Tiga tahun menjadi istri Anugrah Pratama, Cynara hanya dianggap sebagai beban. Pernikahan mereka bahkan disembunyikan karena Anugrah mengaku lajang demi mendapatkan pekerjaan. Ketika Anugrah memilih membuka hati untuk perempuan lain, Cynara menyerah dan perceraian pun terjadi.
Dua bulan kemudian, Cynara mengetahui dirinya hamil.
Lima tahun berlalu. Cynara kembali sebagai pemimpin Narendra Group, bersama putranya, Naren. Takdir mempertemukannya kembali dengan Anugrah, kini menjadi seorang manajer di perusahaan besar. Namun, bukan Anugrah yang akan mengubah hidupnya.
Ada Alvin Mahendra, CEO dingin yang diam-diam menyimpan luka kehilangan istrinya.
Pertemuan mereka membuka kembali rahasia masa lalu yang seharusnya terkubur.
#anakrahasia
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon CovieVy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Bulan Madu yang Salah Sasaran
Alvin sebenarnya sudah membayangkan bulan madu sebagai kesempatan untuk mengenal Cynara lebih dekat. Pernikahan mereka memang berlangsung cepat dan berawal dari keadaan yang tidak biasa. Karena itu, ia merasa perjalanan ke Jepang dapat menjadi kesempatan untuk mengetahui seperti apa perempuan itu ketika tidak sedang sibuk mengurus pekerjaan, keluarga, maupun kedua anak mereka.
Namun, Alvin juga tidak bisa memungkiri bahwa sejak awal ada tujuan lain di balik keputusan tersebut.
Ia ingin membuat keluarga Anugrah melihat sendiri perubahan kehidupan Cynara.
Tidak perlu berkoar-koar. Tidak perlu menjelaskan kepada siapa pun bahwa perempuan yang dahulu mereka remehkan kini telah menjadi istrinya. Cukup dengan membawa Cynara pergi ke luar negeri setelah pernikahan mereka, Alvin yakin kabar itu sudah cukup untuk membuat keluarga tersebut merasa kesal dengan sendirinya.
Dan perkiraannya ternyata tidak meleset.
Ketika mendengar mereka akan berbulan madu ke Jepang, Danisha dan ibunya langsung menunjukkan raut yang cukup emosional. Keduanya bahkan sempat membandingkan kehidupan mereka sendiri yang belum pernah bepergian ke luar negeri dengan kehidupan Cynara yang baru saja menikah dengannya.
Alvin hanya memperhatikan dari kejauhan. Ada kepuasan tersendiri melihat reaksi mereka.
Bagaimanapun, ia tahu bagaimana keluarga itu memperlakukan Cynara pada masa lalu. Ia tahu perempuan itu pernah dianggap tidak memiliki apa-apa hanya karena berasal dari keluarga sederhana. Maka, Alvin tidak keberatan menunjukkan satu hal kecil karena Cynara telah menjadi istrinya.
Akan tetapi, setelah perjalanan panjang dimulai, Alvin mulai menyadari bahwa bulan madu yang dibayangkannya ternyata tidak sesuai seperti harapan.
Malam itu juga mereka berangkat.
Perjalanan menuju Jepang cukup melelahkan, terutama bagi Naren dan Keanu yang sejak awal sudah tidak berhenti berbicara dan bermain sebelum akhirnya tertidur di perjalanan. Cynara beberapa kali memeriksa keadaan keduanya, memastikan mereka tetap nyaman.
Alvin yang duduk tidak jauh dari mereka hanya memperhatikan dalam diam.
Sesekali ia ingin berbicara dengan Cynara, tetapi selalu ada saja yang membuat perhatian perempuan itu beralih kepada anak-anak.
Ketika akhirnya mereka tiba di hotel, kedua bocah itu benar-benar sudah kehabisan tenaga.
Begitu memasuki kamar, Keanu langsung menghampiri Cynara dan memeluk pinggangnya.
“Mama, Keanu mau tidur sama Mama.”
Naren yang sedang berdiri sambil menguap ikut mengangguk.
“Nalen mau bobo.”
Cynara tersenyum melihat wajah keduanya yang mengantuk.
“Baik. Mama akan menemani kalian.”
Alvin yang sedang membuka koper menoleh. Ia sempat mengira dirinya salah dengar.
“Kamu menemani mereka?”
Cynara mengangguk santai. “Mereka sudah lelah. Biar aku temani.”
Alvin melirik kedua bocah tersebut. Keduanya sudah hampir tidak mampu membuka mata.
Ia mengembuskan napas pelan. Padahal, dalam bayangannya, istri barunya ini akan berada di ranjang yang sama dengannya. Namun, tak mungkin memisahkan mereka dari Cynara. Apalagi di sini adalah tempat yang asing.
“Sepertinya, aku akan tidur sendirian di kamar sebelah.”
