Lu Chen adalah seorang pemuda berusia dua puluhan yang hidup terasing di pinggiran Desa Qingfu. Di balik penampilannya yang sederhana sebagai peracik obat herbal yang pendiam, ia menyimpan sebuah rahasia besar dan mengerikan: garis keturunan gila yang menggabungkan tiga unsur sekaligus, yaitu darah manusia yang fana, cahaya dewa yang suci, dan kutukan siluman kegelapan.
Secara fisik, Lu Chen memiliki daya tarik yang kuat dengan garis wajah tegas, namun tubuhnya menyimpan ketidakseimbangan yang berbahaya. Matanya memiliki dua warna yang berbeda; mata sebelah kanan memancarkan cahaya keemasan yang hangat dan tenang, melambangkan sisa-sisa kekuatan dewanya, sementara mata sebelah kiri sering kali berubah menjadi ungu legam yang dingin saat emosinya tak terkendali. Di leher hingga sebagian wajahnya juga tersembunyi rajah alami berupa sulur-sulur hitam yang menandakan segel kutukan siluman purba.
Dari segi sifat dan kepribadian, Lu Chen adalah sosok yang sabar, lembut, dan sangat peduli
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aksara Handini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 23 — PENYERBUAN ISTANA LANGIT
Alam Langit Lapisan Pertama menyambut mereka dengan hamparan Gerbang Awan yang kelam dan mencekam. Di balik benteng pertahanan itu, seribu Penegak Langit berbaris rapat memenuhi angkasa. Tepat di barisan terdepan, Dewa Eksekusi berdiri berdampingan dengan delapan anggota Dewan Langit yang memancarkan aura kehancuran.
Dari permukaan bumi yang tertutup awan hitam, pasukan gabungan melesat naik ke angkasa. Pasukan Penyelamat yang dipimpin oleh Wolf dari Kawanan Emas, barisan pemanah sihir dari para Elf Buangan, hingga para ras terbuang yang mendendam pada kahyangan, berdiri tegak di barisan pertempuran. Total kekuatan mereka hanya berjumlah lima ratus orang, berbanding terbalik dengan seratus ribu pasukan langit yang menunggu di atas.
Lu Chen berdiri paling depan. Ia mengenakan jubah hitam legam, sementara di dadanya, Segel Penyelamat memancarkan pendaran cahaya tiga warna yang menyilaukan mata.
[Panel: Deklarasi Perang] LU CHEN: USIA 16 - TAHAP PENYATU PUNCAK STATUS: BURONAN UTAMA TIGA ALAM TUJUAN UTAMA: MENGHANCURKAN PENJARA LAPISAN KESEMBILAN - MENYELAMATKAN IBU
"Anak Noda," seru Dewa Eksekusi dingin. "Hari ini, tempat ini akan menjadi kuburan massal kalian."
Lu Chen mengangkat segel di dadanya ke udara. "Tempat ini bukanlah kuburan. Ini adalah hari pembebasan kita."
DUAR!
Perang kolosal pemecah alam resmi dimulai.
Ronde Pertama: Gerbang Awan
Pasukan Langit bergerak maju serempak melepaskan rentetan petir, pedang cahaya, dan formasi eksekusi maut.
"KAWANAN EMAS, MAJU!" komando Wolf meraung. Luna dan para Elf merapalkan Hujan Panah Cahaya. Xue Ling melesat dengan jurus 99 Tebasan Badai. Lin Yue mengatur formasi garis pertahanan.
Lu Chen tidak membuang waktu untuk melawan prajurit biasa. Matanya tertuju lurus menembus lapisan langit kedua, ketiga, hingga lapisan kesembilan—tempat ibunya disekap.
Tinju Tiga Alam: 80%. BOOM!
Satu hantaman tinju bertenaga itu menciptakan gelombang kejut yang mementalkan seratus Penegak Langit sekaligus dalam sekejap.
