"Aaaaaaa!"
Pekikan Amira membumbung tinggi begitu ia menyibak selimut. Pandangannya bergeser ke samping, dan jeritannya makin melengking melukai udara.
"Aaaaaa!"
"Aaaaaaaa!" Seorang pria di sebelahnya mendadak ikut berteriak panik. "Bajuku... bajuku mana?!"
Keduanya saling menoleh dengan napas memburu.
"Aaaaaaa!" jerit mereka bersamaan.
"Bajingan!" maki Amira seraya menunjuk pria itu.
"Kamu!"
"Kamu yang bajingan! Dasar Tante girang gila!" balik pria itu tak mau kalah.
"Apa katamu?!" Mata Amira membelalak lebar. Tangisnya mendadak pecah tanpa bisa ditahan. "Kamu pria bajingan! Kamu udah merusak aku!"
"Kamu yang mengambil keperjakaanku! Kenapa malah kamu yang menangis?" kata pria itu dengan santai. Tangannya meraba-raba area lantai, sibuk mencari celana tanpa peduli pada Amira yang terisak. Namun, gerakannya terhenti saat jarinya menyentuh cairan pekat berwarna merah. "Apa ini? Darah?"
Detik berikutnya, wajah pria itu pucat pasi. "Mamahah..." Giliran pria itu yang menangis sesenggukan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon santi damayanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 34
Awalnya lembut, namun perlahan berubah kian hangat dan sarat dorongan emosi.
"Luki, lepaskan..." Amira buru-buru mendorong dada Luki, wajahnya memerah padam.
"Maaf, aku tidak tahan... Kamu terlihat sangat seksi kalau sedang mengomel," ucap Luki seraya melangkah mundur, terkekeh pelan memberi jarak.
"Dasar mesum!" gerutu Amira salah tingkah. Ia langsung duduk di tepi ranjang dan melepas sepatunya untuk mengalihkan canggung.
Luki ikut duduk di samping Amira, lalu mengelus lembut pundak istrinya. "Beberapa hari ini kita sudah melewati banyak hal, Sayang..."
Amira menarik napas panjang, menatap jemarinya sendiri. "Aku... aku belum siap, Luki. Aku belum pasti dengan perasaanku."
Luki berdiri santai, mengulum senyum hangat. "Baiklah, baiklah kalau begitu. Aku akan sabar menanti sampai kamu benar-benar siap."
‘Kamu terlalu mengejutkan, Luki... Bisakah kamu sedikit lebih lembut padaku?’bisik Amira dalam hati. Padahal, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, ia juga menginginkan momen itu. Hanya saja rasa malu masih mendominasi dirinya.
Luki melangkah masuk ke kamar mandi. Amira beranjak menuju dapur kecil untuk menyiapkan makan malam—sebuah rutinitas baru yang mulai membias dalam hidupnya sejak beberapa hari menikah dengan Luki.
Begitu Luki keluar dari kamar mandi dengan rambut yang masih basah, Amira bergantian masuk. Di depan cermin kamar mandi, Amira perlahan menyentuh bibirnya sendiri dengan ujung jari.
"Manis sekali..." gumamnya lirik. Senyum-senyum sendiri terkembang di wajahnya.
Ketika Amira keluar, Luki rupanya sudah duduk rapi di meja makan, menunggunya. Mereka pun menikmati makan malam sederhana itu dalam kehangatan yang perlahan terbangun.
"Sayang, apa kamu masih betah tinggal di rumah ini?" tanya Luki di sela makan mereka.
Amira mendesah pelan. "Ya mau bagaimana lagi... Aku takut suami Mamah menguras semua harta peninggalan Papah."
"Mamah kamu itu sudah parah, Amira. Beliau sudah cinta buta," tutur Luki jujur namun tetap lembut. "Kamu tinggal di sini atau tidak, sama saja... harta Mamahmu akan tetap terkuras. Memangnya selama kamu tinggal di sini, kamu bisa menghentikan Mamahmu memanjakan lelaki tak bermodal itu?"
