Ophelia Elizhabet de Ceolum adalah seorang biarawati cantik yang tinggal di Grand Temple of Olympus, kuil terbesar sekaligus pusat kekuasaan agama di Kekaisaran Celestia. Ia selalu mengenakan cadar putih untuk menyembunyikan wajahnya yang luar biasa indah, rambut pirang keemasan, dan mata biru jernih. Namun, Ophelia memiliki rahasia aneh: ia dapat melihat layar misterius berisi percakapan para dewa dan dewi. Awalnya ia mengira dirinya gila, sampai para dewa mulai berebut memberinya berkah. Ketika Saintess resmi terpilih dan konspirasi kuil dimulai, Ophelia perlahan menyadari bahwa dirinya adalah Saintess sejati. Sayangnya, para dewa ternyata jauh lebih merepotkan daripada manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fresh Tea, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Please Stop Shipping Me
Cahaya fajar menyusup perlahan melalui celah jendela asrama biarawati di sayap timur Grand Temple of Olympus. Udara pagi yang sejuk membawa aroma minyak zaitun dan lilin lebah dari arah ruang doa utama. Di atas ranjang kayu yang sederhana, Ophelia membuka matanya dengan lingkar hitam tipis di bawah kelopak mata. Semalaman ia hampir tidak bisa tidur akibat ulah para dewa yang terus berdebat di atas awan.
Ophelia mendudukkan tubuhnya, mengusap wajahnya yang lelah, lalu segera meraih kain cadar putih yang terlipat rapi di samping bantal. Sebelum ia sempat menyentuhkan kain sutra itu ke wajahnya, kilatan cahaya emas berkedip tajam di udara.
BZZZZT! TING!
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]
Target Observation: Ophelia Elizhabet de Ceolum
Current State: Sleep Deprived
Atmospheric Vibe: Unwanted Romantic Drama
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GODDESS OF LOVE: Selamat pagi, Ophelia kesayanganku! Apakah kau bermimpi indah tentang Komandan Lucien semalam?! Aku sudah menyusun 47 skenario pertemuan kalian di perpustakaan kuil hari ini!]
Ophelia membeku. Tangannya yang memegang cadar gemetaran pelan.
‘47 skenario?! Bisakah kau menghentikan obsesi gila ini, Dewi Cinta?!’ teriak Ophelia dalam hatinya.
[GOD OF WAR: Elara, hentikan kebiasaan burukmu! Aku sudah memasang taruhan dengan Magnus bahwa Ophelia tidak akan sudi menatap wajah ksatria kaku itu lagi hari ini!]
[GOD OF FORTUNE: Benar! Dan uang taruhannya adalah lima ratus koin emas ilahi! Jika Ophelia menyapa Lucien terlebih dahulu, aku akan kehilangan seluruh anggaran berkah bulan depan!]
[GODDESS OF BEAUTY: Kenapa kalian sibuk membicarakan pria itu?! Yang terpenting sekarang adalah menyisir rambut pirang emas Ophelia! Tidakkah kalian lihat rambutnya sedikit mencuat di bagian kiri karena tidur menyamping?! INI BENCANA ESTETIKA!]
[GOD OF KNOWLEDGE: Berdasarkan kalkulasi pergerakan angin dan kelembapan asrama, rambut yang mencuat tersebut akan kembali lurus dalam waktu 14 menit tanpa intervensi sihir.]
[GODDESS OF LOVE: Semua diam! Kita fokus pada skenario nomor tiga! Lucien akan berpura-pura mencari kitab sejarah kuno, lalu Ophelia akan terjatuh dari tangga perpustakaan dan ditangkap oleh lengan kekar Lucien!]
Ophelia menarik napas dalam-dalam, mengembuskannya dengan sangat perlahan, lalu memasang cadar putihnya hingga menutupi wajah bawahnya dengan sempurna. Hanya mata biru jernihnya yang terlihat, kini memancarkan aura kepasrahan tingkat tinggi.
"Tolong... berhenti menjodohkanku dengan siapa pun," bisik Ophelia lirih pada ruangan yang kosong.
Tentu saja, para dewa di atas sana tidak mendengarkan keluhannya—atau lebih tepatnya, mereka berpura-pura tidak mendengarnya karena terlalu sibuk memperdebatkan alur cerita buatan Elara.
Ophelia beranjak dari ranjang, merapikan gaun biarawati putihnya, dan melangkah keluar dari kamar. Rencananya hari ini sangat sederhana dan rasional: menghadiri apel pagi biarawati tingkat rendah, membantu membersihkan lorong altar sayap barat yang jauh dari pusat keramaian, dan bersembunyi dari pengawasan siapa pun hingga ancaman investigasi Lucien mereda.
