Impian Puja untuk melangkah ke bangku kuliah dan menjadi seorang psikolog seketika sirna tepat di hari kelulusannya. Tanpa persetujuannya, Abi memintanya menikah dengan Ustadz Jeffry, putra dari sahabatnya, Kyai Ali. Tekanan kian berat ketika Umi Mina, ibu tirinya, terus mendesak Puja demi hadiah yang dijanjikan keluarga Kyai Ali, memanfaatkan kepatuhan mutlak Abi terhadap setiap kata-katanya.
Di sisi lain, Ustadz Jeffry memegang teguh prinsip berbakti dan memilih patuh pada keinginan orang tuanya untuk menyegerakan pernikahan. Ketika dua insan dengan rasa yang bertolak belakang ini disatukan—Puja yang terpaksa melipat mimpinya dan Jeffry yang pasrah pada titah sang ayah—pernikahan tersebut menjadi awal dari pergolakan batin dan kepasrahan atas takdir yang tak pernah Puja inginkan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my name si phoo, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32
Bau khas antiseptik dan obat-obatan langsung menyambut kedatangan mereka begitu ambulans tiba di IGD rumah sakit terdekat.
Petugas medis dengan sigap mendorong brankar Puja menuju ruang bedah darurat, sementara Jeffry terus berlari di sampingnya, tak sedetik pun melepaskan genggaman tangannya dari jemari sang istri yang semakin dingin.
Langkah Jeffry terpaksa terhenti tepat di ambang pintu sterilisasi ruang operasi.
Seorang perawat dengan cepat menghalanginya masuk, menyodorkan sebuah papan clipboard berisi dokumen persetujuan medis.
"Keluarga pasien? Silakan tandatangani surat pernyataan tindakan operasi darurat ini sekarang juga, Pak. Kondisi pasien sangat kritis," ujar perawat itu dengan nada tegas namun penuh desakan waktu.
Tanpa membaca dua kali, tangan Jeffry yang berlumuran darah Puja langsung menyambar pulpen.
Dengan napas memburu, air mata yang terus menetes, dan tangan yang bergetar hebat, ia membubuhkan tanda tangannya di atas kertas tersebut, menyerahkan seluruh harapan keselamatan istrinya ke tangan tim dokter bedah.
"Selamatkan istri saya, Dok. Tolong selamatkan dia," ucap Jeffry hancur.
Sebelum pintu besar ruang operasi akhirnya tertutup rapat, menyisakan lampu tanda OPERASI SEDANG BERLANGSUNG yang menyala merah terang.
Jeffry berbalik dengan langkah gontai menuju area tunggu.
Di sana, para sahabat Puja—Dewi, Yuana, Sulfi, Ratna, dan Dwi—sudah menunggu dengan wajah pucat pasi dan mata sembab.
Begitu melihat Jeffry datang dengan pakaian yang ternoda darah Puja, tangis histeris kembali pecah di antara mereka.
Yuana dan Dewi langsung terduduk lemas, saling merangkul untuk saling menguatkan di atas kursi tunggu rumah sakit.
Andy yang menyusul di belakang berusaha merangkul pundak Jeffry yang tampak hancur lebur.
Mereka semua duduk dalam kesunyian yang mencekam, diselimuti rasa cemas yang teramat sangat, memanjatkan doa tiada henti demi keselamatan Puja yang kini tengah berjuang antara hidup dan mati di dalam sana.
Di tengah keheningan ruang tunggu yang dipenuhi doa dan isak tangis, langkah kaki tegas beberapa orang aparat kepolisian memecah suasana.
Dua orang petugas berseragam datang menghampiri area tempat Jeffry dan Andy duduk bersama para sahabat Puja.
Salah seorang perwira polisi yang memimpin pengamanan berdiri tegak di hadapan Jeffry, lalu menyampaikan laporan resmi dengan nada serius.
"Maaf mengganggu waktunya, Bapak Jeffry dan rekan-rekan. Kami ingin memberikan informasi terkait perkembangan pelaku," ujar petugas tersebut membuka pembicaraan.
Mendengar kata "pelaku", tatapan Jeffry terangkat. Sorot matanya yang tadinya kosong kini memancarkan kilatan kemarahan yang tertahan, mengingat perempuan gila itulah yang membuat istrinya kini berjuang antara hidup dan mati di ruang operasi.
