Emily terpaksa menjadi pengantin dari Leon Anderson yang merupakan seorang mafia lumpuh menggantikan sang kakak yang kabur menjelang hari bahagia. Pernikahan mereka juga terjadi karena orang tuanya Emily memiliki utang besar kepada Leon dan Emily juga tak tau jika dirinya hanya seorang anak angkat. Seiring berjalannya waktu, cinta mereka pun tumbuh dan Emily mengandung. Namun, sebuah insiden memisahkan keduanya.
Beberapa tahun kemudian, mereka kembali bertemu tetapi semua telah berubah. Emily yang telah melahirkan bocah laki-laki yang pintar tak mengingat Leon. Akankah keduanya dapat kembali bersatu lagi untuk merawat dan membesarkan buah hati mereka? Atau keduanya memilih jalan hidup masing-masing dengan orang berbeda?
Diharapkan tidak menabung bab. Terima kasih 🙏🏼
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mami Al, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Disaat sang ibu sedang sibuk di toko, Zayn sengaja diam-diam menemui Leon di restoran tempat pria itu bekerja. Ia ingin mengetahui penyebab ibunya pingsan.
Zayn sebenarnya belum diizinkan ikut Emily bekerja namun dia merengek minta ikut ke toko karena semalam ia mendengar percakapan antara Jason dan neneknya, Jenni.
Melihat kehadiran Zayn membuat Leon senang, ia menghampiri putranya itu penuh semangat. Bahkan, ia memeluknya dengan mata berkaca-kaca.
"Aku mau bicara dengan Paman!"
"Bicaralah!" kata Leon tersenyum.
"Ini tentang ibu!" ucap Zayn serius.
"Kita bicara diluar saja!" kata Leon lalu berdiri dan memegang tangan Zayn, mengajaknya ke luar restoran.
Keduanya duduk di bangku taman, tepat di depan restoran.
"Apa yang ingin kamu tanyakan tentang ibumu?" tanya Leon.
"Kemarin malam ibu pingsan, apa yang Paman lakukan padanya?" tanya Zayn menatap marah.
"Paman tidak melakukan apa-apa. Paman cuma memperkenalkan nama dan menunjukkan sebuah kalung lalu ibumu pingsan," jawab Leon.
"Aku tidak percaya!" Zayn melipat kedua tangannya.
"Paman hanya mengingatkan masa lalu ibumu!" kata Leon.
"Paman Leon, ibuku bukan istri Paman yang hilang. Jadi, percuma Paman mencoba mengingatkannya!" ucap Zayn kesal.
"Bagaimana jika memang dia adalah istriku dan kamu putraku?" Leon menatap Zayn tersenyum.
Zayn terdiam.
"Ibumu pingsan karena kepalanya pusing. Aku merasa kalau dia memang sepertinya mengingat sesuatu," kata Leon.
"Bagaimana kalau dia memang tidak ingat?" tanya Zayn.
"Aku akan membawamu ke rumah sakit untuk melakukan tes DNA," jawab Leon.
"Paman ingin mengambil organ tubuhku?" tuding Zayn.
Leon tertawa rendah.
"Kenapa aku harus dibawa ke rumah sakit? Aku tidak sakit!" kata Zayn.
"Aku ingin membuktikan kamu adalah anakku atau bukan," jelas Leon.
"Bagaimana kalau aku bukan anak Paman?" tanya Zayn.
"Aku akan jauhi ibumu!" jawab Leon.
Zayn diam dan berpikir.
"Jangan beritahu siapapun tentang rencana ini!" kata Leon merayu.
"Kenapa?" tanya Zayn.
"Aku tidak mau mereka menggagalkan rencana ini. Ibumu dikelilingi orang-orang yang jahat, Paman cuma mau menolongnya!" jawab Leon.
"Aku juga merasa begitu, Paman!" kata Zayn dengan jujurnya.
"Benarkah?" Leon memindahkan posisi tubuhnya, ia menatap putranya dengan wajah serius.
"Sampai sekarang aku tidak pernah tau wajah ayahku. Keluarga ibu seperti menutupi sesuatu saat ibu meminta semua foto atau video pernikahannya," ujar Zayn.
"Oh," ucap Leon singkat.
"Aku juga tidak suka dengan kakaknya ibu, Paman!" bisik Zayn.
"Kenapa?" tanya Leon.
"Kalau mereka sedang berkunjung ke sini, ibu seperti sangat tertekan," jawab Zayn.
"Memangnya mereka tinggal di mana?" tanya Leon penasaran.
"Marrow," jawab Zayn lagi. "Aku juga mendengar kalau mereka sebentar lagi datang ke sini!" lanjutnya.
"Jadi, selama ini mereka tidak tinggal di sini? Lalu wanita tua yang menjemputmu di restoran itu siapa?" tanya Leon.
"Nek Jenni. Dia ibu angkatnya ibuku," jawab Zayn.
Leon sejenak berpikir, ia akan mencari tau tentang istrinya selama ini menghilang dari wanita lansia itu.
Ada sekitar 1 jam Zayn berada bersama Leon dan akhirnya Leon juga yang mengantarkan pulang.