Sayangnya, rencana rasional Ophelia selalu hancur setiap kali para dewa ikut campur.
Saat ia berjalan menyusuri lorong berlantai marmer yang mengarah ke taman dalam, suasana kuil terasa jauh lebih sibuk daripada biasanya. Karpet merah membentang di koridor utama, dan para pendeta tampak hilir mudik membawa vas bunga lily putih. Hari ini adalah hari penobatan resmi Seraphina Celeste Roselle sebagai Saintess utama, sehingga seluruh perhatian kuil seharusnya tercurah ke balairung utama.
Namun, baru beberapa langkah Ophelia berjalan, sebuah bayangan jangkung yang sangat familier berdiri tegap di ujung lorong tempatnya hendak melintas.
Komandan Lucien Raphael von Astralis.
Ksatria berambut hitam kebiruan itu berdiri di sana dengan pakaian seragam Holy Imperial Knights yang sangat megah. Zirah dadanya dipoles hingga mengilap, dan mata merah gelapnya langsung mengunci sosok Ophelia begitu wanita bercadar itu muncul di belokan.
BZZZZT! TING! TING! TING!
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]
Target Observation: Ophelia Elizhabet de Ceolum
Encounters: Male Lead #1 (Lucien)
System Status: MATCHMAKING MODE ENGAGED
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GODDESS OF LOVE: KYAAAAAAA! SKENARIO NOMOR SATU TERJADI LEBIH CEPAT! MEREKA BERTEMU DI LORONG SUNYI!]
[GOD OF WAR: LUCIEN! JANGAN BERANI-BERANI MELANGKAH MAJU!]
[GODDESS OF BEAUTY: Pencahayaan sinar matahari fajar yang menembus kaca patri di belakang Lucien membuat penampilannya lumayan... tapi tetap saja dia tidak pantas bersanding dengan Ophelia!]
Ophelia seketika menghentikan langkahnya. Otaknya menjerit panik. ‘Kenapa pria ini ada di sayap asrama biarawati pagi-pagi begini?! Bukankah dia harus mengawal Paus Raphael?!’
Lucien melangkah maju. Setiap hentakan sepatu bot kulitnya bergema keras di lorong yang sunyi itu. "Biarawati Ophelia," sapanya dengan suara bariton yang dingin dan mantap.
Ophelia membungkukkan badannya secara formal, berusaha menjaga jarak seaman mungkin. "Komandan Lucien. Semoga berkah para dewa menyertai Pagi Anda. Apakah ada hal penting yang membuat Anda berada di area pemukiman biarawati?"
Lucien berhenti tepat tiga langkah di depan Ophelia. Mata merahnya menatap tajam ke arah mata biru Ophelia yang terbingkai cadar. Ada keheningan yang menyiksa di antara mereka selama beberapa detik.
"Aku menyusuri tempat ini untuk memastikan keamanan Istana Dalam setelah insiden ledakan racun semalam," ujar Lucien tenang, meski suaranya penuh penekanan. "Dan aku memiliki beberapa pertanyaan tambahan yang belum sempat kau jawab, Biarawati."
Ophelia menahan napasnya. ‘Dia benar-benar tidak akan melepaskanku...’
Sebelum Ophelia sempat merangkai alasan diplomatik, layar di depan pandangannya mendadak bergetar hebat. Tulisan-tulisan merah menyala dari Dewi Cinta mulai memenuhi seluruh ruang pandang Ophelia.
[GODDESS OF LOVE: Ini dia! Ophelia, sekarang berpura-pura kakimu terantuk lantai marmer! Jatuhlah ke dadanya! Aku akan memberikan berkah kelenturan tubuh secara gratis!]
BZZZZT!
Sebuah cahaya merah muda yang sangat tipis mendadak memancar dari udara hampa dan merembes masuk ke dalam gelang kaki Ophelia.
Ophelia membelalak. ‘TIDAK! JANGAN BERI AKU BERKAH SEKARANG!’
Niat awal Ophelia adalah mundur secara perlahan, tetapi efek sihir berkah mendadak dari Elara membuat otot kakinya merespons secara berlebihan. Sapuan angin ajaib yang tak kasat mata mendorong tubuhnya ke depan, membuatnya benar-benar kehilangan keseimbangan.
"Ugh?!" Ophelia terperanjat saat tubuhnya terdorong meluncur ke arah Lucien.
Lucien, dengan refleks seorang Divine Swordmaster yang luar biasa tajam, secara otomatis merentangkan tangannya untuk menahan tubuh Ophelia yang hampir terjatuh. Kedua tangan berbalut sarung kulit hitam milik komandan itu menangkap kedua bahu Ophelia dengan mantap, menahan posisi biarawati itu tepat beberapa sentimeter dari dada zirahnya.