Cynara menahan senyumnya. Jelas sekali, pria ini menyiratkan rasa kecewa dalam ucapannya. Bagaimana pun, ia pernah menjadi seorang istri.
“Ekhem.” Cynara memutar bola mata lalu menggandeng Naren dan Keanu masuk ke kamar mereka.
Alvin berdiri sendirian di ruang tengah suite tersebut. Ia memandangi pintu yang baru saja tertutup, kemudian melirik dua koper yang masih belum selesai dibongkar.
Ia baru menyadari bahwa sejak perjalanan dimulai, hampir seluruh perhatian Cynara memang tertuju kepada kedua anak itu.
Sementara dirinya?
Seolah-olah hanya orang yang kebetulan ikut dalam perjalanan.
Alvin menggeleng pelan, lalu membawa kopernya menuju kamar utama.
Ia tidak seharusnya merasa terganggu.
Bukankah dirinya sendiri yang memilih membawa anak-anak dalam perjalanan ini?
Namun setelah berbaring di ranjang yang luas dan mendapati sisi lainnya yang kosong, Alvin justru merasa suasana kamar terlalu sunyi.
Ia mengambil ponsel dan melihat layar. Ternyata tidak ada satu pun pesan dari Cynara.
Alvin meletakkan kembali ponselnya. Beberapa saat kemudian, ia mengambilnya lagi.
Jarinya sempat mengetik sebuah pesan.
[ Anak-anak sudah tidur? ]
Ia memandang tulisan itu cukup lama sebelum akhirnya menghapusnya.
Untuk apa bertanya? Cynara tentu akan memberitahunya kalau memang ada sesuatu.
Alvin kembali meletakkan ponselnya dan memejamkan mata.
Namun baru beberapa menit berlalu, terdengar ketukan pelan dari pintu kamar.
Alvin segera bangkit.
Ketika pintu dibuka, Keanu berdiri di sana sambil membawa bantal kecil.
“Papa.”
Alvin menatap putranya.
“Kenapa belum tidur?”
Keanu menguap sebelum menjawab. “Mama bilang Papa sendirian.”
Alvin menatap Keanu sesaat. “Lalu?”
Keanu mengangkat bantalnya. “Kasihan.”
Alvin hampir tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya. “Kasihan?”
Keanu mengangguk. “Papa mau tidur bareng kami?”
Dari balik pintu, terdengar suara Cynara yang tertahan karena menahan tawa.
Alvin menoleh ke arah suara itu.
Cynara berdiri di sana sambil tersenyum. “Maaf, Mas. Keanu tidak mau tidur sebelum memastikan Papanya tidak sendirian.”
Alvin menatap mereka berdua.
Kemudian ia menghela napas.
“Baiklah.”
Ia mengambil bantal dari tangan Keanu.
“Tapi besok pagi kamu jangan mengeluh kalau Papa tidurnya mendengkur.”
Keanu langsung tertawa.
Cynara pun ikut tertawa.
"Kasur di sana terlalu sempit untuk kita berempat, ayo semuanya ke sini saja," ucap Alvin.
Keanu berlari kecil dan langsung memanjat kasur. Sementara itu, Cynara dengan wajah yang bersemu, mulai sedikit gugup.
"Ah, Naren sudah tidur. Aku ke sana aj—"
Alvin bergerak cepat melewati pintu. "Aku angkat." Ia langsung masuk ke kamar yang sengaja dipisahkan untuk anak-anak mereka.
Namun, apa daya ... Alvin tetap tak bisa memisahkan mereka dari mamanya.
Naren telah berada dalam gendongan Alvin dan membawanya masuk ke kamar utama. Ia sengaja menaruh anak-anak di tengah.
"Aku akan tidur di sini." Alvin mengambil posisi pinggir di samping Keanu.
"Berarti aku di sini." Cynara di pinggir sisi yang lain di samping Naren.
Alvin bertopang pada tangannya menatap Cynara, yang telah halal untuk ia tatap tanpa berkedip.
"Tidur lah, jangan lihatku seperti itu." Cynara menyelimuti kedua anak mereka. Lalu merebahkan diri membelakangi Alvin.
.
.
Sementara itu di Indonesia, saat Anugrah telah lelap dalam tidurnya, Gadiza sedang memindahkan sampel rambut Naren yang ia ambil tadi lalu memasukannya ke dalam kantong bening. Tidak lupa ia beri label nama: Naren—4 Tahun
Lalu ia mencari sisir rambut suaminya. Di sana ia menemukan beberapa helai rambut Anugrah, dan memilih dengan teliti yang memiliki bagian akar. Sama seperti punya Naren tadi, Gadiza memasukan sampel rambut Anugrah ke dalam kantong bening. Lalu memberi label: Anugrah Pratama—28 tahun.
*bersambung*