"Darah yang menetes malam ini adalah saksi... bahwa Daren yang lemah telah mati."
Di balik kemegahan Kota Atlas yang berkilau, hidup Daren—seorang remaja yatim piatu yang nasibnya lebih buruk dari seekor anjing jalanan. Diadopsi sejak usia lima tahun oleh pasangan kaya raya, Deni dan Tia, Daren mengira dirinya telah menemukan sebuah keluarga. Namun, harapan kepolosannya dihancurkan oleh realita yang kejam.
Selama sepuluh tahun, rumah megah itu berubah menjadi neraka. Daren dijadikan babu tanpa upah, dihina, dan disiksa secara fisik maupun mental. Bahkan ketika tubuhnya digerogoti demam tinggi, sabetan gesper dan cambukan sapu tetap menjadi makanan sehari-harinya. Puncaknya, tuduhan palsu dari Dion—anak kandung mereka—membuat Daren disiksa hingga nyaris kehilangan nyawa hanya karena vas bunga yang pecah.
Malam itu, di bawah guyuran hujan deras Kota Atlas, Daren memilih kabur. Dia meninggalkan darahnya di lantai marmer dan bersumpah tidak akan pernah menjadi korban lagi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon D'syam, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Penyiksaan 1
Suara raungan mesin motor sport kustom bervolume tinggi membelah kesunyian kawasan perumahan elit Kota Atlas. Bodi motor yang dilapisi warna hitam pekat tanpa pantulan cahaya itu meluncur anggun, lalu melambat saat mendekati sebuah gerbang besi tinggi berukir rumit.
Daren menghentikan kendaraannya tepat di depan gerbang. Dia mematikan mesin. Jaket kulit hitam tebal yang membalut tubuh atletisnya berdesir tipis diterpa angin malam. Daren melepas helm full-face-nya, menaruhnya di atas tangki motor, lalu menengadah menatap kediaman mewah keluarga Deni.
Rumah itu masih sama. Bangunan tiga lantai bermodel modern dengan pilar-pilar besar dan lampu-lampu taman yang mahal. Tempat yang sepuluh tahun lalu menjadi neraka, tempat di mana darah dan air matanya diperas tanpa sisa, serta tempat di mana dia dikurung di dalam gudang sempit di bawah tangga.
Namun, suasana rumah malam ini tampak gelap dan lengang. Tidak ada kendaraan yang terparkir di garasi depan, dan lampu ruang tengah terlihat mati dari luar.
Daren melangkah turun dari motornya. Tato kanji vertikal berwarna merah pekat di leher kanan bertuliskan Akuma no Urami memancarkan kesan dingin dan berbahaya di bawah pendar lampu jalanan. Daren tidak memanjat pagar besi seperti yang dilakukannya enam tahun lalu saat kabur dalam keadaan sekarat.
SSET!
Daren menarik belati taktis titanium dari balik pinggangnya. Dengan satu gerakan santai namun bertenaga, dia menyisipkan ujung bilah belatinya ke dalam selot pengunci gerbang otomatis, memutarnya keras hingga mekanisme rantai besi di dalamnya putus berderit.
KREEEKK...
Pintu gerbang besi yang berat itu bergeser terbuka. Daren melangkah masuk ke halaman rumput yang tertata rapi, menyusuri jalan setapak menuju pintu depan berbahan kayu jati tebal. Tanpa membuang waktu untuk membobol kunci yang rumit, Daren menaikkan kaki kerjanya dan menghantamkan telapak sepatunya tepat di samping kenop pintu.
DUAAGGH!
Hantaman tunggal berdaya ledak tinggi dari otot paha Daren menghancurkan engsel baja pintu tersebut. Pintu kayu mahal itu terdorong keras ke dalam, membentur dinding dengan suara dentuman nyaring yang bergema di seluruh ruangan kosong.
Daren melangkah masuk ke dalam rumah.
Bau wewangian ruangan yang mahal menyergap inderanya—bau yang dulu hanya bisa dia hirup dari balik celak gudang bawah tangga saat perutnya melilit kelaparan. Daren menyusuri ruang tengah yang luas. Langkah kakinya yang berat dan mantap menapak di atas karpet Persia tebal.
Dia berhenti tepat di depan set sofa kulit hitam mewah di tengah ruangan. Daren teringat betul, di masa lalu, jika bajunya yang lusuh memercikkan sedikit debu ke karpet ini, Deni akan menghantam punggungnya dengan tongkat kayu. Jika dia berani melirik ke arah sofa ini, Tia akan menyiramkan air sabun ke wajahnya.
