Lahir di tengah gemerlap keluarga bangsawan bisnis tak lantas membuat Exel Dirgantara bahagia. Masa lalu kelam menempanya menjadi pria berdarah dingin, berjarak, dan berpandangan tajam seolah mampu membunuh lawan bicaranya dalam hitungan detik. Di balik dinding tebal yang ia bangun, hanya Achmad—sahabat sekaligus asisten pribadinya yang serba bisa dan humoris—yang sanggup memahami luka serta menghadapi kerumitan sikap sang CEO.
Dunia Exel yang tenang dan penuh kontrol mendadak runtuh saat sebuah rencana perjodohan lama mengikatnya dengan Alexa Pramudya. Alexa adalah perwujudan dari segala hal yang dibenci sekaligus dibutuhkan Exel: seorang gadis SMA mungil berparas bak bidadari, namun memiliki suara cempreng, super cerewet, dan energi yang seolah tak pernah habis.
Bersama ketiga sahabatnya yang tak kalah ramai—Rin Mashita si blasteran Jepang-Indo yang cerdas, Safi murid pindahan Malaysia dengan logat Melayu khasnya, serta Melati si cantik berdarah Arab-Indo—Alexa membawa warna baru
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon achmad abdur roufur rokhim, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 2: Klakson Nyaring dan Sebutan 'Cewek Aneh'
Pagi itu, lalu lintas kota Jakarta seperti biasa: padat dan merayap. Di dalam mobil sedan hitamnya yang terparkir kaku di tengah kemacetan, Exel Dirgantara memijat pangkal hidungnya. Napasnya terengah halus, menahan kekesalan yang mulai membakar dada.
"Gua heran, kenapa jam segini jalanan bisa seramai ini," gumam Exel dingin.
Achmad, yang duduk di kursi pengemudi, hanya menyeringai kecil. "Ya namanya juga jam berangkat sekolah sama kantor, Cel. Mau sampai kapan lu mau nyumpahin kemacetan?"
Belum sempat Exel membalas, tiba-tiba dari arah samping kiri, sebuah sepeda motor matic berwarna merah menyala memotong jalan mobil mewah mereka dengan sangat ceroboh!
CITTTT!
Achmad menginjak rem secara mendadak. Kepala Exel sempat terhentak ke depan sebelum akhirnya ia kembali tegap dengan wajah yang sangat merah padam. Mata cokelat gelapnya berkilat penuh amarah.
Di luar, pengendara motor matic itu—seorang gadis mungil dengan seragam SMA dan helm bogo berbentuk telinga beruang—menghentikan motornya tepat di depan kap mobil Exel. Gadis itu melepas kaca helmnya, lalu menoleh ke belakang sambil berkacak pinggang.
"WOI! BISA NYETIR GAK SIH?! MAIN REM MENDADAK AJA! UNTUNG GAK SAYA TABRAK!" jerit gadis itu dari balik helmnya. Suara cemprengnya bahkan sanggup menembus kaca kedap suara mobil Rolls-Royce milik Exel.
Exel membuka pintu mobil dan melangkah keluar dengan aura membunuh yang begitu pekat. Postur tubuhnya yang tinggi menjulang membayangi tubuh mungil gadis di atas motor tersebut.
"Kamu yang memotong jalan sembarangan," ucap Exel dengan suara datar, dingin, dan sangat menakutkan. "Punya mata tidak?"
Gadis itu—yang tak lain adalah Alexa—mendongak. Saat menatap wajah Exel yang tampan namun sekeras batu es itu, bukannya takut, Alexa justru makin meradang karena merasa diremehkan oleh postur tubuh pria di depannya.
"Ehh! Mas-mas Es Batu! Jelas-jelas kamu yang hampir nabrak saya dari belakang! Udah tinggi, kaku, muka kaya kanebo kering lagi! Gak ada ramah-ramahnya sama anak sekolah!" cerocos Alexa tanpa jeda dengan suara cempreng khasnya yang bikin telinga berdengung.
Exel mengepalkan tangannya. Kanebo kering? Es batu? Pria ini belum pernah dihina seumur hidupnya oleh seorang budak SMA!
"Jaga bicaramu, Bocah Cempreng," balas Exel kaku, matanya menatap tajam. "Kalau motor mu lecet, saya bisa beli sepuluh motor seperti itu sekarang juga. Jangan cari masalah di jalanan."