"Zayn, ingat rahasia kita. jangan pernah beritahu siapapun termasuk ibumu!" kata Leon sebelum mereka turun dari bus.
"Aku pastikan menjaga rahasia ini dengan baik!" ucap Zayn.
Begitu sampai, Zayn berlari memasuki toko ibunya. Melihat sang anak, Emily lantas memeluk putranya dengan erat.
"Kamu dari mana saja? Ibu dari tadi mencarimu?" Emily melepaskan pelukannya.
"Aku dari restoran ayam. Aku bertemu dengan Paman Leon," kata Zayn jujur.
"Mengapa kamu ke sana? Bagaimana jika dia menculik kamu?" Emily tampak khawatir.
"Ibu, Paman Leon tidak mungkin menculik aku. Dia sangat baik!" puji Zayn.
"Dia bukan orang baik, Zayn. Jangan mudah percaya dengan ucapannya!" kata Emily mengingatkan.
"Jangan terlalu membencinya, Bu!" Zayn malah menasehatinya.
"Sayang, kamu adalah harta ibu satu-satunya. Ibu tidak mau hal buruk menimpa kamu!" kata Emily dengan mata berkaca-kaca.
Zayn memeluk ibunya dan berucap, "Aku menyayangi, Ibu!"
"Ibu juga, Nak. Berhentilah menemuinya!" pinta Emily.
Zayn mengangguk mengiyakan.
"Kamu pulang dijemput siapa?" tanya Emily.
"Paman Leon," jawab Zayn.
"Apa dia sudah pulang?" tanya Emily lagi.
"Aku tidak tau, Bu!" jawab Zayn.
"Istirahatlah!" titah Emily. Ia menyuruh putranya agar ke ruangannya.
Zayn mengangguk mengiyakan, ia lalu melangkah ke sana.
Emily bergegas cepat menghampiri Leon. Berharap pria itu belum berlalu.
Leon berjalan pelan menuju halte tempat ia menunggu bus untuk kembali ke restorannya.
"Leon, tunggu!" panggil Emily dengan napas terengah-engah. Ia sempat berlari mengejar langkah pria itu.
Leon membalikkan tubuhnya dan tersenyum melihat Emily dihadapannya.
"Kenapa kau masih mengganggu kami?"
Leon tak menjawab, ia diam dan hanya memandangi wajah istrinya yang sangat ingin dipeluknya.
"Ini terakhir kalinya kau menemui Zayn. Jangan harap setelah ini, kau bisa bebas menemuinya!" Emily memberikan peringatan.
"Aku akan berusaha meyakinkanmu kalau aku tidak seperti yang ada di dalam pikiranmu," kata Leon.
"Sekeras apapun kau meyakinkan aku, sama sekali tak membuat aku berubah. Aku bukan Emily yang kau cari. Kau salah orang!" ucap Emily tegas.
"Aku akan buktikan kepadamu. Kau adalah Emily milikku!" kata Leon tersenyum.
Leon lalu membalikkan badannya dan lanjut melangkah.
Emily kembali ke toko. Kata-kata terakhir yang diucapkan Leon masih terngiang di kepalanya. Ada perasaan hangat ketika mendengarnya.
Zayn keluar dari ruangan kerja ibunya, ia menghampirinya dan bertanya, "Dari mana, Bu?"
"Ibu tidak ke mana-mana," jawab Emily.
***
Pagi ini Leon menemui Bibi Jenni, mereka bertemu karena bantuan Zayn. Ia meminta bocah itu untuk mempertemukannya dengan ibu angkatnya Emily.
"Zayn, mau apa kita ke sini?" tanya Jenni mengedarkan pandangannya melihat sekeliling taman.
"Aku mau main-main, Nek!" jawab Zayn beralasan.
"Tapi, kenapa kita sampai jauh ke sini? Di depan toko roti ibumu juga ada taman bermain," kata Jenni.
"Di sana sudah bosan!" kata Zayn.
Jenni pun percaya saja dengan ucapan cucunya.
Tak lama Zayn dan neneknya tiba. Leon pun muncul, melihat kedatangannya Zayn berlari mendekat dan memeluknya.
Jenni berdiri, ia takut Zayn dibawa kabur.
Leon memegang tangan Zayn lalu menghampiri Jenni. "Halo, Bibi. Apa kabar?" Leon mengulurkan tangannya.
Jenni menyambutnya dan berkata, "Ya, baik. Kamu siapa?"
"Saya Leon!"
"Apa?" Jenni tampak terkejut, ia menarik Zayn menjauhi pria yang ada dihadapannya.
"Bibi, jangan takut!" kata Leon.
"Apa mau kamu? Kenapa mengganggu Emily dan anaknya?" tanya Jenni yang juga tampak ketakutan padahal sebelumnya mereka pernah bertemu namun Jenni lupa.
"Mereka adalah keluargaku, Bi. Bertahun-tahun aku mencari mereka!" jawab Leon berterus terang.
"Memangnya selama ini kamu ke mana saja?" tanya Jenni lagi.
Leon belum menjawab, ia mengarahkan pandangannya kepada putranya.
Jenni juga melihat ke arah Zayn.
"Ceritanya sangat panjang, Bi!" kata Leon dengan mata berkaca-kaca.