"Terus bergerak maju!" teriak Lu Chen.
Pasukan gabungan menerobos benteng pertahanan musuh, diwarnai jatuhnya korban di kedua belah pihak.
Ronde Kedua: Lapisan Kelima - Arena Dewa
Di tengah perjalanan mereka menuju puncak, jalan mereka dihadang oleh lima Dewa Dewan yang masing-masing menguasai elemen alam purba.
[Panel: Lima Dewa Dewan] DEWA API - DEWA AIR - DEWA TANAH - DEWA ANGIN - DEWA PETIR
"Kalian tidak akan pernah bisa melangkah melewati tempat ini," ucap Dewa Api arogan.
Pertempuran lima lawan lima ratus pecah seketika: Luna menghadapi Dewa Angin. Wolf menahan Dewa Tanah. Xue Ling berduel melawan Dewa Air. Lin Yue menangkis serangan Dewa Api. Dan Lu Chen berhadapan langsung dengan Dewa Petir.
"MATILAH KAU!" geram Dewa Petir melancarkan Petir Sembilan Surga. Lu Chen menyambutnya dengan Tinju Tiga Alam: 90%. DUAR! Sambaran petir itu berbalik arah, menghantam sang dewa hingga memuntahkan darah segar.
"Gerakan kalian terlalu lambat," kata Lu Chen datar. "Aku telah melihat seluruh pola ini di dalam ujian Time Loop."
Satu per satu, para Dewa Dewan itu bertumbang. Lu Chen tidak membunuh mereka, melainkan menyegel kekuatan mereka ke dalam tanah.
Ia kembali mendongak ke atas. "Lapisan kesembilan."
Ronde Ketiga: Lapisan Kesembilan - Penjara Langit
Di hadapan mereka berdiri sebuah gerbang emas raksasa yang diikat oleh rantai petir kutukan. Di balik jeruji besi tersebut, Shen Yue terikat lemah dengan tubuh kurus kering, meskipun racun di tubuhnya telah pulih separuh.
"NAK?!" teriak Shen Yue kaget melihat kedatangan putranya.
"IBU!" Lu Chen berlari kencang.
BOOM!
Dewa Eksekusi dan Raja Iblis Mo Tian muncul secara bersamaan, membentuk aliansi sementara demi menghentikan pemuda itu.
"Berhenti di tempatmu!" perintah Dewa Eksekusi. Mo Tian tersenyum licik. "Anakku, serahkan segel itu pada Ayah, maka Ayah akan melindungimu."
Lu Chen berdiri tegap di hadapan gerbang penjara. "Aku memilih opsi ketiga."
"Opsi ketiga apa maksudmu?" "Aku akan menghancurkan kalian berdua sekaligus."
Boss Fight: Dua Lawan Satu
Dewa Eksekusi merapal jurus pamungkas: Hukum Langit: Hakim Maut. Mo Tian melancarkan serangan: Cengkeraman Raja Iblis. Lu Chen mengerahkan seluruh potensinya: Tinju Tiga Alam: 100%.
BOOM! BOOM! BOOM!
Langit kahyangan robek, dan gumpalan awan terbelah dua akibat benturan kekuatan destruktif tersebut.
Pertempuran sengit berlangsung selama tiga puluh menit penuh. Lu Chen terluka parah di sekujur tubuhnya, namun ia menolak untuk jatuh.
"Kenapa... kenapa kau tidak mau tumbang?!" jerit Dewa Eksekusi frustrasi.
Lu Chen batuk memuntahkan darah segar. "Karena... di belakangku ada ibuku."
Ia menyatukan sisa Segel Penyelamat dengan kekuatan tiga jenis darah dan amarah mutlaknya.
JURUS BARU: TINJU PEMBEBASAN DUAR!
Satu pukulan telak menghantam Dewa Eksekusi dan Mo Tian hingga terpental menembus dinding tebing, membuat segel di tubuh mereka retak parah.