Daren menyunggingkan senyuman dingin yang mengerikan. Dia membalikkan badan, lalu dengan santai menjatuhkan tubuh kokohnya ke atas sofa mewah tersebut. Daren menyandarkan punggungnya yang tegap, menyilangkan kaki kanannya ke atas lutut kiri, dan menyandarkan kedua tangannya di sandaran sofa.
Dia duduk di tempat yang paling dilarang baginya di masa lalu, menanti para pemilik rumah itu pulang.
Tiga puluh menit berlalu dalam kesunyian yang menghimpit. Daren tetap duduk tenang di atas sofa, matanya yang kelabu menatap lurus ke arah pintu masuk yang hancur.
VRRRROOOOMM!
Suara deruan mesin mobil SUV mewah terdengar memasuki halaman rumah, disusul oleh decitan ban yang berhenti mendadak. Cahaya lampu utama mobil menyapu masuk melalui pintu depan yang menganga.
"Apa-apaan ini?! Kenapa pintu gerbang terbuka?!" suara berat Deni terdengar panik dari luar mobil.
"Deni! Lihat pintu depan kita hancur! Ada perampok masuk!" jerit Tia histeris.
"Ayah! Senjata kita ada di atas! Bagaimana ini?!" timpal suara Dion yang terdengar gemetar ketakutan.
Langkah kaki terburu-buru terdengar mendekati pintu depan. Deni melangkah masuk terlebih dahulu dengan cengkeraman erat pada sebuah besi tongkat pemukul baseball yang diambilnya dari garasi. Di belakangnya, Tia merapatkan tubuhnya dengan wajah pucat, diikuti oleh Dion yang kini telah tumbuh menjadi pemuda dewasa yang tampak pengecut.
Namun, begitu mereka menyeberangi ambang pintu dan melangkah ke ruang tengah, langkah ketiga orang itu seketika terhenti total.
Di atas sofa kulit mewah kebanggaan mereka, duduk seorang pemuda tinggi tegap dengan mantel kulit hitam. Lampu remang ruangan menyinari garis rahangnya yang sangat tegas, bahunya yang mengembang lebar, serta tato kanji merah yang mengintip tajam di leher kanannya.
"Si... Siapa kau?!" bentak Deni dengan suara bergetar, mengacungkan tongkat baseball-nya ke udara. "Berani-beraninya kau membobol rumahku dan duduk di sana! Keluar sebelum kupanggil polisi!"
Pemuda di atas sofa itu tidak berdiri. Dia hanya memiringkan kepalanya sedikit ke kanan, menatap ketiga orang di depannya dengan pandangan mata yang begitu dingin—seolah sedang menatap tiga ekor serangga yang siap dipijak.
"Lupa pada wajahku, Deni?" suara Daren keluar rendah, tebal, dan bergema pelan di dalam ruangan.
Tia membelalakkan matanya. Dia maju setengah langkah, mengamati wajah tampan dan aura intimidasi yang memancar dari tubuh pemuda itu. "Suara ini... Wajah ini..."
"Da... Daren?!" jerit Dion hysteris, jarinya menunjuk gemetar ke arah Daren. "Kau... Si Babu Sialan itu?!"
Deni terperangah. Tongkat di tangannya sedikit melonggar. Dia tidak percaya bahwa pemuda kokoh, bernyawa dingin, dan tampak sangat berbahaya yang duduk di sofanya malam ini adalah anak yatim piatu yang enam tahun lalu dia cambuk hingga berdarah-darah di atas lantai ini.
Daren menyunggingkan senyuman tipis—sebuah senyuman yang tidak memancarkan sedikit pun kehangatan manusia.
"Senang melihat kalian masih mengenalku," kata Daren pelan. "Bagaimana kabar rumah mewah ini tanpa ada babu yang bisa kalian cambuk saban hari? Terasa sedikit kotor, bukan?"
"Kau... Bau kencur kurang ajar!" bentak Deni, mencoba menutupi rasa takutnya dengan amarah palsu. "Kau kabur enam tahun lalu dan sekarang kembali dengan gaya sok jagoan seperti ini?! Kau pikir kau siapa, Hah?! Kau cuma anak haram tak berguna yang kami tampung!"
Dion yang merasa berada di rumahnya sendiri dan didukung ayahnya, ikut melangkah maju dengan wajah memerah jengkel. "Dasar bajingan! Gara-gara kau kabur, aku harus mencuci mobilku sendiri! Kau harus dihajar lagi seperti dulu agar tahu diri!"
