Indonesia
NovelToon NovelToon
Pengantin Pengganti Sang Mafia

Pengantin Pengganti Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Crazy Rich/Konglomerat / Cinta Seiring Waktu / Pengantin Pengganti
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: L U N E

Aurora Valencia dipaksa menuruti permintaan kedua orang tuanya, yaitu menjadi pengantin pengganti, menggantikan kakaknya yang melarikan diri di hari pernikahan.

Demi menjaga kehormatan keluarga, Aurora akhirnya setuju dan menikah dengan Rozen Salvadore. Seorang pewaris keluarga mafia yang dikenal dingin dan sulit ditebak.

Walau pernikahan itu berawal dari keterpaksaan, Aurora perlahan-lahan berusaha beradaptasi dengan kehidupan barunya. Gadis itu juga menyadari bahwa di balik sikap suaminya yang kaku, tersimpan perhatian yang tidak pernah pria itu tunjukkan secara terang-terangan.

Hingga di tengah kesalahpahaman, rahasia keluarga dan ancaman kecil dari dunia mafia, mereka dipaksa belajar untuk saling percaya.

Akankah pernikahan yang awalnya hanyalah sebuah pengganti berubah menjadi kisah cinta yang abadi?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon L U N E , isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Canggung dan Malu

Jamuan makan malam keluarga yang dihadiri bersama Rozen meninggalkan kesan tersendiri bagi Aurora. Setelah jamuan makan malam berakhir, mobil hitam milik Rozen kembali melaju meninggalkan kediaman Don Vittorio bersama suasana di dalam mobil yang jauh lebih sunyi dibandingkan perjalanan sebelumnya.

Aurora duduk di samping jendela dengan pandangan tertuju pada lampu-lampu kota yang berlari mundur. Pertanyaan Marco tadi masih sesekali terlintas di kepalanya. Pertanyaan sederhana yang terasa begitu sulit dijawab.

"Apa kau mencintai sepupuku, Rozen?"

Aurora menjadi turut memikirkannya. Apakah dirinya bisa mencintai Rozen? Suami yang seharusnya dimiliki kakaknya? Rasanya seperti menahan sebuah dosa yang sangat besar. Seperti sedang berselingkuh dengan suami kakak kandungnya sendiri. Moral Aurora sangat menentang pemikirannya.

Rozen memang pria yang dingin, tidak banyak berbicara dan sangat suka berekspresi datar. Namun dari semua sifat tersebut, Rozen tidak pernah bersikap kasar kepada Aurora. Dan Aurora sangat bersyukur dengan fakta itu.

Kebaikan Rozen yang seperti itu sangat mungkin membuat seorang perempuan terlena dan terbawa perasaan. Tapi Aurora tidak demikian. Ia tidak berani mengharapkan sesuatu yang berlebihan, seperti mencintai Rozen misalnya.

Ketika mobil akhirnya memasuki gerbang Mansion Salvadore, Aurora mengira malam itu akan segera berakhir. Pada akhirnya ia akan beristirahat memanjakan tubuh dan melepaskan pikiran lelahnya di atas ranjang yang empuk. Namun begitu turun dari mobil, Aurora justru menghentikan langkah.

"Aku ingin ke taman sebentar."

Rozen yang baru saja menyerahkan jasnya kepada pelayan menoleh.

"Sudah larut," ucap Rozen.

"Hanya menghirup udara sebentar," jawab Aurora dengan senyum kecil. "Setelah jamuan tadi, kepalaku terasa penuh."

Rozen mungkin berpikir kalau Aurora memang sangat kelelahan setelah berhadapan dengan seluruh anggota keluarganya. Kegugupan yang Aurora alami tentu saja menghabiskan tenaga.

Rozen hanya diam beberapa saat, menatap Aurora tanpa berniat bertanya lebih jauh.

"Jangan terlalu lama," pinta Rozen pelan. Rozen hanya menyampaikan perhatian kecil, hanya sebatas agar Aurora tidak masuk angin.

Aurora mengangguk.

"Baik."

Tanpa menunggu lebih lama, Aurora berjalan menuju taman belakang mansion mendahului Rozen. Setelah beberapa langkah Aurora mendahuluinya, Rozen menyusul masuk ke mansion.

Dan benar saja, udara malam menyambut kehadiran Aurora dengan kesejukan yang menenangkan. Lampu-lampu kecil di sepanjang jalan setapak menerangi bunga-bunga yang bergoyang perlahan tertiup angin.

Aurora berhenti di dekat bangku kayu di bawah pohon besar, duduk perlahan kemudian mengembuskan napas panjang seakan sedang membagi kelelahannya kepada angin yang bertiup sepoi-sepoi. Akhirnya Aurora merasakan ringan pada bahunya yang kecil itu.

