Tiga tahun lalu, Kaluna Adiswara dinyatakan meninggal setelah mobilnya ditemukan hancur di dasar sungai. Tubuhnya tidak pernah ditemukan. Selama bertahun-tahun ia dianggap telah meninggalkan suami dan putrinya, bahkan dituduh menggelapkan uang perusahaan. Ketika ingatannya pulih dan Kaluna kembali, ia justru menemukan suaminya telah menikahi Veyra, adik angkat yang dulu ia anggap sebagai keluarga. Lebih menyakitkan lagi, putrinya, Elara, kini memanggil Veyra Mama. Kaluna tidak datang untuk merebut suaminya. Ia datang untuk mendapatkan kembali namanya, hak sebagai ibu, aset yang dirampas, dan mencari tahu siapa yang mencoba membunuhnya. Di balik keluarganya yang terlihat sempurna, ternyata tersimpan rahasia tentang pemalsuan dokumen, pengkhianatan, dan sebuah kejahatan yang telah disembunyikan selama bertahun-tahun.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A. A. Pusung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 12 ORANG YANG MENGAKU DARI KELUARGA
Arsen terus menatap kepala sekolah, seolah ingin memastikan ia tidak salah dengar.
“Laki-laki atau perempuan?” tanyanya.
“Laki-laki.”
“Namanya?”
Kepala sekolah membuka buku kunjungan yang dibawanya. “Dia menyebut dirinya Dimas, tetapi tidak meninggalkan kartu identitas.”
“Petugas membiarkannya pergi begitu saja?”
“Dia tidak masuk ke lingkungan sekolah. Saat diminta menunjukkan identitas, dia mengatakan akan kembali ke mobil untuk mengambilnya. Setelah itu, dia tidak muncul lagi.”
Arsen mengembuskan napas kasar. “Kenapa saya baru diberi tahu sekarang?”
“Kejadiannya tampak biasa sampai kami menerima laporan tentang foto Elara.”
Kaluna berdiri di samping meja sambil membaca tulisan dalam buku kunjungan. Nama Dimas hanya ditulis singkat. Tidak ada nomor telepon, alamat, atau keterangan hubungan dengan keluarga Mahardika.
“Dia mengatakan diutus siapa?” tanya Kaluna.
“Tidak menyebut nama. Hanya mengatakan keluarga Mahardika memintanya memeriksa jadwal pulang Elara.”
“Petugasnya masih ada?” tanya Naren.
Kepala sekolah mengangguk. “Saya panggil.”
Beberapa menit kemudian, seorang petugas keamanan sekolah masuk. Lelaki itu tampak gugup melihat Arsen berdiri dengan wajah tegang.
“Coba ceritakan dari awal,” kata Arsen.
Petugas itu mengangguk. “Sekitar jam delapan lewat empat puluh, ada seorang pria datang dari jalan samping. Dia pakai kemeja abu-abu dan topi hitam.”
“Wajahnya tampak?”
“Sedikit. Dia memakai masker.”
“Umurnya?”
“Mungkin tiga puluhan atau empat puluhan. Saya tidak yakin.”
“Dia datang dengan kendaraan apa?” tanya Kaluna.
“Saya tidak melihat. Waktu datang dia jalan kaki.”
“Cara bicaranya bagaimana?” Naren ikut bertanya.
Petugas keamanan itu berpikir sebentar. “Tenang. Seperti sudah biasa datang ke tempat begini.”
“Apa dia tahu nama lengkap Elara?” tanya Salindri.
“Iya. Dia bilang ingin memastikan jadwal pulang Elara Mahardika karena ada perubahan sopir.”
Kaluna dan Arsen saling bertukar pandang. Informasi tentang sopir itu cukup khusus. Orang asing biasa tidak akan memakai alasan tersebut tanpa mengetahui kebiasaan keluarga.
“Apakah memang ada pergantian sopir hari ini?” tanya Salindri.
Arsen menggeleng. “Tidak.”
“Siapa yang tahu nama sopir Elara?”
“Keluarga, petugas rumah, sekolah, dan orang-orang di kantor yang mengurus kendaraan.”