Daren tidak membalas makian itu dengan teriakan. Tatapan matanya tetap tenang, membeku dalam kepekatan murni.
SSET!
Tanpa ada peringatan, gerakan tangan kanan Daren meluncur kilat ke balik mantel kulit hitamnya. Sebelum Deni maupun Dion sempat menyadari apa yang terjadi, sepucuk pistol raksasa berwarna perak metalik sudah berada di genggaman tangan Daren.
Desert Eagle .50 AE.
Moncong pistol kaliber besar itu teracung lurus, mengunci tepat di antara kedua mata Dion.
"Bicara lagi, Dion..." bisik Daren dingin.
Dion membeku seketika. Seluruh keberanian palsunya menguap tanpa bekas saat menatap moncong pistol berukuran raksasa yang berjarak kurang dari dua meter dari wajahnya. Keringat dingin meletup di pelipisnya. "Da... Daren... Jangan main-main... Ini—"
DORRRR!
Dentuman dahsyat kaliber .50 merobek kesunyian malam di dalam ruang tengah tersebut. Suaranya begitu memekikkan telinga hingga memecahkan kaca-kaca jendela di sekitarnya.
Proyektil peluru besar itu menembus kepala Dion secara instan.
Dion bahkan tidak sempat menjerit. Tubuhnya terlempar ke belakang oleh daya dorong peluru raksasa tersebut, lalu ambruk telentang di atas karpet Persia dengan kepala yang hancur. Darah kental dan cairan menyembur deras, mewarnai lantai marmer yang dulu sering disikat oleh Daren hingga bersih.
"KYAAAAAAAAGGGHH! DION! ANAKKU!" jerit Tia histeris hingga suaranya pecah. Perempuan itu jatuh berlutut di samping mayat anaknya, meraung-raung dalam histeria ketakutan yang luar biasa.
"DION!" teriak Deni dengan mata melotot hampir keluar dari kelopaknya. Wajahnya pucat pasi bagaikan mayat. Pria tambun itu gemetar hebat, tongkat baseball-nya jatuh terlepas ke lantai.
Daren merendahkan moncong pistolnya yang masih mengepulkan asap tipis. Wajahnya tidak memancarkan rasa bersalah, penyesalan, atau kepanikan sedikit pun. Dia menatap mayat Dion secara datar, seolah baru saja menembak seekor lalat yang mengganggu.
Deni menatap Daren dengan tatapan penuh dendam bercampur ketakutan yang membakar. "Iblis! Kau iblis, Daren! Kau membunuh anakku! Aku akan memastikan kau dihukum mati! Kau akan membusuk di penjara, Bajingan!"
Daren berdiri perlahan dari sofa mewahnya. Langkah kakinya mendekati Deni yang gemetar ketakutan. Tinggi badan dan postur kokoh Daren kini mengintimidasi Deni sepenuhnya, membuat pria tua itu terdesak mundur hingga punggungnya menabrak dinding.
Daren memiringkan kepalanya, menatap Deni dari atas ke bawah seraya terkekeh rendah.
"Memangnya siapa yang peduli dengan ancaman murahanmu, Deni?" bisik Daren, suaranya menusuk tepat ke saraf tergelap Deni. "Sepuluh tahun kau mencambukku, membuntutiku di dalam gudang, dan membiarkanku kelaparan... Apakah kau pernah berpikir bahwa anjing yang kau injak-injak setiap hari ini akan kembali untuk menggorok lehermu?"
Daren mengarahkan moncong pistol Desert Eagle-nya ke dahi Deni. Deni memejamkan matanya rapat-rapat, merapatkan badannya ke dinding, kencing di celananya sendiri karena rasa takut yang tak tertahankan.
Namun, sebelum Daren menarik pelatuknya untuk menyelesaikan riwayat Deni...
PROK! PROK! PROK!
Suara tepuk tangan santai berirama terdengar dari arah pintu depan yang hancur.
"Wah, wah, wah! Eksekusi yang sangat rapi dan dingin, Bocah!"
Lukas melangkah masuk ke dalam rumah seraya memutar-mutar kacamata hitamnya. Di sampingnya, Mike berjalan tenang dengan jas hitamnya yang terkancing rapi, memegang sebuah gawai komunikasi terenkripsi yang masih terhubung.
Daren tidak menurunkan pistolnya, namun dia melirik ke arah dua Eksekutif Red Crows yang baru masuk tersebut. "Mike? Lukas? Mengapa kalian di sini?"