Malam itu terlalu banyak hal yang terjadi. Dan Aurora terpaksa harus menampung seluruhnya dalam satu waktu yang bersamaan.

Dimulai dari tatapan keluarga suaminya yang masih penuh curiga, pertanyaan dadakan Marco yang pada akhirnya menjadi beban pikiran baru di kepalanya. Meski ada hal yang juga menurut Aurora baik, yaitu penerimaan Don Vittorio dan Bibi Bianca.

Aurora lega setidaknya tidak semua hal adalah buruk.

Termasuk kalimat Rozen yang dengan tegas menyebutnya sebagai istri.

Ohh, demi apapun, Aurora tidak ingin salah mengartikan yang satu ini.

Aurora menatap langit yang gelap. Ia berpikir cukup lama tentang bagaimana pernikahannya akan berakhir.

Apakah Aurora akan merasakan kehilangan sosok dingin suaminya yang suka menganggukkan kepala itu?

Sudahlah. Aurora tidak ingin terus memikirkannya. Setidaknya, untuk beberapa menit di taman yang sunyi itu, Aurora ingin melepaskan kegelisahannya dan hanya ingin menjadi Aurora.

Bukan pengantin pengganti.

Bukan Nyonya Salvadore.

Hanya Aurora. Aurora Valencia.

Udara malam terasa begitu sejuk. Aurora beranjak dari kursinya dan berjalan perlahan di antara hamparan bunga yang tampak berkilau karena embun.

Ada beberapa bunga terlihat mulai layu. Tanpa berpikir panjang, ia mengambil penyiram tanaman kecil yang terletak di dekat rumah kaca dan mulai menyirami sekelompok bunga dengan hati berseri-seri.

Kegiatan itu teramat fokus Aurora lakukan. Bahkan wanita itu tidak tahu kalau dirinya sedang diamati dari balkon lantai dua. Kalau tidak salah, itu adalah balkon kamar Rozen, suaminya.

Di sudut mansion yang lain, Rozen baru saja memasuki ruang kerjanya. Pergerakan kecil di taman mencuri perhatiannya. Rozen kemudian menghentikan kegiatannya yang sedang mencoba melepaskan dasi yang melingkar di lehernya.

Dari balkon kamar, pandangannya jatuh ke arah taman. Ke tempat di mana Aurora sedang sibuk menyirami bunga-bunga.

Rozen memperhatikan semuanya. Di bawah cahaya lampu taman, istrinya tampak menyiram bunga-bunga dengan hati-hati, seolah setiap tangkai memiliki arti tersendiri.

Rozen mengernyit tipis. Pria itu merasa janggal.

"Mengapa dia selalu memilih mengerjakan hal-hal kecil sendiri?"

Rozen masih terus memperhatikan. Bahkan berhasil menangkap moment ketika Aurora tersenyum manis saat melihat kelopak mawar yang kembali tegak setelah disiram.

Senyum itu kembali muncul. Senyum sederhana yang selalu muncul di bibir ranum sang istri, senyum yang sama seperti saat diijinkan memasuki rumah kaca.

Rozen mengalihkan pandangannya, tanpa sadar mengembuskan napas pelan, lantas timbul pemikiran singkat bahwa Aurora benar-benar aneh.

Bagaimana tidak, Aurora tidak pernah meminta apa pun, iya juga tidak pernah mengeluh bahkan tidak memanfaatkan statusnya sebagai Nyonya Salvadore.

Di mata Rozen, Aurora justru sibuk membuat mansion miliknya terasa lebih hidup. Rozen sendiri tidak memahami alasannya.

Tapi ada satu hal mulai Rozen sadari.

Sejak Aurora datang, ia beberapa kali mendapati dirinya berhenti sejenak hanya untuk memperhatikan apa yang sedang dilakukan wanita itu.

Dan itu adalah kebiasaan baru yang tidak pernah Rozen miliki sebelumnya.

...***...

Sudah cukup larut. Ditambah lagi dengan suhu udara yang semakin rendah. Aurora segera mengakhiri segala kegiatannya di taman dan bergegas kembali memasuki mansion.

Langkahnya perlahan menyusuri lorong yang mulai sepi. Tujuannya kembali ke kamarnya di lantai dua. Sebagian besar lampu telah diredupkan, meninggalkan cahaya keemasan yang lembut di sepanjang koridor.

Aurora baru saja hendak menaiki tangga ketika seseorang muncul dari arah berlawanan tanpa disadari olehnya. Mereka berdua nyaris bertabrakan di tangga.

Untung saja Aurora berhenti terlebih dahulu, disusul Rozen kemudian.

Keduanya saling memandang dalam jarak yang cukup dekat. Hanya sejauh satu anak tangga yang menjaraki di antara keduanya.