Jawaban itu membuat daftar orang yang mungkin tahu jadwal Elara semakin panjang. Veyra juga bisa mengetahui. Bramasta bisa. Revan mungkin memiliki akses melalui perusahaan. Staf kendaraan atau keamanan rumah pun bisa melihat jadwal Elara.
Kaluna kembali memperhatikan petugas sekolah. “Apa dia menyentuh buku kunjungan?”
“Iya. Dia menulis nama sendiri.”
“Pena yang dipakai?”
“Pena dari meja.”
“Jangan ada yang menyentuh halaman itu lagi,” kata Salindri. “Kami mungkin membutuhkannya.”
Arsen menoleh. “Untuk sidik jari?”
“Kalau belum banyak yang pegang, mungkin masih ada gunanya. Jangan terlalu berharap.”
Naren meminta kepala sekolah memperlihatkan letak pria itu berdiri. Mereka kemudian keluar menuju gerbang. Matahari siang terasa menyengat. Jalan di sisi timur sekolah tidak terlalu ramai. Ada beberapa rumah, sebuah toko alat tulis, dan warung kecil di dekat persimpangan. Petugas keamanan menunjuk sisi pagar.
“Dia berdiri di sini.”
Dari tempat itu, halaman sekolah terlihat cukup jelas melalui celah pagar. Seseorang dapat memotret Elara tanpa harus masuk.
“Setelah dia pergi, mobil abu-abu datang?” tanya Naren.
Petugas mengangguk. “Saya tidak tahu apakah ada hubungannya. Mobil itu berhenti di sana.”
Ia menunjuk sisi jalan sekitar tiga puluh meter dari gerbang. Kaluna mengikuti arah tangannya. Kalau pria itu datang berjalan kaki, mungkin dia memang turun agak jauh supaya mobilnya tidak terlihat dari sekolah.
“Di jalan ini ada kamera lain?” tanya Salindri.
“Kamera toko alat tulis mengarah ke sebagian jalan,” jawab kepala sekolah. “Pemiliknya sudah kami hubungi.”
Mereka berjalan ke toko tersebut. Pemiliknya mengizinkan rekaman kamera diperiksa setelah kepala sekolah menjelaskan situasinya.
Rekaman menampilkan bagian depan toko dan sebagian jalan. Pada pukul delapan lewat tiga puluh delapan menit, sebuah mobil abu-abu melintas pelan, lalu berhenti beberapa puluh meter dari sekolah. Seorang pria turun dari kursi penumpang belakang. Wajahnya tidak terlihat jelas karena memakai topi dan masker. Ia berjalan menuju sekolah, sedangkan mobil bergerak sedikit lebih jauh.
“Berarti dia datang sama orang lain,” kata Naren.
Rekaman dipercepat. Pria itu kembali sekitar delapan menit kemudian. Ia masuk ke mobil melalui pintu belakang. Kendaraan tidak langsung pergi. Mobil tetap berada di sana sampai setelah pukul sembilan, waktu foto Elara diambil.
“Bisa jadi yang nyetir itu yang memotret,” kata Salindri. “Atau ada orang ketiga di dalam mobil.”
Arsen berdiri di dekat layar. “Pelatnya terlihat?”
Pemilik toko memperbesar bagian belakang mobil saat kendaraan bergerak. Gambar pecah, tetapi beberapa angka lebih jelas daripada rekaman sekolah. Dua huruf depan dan tiga angka tengah dapat dibaca. Huruf terakhir tertutup pantulan cahaya. Naren memotret layar.
“Kita bisa mulai dari sini.”
Arsen menoleh kepadanya. “Kamu punya akses untuk memeriksa nomor kendaraan?”
“Aku mengenal orang yang bisa membantu mencocokkan potongan pelat dengan jenis mobil.”
“Berapa lama?”
“Tidak tahu.”
Arsen tampak tidak puas, tetapi tidak mendesak.
Kaluna kembali mengingat rekaman tadi. Seseorang telah datang dengan persiapan. Mereka mengetahui nama lengkap Elara, kebiasaan sopir, lokasi sekolah, dan waktu saat anak-anak berada di halaman. Informasi sebanyak itu tidak mungkin dia dapat begitu saja.