Lu Chen jatuh berlutut di depan pintu sel. "Bu..."
Shen Yue menangis tersedu-sedu di balik jeruji. "Anakku... cukup, kumohon..."
Lu Chen tersenyum hangat. "Belum."
Ia menghantamkan tinjunya ke pintu gerbang penjara. KRAAAAAK! Rantai besi putus, dan gerbang emas itu hancur berkeping-keping.
Reuni dan Pengorbanan
Lu Chen menerobos masuk dan mendekap tubuh ibunya erat-erat.
"Ibu... maafkan aku karena telat datang." Shen Yue mengelus lembut rambut putranya. "Nak... kau telah tumbuh menjadi pria yang hebat."
Tiba-tiba, alarm peringatan berbunyi nyaring ke seluruh penjuru langit. TONG! TONG! TONG!
Hilangnya kendali atas Penjara Langit memicu mekanisme penghancuran otomatis yang akan meruntuhkan seluruh dimensi kahyangan.
"Semua orang harus segera keluar dari sini!" teriak Xue Ling panik.
Namun Dewa Eksekusi bangkit kembali dengan sisa tenaganya, matanya memerah penuh dendam. "Jika aku harus mati, maka kalian semua harus ikut mati bersamaku!"
Ia merapalkan sihir untuk memicu ledakan self-destruct tingkat tinggi.
Lu Chen mendorong seluruh anggota timnya masuk ke dalam portal pelarian. "PERGI SEKARANG!"
"LU CHEN!" teriak mereka histeris menolak pergi.
Lu Chen menatap ibunya untuk terakhir kalinya. "Bu, tunggulah aku di Alam Fana. Hanya sepuluh menit."
Ia membalikkan badan, menyongsong Dewa Eksekusi yang bersiap meledakkan diri. Ia mencabut Segel Penyelamat dari dadanya, lalu melemparkannya tepat ke pusat sumber ledakan.
CAHAYA TIGA WARNA MEMBUNGKUS SELURUH RUANGAN.
BOOM!
Ledakan dahsyat itu berhasil diredam dari menghancurkan pasukannya, namun Lu Chen sendiri tertelan sepenuhnya oleh pendaran cahaya suci tersebut.
Epilog Arc 4
Sepuluh menit kemudian di daratan Alam Fana.
Portal dimensi terbuka. Seluruh anggota tim—Shen Yue, Xue Ling, Luna, Wolf, dan Lin Yue—berhasil keluar dengan selamat.
Namun Lu Chen tidak ada di antara mereka.
"ANAKKU!!!" jerit Shen Yue histeris.
Di langit atas yang mulai mereda, sebuah benda jatuh melayang perlahan ke bumi.
Itu adalah Segel Penyelamat yang kini telah retak seribu. Di dalam inti segel tersebut, bisikan suara terakhir Lu Chen terdengar lirih: “...Bu... aku sudah menepati janjiku... aku berhasil membawa Ibu pulang...”
KRAK! Segel itu pecah berkeping-keping dan lenyap dibawa angin.
Shen Yue jatuh bersimpuh di atas tanah, menangis kehilangan. "NAK...!"
Langit di atas kembali tenang. Namun di antara jutaan bintang yang ada, sebuah bintang baru yang sangat terang tampak bersinar paling benderang.
[Panel: Epilog Arc 4] LU CHEN: STATUS TIDAK DIKETAHUI MISI: MENYELAMATKAN 500 ORANG + IBU - BERHASIL WARISAN: ERA BARU TIGA ALAM RESMI DIMULAI
Shen Yue menggenggam sisa serpihan segel di tangannya erat-erat. "Aku akan mencari keberadaanmu... sampai ke ujung semesta sekali pun."
Xue Ling mengepalkan tinjunya mantap. "Kita akan membangun dunia yang baru... atas nama pengorbanannya."
Luna menatap bintang baru di langit. "Ia kini telah menjadi penjaga kita semua."