Gibran Dirgantara, seorang pemuda desa yang berniat mengadu nasib di ibu kota, harus menelan kenyataan pahit saat dicampakkan dan dihina habis-habisan oleh mantan pacarnya, Siska, bersama kekasih konglomeratnya yang arogan. Namun, saat harga dirinya diinjak-injak di tengah kerasnya persaingan pusat pelelangan batu giok, Gibran secara ajaib membangkitkan entitas misterius bernama "Sistem Mata Sakti Raja Giok" yang menyatu langsung dengan saraf penglihatannya. Berbekal mata dewa yang kini mampu menembus lapisan batu kotor untuk melihat energi murni di dalamnya, Gibran memulai jalan balas dendam yang elegan untuk meremukkan kesombongan mereka yang meremehkannya, memborong batu-batu bernilai triliunan dari tumpukan sampah, dan merangsek naik menjadi master giok nomor satu yang paling ditakuti di dunia modern.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13
Truk kargo putih itu melaju perlahan menuruni jalur melingkar menuju ruang bawah tanah rahasia Gedung Larasati. Suara deru mesin bergema memantul di dinding beton tebal yang dijaga ketat oleh puluhan pria berjas hitam.
Ciiit.
Truk berhenti tepat di tengah ruangan garasi VIP yang lantainya terbuat dari marmer hitam mengkilap. Gibran melompat turun dari kursi penumpang dengan wajah santai tanpa mempedulikan tatapan tajam para penjaga.
Di depan sebuah pintu baja besar, Aurel Larasati berdiri bersedekap dada dengan gaun kerja merah marun yang sangat elegan. Di belakang wanita itu, berdiri tiga orang pria tua berkacamata tebal yang mengenakan jas laboratorium putih bersih.
"Kau benar-benar membawa truk kotor ini masuk ke garasi pribadiku, Gibran," sapa Aurel dengan nada datar namun menuntut.
Gibran hanya tersenyum tipis dan memberi isyarat kepada sopir truk untuk membuka pintu belakang.
Brak.
Pintu bak truk terbuka lebar memperlihatkan satu karung kotor dan sebongkah batu abu-abu jelek berukuran raksasa. Aurel mengerutkan keningnya hingga alis indahnya bertaut melihat pemandangan menyedihkan di dalam truk tersebut.
"Itu batu yang kau banggakan dan kau janjikan akan mempermalukan master giok Keluarga Mahendra?" tanya Aurel dengan nada sedikit kecewa.
Tiga pria tua di belakang Aurel serempak melangkah maju dan menempelkan wajah mereka ke dekat bak truk. Mereka mengeluarkan senter kecil dan kaca pembesar untuk mengamati permukaan batu abu-abu tersebut.
Hanya dalam waktu lima detik, ketiga pria tua itu langsung tertawa terbahak-bahak secara bersamaan.
Hahahaha.
"Nona Aurel, pemuda ini pasti sedang bercanda atau dia memang tidak tahu apa-apa soal batu giok," ucap salah satu pria tua yang paling senior.
Pria tua dengan papan nama Master Zainal di dadanya itu menunjuk batu Gibran dengan tongkat penunjuknya.
"Itu hanyalah batu andesit sungai biasa yang sering dipakai kuli bangunan untuk membuat fondasi jembatan desa," jelas Master Zainal merendahkan.
"Memotong batu sampah ini di mesin VIP kita hanya akan membuang-buang listrik dan menumpulkan mata pisau berlian kita yang mahal," tambahnya dengan tawa mengejek.
Gibran sama sekali tidak marah atau tersinggung mendengar hinaan dari ahli giok senior tersebut. Ia justru memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan berjalan santai mendekati Master Zainal.
"Penglihatan Master Tua ini memang sangat tajam untuk mengenali batu fondasi jembatan."
"Tapi sayang sekali penglihatanmu terlalu dangkal untuk melihat apa yang disembunyikan oleh alam di dalam perut batu jembatan ini," balas Gibran dengan nada menekan yang sangat dominan.
Wajah Master Zainal langsung memerah padam karena merasa diremehkan oleh pemuda bau kencur yang tidak punya sertifikat ahli.
