasiswi angkatan mereka yang dikenal berambisi tinggi dan sering bersaing ketat dalam perolehan nilai studio. Siska melangkah maju dengan dagu terangkat.
"Setiap mahasiswa bertanggung jawab penuh atas keamanan karyanya masing-masing sampai jam pengumpulan," lanjut Siska tanpa empati.
"Kalau maketnya rusak atau belum siap saat jam penyerahan, ya artinya tidak bisa dinilai. Kan tidak adil buat kita yang sudah menjaga karya kita baik-baik kalau Nadhira diberi pengecualian."
Kania langsung melotot menatap Siska. "Sis! Lo punya otak nggak sih? Ini bukan kelalaian Nadhira, ini ada orang iri yang sengaja ngerusak maket dia di dalam lab!"
"Mana buktinya?" tantang Siska dingin.
"Bisa aja Nadhira sendiri yang ceroboh menjatuhkannya pas mau dibawa ke sini, terus ngaku-ngaku dirusak orang biar dapet keringanan waktu!"
"Lo-" Kania hendak maju mencengkeram kerah Siska, namun Nadhira buru-buru memegang lengan sahabatnya itu untuk menghentikannya.
Di tengah perdebatan yang makin memanas itu, suara berat dan dingin milik Reyhan mendadak memotong udara.
"Cukup."
Satu kata singkat itu meluncur dengan otoritas yang begitu menekan hingga seluruh isi laboratorium seketika bungkam total. Siska tertahan di tempatnya, sementara Kania menarik nafas pendek.
Reyhan melangkah satu titik lebih dekat ke meja Nadhira. Pria itu menunduk sedikit, mengamati bentuk patahan akrilik dan pola noda tinta di atas lembaran kertas cetak dengan sangat cermat. Sebagai mantan praktisi industri dan akademisi, mata Reyhan tidak bisa dibodohi.
Retakan pada akrilik itu menunjukkan titik tekan terpusat di bagian tengah, sebuah gaya dorong vertikal yang disengaja menggunakan benda tumpul, bukan akibat jatuh bebas dari meja.
Tumpahan tintanya pun membentuk garis alur yang terarah dari botol tinta stempel laboratorium, bukan tumpahan acak dari cangkir kopi. Ini adalah tindakan sabotase yang terencana.
Reyhan menegakkan kembali tubuhnya. Pria itu membetulkan kacamata dengan jari tengahnya, lalu menatap Nadhira lurus-lurus dari balik lensa kaca matanya. Sorot matanya, meski tetap kaku di luar, menyalurkan rasa percaya dan ketenangan yang terselubung untuk istrinya.
"Nadhira," panggil Reyhan dengan suara datar dan formal.
"I-iya, Pak Reyhan..." cicit Nadhira pelan.
"Berdasarkan analisis struktur visual pada fisik maket kamu, retakan ini tidak memenuhi pola kerusakan akibat jatuh atau kelalaian transportasi," terang Reyhan teknis di hadapan seluruh mahasiswa.
"Ada indikasi kuat terjadinya pelanggaran integritas dan perusakan sengaja di dalam fasilitas laboratorium."
Siska yang mendengar ucapan Reyhan mendadak tampak sedikit gelisah, memindahkan pijakan kakinya dengan canggung.
Reyhan melirik ke arah Pak Bagas. "Pak Bagas, tolong catat bahwa berkas fisik milik Nadhira sudah terdaftar berada di laboratorium sejak kemarin sore berdasarkan log rincian kunci laboratorium."
"Baik, Pak Reyhan," jawab Pak Bagas buru-buru mencatat di papan klipnya.
Reyhan kembali menatap Nadhira. "Nadhira, apakah kamu menyimpang dokumen digital master-file dari media cetak dan cetak biru ukuran maket ini di dalam penyimpanan cloud kamu?"
Nadhira mengangguk cepat, menyapu air matanya dengan punggung tangan. "P-punya, Pak. Semua draf pengukuran tiga dimensi dan file cetaknya lengkap di laptop saya."
"Bagus," putus Reyhan tegas tanpa kompromi.
"Saya berikan kamu batas waktu tenggat khusus hingga besok pukul empat sore, untuk mencetak ulang media pendukung dan merakit kembali struktur maket kamu di ruang bimbingan khusus laboratorium. Kamu akan mempresentasikan karya kamu secara terpisah di depan saya dan Pak Bagas."
Seluruh ruangan mendadak kasak-kusuk. Siska membelalakkan mata, mencoba protes. "Tapi Pak Reyhan, ini melanggar batas waktu pengumpulan resmi, ini namanya perlakuan khusus-"
Reyhan memutar tubuhnya, menatap Siska dengan pandangan mata yang begitu tajam dan mengintimidasi hingga mahasiswi itu yang mendadak mengatupkan bibirnya rapat-rapat.
"Perlakuan khusus diberikan ketika terjadi indikasi kejahatan akademik di dalam fasilitas kampus yang saya ampu, Saudari Siska," tegur Reyhan dengan intonasi rendah yang menusuk.
"Dan jika terbukti ada oknum mahasiswa yang melakukan perusakan ini, sanksinya bukan hanya mendapatkan nilai E dan juga pengulangan mata kuliah, namun juga akan di skorsing atas pelanggaran kode etik berat."
Suasana laboratorium makin mencekam. Beberapa mahasiswa yang tadi berbisik-bisik kini benar-benar tertunduk takut.
Reyhan beralih menatap Nadhira sekali lagi. "Gunakan waktu kamu sebaik-baiknya, Nadhira. Saya menuntut hasil memuaskan. Tidak ada toleransi untuk kualitas yang berkurang."
Nadhira menatap suaminya dengan binar keharuan yang meluap. Di balik kata-kata kaku dan tuntutan tingginya di depan kelas, Reyhan baru saja menyelamatkan karir akademisnya dari kehancuran total.
"Baik, Pak Reyhan. Terima kasih banyak!" jawab Nadhira mantap dengan suara yang tak lagi bergetar.
"Pak Bagas, mari kita lanjutkan pemeriksaan ke meja berikutnya," ujar Reyhan dingin, melangkah mendahului tanpa menoleh lagi.
Saat Reyhan berjalan melewati barisan meja menuju sisi lain laboratorium, tangan kirinya yang tersembunyi di samping paha mengepal erat.
Pria kaku itu telah membuat keputusan di dalam hatinya, siapa pun oknum di dalam ruangan ini yang berani menyentuh dan merusak karya istrinya hingga menangis akan berhadapan langsung dengan pembalasan dingin dari seorang Reyhan.
...Bersambung... ...