Petugas kepolisian itu melanjutkan penjelasannya.
"Setelah siuman dari pingsannya di lokasi tadi, Ningrum menunjukkan gejala histeria yang luar biasa parah, meronta-ronta, dan berhalusinasi semakin liar hingga membahayakan petugas maupun dirinya sendiri. Berdasarkan hasil observasi awal dari tim medis kepolisian dan psikiater forensik, kondisi kejiwaannya dinyatakan sudah runtuh total."
Petugas tersebut menarik napas sejenak sebelum mengakhiri laporannya.
"Oleh karena itu, sesuai dengan prosedur hukum dan rekomendasi medis darurat, saat ini Ningrum telah resmi kami evakuasi dan dipindahkan langsung ke bawah pengawasan ketat di rumah sakit jiwa daerah untuk menjalani isolasi dan penanganan psikiatri intensif."
Mendengar kabar tersebut, tidak ada raut lega yang terpancar di wajah Jeffry maupun Andy.
Pemindahan Ningrum ke rumah sakit jiwa sama sekali tidak menghapus rasa sakit dan kecemasan yang tengah mereka rasakan di luar ruang bedah.
Bagi Jeffry, hukuman penjara biasa mungkin terlalu ringan untuk kejahatan mengerikan yang dilakukan Ningrum, namun tempat tertutup di balik tembok rumah sakit jiwa adalah akhir yang pas bagi seseorang yang otaknya telah sepenuhnya dikuasai oleh kegilaan dan obsesi mematikan.
"Terima kasih, Pak," jawab Jeffry dengan suara serak, mengalihkan kembali pandangannya ke arah pintu ruang operasi yang masih menyala merah.
"Yang terpenting saat ini, pastikan dia tidak bisa lagi keluar atau mendekati istri saya."
Petugas polisi itu mengangguk hormat, lalu berpamitan untuk berjaga di sekitar area rumah sakit guna memastikan keamanan tetap terkendali.
Jeffry kembali tertunduk dalam penantian yang menyiksa, sementara para sahabat Puja terus merapal doa terbaik, berharap keajaiban datang menyelamatkan nyawa Puja dari ujung tanduk.
Suasana di depan ruang operasi yang sudah tegang tiba-tiba semakin mencekam ketika pintu steril terbuka setengah.
Seorang perawat wanita keluar dengan langkah tergesa-gesa, membawa papan rekam medis dengan wajah yang tampak panik.
"Keluarga pasien atas nama Puja?" panggil perawat itu dengan suara lantang.
Jeffry langsung bangkit dari kursinya dengan gerakan kilat, disusul oleh Andy dan para sahabat Puja yang langsung mendekat.
"Saya suaminya, Sus! Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Jeffry penuh kecemasan, napasnya memburu.
Perawat itu menggeleng cepat dengan ekspresi penuh urgensi.
"Kondisi Bu Puja sangat kritis, Pak. Beliau kehilangan banyak darah akibat luka tusukan yang cukup dalam dan mengenai organ di sekitar perutnya. Saat ini tim dokter sedang berusaha menghentikan pendarahan di dalam."
Perawat tersebut menarik napas berat sebelum menyampaikan kendala terbesar mereka saat ini.
"Masalahnya, stok darah golongan O+ di bank darah rumah sakit sedang kosong total, sementara pasien membutuhkan transfusi darah secepatnya untuk menggantikan darah yang hilang sebelum operasi dilanjutkan lebih jauh."
Mendengar kata-kata itu, darah Jeffry seolah berdesir hebat.
Tanpa ragu sedetik pun, pria itu maju setengah langkah, menatap lurus mata sang perawat.
"Ambil darah saya, Sus!" ucap Jeffry tegas, tanpa keraguan sedikit pun di suaranya.
"Saya juga bergolongan darah O+. Tolong, ambil darah saya sekarang juga buat Puja!"
Para sahabat Puja dan Andy yang mendengarnya langsung tertegun.
Dewi dan Yuana bahkan menutup mulut mereka dengan tangan, terharu melihat pengorbanan besar yang ditunjukkan oleh Jeffry di tengah keputusasaan ini.
Perawat itu menatap Jeffry sejenak, lalu mengangguk cepat.
"Baik, Pak! Kalau begitu, ikuti saya sekarang ke ruang pemeriksaan cepat untuk uji silang darah (crossmatch) dan pengambilan sampel. Waktu kita tidak banyak!"
