Hampa, itulah yang dirasakan Tristan dengan rumah tangganya. Sampai suatu hari, dia kedatangan sekretaris baru yang cantik jelita. Saat itulah tiang kesetiaan Tristan goyah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Desau, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 17 - Saling Memikirkan
Nayla masih berdiri terpaku ketika pandangannya kembali tertuju pada wanita yang berdiri di samping Tristan. Semakin lama dia memperhatikan, semakin jelas wajah itu terlihat.
Olivia, nama itu seketika bergaung di dalam kepalanya.
Nayla mengenal wanita tersebut. Bukan sekadar mengenal, tetapi sangat mengenalnya.
Mereka pernah bersekolah di tempat yang sama. Bahkan dahulu, Olivia merupakan salah satu orang yang cukup dekat dengannya. Namun itu adalah cerita lama yang sudah bertahun-tahun Nayla kubur dalam-dalam.
Raut wajah Nayla berubah. Senyum yang sebelumnya menghiasi bibirnya perlahan menghilang.
Nayla menatap Olivia dari kejauhan. Wanita itu terlihat begitu anggun dalam balutan gaun mahal, tersenyum ramah kepada para tamu dan berdiri dengan percaya diri di samping Tristan.
Nayla masih sulit mempercayainya. Tristan menikah dengan Olivia? Dari semua perempuan yang ada di dunia ini, kenapa justru dia?
Ada begitu banyak hal yang ingin ditanyakan Nayla kepada dirinya sendiri. Namun tidak satu pun pertanyaan itu sanggup dia keluarkan.
Bagas yang berdiri di sampingnya menyadari perubahan ekspresi Nayla.
"Nay?"
Nayla tersentak kecil. "Hm?"
"Kau kenal mereka?"
Nayla tidak langsung menjawab.
Bagas memperhatikan pasangan tersebut. Tatapannya kemudian berhenti pada Olivia. Beberapa detik kemudian, matanya membesar.
"Eh..." Dia baru menyadarinya.
"Itu Olivia, kan?"
Nayla mengangguk pelan.
"Teman kita waktu SMA?"
"Iya."
Bagas tersenyum. "Astaga, kebetulan banget. Sudah lama aku enggak bertemu dia." Dia hendak mengajak Nayla mendekat. "Ayo kita sapa."
Namun Nayla langsung memegang lengannya. "Jangan!"
Bagas berhenti. "Kenapa?"
"Aku ingin pulang."
"Baru juga datang."
"Aku tahu. Kita salaman ke pengantin, terus pulang." Nayla berusaha tersenyum, tetapi senyum itu terlihat dipaksakan. "Aku tiba-tiba capek."
Bagas mengamati wajahnya beberapa saat. Dia tahu Nayla sedang menyembunyikan sesuatu, tetapi tidak ingin memaksanya.
"Baiklah kalau begitu."
Nayla mengangguk lega. Mereka kemudian menemui pengantin dan meninggalkan area pesta.
Namun sebelum benar-benar keluar, Nayla sempat menoleh sekali lagi. Tatapannya bertemu dengan Tristan.
Pria itu baru saja melihatnya. Tristan yang sebelumnya sedang berbicara dengan salah seorang tamu mendadak terdiam. Matanya langsung tertuju kepada Nayla. Jantungnya seolah berhenti sesaat. Dia tidak menyangka akan melihat sekretarisnya di tempat tersebut.
Namun bukan kehadiran Nayla seorang yang membuat Tristan terpaku. Ada seorang lelaki di sampingnya. Bagas berdiri begitu dekat dengan Nayla. Bahkan tangan mereka saling berpegangan ketika berjalan meninggalkan ruangan.
Seketika sesuatu terasa mengganggu dada Tristan. Siapa pria itu? Kenapa mereka terlihat begitu dekat?
Tristan tanpa sadar mengeraskan rahangnya. Perasaan tidak nyaman muncul begitu saja. Ada rasa kesal yang sulit dia jelaskan. Padahal Nayla bukan siapa-siapa baginya. Dia hanyalah sekretarisnya. Seharusnya Tristan tidak memiliki alasan untuk merasa terganggu. Namun tetap saja, matanya mengikuti kepergian Nayla sampai perempuan itu benar-benar menghilang dari pandangannya.
"Tristan?"
Suara Olivia membuatnya tersadar.
"Hm?"
"Kau sedang melihat apa?"
Tristan segera mengalihkan pandangan. "Tidak ada."
Olivia mengikuti arah pandangannya tadi, tetapi tidak melihat sesuatu yang mencurigakan.
"Kalau begitu, ayo. Kita masih harus menyapa beberapa tamu."
Tristan mengangguk. Namun sepanjang sisa acara, pikirannya tidak benar-benar berada di sana.
...***...
Di dalam mobil, Nayla duduk diam di kursi penumpang. Bagas yang menyetir sesekali melirik ke arahnya. Beberapa menit berlalu sebelum akhirnya dia bertanya.
"Nay."
"Ya?"
"Kenapa tadi kau tidak mau menyapa Olivia? "Padahal dulu kalian dekat."
Nayla tersenyum tipis. "Dulu."
Bagas mengangguk pelan. "Memangnya ada masalah?"
"Tidak ada."