Amira membisu. Jemarinya mengetuk-ngetuk permukaan meja makan. "Ya... tidak juga, sih."
"Daripada kamu terus-menerus tersiksa batin di sini, lebih baik kita pisah rumah saja dari Mamahmu," usul Luki.
"Tapi aku menyimpan barang-barang Papah di sini. Aku takut Mamah mengambil dan menghancurkannya kalau aku pergi."
"Ini rumah Mamahmu, Sayang," ingat Luki pelan. "Kapan saja Mamahmu bisa masuk dan membongkar kamarmu... bahkan menghancurkan barang-barang peninggalan almarhum Papahmu."
Amira termenung. Kalimat Luki menohok kesadarannya. "Benar juga, sih... Lalu aku harus bagaimana?"
"Ya kamu mulai cicil saja menyimpannya ke tempat baru. Kita bisa taruh dulu di Apartemen Perdana."
"Itu apartemen milik Pak Surya, Luki. Kita jangan terus-menerus memanfaatkan kebaikannya," tolak Amira halus. "Lebih baik aku bawa saja sebagian barang-barang Papah ke rumah Kakek."
"Nah, itu lebih baik!" puji Luki mengangguk setuju. "Bagaimana kalau besok aku bantu membawakan barang-barang Papahmu ke rumah Kakek? Kebetulan besok aku tidak terlalu sibuk narik ojol."
Amira menatap suaminya heran. "Kamu mau membantuku?"
"Iya dong. Kamu kan istriku," sahut Luki mantap.
"Baiklah kalau begitu. Mari kita pilah barang-barang Papah malam ini."
Amira berdiri dan melangkah ke sudut kamar. Ia menggeser sebuah lemari pakaian yang cukup berat. Di balik lemari kayu itu, ternyata tersembunyi sebuah pintu rahasia. Amira menekan beberapa digit kode angka di panel samping, dan pintu baja itu terkuak pelan. Lampu di dalam ruangan tersembunyi itu menyala secara otomatis.
Luki mengekor dari belakang, matanya membelalak kaget. "Ini semua peninggalan Papahmu?"
"Iya," jawab Amira singkat.
"Ini... sertifikat tanah sampai menumpuk begini? Papahmu kaya sekali ya?" cicit Luki takjub.
"Iya, dan Mamah sama sekali tidak tahu. Hanya aku dan Kakek yang tahu keberadaan tempat ini," jawab Amira seraya memindahkan tumpukan sertifikat tanah itu ke dalam kantong plastik hitam besar.
Selain puluhan sertifikat, ada pula beberapa buku catatan pribadi almarhum ayahnya yang belum sempat Amira baca.
Pandangan Luki mendadak tertuju pada sebuah album foto berdebu. Luki membalik lembar demi lembar foto tua di dalamnya. Lengkungan senyum terukir di wajahnya saat melihat sosok Amira kecil. "Kamu memang sudah cantik dari lahir ya, Sayang?"
"Memang," sahut Amira bangga tanpa menoleh. "Beruntung kan kamu punya istri seperti aku?"
"Pasti dong!"
Luki terus membalik halaman album foto itu hingga pandangannya mendadak terhenti pada satu lembar foto tua. Jantung Luki seketika berdegup kencang.
‘Kenapa foto Papah ada di sini?’gumam Luki dalam hati, menatap shock foto dua orang pria dewasa dengan latar belakang kawah Tangkuban Perahu.
"Sayang... ini foto Papahmu, kan?" tanya Luki antusias, menunjuk salah satu pria di foto.
Amira menghentikan aktivitas mengemasnya. Ia menyipitkan mata meneliti foto yang diangsurkan Luki. "Iya, itu Papah. Yang pakai jaket dengan emblem huruf A."
"Lalu... pria yang berdiri di sebelahnya ini siapa?" desak Luki penasaran.