Jeffry menoleh sekilas ke arah Andy dan para sahabat istrinya.
"Tolong jaga Puja sebentar," bisiknya penuh harap, sebelum akhirnya bergegas mengikuti langkah perawat menuju ruang medis darurat, mempertaruhkan apa pun—bahkan tetes darah terakhirnya—demi menyelamatkan nyawa istri tercinta.
Di dalam ruangan medis yang tenang dan berbau antiseptik, Jeffry duduk tegak di atas kursi pemeriksaan.
Jarum infus berukuran besar telah disiapkan oleh tenaga medis di sisi lengannya, siap mengambil alih tugas menyalurkan kehidupan dari tubuhnya ke tubuh sang istri.
Seorang dokter muda menghampirinya untuk memastikan kondisi fisik Jeffry sebelum proses donor darurat dilakukan.
"Hasil crossmatch sudah keluar, Pak Jeffry. Golongan darah Anda cocok dan memenuhi syarat untuk transfusi langsung. Tapi kami harus ingatkan, Anda baru saja mengalami syok fisik, kelelahan ekstrem, dan efek sisa bius dari insiden tadi pagi. Apakah Anda yakin tubuh Anda sanggup?" tanya dokter tersebut dengan nada ragu.
Jeffry menatap lurus mata sang dokter tanpa keraguan sedikit pun.
Bayangan wajah Puja yang pucat pasi dan bersimbah darah di lantai vila tua langsung berkelebat di benaknya, menghapuskan segala rasa lelah di tubuhnya.
"Lakukan saja, Dok," jawab Jeffry tegas, suaranya serak namun penuh tekad mutlak.
"Nyawa istri saya lebih penting dari segalanya. Ambil sebanyak yang dia butuhkan."
Dokter mengangguk takzim melihat ketulusan dan pengorbanan luar biasa dari suami pasien tersebut. Ia lantas memberi aba-aba pada perawat untuk memulai proses pengambilan darah.
Jaruman steril menembus kulit lengan Jeffry. Perlahan namun pasti, darah segar mengalir melalui selang transparan—membawa serta sisa-sisa tenaga, harapan, dan cinta yang mendalam dari Jeffry, dialirkan khusus untuk berjuang bersama Puja yang tengah sekarat di ruang operasi utama.
Di kursi itu, Jeffry memejamkan mata rapat-rapat. Dalam hati, ia terus memanjatkan doa, menggenggam erat tangan kirinya sendiri, berjanji bahwa ia tidak akan membiarkan Puja pergi sendirian.
Kombinasi dari kelelahan ekstrem, sisa-sisa efek cairan bius yang belum sepenuhnya hilang dari tubuhnya, ditambah proses donor darah darurat yang cukup banyak dalam waktu singkat, akhirnya meruntuhkan seluruh pertahanan fisik Jeffry.
Pandangan di sekitarnya seketika menggelap. Belum sempat jarum pencabut darah diamankan sepenuhnya, tubuh Jeffry yang duduk di kursi pemeriksaan mendadak terkulai lemas. Ia kehilangan kesadaran seketika.
"Dok! Pendonornya pingsan!" seru seorang perawat panik sambil sigap menahan tubuh Jeffry agar tidak terjatuh dari kursi.
Di saat yang bersamaan, perawat kedua yang bertugas membawa kantong darah segar hasil dari tubuh Jeffry tidak menyia-nyiakan detik pun.
Dengan langkah tergesa-gesa, ia membawa kantong darah bergolongan O+ itu keluar ruangan, berlari cepat menuju ruang operasi utama tempat tim dokter bedah sudah menanti demi menyelamatkan nyawa Puja.
Kembali di ruang pemeriksaan, suasana menjadi cukup sibuk. Dokter dan perawat yang tersisa langsung membaringkan tubuh Jeffry dengan posisi kaki sedikit lebih tinggi untuk mengembalikan aliran darah ke otaknya, serta memasang bantuan oksigen ringan agar pernapasannya kembali stabil.
Seorang perawat wanita dengan setia mendampingi dan memantau kondisi Jeffry yang terbaring tak berdaya di atas brankar medis, memastikan pria itu segera mendapatkan pemulihan sementara tim medis lain berjuang habis-habisan di ruang operasi sebelah.