"Jaga ucapanmu anak muda! Aku sudah membelah puluhan ribu batu giok sejak kau masih minum susu dari botol!" bentak Master Zainal tidak terima.
Aurel mengangkat tangan kanannya ke udara memberikan isyarat mutlak untuk menghentikan perdebatan konyol itu. Suasana garasi bawah tanah mendadak hening seketika.
"Bawa batu jelek itu ke dalam ruang pemotongan utama sekarang juga."
"Kita akan buktikan omongan besar siapa yang akan menjadi kenyataan hari ini," perintah Aurel dengan suara sedingin es yang tidak bisa dibantah.
Beberapa pengawal bertubuh kekar segera mengangkat batu raksasa itu menggunakan alat angkat hidrolik kecil. Mereka memindahkannya ke dalam sebuah ruangan steril berlapis kaca tebal yang ditengahnya terdapat mesin pemotong laser dan berlian terbaru.
Gibran berjalan masuk mengikuti batu tersebut disusul oleh Aurel dan ketiga ahli giok yang masih terus mendengus kesal. Ruangan itu sangat dingin dan terang benderang seperti ruang operasi rumah sakit elit.
"Taruh batunya di tengah, dan biar aku sendiri yang mengatur posisi pemotongannya," instruksi Gibran kepada para petugas.
Gibran menyentuh permukaan batu kotor itu sejenak. Ia memastikan kembali posisi cahaya putih kebiruan dari sistemnya agar mata pisau tidak merusak bagian inti gioknya sedikit pun.
"Kupas bagian atasnya setebal lima sentimeter rata dari ujung kiri ke kanan," perintah Gibran sambil mundur perlahan menyejajarkan posisinya di samping Aurel.
Master Zainal menyilangkan tangannya di dada dengan senyum meremehkan yang tidak ditutup-tutupi sama sekali.
"Bahkan gayanya memberi instruksi sudah seperti master legendaris saja."
"Nona Aurel, bersiaplah melihat tumpukan pasir kapur yang akan mengotori mesin kesayangan Anda ini," bisik Master Zainal menyindir.
Aurel tidak menjawab bisikan itu dan hanya menatap lekat-lekat ke arah wajah Gibran dari samping. Wanita itu mencari sedikit saja tanda keraguan atau kepanikan di mata Gibran, namun ia hanya menemukan ketenangan absolut seperti air danau yang dalam.
Petugas mesin pemotong mulai menekan tombol panel kontrol dengan wajah ragu-ragu.
Ngiiiiing.
Suara putaran mesin pisau berlian terdengar sangat nyaring menyayat udara di dalam ruangan kedap suara tersebut. Pisau bundar raksasa itu perlahan turun menyentuh bagian atas permukaan batu abu-abu Gibran.
Bzzzt.
Crak crak crak.
Bunga api kecil memercik liar di udara diiringi kepulan debu batu tebal yang beterbangan menutupi pandangan semua orang. Proses pemotongan lima sentimeter itu memakan waktu hampir dua menit penuh karena batu luar itu memang sangat keras.
"Sudah terpotong Tuan, ini murni hanya lapisan batu kali biasa," ucap petugas itu dari balik masker debunya.
Gibran tidak memedulikan laporan pandangan mata kosong dari petugas tersebut.
"Siram dengan air bertekanan tinggi sekarang," perintah Gibran tenang.
Petugas itu mengambil selang air khusus dan menyemprotkannya ke atas permukaan batu yang baru saja terbelah.
Byurrr.
Debu tebal sisa potongan dan sisa lumpur sungai langsung luruh terbawa arus air jatuh ke selokan pembuangan di bawah mesin. Begitu lapisan debu itu bersih sempurna, keajaiban yang tertidur selama seribu tahun akhirnya terbangun menyapa dunia modern.
Sring.
Sebuah pendaran cahaya putih kebiruan yang sangat terang dan sangat suci meledak keluar dari dalam celah sayatan batu tersebut. Cahaya itu begitu memikat dan murni hingga membuat ruangan operasi yang terang benderang itu seolah meredup kalah saing.
"A-apa itu? Cahaya apa itu yang menyilaukan mataku?!" teriak Master Zainal dengan suara bergetar panik.