Indonesia
NovelToon NovelToon
Aku Belum Siap Pulang

Aku Belum Siap Pulang

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Cinta Seiring Waktu / Romansa Fantasi
Popularitas:230
Nilai: 5
Nama Author: DeeSCe

Rin Tachibana memilih menjadi hikikomori. ia mengurung diri berminggu-munggu di lantai atas rumah neneknya di Ishikawa. Ia muak dengan keluarganya yang terus memaksanya menikah.

Sang nenek yang sudah tidak tahan melihat tingkah cucunya akhirnya memilih berlibur tanpa sepengetahuan Rin & menyewakan rumah itu kepada Takumi Kurosawa, seorang arsitek sampai proyeknya selesai.

Masalahnya...
Takumi tidak tahu bahwa rumah yang ia sewa masih memiliki seorang penghuni. Dan Rin tidak tahu bahwa rumah neneknya sudah memiliki pemilik baru.

pertemuan awal mereka jauh dari romantis bahkan takumi kira rin ada setan penghuni rumah dan gadis itu mengira takumi adalah maling.

Dua orang dengan kehidupan yang bertolak belakang akhirnya terpaksa tinggal di bawah satu atap.

takumi yang membenci kekacauan dan terobsesi pada kebersihan

Dan Rin yang bahkan tidak peduli kamarnya berantakan atau tidak tahu cara menjaga rumah tetap rapi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DeeSCe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Jalan-jalan ke pantai

Pagi itu, aroma masakan mulai memenuhi lantai bawah rumah.

Takumi berdiri di dapur, sibuk menyiapkan sarapan. Tangannya bergerak tenang seperti biasa, sesekali membuka tutup panci untuk memeriksa masakannya. Baru saja ia hendak menyiapkan mangkuk ketika terdengar langkah kaki terburu-buru dari arah tangga.

Takumi menoleh. Rin turun dengan langkah cepat—rambutnya sudah diikat rapi, mengenakan pakaian santai yang cocok untuk bepergian, dan tas kecil sudah tersampir di bahunya. Gadis itu bahkan tidak berhenti di meja makan.

“Pagi, Takumi!”

Takumi mengernyit heran. “Pagi. Hei Kau mau ke mana?”

Rin meraih jaketnya. “Ke pantai.”

“Pantai?”

“Iya, aku sudah ada janji dengan Kiba.”

Tangan Takumi yang sedang memegang sendok seketika terhenti. “Kiba?”

Rin mengangguk seraya memasukkan beberapa barang ke dalam tas. “Katanya mau ke pantai pagi-pagi. Kami janjian di halte depan.”

Takumi melirik jam dinding. “Sekarang masih pagi sekali.”

“Makanya aku harus buru-buru,” sahut Rin berbalik menuju genkan.

Takumi menyusul beberapa langkah. “Tunggu.”

Gadis itu menoleh. “Apa?”

“Rin Jangan pergi.”

Rin mengerutkan dahi bingung. “Kenapa?”

“Sarapan belum selesai.”

“Aku bisa makan nanti.”

“Tidak. Tunggu saja sampai selesai.”

Rin menatap dapur sejenak sebelum kembali memandang Takumi. “Aku sudah janji sama Kiba.”

Takumi terdiam sebentar, lalu dengan nada yang terdengar sedikit kesal bersuara, “Kalau begitu jangan pergi. Aku sudah mengajakmu duluan.”

Rin tertegun, lalu menatap Takumi dengan raut datar. “Lah... tadi malam kan katanya batal.”

Takumi membisu seketika.

“Kamu sendiri yang bilang, 'Anggap aku tidak bilang apa-apa,' terus langsung masuk kamar,” lanjut Rin sambil memakai sepatunya.

Takumi membuka mulutnya, namun tak menemukan kata yang tepat. “Itu...”

“Sudah, ya,” Rin berdiri dan merapikan tali sepatunya. “Aku pergi dulu. Nanti kalau pulang aku bantu bersih-bersih.”

“Rin.”

“Hm apa lagi takumi..?”

“Jangan terlalu lama.”

Rin tersenyum kecil. “Kenapa? Takut rumah berantakan?”

Takumi menghela napas. “Bukan begitu.”

Rin tidak menunggu balasan berikutnya. “Dah!” Ia melambaikan tangan, membuka pintu, dan bergegas pergi.

Pintu tertutup rapat. Takumi berdiri mematung selama beberapa detik di tempatnya, Ia menghela napas panjang sebelum kembali melangkah ke dapur.

Namun saat melewati genkan, langkahnya terhenti oleh sepasang sandal rumah milik Rin yang tergeletak sembarangan. Takumi menatapnya lama.

“...Dasar.”