Mike menghentikan langkahnya tiga meter di depan Daren. Wajah kaku sang kapten tertinggi tidak menunjukkan keterkejutan sedikit pun atas mayat Dion yang tergeletak di lantai.
"Perintah mendadak dari Tuan Argus, Daren," kata Mike tenang. "Tuan Argus mengubah rencana eksekusimu."
Daren menaikkan sebelah alisnya. "Maksudmu?"
"Tuan Argus tidak ingin Deni dan istrinya mati dengan cepat dan mudah oleh pelurumu di rumah ini," lanjut Mike seraya menunjuk Deni dan Tia yang sedang menangis ketakutan. "Deni telah secara lancang mencoba merusak jalur logistik rahasia Red Crows. Tuan Argus menginginkan mereka ditangkap hidup-hidup dan dibawa ke Markas Utama... ke Ruang Penyiksaan Sektor Zero."
Lukas menyunggingkan senyum tengilnya seraya melempar dua pasang borgol baja ke lantai. "Ayo, Pria Tua dan Wanita Tua! Berdiri! Tuan Besar kami ingin menyapa kalian secara pribadi!"
Daren menatap Deni sejenak, lalu perlahan menyarungkan kembali pistol raksasanya ke balik mantel. Tatapannya pada Deni dan Tia makin pekat.
"Baik," sahut Daren pendek. "Bawa mereka ke markas."
Markas Utama Red Crows – Ruang Penyiksaan Sektor Zero
Ruangan itu terisolasi di kedalaman lima puluh meter di bawah tanah. Dinding-dinding beton tebal tanpa jendela itu dilapisi lempengan besi kedap suara, berbau amis darah tua yang berkarat, dan diterangi oleh lampu sorot kuning tunggal yang tergantung di tengah plafon.
Di tengah ruangan, Deni dan Tia terikat kencang pada dua buah kursi besi berat. Tangan dan kaki mereka terkunci rapat oleh borgol baja bertulang.
Di hadapan mereka, duduk di atas kursi kebesarannya, berdiri sang Pemimpin Tertinggi.
Argus.
Pria besar itu mengapit cerutunya, menatap Deni dan Tia dengan pandangan mata yang dingin tanpa sedikit pun rasa kasihan. Di sekelilingnya, Mike, Lukas, dan Daren berdiri siaga dalam kegelapan bayang-bayang ruangan.
Deni yang kini menyadari ke dalam organisasi apa dia telah berurusan, meratap dengan tubuh gemetar hebat. "Tua... Tuan... Tolong... Kami tidak tahu kalau jalur logistik itu milik Anda! Kami mohon... Ampuni kami! Kami akan memberikan seluruh harta kami!"
Argus menghembuskan asap cerutunya pelan ke arah wajah Deni.
Argus terkekeh rendah—sebuah tawa yang membuat bulu kuduk Deni dan Tia berdiri tegak.
"Harta?" ulang Argus dengan nada suara meremehkan. "Aku tidak butuh uang murahanmu, Deni. Tapi jujur saja... aku harus berterima kasih padamu dan istri cantikmu ini."
Tia menengadah bingung dengan mata bengkak penuh air mata. "Ber... Berterima kasih?"
Argus tersenyum dingin, jarinya menunjuk ke arah Daren yang berdiri tegap di sampingnya.
"Aku harus berterima kasih karena sepuluh tahun penyiksaan, kejahatan, dan kejamnya perlakuan kalian pada anak ini..." ucap Argus dengan suara berat yang mengintimidasi, "...telah berhasil menciptakan sesosok iblis yang sangat sempurna untuk organisasiku. Tanpa penderitaan yang kalian berikan padanya, Daren tidak akan pernah menjadi senjata mematikan seperti sekarang."
Argus berdiri dari kursinya. Pria penguasa bawah tanah itu menatap para perwira pengawal yang berdiri di sudut ruangan.
"Kalian semua keluar," perintah Argus tegas pada para prajurit biasa. "Biarkan hanya Daren, Mike, dan Lukas yang berada di ruangan ini."
Para pengawal membungkuk hormat lalu melangkah keluar, menyisakan pintu baja tebal yang terkunci rapat dari dalam.
Argus berjalan mendekati Daren, meletakkan tangannya di atas bahu tegap pemuda dua puluh satu tahun itu.