Jarak di antara wajah mereka kembali terkikis secara dramatis.
BZZZZT! TING! TING! TING! TING!
╔══════════════════════════════════════════════════════════╗
[DIVINE OBSERVATION SYSTEM]
Target Observation: Ophelia Elizhabet de Ceolum
Physical Contact: ESTABLISHED
Divine Chaos Level: 999%
╚══════════════════════════════════════════════════════════╝
[GODDESS OF LOVE: BERHASIL! KAPAL KITA SAH BERLAYAR! MEREKA BERPELUKAN DI BAWAH SINAR FAJAR!]
[GOD OF WAR: ELARA BISA-BISANYA KAU MENGGUNAKAN SIHIR PENDORONG PADA OPHELIA?! AKU AKAN MENGHANCURKAN KUIL CINTAMU DI OLYMPUS!]
[GOD OF FORTUNE: TIDAKKKK! LIMA RATUS KOIN EMASKU MELAYANG! OPHELIA MENYENTUH LUCIEN!]
[UNKNOWN GOD: ...Release her.]
Di koridor nyata, suasana terasa membeku. Lucien menatap Ophelia yang berada di dekapannya dengan alis bertaut bingung. Ia bisa merasakan betapa ringannya tubuh wanita ini, serta aroma lembut bunga lily yang terpancar alami dari kain cadarnya.
"Kau... tidak apa-apa?" tanya Lucien, nada suaranya sedikit goyah untuk pertama kalinya.
Ophelia mendongak, menatap mata merah Lucien yang berada begitu dekat darinya. Rasa malu, Frustrasi, dan kejengkolan terhadap para dewa menyatu menjadi satu emosi yang membuat kepalanya dingin secara mendadak.
Dengan gerakan cepat dan anggun, Ophelia mendorong chestplate besi Lucien menggunakan kedua tangannya, membebaskan diri dari pegangan sang komandan, lalu mundur tiga langkah cepat.
"Hamba memohon maaf sebesar-besarnya, Komandan Lucien," kata Ophelia dengan nada suara yang sangat datar dan dingin—suara deadpan terbaik yang bisa ia kerahkan. "Lantai marmer kuil ini tampaknya baru saja dipoles dengan minyak yang terlalu licin oleh para dewa."
Lucien mengerdipkan matanya, terpana sejenak oleh respons cepat dan penolakan mentah-mentah dari biarawati di depannya. "Minyak... dari dewa?"
"Ya. Dan jika Anda tidak keberatan," Ophelia menundukkan kepalanya sedikit, menutup matanya erat-erat di balik cadar sambil menahan keinginan untuk melempar layar statusnya ke dinding. "Hamba harus segera menjalankan tugas pembersihan altar. Permisi."
Tanpa menunggu tanggapan dari Lucien yang masih berdiri terpaku di lorong, Ophelia membalikkan badan dan berjalan cepat meninggalkan komandan ksatria itu dengan langkah-langkah lebar.
BZZZZT!
[GODDESS OF LOVE: K-Kenapa kau mendorongnya?! Padahal itu moments romantis terbaik abad ini!]
Ophelia terus berjalan tanpa menoleh ke belakang, mengabaikan ratapan Dewi Cinta yang memenuhi layarnya.
‘Tolong... bisakah seseorang menghapus fitur sistem ini?’ batin Ophelia dengan helaan napas yang sangat panjang.
kak fresh tea terima kasih Karna menerima pendapat saya dan memberikan jawapan... maaf kalau sekira nya pendapat saya agak terburu-buru dalam berpendapat pada karya kakak... semangat kak berkarya nya aku akan selalu mendukung karya kakak yang ini dan mengusahakan untuk sampai pada end cerita🤗🤗
waalaikumussalam warahmatullahi wabarakatuh 🤗🤗 semangat 😁✊
cerita dan gendre Kakak bagus dan unik tapi cerita nya agak berbelit dan ada beberapa episod yang hampir mirip dari segi cerita dan dialog hanya beda karakter saja dan setelah baca dari eps 1 sampai 40 aku belum menemukan inti dari cerita nya awal dari ceritanya juga sulit aku fahami tidak ada keterangan atau penjelasan lebih kenapa Ophelia yang di pilih para dewa mungkin pendapat ku ini agak terburu-buru Karna baru 40 eps sekarang inti dari cerita nya juga belum keluar tapi sebagai pembaca aku hanya mengutarakan pendapat aku saja kepada kakak penulis aku enjoy juga kok dengan cerita nya😁😁 semangat kakak penulis😁✊
semangat thor up nya 🤗🤗🤗