“Kita harus memindahkan Elara dari sekolah ini untuk sementara,” kata Arsen.
Kaluna menoleh. “Memindahkan sekolah bukan keputusan kecil.”
“Aku tidak bilang selamanya.”
“Dia akan bertanya.”
“Lebih baik dia bertanya daripada sesuatu terjadi.”
Kaluna tidak langsung membantah. Meski begitu, ia tidak ingin Elara menjalani kehidupan dengan rasa takut yang tidak dipahaminya.
“Untuk beberapa hari, belajar dari rumah,” kata Salindri. “Sambil menunggu identitas kendaraan dan orang yang datang.”
Arsen mengangguk. “Aku setuju.”
“Kita juga perlu memeriksa staf rumah dan orang-orang yang punya akses ke jadwal Elara,” kata Naren.
Arsen menoleh kepadanya. “Jadi aku harus curiga sama semua orang di rumah?”
“Aku cuma bilang, cari siapa yang tahu cukup banyak sampai bisa mengaku sebagai utusan keluarga.”
Mereka kembali ke ruang kepala sekolah untuk membuat laporan resmi dan meminta salinan rekaman.
Saat semua dokumen selesai, Kaluna berdiri di dekat jendela. Ia memandang halaman tempat Elara tadi difoto. Arsen menghampirinya.
“Aku akan membawa Elara ke rumah lain untuk sementara.”
Kaluna menoleh. “Rumah mana?”
“Rumah keluarga di daerah selatan. Keamanannya lebih baik.”
“Siapa saja yang tahu tempat itu?”
“Keluargaku.”
“Kalau ancaman ini berasal dari orang dalam keluarga, memindahkannya ke sana tidak menyelesaikan apa-apa.”
Arsen mengatupkan rahang. “Kamu selalu menganggap semua orang di sekitarku mencurigakan.”
“Aku dinyatakan mati sebelum pencarianku selesai. Sahamku dipindahkan memakai tanda tangan palsu. Foto pertemuan perusahaan dibuat seolah aku mau kabur. Sekarang seseorang yang tahu jadwal anak kita datang mengaku sebagai utusan keluarga. Menurutmu aku harus menganggap semua itu kebetulan?”
“Aku tidak bilang kebetulan.”
“Lalu jangan membawa Elara ke tempat yang hanya diketahui keluargamu.”
Arsen terdiam beberapa saat. “Apa usulmu?”
Kaluna tidak menyangka ia akan bertanya.
“Biarkan Elara tetap di rumah. Tambah pengamanan. Batasi informasi soal jadwalnya. Tidak ada perubahan rencana yang dikirim melalui pesan biasa.”
“Dan pertemuanmu dengan Elara?”
“Aku akan memberi tahu sebelum datang.”
Arsen memandangnya seolah sedang menimbang apakah Kaluna sungguh bisa memisahkan keinginannya bertemu Elara dari masalah keamanan.
“Kamu tidak boleh membawanya ke mana pun tanpa persetujuanku.”
Kaluna menahan rasa tidak suka. “Aku belum pernah mencoba membawanya.”
“Aku cuma memastikan.”
“Kamu seharusnya lebih sering memastikan hal penting tiga tahun lalu.”
Arsen memalingkan wajah. Kalimat itu membuat Arsen diam, tetapi Kaluna sendiri tidak merasa puas. Mereka sebenarnya bukan sedang membahas masa lalu. Elara membutuhkan orang tuanya mengambil keputusan yang sama, meskipun keduanya hampir tidak lagi memercayai satu sama lain.
“Aku setuju Elara tetap di rumah,” kata Arsen akhirnya. “Untuk sementara dia belajar dari sana.”
Kaluna mengangguk pelan.
“Veyra mungkin tidak akan menyukai kalau kamu ikut mengatur.”
“Aku ibu Elara.”
“Aku tahu.”
Kaluna memandangnya. “Akhirnya kamu bisa bilang begitu tanpa ragu.”
