Nara menatap Zaid dengan perasaan campur aduk. Pria berhati dingin ini baru saja melemparkan skenario paling menakutkan dalam hidupnya, memaksa Nara untuk memilih. "terus bersembunyi dalam ketakutan, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta yang selama ini ia sembunyikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fazry Fazriyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
30. Cerita Masa Kecilku
Pagi hari di akhir pekan menyapa dengan ketenangan yang menyejukkan. Sisa-sisa hujan semalam masih meninggalkan jejak embun yang membasahi dedaunan di luar jendela.
Sementara hawa dingin merayap perlahan masuk melalui celah dinding. Listrik rupanya telah menyala kembali sejak dini hari, memancarkan pendar redup dari lampu tidur di sudut meja kamar Nara.
Zaid menjadi yang pertama membuka mata. Begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, hembusan napas hangat yang teratur menyapu bagian dada kemejanya. Zaid menunduk pelan, dan seketika itu juga matanya melebar tipis.
Jarak yang selama dua seminggu ini terbentang kokoh bagai dinding tebal di antara mereka, kini runtuh tak berbekas dalam satu malam.
Nara tertidur sangat lelap di dalam dekapannya. Lingkaran tangan Nara masih memeluk pinggang Zaid erat, seolah Zaid adalah jangkar yang menahannya dari badai semalam.
Zaid terpaku. Pandangannya perlahan terkunci pada wajah polos wanita yang kini sah menjadi istrinya itu. Dalam balutan pendar redup lampu tidur, keindahan alami Nara terpancar tanpa celah.
Rambut hitamnya yang halus sedikit berantakan menyebar di atas bantal, membingkai wajah cantiknya. Tanpa riasan, tanpa balutan kerudung instan yang biasa wanita itu kenakan sehari-hari saat berada di rumah untuk menjaga jarak, Nara tampak begitu pasrah dan murni.
Sebuah letupan aneh yang hangat dan asing mendadak berdesir cepat di dalam dada Zaid, sebuah getaran yang tak mampu ia definisikan dengan kata-kata.
Ingatan tentang bagaimana suara gemetar Nara semalam memanggil namanya, bagaimana jemari kecil itu meremas kemejanya, dan bagaimana napas Nara yang hangat berhembus pasrah di dadanya, mendadak menari-nari dalam benaknya.
Zaid mengukir senyum tipis, senyuman tulus yang amat langka. Pria kaku yang selalu mengedepankan logika itu tak pernah membayangkan bahwa ia akan menikmati momen seromantis ini. Batinnya tak henti-hentinya mengagumi ciptaan Tuhan di hadapannya.
Kringgg! Kringgg!
Dering alarm ponsel Zaid di meja rias mendadak berbunyi nyaring, memecah heningnya lamunan Zaid.
Nara sedikit bergeliat kecil dalam tidurnya, mengerutkan dahi seolah terganggu. Dengan sigap dan ekstra hati-hati, Zaid menjangkau ponselnya dan mematikan alarm tersebut sebelum sempat membangunkan wanita itu. Jarum jam menunjukkan pukul empat pagi.
Sebagai seorang muslim yang taat, jam ini adalah waktunya untuk menunaikan kewajiban.
Zaid perlahan-lahan melepaskan pelukannya, mengganti posisi lengannya dengan bantal agar Nara tidak merasa kehilangan tumpuan.
Setelah tubuh Nara menyandar nyaman, Zaid menarik selimut tebal hingga menutup sebatas dada wanita itu, membungkusnya rapat dalam kehangatan.
Ia sempat menyapu beberapa helai rambut dari kening Nara sebelum akhirnya melangkah keluar dengan amat pelan, kembali ke kamarnya sendiri untuk mandi, menunaikan shalat sunnah tahajud yang masih sempat ia kejar, lalu dilanjutkan dengan shalat subuh secara khusyuk.
.
.
Waktu terus bergulir tajam hingga jam dinding menunjukkan pukul enam pagi. Cahaya matahari pagi sudah sepenuhnya menerobos masuk lewat jendela-jendela besar di lantai dua.
Nara, yang baru saja selesai mandi dan mengenakan gaun rumah kasual lengkap dengan kerudung instan di kepalanya, menuruni anak tangga dengan langkah ragu.
Wajahnya masih menyisakan sedikit rasa canggung yang teramat sangat bila mengingat kejadian semalam. Pipinya mendadak terasa hangat hanya dengan membayangkan bagaimana ia tertidur di dada Zaid sepanjang malam.
Namun, begitu melangkahkan kaki menuju area dapur, langkah Nara terhenti seketika.
Aroma gurih yang menggugah selera langsung menyapa indra penciumannya. Di sana, Zaid sudah berpenampilan segar dengan kaus polos abu-abu dan celana santai.
Pria itu tampak lihai memindahkan dua porsi nasi goreng spesial dengan ceplok telur setengah matang dan irisan timun ke atas meja makan.
Nara berdehem pelan, mencoba menetralkan degup jantungnya yang mulai tak beraturan. "Selamat pagi... mas."
Zaid menoleh, tangannya terhenti sejenak seraya menatap Nara. Senyum samar terbit di bibirnya.