"Ih! Dasar Pria Beruang Es sombong! Muka seram kaya mau mangsa orang! Hih, amit-amit!" Alexa menjulurkan lidahnya dengan sangat kekanak-kanakan, lalu segera menggas motornya meninggalkan lokasi sebelum Exel sempat membalas lagi.
Achmad yang akhirnya keluar dari mobil hanya bisa menahan tawa sampai perutnya kaku. "Anjir, Cel... baru kali ini gua lihat ada cewek SMA berani ngatain lu 'kanebo kering' di depan muka lu langsung!"
"Diam lu, Achmad," potong Exel tajam, menatap kepulan asap motor Alexa yang makin menjauh. "Cewek aneh. Bikin merinding."
Sementara itu di kantin SMA, suasana mendadak riuh rendah.
"KORBAN BEGAL MUKA ES BATU!" teriak Alexa heboh sambil menggebrak meja kantin, membuat tiga sahabatnya yang sedang menikmati es teh hampir tersedak bersamaan.
"Aiyo, Alexa! Kau ni dah kenape? Datang-datang terus teriak macam nak kiamat!" tegur Safi dengan logat Melayu khasnya yang kental, sambil mengusap dadanya yang terkejut.
"Tau nih, makin pagi makin cempreng aja itu suara. Untung gendang telingaku buatan Jepang, jadi kuat," sahut Rin Mashita seraya menyesap jusnya tenang, menampakkan paras cantiknya yang oriental.
Melati, gadis berdarah Arab-Indo dengan mata indahnya yang lebar, ikut memiringkan kepala. "Ada apa sih, Ca? Kamu ditembak kakak kelas lagi?"
"Bukan!" Alexa duduk dengan menyebalkan, merebut es teh milik Melati lalu meminumnya sampai kandas. "Tadi di jalan, aku hampir ditabrak sama cowok aneh! Muka kaku, tinggi kaya tiang listrik, tatapannya itu loh... seram banget kaya mau makan orang hidup-hidup! Pokoknya dia itu Pria Beruang Es paling menyebalkan se-dunia!"
Rin terkekeh pelan. "Ya ampun, cuma gara-gara papasan sama orang galak aja kamu hebohnya sampai ke ubun-ubun."
Alexa sengaja tidak menceritakan soal masalah perjodohan yang dikatakan orang tuanya tadi pagi. Ia terlalu malu dan takut diejek oleh ketiga sahabatnya jika tahu ia akan dijodohkan di usia SMA. Jadi, ia memilih menyimpan rahasia besar itu rapat-rapat untuk sementara waktu.
"Pokoknya kalau aku ketemu sama Si Es Batu itu lagi, bakal aku kempesin ban mobilnya!" ancam Alexa sambil mengunyah cirengnya dengan penuh dendam.
Di waktu yang bersamaan, di ruang kerja megah di lantai paling atas Dirgantara Group...
Exel melemparkan jasnya kaku ke atas sofa. Pria itu berdiri di tepi jendela kaca besar yang menampilkan pemandangan pencakar langit Jakarta, sementara tangannya mengepal kencang.
Achmad masuk membawa secangkir kopi hitam hangat. "Nih, minum dulu Bos. Dari tadi mukanya ditekuk terus, ntar kerutannya nambah."
Exel menerima cangkir itu tanpa mengalihkan pandangannya dari luar. "Gua makin muak sama dunia ini, Mad."
"Lah, kenapa lagi? Soal perjodohan nanti malam?"
"Bukan cuma itu," desis Exel dingin. "Tadi pagi gua ketemu cewek paling aneh dan paling tidak bermoral seumur hidup gua. Suaranya cempreng kaya kaleng rombeng, pendek, pendekar amatir, dan gak punya sopan santun sama sekali."
Achmad langsung tertawa lepas. "Oalah, Bocah Cempreng yang tadi pagi? Lagian lu nanggapinnya serius amat, Cel. Dia kan cuma anak SMA yang panik."
"Dia nyebut gua 'Kanebo Kering', Mad," potong Exel, tatapannya makin tajam membunuh. "Gua harap gua gak bakal pernah ketemu lagi sama cewek aneh itu seumur hidup gua. Satu detik dengar suaranya aja bikin kepala gua mau pecah."
Achmad hanya menggeleng-gelengkan kepala melihat tingkah sahabatnya itu. Tanpa mereka berdua sadari, takdir sedang tertawa geli di atas sana—menyiapkan kejutan manis sekaligus pahit untuk acara makan malam perjodohan mereka nanti malam.