"Tidak tahu. Papah hanya pernah bilang kalau itu Paman AD. Kepanjangan dari AD sendiri aku tidak pernah tahu," jawab Amira acuh tak acuh, kembali fokus mengikat kantong plastik berisi dokumen berharga.
‘AD itu... Ahmad Dimyati,’bisik Luki sangat pelan di dalam hatinya, begitu pelan hingga Amira tidak mendengarnya sama sekali.
Dengan cepat, Luki merengkuh ponselnya dan mengambil foto lembar album tua tersebut secara diam-diam.
"Mana sini albumnya? Mau aku masukkan ke dus. Sudah malam, kita harus istirahat," ucap Amira mengulurkan tangan.
Luki menyerahkan album foto itu kembali. Mesin pikirannya terus berputar kencang. ‘Ada hubungan apa sebenarnya antara almarhum Papahnya Amira dengan Papahku?’
Di dalam silsilah keluarga besar Perdana Holding, tradisi menyembunyikan identitas memang sudah lazim dilakukan demi keamanan pribadi. Termasuk Luki sendiri. Nama aslinya adalah Ahmad Lukman Kiano Perdana. Di kalangan konglomerat dan pebisnis kelas atas, ia dikenal dengan julukan dingin ALKINA—nama yang disegani namun wajah aslinya amat misterius. Sedangkan nama panggilan "Luki", hanya diketahui oleh sahabat-sahabat terdekatnya saja.
Malam itu, mereka berbaring di atas ranjang. Amira tidak berdrama lagi; dengan patuh ia melaksanakan "hukum" yang mereka sepakati—memeluk lengan Luki erat-erat sampai pagi datang. Namun malam itu Luki tidur sangat larut, pikirannya sibuk mencari tahu siapa sebenarnya sosok Salim, ayah dari istrinya.
Pagi pun menjelang.
Amira dan Luki berjalan menuruni tangga rumah utama. Luki sudah menjinjing koper tua yang ia bawa saat pertama kali menginjakkan kaki di rumah itu. Di atas koper tersebut, terdapat kantong plastik hitam besar yang diikat rapi. Penampilan Luki benar-benar seperti orang yang hendak mudik ke kampung halaman.
Sesuai dugaan, mereka harus melewati area meja makan di mana Ratna, Angga, dan Risma sedang menikmati sarapan.
"Amira! Jangan lupa hari ini kamu harus mencairkan dana lima miliar itu!" tegur Ratna begitu melihat anak kandungnya melintas.
"Nanti aku kabari," jawab Amira dingin sambil terus berjalan tanpa menghentikan langkah.
Langkah Risma terhenti, matanya menatap koper yang dibawa Luki. "Luki! Kenapa kamu bawa-bawa barang sebanyak itu?"
"Aku mau pisah rumah," sahut Luki enteng.
"Astaga, Luki... Pakaian kotor kamu itu masukkan saja ke dalam koper! Kenapa juga harus kamu bungkus kantong plastik hitam begitu?!" cibir Risma penuh jijik.
Luki menghentikan langkahnya, menatap Risma jenaka. "Kenapa kamu perhatian sekali padaku? Mau bantu mencucikan bajuku yang bau ini?"
"Ih, najis! Sana pergi!" sergah Risma menutup hidungnya rapat-rapat.
Mereka bertiga di meja makan sama sekali tidak tahu, bahwa di dalam plastik hitam dan koper tua itu bukanlah baju kotor, melainkan tumpukan sertifikat tanah dan surat-surat berharga bernilai puluhan miliar milik almarhum ayah Amira.
"Pisah rumah? Apa si Luki sudah diusir sama Amira, Mah?" tanya Risma begitu Luki dan Amira menghilang di balik pintu depan.
"Mungkin saja," sahut Ratna acuh tak acuh. "Lagipula mana mungkin Amira betah dengan tingkah Luki yang belagu seperti itu. Cuma tukang ojek tapi sombongnya minta ampun!"
"Ya... mudah-mudahan saja Amira cepat sadar dan menceraikannya," puji Angga mengangguk-angguk setuju.