"Selamat pagi, Nara. Sudah bangun? Pas sekali, nasi gorengnya baru saja matang."
Nara melangkah mendekat ke meja makan, lalu duduk di kursi biasa. Ia menatap piring nasi goreng yang berasap tipis, lalu menatap Zaid yang kini duduk di seberangnya. Rasa canggung dan rasa bersalah kembali bersaing di dalam dadanya.
"Masss..." panggil Nara pelan, jemarinya saling bertautan di atas pangkuan.
Zaid yang baru hendak meraih sendoknya mengurungkan niat, lalu menatap istrinya fokus. "Ya? Kenapa, Nara?"
Nara menunduk sedikit, menyembunyikan rona merah di pipinya.
"Mengenai... kejadian semalam. Aku... aku mau minta maaf. Aku sudah sangat merepotkan, mas Zaid. Pasti tidurnya jadi tidak nyenyak karena aku tahan semalam, kan?"
Zaid mendengarkan dengan tenang, tatapannya melunak. "Kamu tidak merepotkan sama sekali."
Nara menggigit bibir bawahnya, mencoba menjelaskan alasan di balik kepanikannya semalam.
"Aku... aku punya trauma kecil sama kegelapan dan suara petir yang terlalu keras. Dulu waktu kecil, pernah ada kejadian mati lampu saat angin puting beliung menghantam rumah lama. Sejak saat itu, kalau ada badai hujan dan listrik padam bersamaan, aku suka panik sendiri dan refleks menangis seperti semalam. Maaf ya... aku kekanak-kanakan sekali."
Zaid menatap Nara dalam-dalam. Ada pendar kelembutan yang teramat pekat di matanya. Pria itu meletakkan sendoknya, mengikis jarak dengan menopang dagunya santai di atas meja.
"Saya sudah tahu," ujar Zaid tenang, suaranya mengalun seperti melodi yang menenangkan.
Nara menengadah terkejut. "Eh? Tahu dari mana?"
"Semalam, waktu menunggu kamu mengambil barang di rumah orang tuamu, papah cerita banyak hal tentang kamu," terang Zaid jujur.
Nara membelalak heran. "papah cerita apa saja?"
Zaid tersenyum tipis, teringat percakapan hangatnya dengan Pak Raharja di ruang tamu semalam. Pak Raharja telah membeberkan banyak kisah tentang masa kecil Nara, termasuk ketakutannya pada badai.
Tak hanya itu, Pak Raharja juga menceritakan bagaimana ketatnya beliau menjaga Nara selama ini. Beliau bercerita bahwa salah satu anak sahabatnya pernah terjerumus ke dalam pergaulan bebas saat menempuh pendidikan di luar negeri, yang akhirnya menghancurkan masa depan anak tersebut.
Ketakutan itulah yang membuat Pak Raharja menerapkan aturan super ketat kepada Nara untuk tidak berpacaran selama kuliah. Kisah itu pak Raharja bungkus dengan cerita orang lain yang ternyata cerita itu adalah kisah putri pertamanya yang tak bisa ia ungkapkan oleh siapapun. Karena semua itu adalah masa lalu bagi keluarganya.
Namun, Zaid sengaja tidak membeberkan seluruh detail emosional itu pada Nara. Zaid memilih menjaga rahasia besar itu rapat-rapat, termasuk fakta bahwa ia tahu betul luka di masa lalu Nara akibat hubungan tersembunyinya dengan Devino yang tak pernah diketahui oleh Pak Raharja.
Bagi Zaid, masa lalu Nara adalah ruang pribadi yang tak perlu dibongkar kembali untuk menyakiti perasaan istrinya.
"papah cuma cerita kalau putri tunggalnya ini memang sangat sensitif sama suara petir," jawab Zaid santai namun sarat makna. "Jadi, tidak perlu minta maaf. Justru tugas saya sebagai suami untuk ada di samping kamu saat kamu merasa takut."
Kata-kata sederhana itu meluncur begitu mulus dari bibir Zaid, namun dampaknya bagai guncangan manis di dalam dada Nara. Matanya terasa panas oleh kepingan haru yang meluap. Cara Zaid menyikapi kekurangannya benar-benar dewasa dan penuh perlindungan.
"Terima kasih ya, mas Zaid..." bisik Nara dengan tulus, senyum manisnya akhirnya terkembang sempurna tanpa ada rasa takut atau canggung lagi.
"Sama-sama," balas Zaid seraya menyodorkan piring nasi goreng ke dekat Nara. "Sekarang makanlah. Hari ini hari libur, setelah sarapan kita bisa santai di rumah."
Nara mengangguk patuh. Ia mengambil sendoknya dan mulai menyantap nasi goreng buatan Zaid. Rasa gurih dan lezat yang pas di lidah seolah makin menyempurnakan pagi mereka yang hangat.
Di atas meja makan sederhana itu, di bawah sinar matahari pagi yang mulai bersinar terang, dua insan yang awalnya dipersatukan oleh takdir perjodohan kini mulai mengerti arti kehadiran satu sama lain. Tidak ada lagi rahasia yang saling menjauhkan, melainkan rasa percaya yang perlahan-lahan mekar menjadi benang kasih yang tak terpatahkan.
lanjut thor 🙏