Ia membungkuk, mengambil kedua sandal itu, lalu menyusunnya rapi di sudutnya.

***

Diluar, Rin berlari kecil menuju halte di depan rumah. Napasnya masih sedikit terengah ketika melihat sosok yang sudah berdiri menunggunya di sana: Kiba.

Pria itu mengenakan celana pendek kargo hitam, kaus putih, topi hitam, serta ransel yang tersampir di punggung, lengkap dengan sandal jepit santainya. Begitu menyadari kehadiran Rin, Kiba melambaikan tangan dengan riang.

“Rin!”

Rin memperlambat langkah lalu berhenti di hadapan Kiba untuk mengatur napas. “Kamu... sudah lama?”

“Tidak, baru sebentar,” kekeh Kiba. “Hebat juga. Kukira aku bakal menunggumu lama.”

Rin tak menghiraukan godaan itu. Ia merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena berlari, lalu mengikatnya menjadi gaya *ponytail*. Poni dan beberapa anak rambutnya dibiarkan jatuh membingkai wajah secara alami.

Pagi itu, Rin mengenakan rok selutut bermodel santai yang dilengkapi celana pendek di dalamnya, kaus putih, sandal, serta *tote bag* di bahu.

Kiba memperhatikan penampilannya sejenak, lalu menunjuk pakaian mereka secara bergantian. “Tuh kan, baju kita sama-sama putih.”

Rin melirik kaus Kiba lalu melihat kausnya sendiri. “Apaan, sih...” gumamnya sambil menggeleng pelan.

Kiba malah tertawa geli.

Tak lama, deru mesin kendaraan terdengar dari kejauhan. Sebuah bus kota meluncur mendekat dari ujung jalan. Rin segera menoleh ke arah datangnya bus.

“Kita mau naik apa ke pantai?”

Kiba ikut menatap bus yang makin mendekat, lalu mengangkat bahu santai. “Aku tidak tahu.”

Rin menatapnya heran. “Kenapa?”

“Aku kan bukan orang sini,” sahut Kiba tanpa beban.

Rin seketika menepuk keningnya. “Ya ampun... Kirain kamu sudah cari tahu.” Kiba tertawa kecil. “Makanya kita cari tahu sambil jalan.”

Rin menggeleng pasrah. “Kalau begitu kita naik bus saja, ya. Itu sudah datang.”

“Okee.”

Bus berhenti tepat di hadapan halte, Rin dan Kiba bergegas naik dan Mereka duduk di bangku paling belakang. Rin kemudian bertanya kepada salah satu Penumpang mengenai pantai yang ingin mereka tuju.

“Apa pantainya jauh?”

“Tidak terlalu. Nanti ada halte di depan. Kalian turun di sana, lalu naik bus warna hijau.”

“Oh, baik. Terima kasih.”

Setelah penumpang itu kembali menghadap ke depan, Kiba membuka jendela di sampingnya. Angin pagi langsung menerpa wajah keduanya.

“Ahh... segar.” Rin mengangkat rambutnya yang tertiup angin. “Aku masih berkeringat karena tadi berlari ke halte.”

Kiba tertawa kecil. “Makanya jangan terlalu terburu-buru.”

Rin tidak menjawab. Matanya justru tertuju pada ransel besar yang dibawa Kiba. “Kau mau minggat?”

Kiba tertawa geli. “Ini perlengkapan kita selama di pantai.”

“Aku pikir kita cuma mau berjalan-jalan di pinggir pantai.”

“Aku sudah jauh-jauh ke Ishikawa. Kalau tidak menikmati pantai dengan maksimal, rasanya sia-sia, dong.”

Rin terkekeh. “Kamu memang aneh.”

Tak lama kemudian, penumpang yang tadi mereka tanyai menunjuk ke luar jendela. “Nona, itu haltenya.”

“Oh iya, terima kasih!”

Rin dan Kiba segera bersiap lalu turun dari bus. Tidak lama setelah mereka berdiri di halte, bus berwarna hijau pun datang.

“Itu busnya!” kata Rin.

Mereka berdua naik. Perjalanan berlangsung sekitar lima belas menit hingga perlahan aroma khas laut mulai tercium dari udara yang masuk melalui jendela.

Rin menoleh ke luar. Di kejauhan, hamparan pantai mulai terlihat jelas.

“Kiba, kita sudah dekat!”

Bus berhenti di halte berikutnya. Rin dan Kiba turun lalu menyusuri jalan setapak yang mengarah langsung ke pantai. Beberapa pengunjung sudah tampak meramaikan suasana. Setibanya di atas hamparan pasir, mereka berjalan mendekati bibir air.

Kiba menoleh. “Rin, buka sandalmu.”