Untuk beberapa detik, tidak ada yang mengalah untuk mengatakan apa pun. Mereka selalu saja dihadapkan pada situasi canggung yang berakhir dengan saling pandang tanpa kata-kata seperti sekarang ini.

Akhirnya Aurora tersenyum canggung. Tidak kuat dengan tekanan kecanggungan itu.

"Kamu belum tidur?"

Rozen menggeleng kecil. "Aku baru selesai bekerja."

"Oh..." Aurora mengangguk lalu hening kembali turun.

Aurora sebenarnya ingin segera pergi dari sana, tetapi kakinya justru terasa kaku karena menurut Aurora, Rozen pun tampaknya tidak memiliki alasan untuk tetap berdiri di sana. Berdua dengannya, di tangga pula.

Namun kenapa tidak satu pun dari mereka bergerak? Aurora sangat tidak menikmati pompa jantungnya yang tidak karuan itu. Akhirnya wanita itu kembali berbicara. Menetralkan ketidakmasukakalan yang dilakukan jantungnya dengan lancang.

Aurora akhirnya menunjuk ke arah taman. Gerakannya sedikit kikuk.

"Aku tadi hanya duduk sebentar di sana." Sungguh Aurora ingin menampar mulutnya sendiri. Informasi tidak penting macam apa yang baru saja Aurora kumandangkan?

"Aku tahu."

Aurora mengerjap. Lebih terkejut mendengar respon suaminya.

"Kamu tau?" tanya Aurora seakan tidak percaya.

Rozen mengangguk. "Aku melihatmu dari balkon kamarku." Sebenarnya jawaban Rozen itu adalah jawaban jujur tanpa terselip maksud tertentu. Rozen punya mata, Rozen melihat. Sesederhana itu.

Tapi kenapa pipi Aurora justru terasa hangat?

"Oh." Aurora menundukkan wajahnya. "Berarti kamu memperhatikanku?"

Rozen terdiam. Keheranan, seolah baru menyadari bahwa jawabannya bisa terdengar berbeda dari maksudnya. Dan yang dimaksud Rozen adalah bahwa dirinya hanya melihat seseorang di taman.

"Aku hanya memastikan kau tidak pergi terlalu jauh."

Aurora mengangguk cepat namun senyum kecil muncul di wajahnya.

Rozen memperhatikan dan menyadari senyuman itu.

"Kenapa tersenyum?"

Aurora menggeleng, "Aku tidak senyum."

"Kau jelas tersenyum," sanggah Rozen lagi.

Aurora menggigit bibir untuk menahan tawa yang Aurora sendiri tidak paham kenapa tawa itu muncul di bibirnya.

"Entahlah." Aurora lalu mengangkat wajah.

"Mungkin karena suamiku ternyata memperhatikanku."

Rozen terdiam lagi. Wajahnya tetap datar tetapi telinganya tampak merona perlahan.

Pada akhirnya mereka berdua kembali saling mengatupkan bibir masing-masing.

Aurora yang baru menyadari ucapannya sendiri langsung membuang muka. Malu. Aurora sangat malu. Bibirnya kenapa begitu lancang malam ini? Apa efek dari diakui sebagai istri di depan keluarga suaminya?

"Maaf. Aku tidak bermaksud mengatakan itu."

"Malam ini kau terlalu banyak bicara."

Aurora mengangguk malu. "Aku tau, makanya aku minta maaf."

Dan setelah mengatakan itu, Aurora melangkah melewati Rozen. Mungkin rasa malu lebih besar dari canggungnya.

Baru beberapa langkah menjauh, suara Rozen terdengar dari belakang, memanggilnya.

"Aurora."

Aurora berhenti dan menoleh. Matanya menatap tepat ke mata sang suami, menanti jawaban.

"Ya?"

"Jangan tidur terlalu larut."

Aurora menatapnya beberapa detik. Sungguh luar biasa jantung Aurora berdetak kencang.

Aurora tersenyum lembut seraya berkata, "Baiklah, Rozen."

Aurora tidak lagi mengeluarkan suara. Ia segera berbalik dan melanjutkan langkahnya, meninggalkan Rozen sendirian.

Sementara Rozen masih berdiri di tempatnya, memperhatikan pergerakan istrinya, mengikuti punggung Aurora sampai wanita itu menghilang di balik pintu.

Rozen menghela napas pelan. Percakapan tadi sebenarnya tidak penting baginya. Tidak ada hal istimewa.

Rozen mengusap pelipisnya.

"Dia benar-benar aneh," ucap Rozen tanpa bermaksud mengeluh.

...***...

1
Anonim
lanjut tor aku penasaran dgn cerita nya
Lumina Vivian
Seru, tulisannya juga rapi.
Lumina Vivian
Lanjutkan ceritanya kak, semangat!
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!