Jawaban itu terlalu cepat. Bagas tahu Nayla sedang berbohong, tetapi dia memilih tidak mendesaknya.
"Kalau suatu hari kau mau cerita, aku akan dengarkan."
Nayla menoleh.
Bagas tersenyum kecil sambil tetap fokus menyetir. "Kau tahu aku, kan?"
Nayla terdiam. Kemudian dia tersenyum. "Terima kasih."
"Aku cuma enggak mau kau menyimpan masalah sendirian."
Nayla menatap jalan di depan. Ada banyak hal yang ingin dia ceritakan. Namun tidak sekarang. Bukan kepada Bagas. Bahkan mungkin tidak kepada siapa pun.
Masa lalu itu sudah terlalu lama dia simpan. Nayla tidak ingin membukanya kembali hanya karena secara tidak sengaja bertemu Olivia. Akan tetapi, satu pikiran muncul di dalam hatinya.
Tristan adalah suami Olivia. Pria yang selama ini tidak pernah dia sangka akan masuk ke dalam hidupnya. Kini hubungan rumit itu terasa semakin sulit dihindari.
Nayla memejamkan mata sejenak. Dia tidak ingin melakukan sesuatu yang akan menyakiti siapa pun. Namun jauh di sudut hatinya, ada bagian kecil yang mulai bertanya-tanya. Haruskah dia memanfaatkan kesempatan untuk membalas Olivia?
Sementara itu, perjalanan Tristan pulang terasa jauh lebih panjang dari biasanya. Dia menyetir dalam diam. Olivia yang duduk di sampingnya beberapa kali mencoba mengajaknya berbicara.
"Besok aku mau pergi ke butik."
Tidak ada jawaban.
"Tristan?"
"Hm?"
"Kau dengar?"
"Iya."
"Aku bilang besok aku mau ke butik bersama beberapa teman."
"Bagus deh."
Olivia mengerutkan kening.
"Kau bahkan tidak tahu aku bicara apa."
Tristan tetap menatap jalan.
"Aku dengar kok."
"Tidak. Kau tidak dengar." Olivia mulai kesal. "Sejak tadi pikiranmu ke mana-mana."
Tristan mengembuskan napas. "Aku sedang lelah."
"Lelah?" Olivia tertawa pendek. "Kita baru saja pulang dari pesta, bukan bekerja seharian."
Tristan tidak menjawab. Bayangan Nayla kembali muncul di kepalanya. Senyum perempuan itu dan lelaki yang berjalan bersamanya. Entah mengapa, Tristan tidak menyukai pemandangan tersebut. Dia bahkan tidak tahu kenapa pertanyaan itu terus muncul.
"Tristan!"
Suara Olivia kembali terdengar.
Tristan tersadar. "Apa?"
"Aku sedang bicara denganmu!"
"Aku sudah bilang aku sedang lelah."
"Aku tahu kau lelah. Tapi kau bahkan tidak mendengarkan istrimu sendiri!"
Nada suara Olivia meninggi.
Tristan menghela napas. "Jangan mulai lagi."
"Justru kau yang mulai!"
Olivia menyilangkan tangan di depan dada.
"Sejak beberapa waktu terakhir, kau semakin sering melamun. Bahkan ketika aku mengajakmu berbicara, pikiranmu entah ada di mana. Itulah yang membuatku malas ada di rumah. Kau selalu mengabaikanku. Sibuk inilah, sibuk itulah!"
Tristan mengeratkan tangannya pada kemudi. "Aku sedang banyak pekerjaan."
"Sok sibuk!"
Tristan menoleh sekilas. "Apa maksudmu?"
"Kau pikir aku tidak tahu?"
"Apa yang kau tahu?"
Olivia terdiam sejenak. Tatapannya tajam.b"Aku tahu ada sesuatu yang mengganggu pikiranmu."
Tristan tidak menjawab.
"Apakah ada perempuan lain?"
Pertanyaan itu membuat suasana di dalam mobil mendadak hening.
Tristan kembali menatap jalan. "Tidak." Jawabannya terdengar tegas.
Olivia memperhatikannya. "Kenapa aku merasa kau berbohong?"
"Aku tidak berbohong."
"Lalu kenapa kau terlihat seperti orang yang pikirannya tertinggal di tempat lain?"
Tristan tidak menjawab. Di kepalanya, wajah Nayla kembali muncul. Dia membenci kenyataan bahwa perempuan itu semakin sering muncul dalam pikirannya. Namun lebih dari itu, dia membenci dirinya sendiri karena merasa terganggu melihat Nayla bersama lelaki lain.
"Aku cuma sedang banyak pikiran," jawab Tristan akhirnya.
Olivia mendengus. "Kalau begitu, jangan membuatku merasa seperti tidak dianggap."
Tristan menghela napas. "Aku tidak bermaksud begitu."
"Tapi itulah yang kau lakukan!"
Pertengkaran kecil itu kembali mengisi perjalanan mereka. Sementara mobil terus melaju menuju rumah, Tristan menyadari satu hal yang membuatnya semakin tidak nyaman. Bukan hanya pertemuan dengan Nayla yang mengganggu pikirannya. Melainkan kenyataan bahwa untuk pertama kalinya, dia merasa cemburu terhadap seseorang yang bahkan tidak memiliki hubungan apa pun dengannya.