Rin melihat ke bawah lalu mengangguk setuju. Mereka melepas sandal dan menikmati sensasi berjalan tanpa alas kaki di atas pasir yang hangat.

Sesampainya di area yang agak teduh, Kiba membuka ranselnya. Rin memperhatikan dengan penasaran saat Kiba mengeluarkan satu per satu barang dari dalam tas: bentangan karpet lipat, satu kotak bekal, dua kaleng minuman, kantong plastik misterius, *power bank*, *lotion*, tisu, hingga sebuah kipas angin portabel.

Rin mengernyit heran. “Buat apa kipas angin ini?”

“Untuk berjaga-jaga kalau dalam perjalanan kau kepanasan.”

Rin menunjuk dirinya sendiri. “Aku?”

“Iya, kau.” Kiba menepuk karpet yang sudah dibentangkannya. “Sudah, ayo kita makan.”

Kiba membuka kotak bekal yang berisi beberapa *onigiri* tersusun rapi. Mata Rin langsung berbinar.

“Wah... kau membuatnya sendiri, Kiba?”

“Iya. Kalau cuma ini sih semua orang juga pasti bisa membuatnya,” jawab Kiba seraya mengambil satu *onigiri*. “Kau pasti belum sarapan, kan?”

Rin mengangguk polos. “Iya, belum.”

“Makanya, ayo makan.”

Mereka duduk bersebelahan di atas karpet.

“Itadakimasu.”

Rin menggigit *onigiri* pemberian Kiba. Sambil memandang laut luas di hadapan mereka, ia tersenyum kecil. “Sarapan sambil melihat pantai begini... rasanya beda, ya.”

“Hei, lihat sini.”

“Hm?”

Begitu Rin menoleh, Kiba langsung mengarahkan kamera ponselnya.

*Cekrek!*

“Eh!”

Kiba melihat hasil fotonya puas. “Wah, bagus.”

Rin mengerutkan hidung. “Kau memotret tanpa bilang-bilang?”

“Sekarang kita foto berdua!” Kiba bergeser mendekat, mengangkat ponselnya, lalu mengambil beberapa potret kebersamaan mereka. “Ini akan kujadikan status.”

Suaranya terdengar bangga. Kiba lalu menoleh ke arah Rin. “Oh iya, Rin. Mau kirim foto kita ke ayahmu? Biar dia tahu kita sedang kencan!”

Rin terkekeh geli. “Kalau kukirim, Ayah pasti langsung menentukan tanggal pernikahan!”

Kiba tertawa. “Aku sih setuju saja.”

Rin menghentikan tawa kecilnya. “Kau mau?”

“Apa?”

“Menikah denganku.”

Rin menatapnya kaget, sementara Kiba masih tersenyum santai. “Kau siap menikah? Aku bersedia kalau kau siap.”

“Tidak, tidak. Jangan bercanda begitu, Kiba.” Rin segera bangkit dari karpet, menepuk-nepuk pasir yang menempel di kakinya, lalu berjalan menuju tepi pantai.

“Hei, aku tidak bercanda,” Kiba ikut berdiri dan menyusulnya. “Aku sudah cukup umur untuk menikah, tahu!”

Rin menggeleng-gelengkan kepala. “Aku tidak siap menikah.” Ia menatap hamparan laut di hadapannya. “Aku bahkan tidak kuliah. Aku juga tidak suka kalau hidupku nanti cuma di rumah, memasak, membersihkan rumah, lalu mengurus anak.”

Rin mengembuskan napas panjang. “Aku masih muda. Aku masih ingin bersenang-senang!”

Kiba terdiam sejenak. Ia sedikit terkejut mendengar jawaban terus terang Rin, tetapi berusaha menanggapinya dengan santai. “Kalau begitu, di umur berapa kau mau menikah?”

Rin berpikir sejenak. “Hmm... mungkin dua puluh tujuh atau dua puluh delapan.”

Kiba langsung menghitung dalam hati. “Hah? Berarti umurku sudah empat puluh!”

Rin terkekeh mendengarnya. “Makanya, cari jodoh yang lain!”

Kiba menyipitkan mata jahil. “Tapi aku maunya kamuuuuu!”

“Hah?”

Kiba tiba-tiba menarik ikat rambut Rin dari belakang lalu berjalan mundur sambil tertawa lepas.

“Hei! Ikat rambutku!”

Kiba mulai bergerak lebih cepat. “Ayo ambil! Kamu pasti tidak bisa mengejarku!”

“Heii, Kibaaa!” Rin membelalak kaget.

Kiba berlari semakin cepat, sementara Rin langsung berhamburan mengejarnya di atas pasir. “Kembalikan ikat rambutkuuu!”

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!