"Daren," kata Argus, suaranya berubah menjadi perintah mutlak yang membebaskan seluruh naluri tergelap di dalam diri Daren. "Siksa mereka. Lakukan persis seperti apa yang pernah mereka lakukan padamu di masa lalu... atau bahkan lebih parah. Aku mengizinkanmu memeras setiap tetes darah dan jeritan dari tubuh mereka."
Daren menyunggingkan seringai dingin yang luar biasa kejam. Tato kanji Akuma no Urami di lehernya seolah memancarkan pendar bahaya saat dia melangkah mendekati meja instrumen penyiksaan di sudut ruangan.
"Dengan senang hati, Tuan Argus," jawab Daren pelan.
Daren mengambil sebuah tang catut baja berujung lancip dan tajam dari atas meja. Dia memutar-mutar alat besi itu di jarinya, lalu berjalan perlahan mendekati Deni dan Tia yang mulai menjerit histeris.
"Jangan! Daren! Kami ini orang tua angkatmu! Kami yang memberimu makan!" jerit Tia seraya berusaha menarik tangannya dari ikatan besi.
Daren tidak memedulikan jeritan itu. Dia berlutut di samping kursi Deni. Dengan kekuatan tangannya yang sangat besar, Daren mencengkeram pergelangan tangan kanan Deni, mengunci jari telunjuk pria tua itu di atas meja besi kecil.
"Kita mulai dari jari pertama, Deni," bisik Daren dengan suara yang begitu tenang hingga mengerikan. "Ini untuk setiap sabetan gesper di punggungku saat aku berumur sepuluh tahun."
SZZZT! JLEB!
Daren menyelipkan ujung catut baja tajam itu ke bawah kuku jari telunjuk Deni, menyisipkannya hingga ke pangkal daging, lalu menjepitnya kencang.
KREEEKK... SRET!
Dengan satu tarikan perlahan dan presisi, Daren mencabut kuku jari telunjuk Deni hingga terlepas utuh dari dagingnya. Darah segar berwarna merah pekat langsung memercik keluar, membasahi jemari Daren.
"ARGHHHHHHHHHH! AAAAAGGGHHH! AMPUN! AMPUNNNN!" jerit Deni melengking dahsyat. Tubuhnya kejang-kejang di atas kursi besi, matanya mendelik lebar menahan rasa sakit yang luar biasa dahsyat dari saraf jarinya yang terkelupas.
Tia pingsan seketika melihat kuku suaminya dicabut secara brutal, namun Mike dengan sigap menyiramkan seember air es ke wajah Tia hingga perempuan itu tersentak bangun kembali untuk menyaksikan nerakanya.
Daren tidak berhenti. Wajahnya yang tampan tetap dingin tanpa ekspresi belas kasihan. Dia mengusap noda darah di catut bajanya, lalu mengunci jari tengah Deni.
SRET!
"ARGHHHHHHH!"
Kuku kedua terlepas. Darah kembali menyembur.
Daren melangkah ke sisi Tia, mencabut kuku ibu jari perempuan itu tanpa ragu sedikit pun. Jeritan demi jeritan histeris memenuhi ruangan kedap suara tersebut, beradu dengan bunyi gesekan besi dan ceceran darah yang kian memenuhi lantai.
Di sudut ruangan, Argus yang berdiri menyaksikan proses penyiksaan itu bersama Mike dan Lukas, tanpa sadar bergidik tipis.
Sebagai penguasa dunia bawah tanah yang telah melihat ribuan pembantaian, Argus terbiasa dengan kematian yang cepat atau eksekusi tembak. Namun melihat ketenangan Daren saat mencabut kuku demi kuku korbannya secara perlahan—tanpa ada sedikit pun keraguan, emosi yang meledak-ledak, atau perubahan ritme napas—Argus menyadari betapa dalam dan mengerikannya kepekatan jiwa yang tersimpan di dalam diri pemuda itu.
Lukas yang biasanya sangat tengil dan banyak bicara, kini hanya berdiri diam dengan mata terbelalak pelan. Lukas menatap Daren yang jemarinya sudah berlumuran darah kental, menyadari bahwa "anak anjing" yang dipungut enam tahun lalu kini telah menjelma menjadi iblis sejati yang tak memiliki batas kekejaman bagi para musuhnya.
Daren menengadah, menatap Deni dan Tia yang terkulai lemas dengan sepuluh jari tangan yang kini bercucuran darah tanpa kuku.
"Ini baru permulaan dari sepuluh tahun utang kalian..." bisik Daren seraya mengambil sebuah botol berisi cairan asam klorida pekat dari atas meja. Seringai dingin di wajah sang Gagak Merah makin mekar di dalam kegelapan.