Arsen tak menyahut.
Di luar sekolah, Naren sudah menunggu dekat mobil. Salindri sedang berbicara melalui telepon dengan seseorang mengenai pelacakan nomor kendaraan. Kaluna masuk ke mobil bersama mereka.
“Arsen setuju Elara belajar dari rumah,” katanya.
“Itu paling aman untuk sementara,” jawab Salindri.
Naren menyalakan mesin. “Tapi jangan terlalu lama. Kalau semua rutinitas Elara berubah, orang itu bisa merasa ancamannya berhasil.”
Kaluna memandangnya. “Kita punya potongan pelat.”
“Aku sudah kirim kepada seseorang.”
“Bisa dipercaya?”
“Untuk mencocokkan kendaraan, iya.”
Mereka kembali ke hotel. Sepanjang perjalanan, Kaluna menerima dua pesan dari Elara melalui nomor Veyra. Pesan pertama berupa foto boneka Momo yang duduk di atas meja makan.
Pesan kedua berbunyi:
Mama bilang aku sekolah di rumah. Kamu tahu kenapa?
Kaluna membaca kalimat itu lama. Elara menghubunginya sendiri, meskipun menggunakan telepon Veyra. Ia mulai mengetik jawaban, lalu menghapusnya. Kaluna tidak ingin berbohong, tetapi juga tidak ingin menakuti anak itu.
Akhirnya ia menulis:
Ada orang yang belum dikenal datang ke sekolah. Jadi untuk sementara kamu belajar di rumah supaya lebih aman. Kamu tidak melakukan kesalahan apa pun.
Balasan datang beberapa menit kemudian.
Orangnya jahat?
Kaluna menatap layar.
Kami belum tahu. Tapi semua orang sedang menjagamu.
Tiga titik muncul, kemudian menghilang. Elara tidak mengirim pesan lagi. Kaluna menyimpan teleponnya.
“Dia menghubungimu?” tanya Naren.
“Iya.”
“Setidaknya sekarang dia cari kamu.”
“Dia sedang takut.”
“Dia memilih bertanya kepadamu.”
Kaluna diam. Di tengah ancaman itu, ia tetap sedikit lega. Elara mulai mencari jawaban darinya.
Malam mulai turun ketika Naren menerima panggilan. Ia berbicara singkat, hanya sesekali mengajukan pertanyaan mengenai angka dan tipe kendaraan. Kaluna menunggu sampai telepon ditutup.
“Bagaimana?”
“Pelat di rekaman kemungkinan palsu.”
Salindri mengangkat wajah dari laptop. “Kemungkinan?”
“Nomor itu terdaftar untuk kendaraan yang berbeda. Tapi ada kamera jalan lain yang menangkap mobil tersebut dari sudut samping.”
“Nomor aslinya terlihat?” tanya Kaluna.
“Sebagian. Cukup untuk dicocokkan dengan jenis dan warna mobil.”
Naren membuka pesan yang baru diterimanya. Di dalamnya terdapat foto buram mobil abu-abu serta data registrasi kendaraan. Kaluna membaca nama pemiliknya.
Bukan nama pribadi. Mobil tersebut tercatat sebagai kendaraan operasional sebuah perusahaan.
“Perusahaan apa?” tanya Salindri.
Naren memperbesar dokumen. Kaluna belum pernah mendengar nama badan usaha itu. Keterangan di bawahnya membuat mereka sama-sama diam.
Perusahaan tersebut terdaftar sebagai penyedia jasa transportasi dan keamanan bagi beberapa perusahaan swasta. Salah satu klien tetapnya adalah Mahardika Medika.
Kaluna membaca nama itu sekali lagi.
“Jadi orang yang mengawasi Elara pakai kendaraan perusahaan rekanan Mahardika?”
Naren mengangguk.
Salindri menutup laptopnya perlahan. “Berarti mereka tahu lebih banyak dari soal keluarga.”
Kaluna mengalihkan pandangan ke foto mobil abu-abu di layar.
“Mereka juga punya akses ke orang-orang yang bekerja untuk perusahaan.”